
Banyak alasan Muti gunakan untuk mengelak agar bisa keluar dari kamar Han, dan usahanya tidak sia-sia.
Muti berlari ke kamarnya langsung membangun Kristal untuk segera pergi ke kantor, Kris masih malas-malasan dan meminta Muti saja yang pergi.
Pukulan di pintu terdengar, Han meminta Kristal segera keluar. Muti terpaksa ikut Alhan ke kantor.
Kristal tidak menempati janjinya untuk ada di luar bersama Han, saat paling dibutuhkan Kris malas-malasan.
"Ke mana Muti? katanya ingin ke kantor?" Kris baru selesai mandi, melihat pesan di ponselnya jika Muti dan Han sudah berangkat.
Senyuman Kristal terlihat, langsung lompat ke atas ranjang. Memutuskan untuk tidur kembali, tidak tahu kenapa tubuhnya mudah lelah.
Mutiara juga mengirimkan pesan jika pintu kamar belum dikunci, karena Han sudah menarik tangannya.
Kris tidak sempat membacanya, mata Kristal sudah terpejam dan terlelap tidur.
Tirta mencoba mengendalikan dirinya, langsung berlari ke kamar mandi dan mengeluarkan seluruh isi perutnya.
Kepalanya sakit sekali, semalaman mabuk sendirian membuat Tirta kesepian. Tatapan Tirta melihat sekitar, dia baru sadar jika ada di rumah Alhan.
"Kak Han." Tirta mendorong pintu mencari Alhan di kamarnya, tapi apa yang Tirta lihat bukan Alhan.
Awalnya Tirta ragu untuk masuk, tapi akhirnya tetap masuk mengunci pintu agar tidak ada yang bisa masuk.
"Kristal." Tatapan mata Tirta melihat dari ujung kaki Kris yang menjuntai di ranjang, sampai ke atas dadanya.
Tubuh Kris hanya tertutup handuk, memperlihat keindahan tubuhnya yang membuat Tirta mengingat kembali hubungan satu malam mereka.
"Maafkan aku kak Alhan, ambil apapun yang ingin kak Han miliki, tapi Tirta hanya menginginkan dia." Tangan Tirta membuka handuk Kris perlahan.
Tubuh polos Kristal terekspos tanpa tertutup sehelai benangpun, Tirta menggenggam tangan Kris membopongnya untuk tidur di bantal.
Satu persatu baju Tirta terbuka dan dilempar ke lantai, selimut ditarik menutupi tubuh kedua. Tirta hanya meminta maaf kepada Kris jika dirinya tidak bisa mundur.
Tirta berada di atas tubuh Kris, menutupi dari ujung kaki sampai ujung kepala tubuh mereka. Kristal langsung berteriak, tapi tidak lama dia hanya bisa diam saat mulutnya ditutup bibir Tirta.
Kristal tidak bisa meronta sama sekali, hanya bisa menerima apa yang Tirta lakukan untuk kedua kalinya.
"Tirta, kamu jahat." Kris memukul tubuh Tirta yang membuatnya tidak berkutik.
"Aku mencintai kamu Kristal, tinggalkan Han demi aku." Tirta mencium kening Kristal yang sudah mandi keringat dan kelelahan.
Tidak ada jawaban sama sekali, Kris membenci cara pikir Tirta yang ingin memilikinya dengan melakukan jalan pintas.
__ADS_1
Jika sampai Alhan tahu, bukan hanya Tirta dan Kris yang mati tetapi saudara kembarnya juga mati.
***
Di kantor Muti mengikuti ke manapun Alhan pergi, banyaknya rekan kerja Han yang mengakui kecantikan Kristal, dan tidak pernah menyangka jika keduanya akhirnya benar-benar menikah.
Selesai melakukan meeting yang menguras pikiran, Han dan Muti kembali ke kantor untuk beristirahat sejenak.
Di dalam ruangannya, Jenny sudah menunggu Han sambil tersenyum membawakan Han makan siang.
Tatapan Muti tajam melihat Jenny, ada beberapa obat yang Jenny bawa sesuai keinginan Han.
"Obat apa ini?" Muti merampas obat dari tangan Jenny.
"Obat-obatan yang aku dapatkan dari luar negeri, dia dulunya dokter Papinya Han."
"Sebaiknya kita makan siang dulu." Han meminta Muti menyiapkan makanan yang sudah dibawa oleh Jenny.
Keduanya makan sambil mengobrol soal kondisi pabrik, Muti sudah mirip orang ketiga diantara keduanya.
"Baiklah Han, aku kembali dulu." Jenny tersenyum langsung melangkah pergi tanpa menyapa Mutiara.
"Ambilkan minun Kris." Han ingin meminum obatnya.
Sebelum Alhan marah, Muti sudah berteriak lebih dulu. Menjelaskan segala hal yang bersangkutan dengan obat-obatan yang Han konsumsi.
Muti menunjukkan sesuatu di ponselnya, Alhan tidak percaya ucapan Muti langsung menghubungi dokter pribadinya untuk memastikan ucapan Muti.
"Awas saja jika kamu bicara tidak sesuai fakta." Han mengancam Muti untuk menarik setengah sahamnya.
"Sebenarnya kamu ikhlas tidak memberikan sahamnya? diungkit terus!" Muti melotot membuat Alhan tertawa kuat dan merasa lucu melihat Muti ngambek.
Han menarik kembali ucapannya, tidak akan mengungkit lagi soal saham yang ada di perusahaan keluarga Iskandar.
"Sejak kapan kamu peduli sama aku sampai menyelidiki obat-obatan ini?" Han meminta Muti berhenti cemberut.
"Aku ingin kamu sembuh, berjalan seperti semula." Senyuman Muti terlihat, menginginkan Han memprioritaskan kesembuhannya.
Alhan terdiam, sudah lima tahun dirinya mencoba untuk pulih seperti sedia kala, tapi kenyataannya sampai detik ini kondisinya tidak bisa pulih, dan semakin memburuk.
"Kamu terlalu mempercayai Jin oh jin." Muti memang tidak mengetahui apapun soal hubungan lama Alhan dan Jenny, tapi Muti tidak mempercayainya.
Dokter Rayan tiba, langsung melihat obat-obatan yang pernah Muti selidiki dan membenarkan jika obat berbahaya untuk kesehatan Han.
__ADS_1
"Beberapa hari ini aku merasa baik, tidak pusing dan lemas lagi. Sesak dada juga jarang kambuh." Han meminta Rayan mengecek kembali soal obatnya, tidak mungkin Jenny dan dokter Bundanya berbohong.
Rayan mengambil obat yang baru Jenny berikan, dia akan mengecek ulang di lab dan secepatnya menghubungi Alhan.
Rayan juga memberitahu Han soal Muti yang menukar obat-obatan, dan Muti cukup hebat untuk mengetahui soal obat.
Han menatap dengan kaget, sepengetahuannya Kristal wanita yang sangat takut dengan obat-obatan, rumah sakit, suntikan. Hal mustahil bisa mengetahui soal obat.
"Kamu banyak keanehan Kris."
"Kamu juga." Muti meminta Alhan berhati-hati kepada Jenny, dulu mungkin baik, tapi seseorang bisa berubah kapanpun.
Orang yang Han anggap kawan bisa menjadi lawan, sedangkan lawan bisa menjadi kawan. Berhati-hati lebih baik untuk mempercepat kesembuhan Han.
"Siapa orang yang bisa aku percaya?"
"Muti, dan jangan mempercayai dokter Rayan juga dia bisa berubah haluan." Tatapan Muti tajam melihat Rayan yang tersenyum.
Alhan mengerutkan keningnya, dia tidak mungkin salah dengar. Rayan tidak begitu menyimak apa yang Muti katakan.
"Kris, siapa Muti?" Han menatap tajam.
Mutiara langsung terkejut, mengangkat bahunya tidak mengetahui apa yang Alhan pertanyakan.
"Aneh, siapa dia?" Han tersenyum sinis, rasa penasaran semakin besar soal Mutiara yang sangat Kristal percaya.
Bahkan Kris juga memintanya mempercayai Muti yang seperti orang yang sangat bisa dia percaya kebenarannya.
Rayan langsung pamit pulang, Muti juga ingin pamit pulang.
"Kamu pikir ini kantor bapak kamu bisa pulang seenaknya."
"Aku tidak punya bapak ." Suara Muti tertawa terdengar, dia pikir Alhan bercanda.
Muti langsung berlari mengejar Rayan, teriakan Alhan tidak dia pedulikan. Muti harus menghindari pertanyaan soal dirinya.
***
follow Ig Vhiaazara
jangan lupa like coment Dan tambah favorit
vote hadiahnya ya ditunggu
__ADS_1