
Sesampainya di rumah Muti dan Kristal berlari kencang, melihat Tirta yang duduk santai sambil menonton.
Keduanya bersikap biasa saja, berpura-pura tidak tahu kondisi Tirta yang sedang sakit keras.
"Kak Han baru saja berniat menjemput kalian, tapi masih menunggu Panda." Tangan Tirta melambai meminta Muti dan Kris duduk bersamanya.
Keduanya langsung duduk, menunjukkan beberapa area tempat liburan dan tempat makan yang enak.
"Kak Tirta ingin liburan?" tanya Muti, meksipun dia tahu jawabannya.
Tirta menganggukkan kepalanya, dia ingin mengajak Muti dan Kris liburan bersama dan bersenang-senang setelah melewati banyak masalah.
"Kris tidak mau." Mata Kristal melihat ke arah lain, air matanya ingin menetes melihat Tirta masih bercanda dan tertawa.
Kedua tangan Tirta memohon, dia akan membelikan apapun yang Kris inginkan asalkan bersedia liburan bersamanya.
Secara tiba-tiba buku di tangan Tirta jatuh, kepalanya tertunduk memejamkan matanya. Kris dan Muti saling pandang, menyentuh pundak Tirta.
"Kak Tirta kenapa?" Muti mengusap punggungnya.
Tirta masih diam, merasakan kepalanya sakit kembali, bahkan pandangannya kabur tidak bisa mengangkat kepalanya.
Alhan yang melihat langsung berlari, Kristal sudah menangis melihat Tirta yang tidak menjawab sama sekali.
"Sayang, ambil obat di atas meja kamar." Han meminta Muti menyingkir.
"Di kamar banyak meja, Muti tidak tahu yang mana?" Rasa khawatir membuat Muti bolak-balik.
"Aku baik-baik saja, hanya pusing sedikit." Senyuman Tirta terlihat, menatap Han yang rambutnya masih basah dan belum sempat menggunakan baju.
Kristal menangis sesenggukan, menyentuh tangan Tirta agar ke rumah sakit dan diobati.
"Kamu sudah tahu soal kondisi aku, jangan menangis Kris dan jangan kasihani aku." Usapan Tirta lembut di kepala Kristal.
Alhan langsung berlari ke kamar untuk mengambil baju, menghubungi dokter Ilham soal Tirta sakit kepalanya muncul semakin sering.
Mutiara melihat suaminya yang semakin pusing, masalah tidak usai melibatkannya. Baru saja bernafas sudah ditambah masalah baru.
"Kak Han baik-baik saja?"
__ADS_1
"Maaf ya Muti, aku tidak menjemput kamu, melihat kondisi Tirta membuat binggung. Dia menolak diobati." Han membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
Muti langsung memeluk suaminya, terlihat sekali rasa leleh dan capek dari raut wajah Alhan.
"Semuanya akan baik-baik saja kak, kita perbanyak berdoa. Tirta pasti sembuh." Pelukan semakin erat.
Tidak butuh waktu lama, mata Han sudah terpejam. Suara dengkuran terdengar, Muti tidak tega membangunkan.
Pintu kamar tertutup pelan, Muti melihat Kris yang menangis berusaha membujuk Tirta agar diobati.
Mendengar penjelasan Tirta, memang sulit untuk bertahan. Tirta tidak ingin menghabiskan waktunya di rumah sakit, merasakan sakitnya pengobatan.
"Lalu apa rencana kak Tirta? tidak kasihan melihat kak Han yang pusing dan kelelahan dengan semua masalah ini." Muti duduk di samping Tirta, mengeluarkan obat untuk di minum.
Selama mengenal Han, Muti belum melihat suaminya bahagia. Selama lima tahun sendirian, merasakan sakit kakinya yang tidak sembuh.
Perebutan kekuasaan, saling menjatuhkan sampai perusahaan jatuh ke tangannya. Ditambah lagi pengkhianatan Indri, Rayan yang membuat Han selama ini tidak sembuh.
Terbongkarnya penyebab kematian Bundanya, melihat kebenaran soal Muti dan Kristal, harus menghadapi Kris yang hamil bersama Adiknya.
"Kristal keguguran, koma, dan aku juga mengalami depresi. Satu-satunya orang yang ada di sisi kita hanya kak Han. Masalah kita, tapi kak Han juga ikut menanggungnya." Muti memohon kepada Tirta, setidaknya sekali saja Han bicara untuk berobat langsung menurut.
"Aku tidak mungkin sembuh." Air mata Tirta menetes.
Langkah kaki Dwi masuk terdengar pelan, meletakkan buah-buahan yang Muti dan Kris bawa pulang. Kasihan melihat tiga anak muda menangis.
"Nona, buah-buahan tarok di mana?"
"Letakan di situ saja, nanti kita bisa merapikan ke dapur." Muti mengusap air matanya, menutup wajahnya menggunakan tangannya.
Dwi melangkah ke dapur, menyusun buah dan merapikan area dapur menunggu pemilik rumah bisa berpikir jernih.
Selesai beres-beres rumah, langsung membuatkan kue. Membawanya ke tempat duduk Kris, Muti dan Tirta yang masih berdiam diri.
"Kamu siapa?" Senyuman Tirta terlihat.
"Saya Dwi, asisten rumah tangga Nyonya besar. Maaf tuan muda, melihat wajah tuan masih sangat muda, seharusnya semangat hidup lebih besar." Dwi memberikan minum untuk Tirta, Muti dan Kris.
Dwi menceritakan soal anaknya yang baru berusia dua tahun dan di vonis bocor jantung, melihat Tirta mengingatkan kepada putranya.
__ADS_1
"Dia masih kecil, masa depannya panjang. Sebagai seorang ibu aku berharap dia bisa sekolah, tubuh remaja, dewasa, dan memiliki cita-cita dan keluarga bahagia. Kebahagiaan seorang ibu bisa melihat anaknya tumbuh." Air mata Dwi tidak bisa berhenti, mengambil tisu dari tangan Tirta berusaha mengendalikan dirinya.
"Di mana dia?" Kotak tisu Tirta berikan untuk mengusap air mata.
"Sudah meninggal, saya tidak punya uang untuk pengobatan. Kamu memiliki Kris, Muti, orangtua dan keluarga yang mensupport. Ayo semangat untuk bertahan." Dwi mengusap tangan Tirta, meskipun akan sulit mengikuti proses pengobatan setidaknya memberikan harapan kepada orang-orang yang di sayang jika masih banyak waktu untuk bersama.
Kristal menepis tangan Dwi, menggenggam tangan Tirta agar tidak disentuh. Tatapan Kris tajam meminta Dwi tidak menyentuh sembarangan.
Muti menatap aneh adiknya yang memarahi Dwi padahal niatnya baik menyemangati Tirta
Dwi hanya menunjukkan senyuman, Kristal wanita yang cemburuan sehingga dia tidak menyukai ada yang menyentuh miliknya.
"Terima kasih, kamu yang sabar dan tetap semangat." Tangan Tirta terulur ingin berkenalan.
"Nama dia Dwi, Dwi dan Dwi." Kris berteriak di telinga Tirta.
"Kenapa kamu Kris?" Muti menatap aneh.
"Dia masih muda dan seumuran kita, bisa saja menjadi pelakor." Kris mengerutkan keningnya menatap sinis, menyamakan Dwi dengan Cheryl.
Mutiara langsung berdiri kaget, Kristal tega sekali menuduh orang. Bahkan dia belum punya hak atas Tirta.
"Apa hak kamu, Tirta masih jomblo. Dwi sudah mempunyai suami, tidak mungkin tertarik mengambil milik orang. Lagian kak Tirta belum ada pemiliknya."
Tirta menutup mulut Muti dan Kris, melihat Han keluar kamar dengan wajah panik begitupun dengan dokter Ilham yang baru datang.
"Ada apa ribut-ribut?" Han mengusap wajahnya.
"Maaf kak Han sudah menganggu tidur, besok Tirta ingin di rawat, dan diperiksa detail." Tirta tersenyum melihat Dwi yang menganggukkan kepalanya.
"Mulut berbusa, air mata sampai kering membujuk, tapi tetap tidak mau. Saat Dwi yang membujuk langsung mau, dasar laki-laki tidak bisa dipercaya." Kris langsung melangkah pergi menuju kamarnya.
Ilham tersenyum melihat Dwi yang mengantar kedua putrinya, dan sekarang kristal marah karena Dwi menyentuh Tirta.
"Maafkan saya." Dwi langsung mengejar Kristal.
"Ucapan Kris ada benarnya juga, Dwi memang masih muda dan cantik. Muti juga tidak rela jika kak Han disentuh. Normal namanya juga wanita." Muti menyusul Kris dan Dwi.
Senyuman Han terlihat, memeluk Tirta yang akhirnya luluh dan siap menjalani proses pengobatan.
__ADS_1
****
follow Ig Vhiaazaira