
Di dalam mobil bibir Muti manyun, sudah Han jelaskan yang terjadi, tetapi masih saja ngambek.
"Kak Han membela wanita itu." Muti berteriak kuat.
"Siapa yang membela? kita tidak mengenal dia, daripada membuat masalah lebih baik diam." Han menggeleng kepalanya.
Tatapan Muti semakin sinis, meminta mobil berhenti langsung keluar berjalan kaki tidak ingin bicara lagi dengan Han.
Kepala Han pusing jika sudah ngambek, menjawab apapun salah. Muti marah Dr dengan sesuatu yang tidak seharusnya dirinya pusingkan.
"Kita ke sini ingin liburan, jika akhirnya marah lalu bertengkar sebaiknya kita pulang saja." Han menahan tangan Muti, memintanya jangan mengikuti ego.
Han tidak tahu cara mengungkapkan rasa sayangnya, sepertinya tidak ada artinya bagi Muti.
Bertengkar di pinggir jalan hanya membuat malu saja, menjadi pusat perhatian orang.
Di dalam mobil Kris menjalankan Lily yang mulutnya bocor, seharusnya dia tidak mengatakan apapun kepada Muti sehingga tidak ada pertengkaran.
Kepala Lily gatal, langsung mengaruk-garuk kuat. Dirinya binggung, Muti dan Kris selalu mengajarinya untuk mengatakan apapun yang bersangkutan dengan Han dan Tirta, terutama jika ada yang mendekati.
"Lily salah terus." Wajah Lily langsung sedih.
Tirta keluar mobil, meminta Han dan Muti masuk. Jika ingin bertengkar sebaiknya setelah sampai di rumah bukan di jalanan, tidak enak menjadi pusat perhatian.
Lily langsung keluar mobil, berlari ke arah Han untuk meminta maaf. Dirinya yang salah, karena sudah bicara kebenaran, tidak akan mengikuti apapun yang Kris dan Muti ajarkan, jika akhirnya harus bertengkar.
"Kak, maafkan Lily." Han berteriak melihat Lily, memintanya menyingkir.
Tirta dan Han langsung berlari, anak kecil yang baru berusia empat tahun berlari ke arah jalan, tanpa mengetahui lalu lintas.
Suara klakson mobil terdengar, Lily langsung terkejut sampai jatuh tengkurap. Han langsung mengangkatnya, memeluk erat.
"Ya Allah, kenapa Lily keluar dari mobil?" Tirta mengusap wajah Lily, hidungnya berdarah, begitupun dengan keningnya.
Mutiara hampir jantungan, langsung mendekati adiknya yang terluka. Kedua lutut Lily juga terluka, mengeluarkan darah sampai mengalir ke kakinya.
"Tirta, telpon Ayah yang mobilnya sudah laju lebih dulu untuk ke rumah sakit." Han meminta Muti masuk mobil.
Mendapatkan panggilan dari Tirta membuat Gio dan Elin terkejut, mereka juga binggung melihat ke belakang. Mobil Han dan Tirta tidak terlihat lagi, ternyata ada masalah di jalan.
Mata Lily masih terpejam, jantungnya juga masih berdegup. Perlahan menatap Muti yang meniup lututnya.
__ADS_1
"Maafkan Lily kak Muti, maafkan Lily kak Han. Sudah membuat bertengkar, juga menyusahkan." penyesalan terlihat di wajah Lily.
Han memeluk lembut, meminta maaf karena lalai menjaga. Lily masih kecil, belum mengerti apapun, mereka yang dewasa yang salah.
Sesampainya di rumah sakit, Ayah Gio dan Ibu Elin kaget. Kaki Lily berdarah, hidung dan keningnya juga terluka.
"Kenapa bisa ada jalan?" Ayah Gio menatap Tirta.
"Salah Tirta Ayah yang tidak menjaganya."
Mutiara dan Kristal hanya tertunduk, sebenernya yang salah mereka berdua. Meminta Lily melaporkan segala hal, tapi menyalahkan Lily juga yang harus bertanggung jawab.
Anak kecil yang belum mengerti apapun, saat dinyatakan salah pasti pikirannya menyalahkan dirinya.
"Bagaimana cara mengatakan kepada Manda Lily terluka?" Kris mengingat bibirnya.
"Panda juga pasti sangat khawatir, ini salah Muti."
"Kita berdua yang salah." Kris dan Muti saling pandang, pertama kalinya menyadari jika memang bersalah.
Lebih dari tiga puluh menit, Lily baru dibawa keluar. Kedua lututnya ditutup, hidungnya juga ditutup.
"Kak Muti, lihat hidung Lily lucu sekali. Seperti babi." Lily tertawa melihat hidungnya.
"Kenapa salah terus? guru Lily mengajari nama-nama hewan, hidung Lily memang mirip buaya." Air mata Lily langsung menetes.
Senyuman Ayah Gio terlihat, langsung menggendong Lily membawa untuk satu mobil dengan mereka. Krisna hanya tersenyum kecil sambil geleng-geleng.
Muti memeluk lengan Han, mempertanyakan kondisi Lily. Alhan mengusap kepala istrinya, Lily gadis kecil yang kuat, tidak menangis saat diobati.
Sekarang Han hanya binggung cara memberitahu Manda dan Panda, pasti cemas sekali mendengar kabarnya.
"Jangan dikasih tahu kak Han, nanti Panda terbang ke sini, kasihan Manda." Kris memberikan solusi.
Demi kebaikan Manda, Tirta juga setuju. Manda sangat baper jika sampai kepikiran Lily bisa menganggu kehamilannya.
"Bagaimana jika Lily sendiri yang mengatakannya?" Han masih tetap khawatir.
"Biarkan saja, Lily tanggung sendiri tidak jadi liburan, pasti langsung dijemput dan bawa pulang." Muti akan mengancam Lily agar bisa tutup mulut.
***
__ADS_1
Sesampainya di Mansion, Kris dan Muti tidak ingin pulang lagi. Ingin tetap tinggal, apalagi suasana rumah yang nyaman, luas, unik. Mobil mewah juga berderet sudah seperti dealer.
Di dalam rumah juga tidak kalah mewah, lampu berbetuk Kristal berwarna biru yang memiliki harga fantastis.
"Muti ingin tinggal lama di sini, tidak mau pulang." Muti memeluk tiang.
"Sifat manusia serakah, tidak ada puasnya." Tirta tersenyum melihat Muti dan Kris ingin menetap.
Meskipun kakinya sakit, Lily sudah berlarian, memaksa Krisna menunjukkan kamar mewahnya. Kris menolak, karena dirinya tidak suka ada yang masuk kamar.
Lily menatap sedih, dia sangat ingin melihat seisi rumah. Saat mendengar Elin memanggil Lily langsung berlari.
Melambaikan tangannya melihat Mamanya dibalik layar handphone, Lily menunjukkan hidungnya, keningnya, bahkan kedua lututnya.
Mutiara sudah terduduk lemas, belum sempat dia memperingati Lily, ternyata Ayah Gio sudah memberikan kabar kepada keluarga.
Han dan Tirta terduduk sambil menundukkan kepalanya, merasa bersalah karena gagal menjaga di kecil yang menjadi tugas dan kewajiban untuk menjaganya.
[Kenapa kalian terlihat sedih? Lily baik-baik saja.] Panda melihat wajah kedua Putrinya dan menantunya.
[Maafkan kita Panda, rencananya tidak ingin memberitahu, takut Manda khawatir. Kita mengaku salah, karena lalai.] Han mengakui kesalahannya.
Tirta juga meminta maaf, dirinya juga bersalah karena sudah membiarkan Lily sampai terluka.
Dwi dan Ilham tertawa, jatuh sudah menjadi hak yang biasa untuk anak-anak. Dia belum mengerti hal yang berbahaya, karena itu orang dewasa harus mengawasi.
Apa yang terjadi kepada Lily harus dijadikan pelajaran, Ilham meminta Han dan Tirta lebih berhati-hati lagi.
Bukan hanya menjaga Lily, tapi kedua Putrinya, dan keempat cucunya. Melihat Lily yang masih aktif, berarti dia baik-baik saja, Ilham memakluminya.
Senyuman Lily terlihat, langsung memeluk Han dan Tirta, melepaskan tempelan hidung. Tangan Lily juga tidak bisa diam ingin melepaskan penutup kakinya.
"Kak Tirta, Lily tidak suka ditutup seperti ini." Lily meringis meminta dilepas.
Setelah mendapatkan izin dari mertuanya, barulah Han melepaskan pelan penutup lutut>
"Astaghfirullah Al azim, lukanya kecil sekali. Kita harus menunggu lama?" Mata Muti melirik tajam.
"Iya, Kris pikir lututnya sudah bolong."
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira