
Tatapan Han tajam, langsung memeluk Muti yang ternyata memang benar masih di rumah Della.
"Kamu baik-baik saja sayang?" Han mengeratkan pelukannya.
"Iya kak, di ruangan ini banyak bukti kejahatan Della, dan kebanyakan Muti tidak mengerti."
Alhan meminta Apri yang menyelidiki dibantu oleh kepolisian, Han dan Muti memilih kembali ke rumah sakit dan menjenguk Kris.
Han menyempatkan diri membeli makanan, Muti juga sudah makan dan sesekali tersenyum melihat Han.
"Sayang, kamu yakin baik-baik saja." Han sangat khawatir karena saat malam Muti mengamuk dan tidak bisa mengontrol diri.
"Mutiara baik-baik saja, apa ada sesuatu yang aneh?" Muti mengunyah makanan sambil memeluk sebuah buku besar.
Kepala Han menggeleng, ingin mengambil buku yang istrinya peluk. Muti memukul tangan Han, dia harus menunjukkan kepada Kristal terlebih dahulu.
"Kris pasti bangun, masih banyak hal yang harus kita lakukan." Muti tersenyum, menarik nafas buang nafas.
"Muti kamu membuat aku takut?"
"Kak, siapa dokter Ilham?"
Han menggelengkan kepalanya, Han juga baru melihatnya saat Muti mengamuk dan Dokter Ilham yang membantu menenangkan.
Muti mengerutkan keningnya, mengingat saya dirinya mengamuk dan ingin sekali balas dendam kepada Della.
"Maafkan Muti kak, bukannya meringankan beban, tapi menambah masalah kak Han."
"Jangan bicara seperti itu sayang, kamu tanggung jawab aku. Maafkan aku yang tidak bisa menjaga kamu." Han menggenggam jari jemari istrinya.
Senyuman Muti terlihat, berjanji kepada Han dirinya akan lebih kuat lagi untuk bertahan. Muti ingin sehat agar bisa menjaga Kris.
Melihat semangat Muti, Han baru mengatakan jika Kristal sudah bangun, meskipun belum bisa merespon.
Muti sudah berteriak kesenangan, ingin segera sampai dan memeluk adiknya. Muti menyesal sekali tidak menjadi orang pertama yang Kris lihat.
Sesampainya di rumah sakit, Muti langsung berlari kesenangan. Lompat-lompat sampai lupa jika dia di rumah sakit.
Dokter Ilham menatap Muti yang sangat bahagia, bahkan memeluk lengan Han ingin bertemu adiknya.
"Ayo kak, Muti tidak sabar lagi."
__ADS_1
"Sabar sayang, pelan-pelan saja." Han tersenyum melihat Muti bisa tertawa lepas lagi.
Senyuman Dokter Ilham juga terlihat, bahagia melihat Kristal sudah bangun, Muti juga terlihat baik-baik saja.
Pintu ruangan Kris terbuka, Muti berjalan masuk melihat Kris yang masih duduk diam seperti patung.
Tatapan mata Kris dan Muti bertemu, Tirta dan Han langsung keluar membiarkan keduanya untuk berbicara.
Muti meletakan bukunya di atas meja, begitupun dengan makanan yang dia bawakan untuk Kristal.
"Hai Kris, perkenalkan aku Mutiara." Tangan Muti mengulur ingin berjabatan tangan.
Kristal masih diam melihat tangan Muti, langsung mengangkat tangannya menyambut tangan Muti.
Senyuman Muti terlihat, meskipun tidak mendengar suara Kris dia sangat bahagia menyentuh tangan adiknya.
"Kak Muti dari mana saja? Kris capek menunggu." Tatapan mata Kris tajam, mengambil buah apel langsung melempar Muti.
Selama tiga jam Kris menunggu Muti datang, dirinya mengumpulkan tenaga agar bisa memarahi kakaknya.
Air Mata Muti menetes, tersenyum melihat adiknya yang sudah menunggunya dan hanya ingin bicara dengan Muti.
"Kenapa kak Muti sakit? kita sudah berjanji untuk selalu sehat, kak Muti seharusnya menemani Kris." Air mata Kristal menetes, mengusap air matanya.
Muti sangat takut jika Kris mengeluarkan suaranya dan bertanya siapa dirinya, sekuat tenaga Muti mencoba kuat jika kata-kata menakutkan itu keluar dari mulut Kris.
"Kamu tidak melupakan kak Muti?"
"Bagaimana aku bisa lupa? suara kak Muti teriak-teriak seperti orang gila terdengar. Kris ingin menjawab, tapi tidak bisa mengeluarkan suara bahkan membuka mata juga sulit. Kak Muti berisik sekali, membuat malu saja." Kris memukul pelan Muti.
Tatapan Muti tajam, dia tidak merasa teriak. Kristal saja yang lambat bangun membuatnya menangis semalaman.
"Jangan sakit lagi Kris, aku bisa gila tanpa kamu." Muti mengusap air matanya.
Kristal tersenyum, menyentuh perutnya yang sudah rata. Kris sudah tahu apa yang terjadi, tapi tidak ingin orang lain tahu jika dirinya terpukul.
Suara Kris menangis tertahan, meremas perutnya. Anaknya sudah tidak ada, dan pergi meninggalkannya lebih dulu.
"Kenapa kamu tidak bertahan bersama Mama? seharusnya kamu kuat." Kris menutup matanya menangis sesenggukan.
Muti langsung memeluk adiknya, menangis bersama merasakan kehilangan bayi kecil yang mereka berdua jaga.
__ADS_1
"Kita belum sempat beli baju? dia sudah pergi kak."
"Kristal, jangan menangis. Kita bisa bersedekah baju dan mengirim doa untuk dia, karena ada yang lebih sayang kepadanya." Muti menggenggam erat tangan Kristal.
Keduanya menangis bersama, saling menyemangati. Kehilangan bayi yang baru berusia empat bulan, bukan hanya Kris yang kehilangan, tapi Tirta juga sangat terpukul.
"Kris takut melihat Tirta, dia pasti kecewa dan merasa kehilangan."
"Kak Tirta kuat, dia selalu di sini menemani kamu. Kita semua kehilangan Kris, karena kita sayang." Air mata Muti masih menetes.
Banyak hal yang sudah mereka rencanakan sampai kelahiran, tapi kenyataannya mereka gagal mempertahankan.
"Aku kuat, dan harus baik-baik saja agar tidak ada yang terluka." Kris mengusap air matanya berusaha untuk tersenyum.
Mutiara tersenyum memeluk Kristal, mereka masih berdua untuk saling menenangkan. Muti mempunyai Kristal, begitupun sebaliknya.
"Kristal baik-baik saja kak, kita sudahi air mata ini. Ujian apa yang belum kita hadapi? sejak kecil kita sudah diuji dan banyak masalah, ujian kali ini hanya hal kecil. Kita bangkit lagi." Kris menahan air matanya agar berhenti menangis.
Muti tersenyum, meksipun tidak bisa menghentikan air matanya. Mereka bisa bertahan lagi dan siap dengan semua masalah ke depannya.
"Kak, anggap saja tidak terjadi apapun. Aku tidak ingin melihat yang lainnya menangis. Kita sudah banyak membuat masalah untuk Tirta, Kak Han, mommy dan Daddy. Kris tidak ingin kehilangan bayi menjadi beban mereka juga." Kris terlihat sangat tegar dan mengikhlaskan kepergian anaknya.
Muti menganggukkan kepalanya, karena memang ada masalah baru yang harus Muti dan Kris bicarakan.
Merelakan jalan satu-satunya agar keadaan segera membaik. Kris ingin cepat sembuh dan meniti jalan lagi, dan bisa selalu bersama Mutiara.
Muti kagum dengan kekuatan yang Kris miliki, dia memang wanita tangguh yang selalu menjadi penenang hati.
"Ayo kita lakukan apa yang sudah kita rencanakan?" Kris tersenyum melihat kakaknya.
"Siap, Kamu harus sembuh. Berjanjilah kita akan menangis bersama, dan tertawa bersama meskipun selalu bertengkar." Muti meminta Kris berjanji.
Kepala Kristal mengangguk, dia akan menjadi buntut kakaknya meksipun Muti sudah menikah.
"Kris, kamu tahu jika kita bukan anaknya Daddy?"
"Iya, apa sekarang kita harus mencari ayah kandung? menyebalkan Muti. Kita tidak membutuhkannya, karena kita sudah kaya apalagi jika perusahaan Iskandar resmi menjadi milik kita." Kris mengusap perutnya yang sudah rata.
Mutiara langsung menjauhi Kristal, Muti mengingat sesuatu soal perusahan.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira