MUTIARA & KRISTAL

MUTIARA & KRISTAL
BERTEMU NENEK


__ADS_3

Pagi-pagi Mutiara sudah sibuk di dapur untuk menyiapkan sarapan pagi, Han dan Kristal belum bangun.


"Selamat pagi Muti." Senyuman Tirta terlihat.


"Pagi kak Tirta, sudah bisa membedakan Kris dan Muti?" Tawa kecil Muti terdengar, menggelengkan kepalanya.


Tirta menganggukkan kepalanya, dia sudah bisa membedakan keduanya dan sangat melihat perbedaannya.


"Tirta pergi kerja dulu, tolong sampaikan kepada kak Han."


"Eh tunggu ... sarapan dulu." Muti menarik Tirta, menyiapkan sarapan.


Senyuman Tirta terlihat, mengucapkan terima kasih dan meminum jus yang sudah Muti siapkan.


Belum sempat makanan masuk ke dalam mulut Tirta, lemparan tas mengenai kepala Tirta. Makanan yang ada di sendok berhamburan.


Muti yang melihat hanya bisa terdiam melihat sikap kasar Cherly, bekali-kali memukul kepala Tirta.


Makanan yang ada dalam piring dilempar sampai berhamburan. Muti menutup mulutnya menggunakan tangan, kasihan melihat Tirta.


"Pulang sekarang, anak kurang ajar." Cherly meminta Tirta berdiri.


Tatapan Cherly melihat ke arah Muti, langsung melempar Muti menggunakan jus yang dibuat untuk Tirta.


"Kamu jangan coba-coba menggoda anak saya, sampai matipun aku tidak akan pernah mengizinkan."


"Berarti Muti harus banyak berdoa agar kamu cepat mati, lagian aku tidak akan menggodanya." Muti mengusap wajahnya yang terkena tumpahan jus.


Tirta langsung menarik tangan Maminya, melihat seorang wanita seksi yang sudah duduk di ruang tamu dengan santainya.


Mutiara melihat wanita ada di rumahnya, langsung menatap Tirta yang mengerutkan keningnya.


"Siapa kamu?" Muti menatap sinis.


"Dia calon istrinya Tirta."


"What? jelek sekali." Muti menutup mulutnya.


Tirta yang memiliki wajah tampan, dijodohkan dengan wanita yang jauh lebih tua dan tidak cantik hanya saja tubuhnya sangat seksi.


"Tolong keluar dari sini." Tirta menarik tangan dua wanita sekaligus.


Alhan dan Kristal hanya berdiri melihat kejadian di ruang tamu, Tirta hanya diam saat Maminya marah-marah dan memaksanya untuk pulang dan mempersiapkan pernikahan.


"Kamu tidak harus mengeluarkan biaya pernikahan, karena aku yang membiayai semuanya. Setelah pernikahan, tiga puluh persen saham jatuh ke tangan kamu."


"Maaf Tante, saya tidak butuh uang anda."

__ADS_1


Tamparan kuat menghantam wajah Tirta, tangan Tirta terangkat ingin menampar balik tapi masih berusaha menahan dirinya.


Kristal langsung melangkah mendekat, menarik Tirta menjauh langsung melayangkan tamparan kepada wanita seksi pilihan Maminya Tirta.


"Kalian datang ke rumah orang dan membuat keonaran, anda siapa?" Kris menatap tajam.


"Beraninya kamu!" Rambut Kris langsung dijambak.


Mutiara yang melihat adiknya disakiti langsung berlari, Tirta yang mencoba menghentikan langsung terlempar.


Cherly kaget ada dua Kristal yang memukuli, keduanya main keroyok dan tidak memberikan lawan kesempatan untuk bebas.


"Kamu memiliki masuk kandang harimau." Muti menggulung rambut ke tangannya.


"Ampun, jangan hancurkan wajah saya. Kalian berdua bisa aku tuntut."


"Lakukanlah, kamu tidak tahu siapa kami." Kris menginjak-injak.


Muti menatap tangannya penuh rambut, suara tangisan terdengar langsung melarikan diri.


Tatapan Muti dan Kris tajam melihat Cherly menunjukkan banyaknya rambut yang rontok karena berani menyakiti salah satu dari keluarganya.


"Ini tandanya dia sudah tua, lihatlah rambutnya rontok." Muti langsung tertawa diikuti oleh Kristal.


"Ternyata aku benar jika kalian berdua kembar."


"Kenapa? kamu ingin aku rontokan juga, bukan hanya rambut kamu yang bisa habis, tapi semua bulu kamu hilang." Bibir Muti monyong, matanya menatap tajam.


"Kamu boleh membenci orang lain, tapi setidaknya sayangi Tirta."


Tangan Cherly langsung Tirta tarik ke luar rumah, Kris dan Muti hanya diam kasihan melihat Tirta yang selalu mengalah kepada Maminya.


Muti membersihkan tangan yang penuh rambut, menatap Han yang masih diam saja menatap dari lantai atas.


"Panda." Kristal langsung berlari kecil menyambut Papanya.


Mutiara juga langsung berlari mempersilahkan masuk, Han juga langsung mendekat dan menyambut baik.


"Ayo kita coba masakan Muti." Kris mengandeng tangan ke ruangan makanan.


Alhan merangkul istrinya untuk sarapan bersama, Muti ingin memanggil Tirta tetapi Han melarangnya.


"Kasihan kak Tirta, dia belum makan."


"Biarkan saja sayang, dia sudah besar dan bisa mengurus dirinya sendiri." Han meminta Muti tidak ikut campur dengan urusan Tirta dan ibunya.


Di meja makan sudah heboh, Kris tersenyum melihat Panda menyukai masakan Muti.

__ADS_1


"Kristal yang masak aku, kenapa kamu sangat bersemangat?" Muti mengerutkan keningnya.


"Masakan kamu enak Muti, kamu pintar masak." Ilham tersenyum melihat Alhan yang juga menyukai masakan istrinya.


"Kristal juga pintar, pintar mencicipi." Suara tawa Kristal terdengar.


Suasana sarapan hangat, canda dan tawa juga tidak hentinya terdengar. Han meninggalkan sebentar sambil mengambil sebuah map coklat.


"Muti, Kristal, kalian berdua ingin bertemu Nenek tidak?" Ilham menatap dua putrinya yang saling tatap.


Muti dan Kris hanya diam, tidak memberikan jawaban. Tidak semua orang bisa menerima kehadiran mereka, apalah neneknya yang ditemui setelah dewasa.


"Panda, Kris rasa tidak perlu. Nenek pastinya kaget dan tidak percaya. Kita juga masih binggung cara mengekpresikannya diri. Mungkin nanti, saat ini terlalu cepat." Kris menolak dengan nada yang sangat sopan tidak ingin Papanya tidak nyaman.


Ilham tersenyum, menganggukkan kepalanya. Dia berpikir Muti dan Kris akan senang, karena memiliki nenek dan bertambah lagi keluarga mereka.


"Muti mau bertemu nenek, karena Muti dulu juga tinggal bersama nenek dan sekarang Muti rindu." Senyuman Muti terlihat, menyakinkan Kristal.


Mereka tidak harus menghindar, tapi mengahadapi apapun tanpa harus melarikan diri.


Apapun hasilnya, setidaknya mereka sudah mencoba untuk bertemu dan menyapa.


"Baiklah, Kris dan Mutiara bersiap-siap dulu."


"Terima kasih sayang, Bunda pasti bahagia sekali." Ilham tersenyum melihat kedua putrinya melangkah ke kamar.


Han duduk kembali, dan mencari keberadaan Muti dan Kris. Ilham meminta izin kepada Han untuk membawa keduanya bertemu ibunya


"Jika kamu mengizinkan Han, jika aku yang akan membawa Bunda menemui mereka."


"Han izinkan Pa, mereka juga membutuhkan suasana baru." Han menyerahkan map coklat meminta dokter Ilham mengeceknya.


Tatapan dokter Ilham tajam, membaca laporan soal pemeriksa yang menyatakan perkembangan tumor ganas yang menyerang otak.


"Ini kanker otak Han, biasanya disebut tumor otak. Perkembangan sangat cepat, segera lakukan perawatan dan menjadwalkan operasi." Tatapan dokter Han langsung panik, menutup map dan menyembunyikan dari Muti dan Kristal.


Han menundukkan kepalanya, mengusap kepalanya merasa tidak percaya dengan hasil yang benar-benar nyata.


"Apa ada kemungkinan sembuh?"


"Kemungkinan ada jika masih stadium awal. Papa akan membantu kamu menjadwal pemeriksaan."


Han menggelengkan kepalanya, meminta dokter Ilham merahasiakan dari Kris dan Muti agar keduanya tidak khawatir.


Senyuman Muti terlihat, memeluk Han dari belakang meminta izin untuk pergi setelah Alhan berangkat kerja.


"Sayang, kamu hati-hati jangan bertengkar." Han mencium kening istrinya langsung melangkah pergi kerja.

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2