
Ekspresi wajah Tirta terkejut, tapi masih menunjukkan senyuman. Kris memonyongkan bibirnya, melihat Tirta yang masih diam saja.
Senyuman Han terlihat, menatap Muti meminta kepastian. Kepala Muti mengangguk, Han langsung mengucapkan Alhamdulillah, memeluk erat istrinya.
Han meminta semua orang keluar, meeting ditunda untuk sementara, karena pembicaraan penting sudah lebih dari cukup.
Satu-persatu orang keluar dengan senyuman lebar, mengucapkan selamat kepada Tirta dan Kris.
"Sayang, bisa kamu ulangi." Tirta merasa salah pendengaran.
"Kristal hamil dan kamu akan menjadi Ayah." Kris joget-joget kesenangan.
"Kamu hamil, yakin?" Tirta masih tidak percaya.
Kris mengeluarkan tes pack, menunjukkan kepada suaminya yang langsung mengambil dan melihat dengan jelas garis dua.
Air mata Tirta langsung menetes di atas tes pack, berkali-kali mengusapnya sambil menangis, merasa tidak percaya jika dirinya akan menjadi Ayah.
"Ini bukan mimpi, aku akan menjadi Ayah." Tirta mengusap air matanya, langsung melakukan sujud syukur sambil menangis sesenggukan.
Memeluk pinggang Kris, mencium perutnya tidak bisa menutup kebahagiaan, karena bahagia Tirta sampai meneteskan air mata.
Han juga menepis air matanya, melihat Kristal dan Tirta menangis bahagia bahkan berpelukan tidak ingin melepaskan.
Kebahagiaan keduanya diiringi banjir air mata, karena diberikan kepercayaan untuk memiliki anak kembali.
Muti dan Han juga berpelukan, merasakan kebahagiaan karena akan menjadi orang tua secara bersamaan.
"Dasar cengeng, di depan karyawan saja yang galak, di depan istri menangis." Han langsung memeluk Tirta, memberikan selamat, karena akhirnya menyusul.
"Kristal punya baby." Kris memeluk perutnya.
"Selamat ya Kris." Han memeluk kristal, bersamaan dengan Muti.
"Astaghfirullah, Kristal lupa beli tas." Pelukan Han langsung di dorong, Kris mengecek jam.
Tirta menarik tangan istrinya, heran sekali dengan Kris yang bisa mengamuk hanya karena lupa membeli tas.
Agar dua bumil bahagia, Han langsung yang akan menemani untuk membeli tas, juga menginap di hotel.
"Hotel siapa?" Muti menatap serius.
"Hotel orang sayang, tidak mungkin hotel milik kita." Han menggenggam jari jemari istrinya langsung melangkah keluar.
__ADS_1
"Ayo sayang." Tirta menarik tangan Kris untuk memeluk lengannya.
Tirta yang menyetir mobil ke tempat tas, tapi sayangnya sudah tutup. Kris dan Muti sama kecewanya.
Keinginan membeli tas baru gagal, Muti menyalahkan Kris yang bangun kesiangan, sampai akhirnya terlambat.
Han menghentikan istrinya sebelum Kris menimpali Mutiara, pasti akan terjadi keributan jika saling menyahut.
"Kita menonton saja, ada satu tempat yang romantis." Tirta membawa mobil ke tempat spesial.
Muti dan Kris tersenyum melihat sungai yang dipenuhi lampu, rasanya mereka sedang jalan-jalan di luar negeri.
"Di mana kita menontonnya?" Muti tidak melihat bangunan bioskop.
"Dari mobil, itu layarnya." Tirta memarkir mobilnya.
Pertama kalinya bagi Kris, Muti dan Han melihat bioskop di luar gedung, bahkan banyak mobil lainnya yang sudah tersusun rapi.
Sampai film habis, Han dan Tirta sudah lama terlelap tidur. Hanya Kris dan Muti yang menangis sesenggukan menonton film, karena kandasnya sebuah hubungan.
Kesedihan Muti dan Kris sekaligus bawaan hamil sampai mata membengkak, hidung merah.
"Rasanya ingin jalan-jalan keluar negeri." Muti menatap Kris yang setuju.
"Kita pergi saja ke rumah ibu, sekalian bermain di sana." Kris memberikan saran.
Suara tawa Muti dan Kris terdengar di pinggir sungai, di tangan memegang jagung saling kejar-kejaran.
Keduanya duduk menatap langit yang indah, Kris meletakkan kepalanya di bahu Muti. Merasa bahagia melihat langit yang indah, seindah harinya.
"Jagung bakar enak, tapi lebih enak kalau disuap." Muti mengigit milik Kris.
Senyuman Kristal juga terlihat, mengunyah jagung bakar sampai habis. Langsung berdiri dan berlari ke air.
"Kris, nanti basah." Muti menarik tangan adiknya, langsung berjalan di pinggir air.
Langka Muti dan Kris terhenti saat di depan mereka ada dua pasangan yang sedang bercumbu, bibir keduanya bertemu tidak ingin terlepas.
Mata Muti dan Kris terbuka lebar, terheran-heran. Ada tangan yang menutup mata keduanya, langsung memutar badan berjalan pergi menjauh agar tidak mencampuri urusan orang lain.
"Dasar perempuan jahil," ucap Han mencubit telinga istrinya.
"Kak Han sama Tirta bisa membedakan kita berdua? tidak salah menutup mata." Kris melihat keduanya yang tersenyum.
__ADS_1
"Kalian berbeda, karena setiap hari bertemu." Han merangkul istrinya untuk berjalan ke arah mobil.
Kris langsung naik ke punggung Tirta, meminta digendong, karena dirinya lelah berjalan kaki, berputar-putar bersama Muti.
Suara tawa Kris terdengar, tubuh kurusnya dengan mudahnya terangkat. Tirta tidak keberatan sama sekali.
"Kak Tirta, Kris ingin liburan."
"Kapan?" Tirta langsung menatap wajah istrinya yang sudah mengantuk.
"Besok kita ke rumah Ibu, Kris ingin bertemu Krisna." Mata Kris terpejam.
Tirta memilih diam, tidak membantah ataupun mengiyakan keinginan Kris. Kesibukan di kantor banyak tertunda, karena Tirta yang tidak punya banyak waktu, sekarang ingin liburan, rasanya ingin gila.
Apalagi kerjasama antara perusahaan S P dan JK sedang terjalin, tidak mungkin Tirta pergi meninggalkan Han sendiri.
Kristal dan Mutiara sudah tidur di mobil, Tirta masih kebingungan dengan keinginan kristal. Han membuka pintu, langsung masuk.
"Jalan Tirta." Han memasang sabuk pengaman.
"Kak, Kris ingin liburan, bagaimana Tirta menolaknya?"
"Jika Kris ingin liburan, kamu pikir Muti akan duduk diam." Han menggelengkan kepalanya, istri cerewetnya yang pertama kali bersiap untuk pergi.
Kepala Han pusing, pekerjaan banyak ditambah lagi dua bumil yang bersemangat untuk liburan. Menolak pastinya akan menyebabkan perang dunia.
Senyuman Tirta terlihat, mengigit bibir bawahnya mendapatkan cara menolak yang paling lembut, dan tidak mungkin membuat bumil mengamuk.
Usia kandungan yang terbilang rentan, terlalu berbahaya untuk berpergian jauh. Setidaknya menunggu sampai usia kandungan tiga empat bulan, baru boleh pergi.
Tangan Han mengacak-acak rambut adiknya, ucapan Tirta ada benarnya. Setidaknya mereka mempunyai waktu beberapa bulan untuk membereskan pekerjaan, lalu bisa bersantai dengan liburan.
"Otak kamu memang bermanfaat saat dibutuhkan." Han tertawa lucu melihat adiknya yang cemberut.
"Kak Han baru tahu, Tirta memang pintar." Tawa Tirta terdengar, menatap istrinya yang tidur nyenyak.
Pembicaraan Tirta dan Han sangat panjang, dari pekerjaan sampai hal lucu juga dibicarakan sepanjang jalan.
Canda dan tawa terlihat dari wajah keduanya sangat bahagia, selain bersaudara, juga bersama-sama membangun perusahaan, sesuatu yang paling spesial akan menjadi calon Ayah secara bersamaan.
Panggilan masuk di handphone Han, kening Han berkerut saat Apri memberikan laporan mengejutkan soal perusahan.
"Tirta, ucapan kamu soal Indri dan Jenny benar, cepat atau lambat mereka akan muncul kembali." Han menggelengkan kepalanya, merasa lucu dengan tingkah dua wanita tidak tahu malu.
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazaira