MUTIARA & KRISTAL

MUTIARA & KRISTAL
KRIS MENGHILANG


__ADS_3

Dwi kebingungan menunggu Muti belum juga kembali, langsung menghubungi suaminya yang masih bekerja.


"Ke mana Mutiara?" Dwi kebingungan, karena tidak bisa menghubungi Muti.


"Ada apa Wi?" Ilham langsung mendekati istrinya yang duduk sendirian.


"Mutiara menghilang." Dwi masih menghubungi Muti.


Seseorang berlarian, membisikkan sesuatu kepada dokter Ilham. Dwi langsung berdiri, mengikuti suaminya yang berjalan ke ruangan pribadi.


Keributan sedang terdengar, keluarga Arnas tidak terima atas perlakuan Muti yang menyerang pasien yang baru selesai menjalankan operasi.


Melihat kemarahan, Muti hanya duduk santai di kursi Papanya. Ilham langsung masuk, menghela nafasnya mendapatkan kabar Muti menyerang pasien.


"Apa orang tua kamu tidak pernah mengajari cara sopan santun?" Papi Arnas menatap penuh amarah.


"Iya, aku memang tidak pernah diajari, terutama aku tidak diajarkan cara merusak rumah tangga orang." Muti menatap tajam tidak menyukai pria dihadapannya.


Tangan pria paruh baya langsung terangkat ingin menampar Muti, secara langsung Muti langsung berdiri menantang tanpa rasa takut.


"Berhenti." Ilham langsung menahan keributan.


Tatapan Ilham terarah kepada Muti, mengusap kepala Putrinya dan menasehati Muti tidak boleh menggunakan kekuasaan untuk menghakimi orang lain.


Secara langsung Ilham meminta maaf atas sikap Putrinya yang tidak sopan, meminta keluarga korban untuk bicara baik-baik.


"Oh ... alasan dia berani ternyata, karena Putri pemilik rumah sakit ini, asal kalian tahu, saya bisa menghacurkan rumah sakit ini." Suara tinggi terdengar, menunjuk Ilham penuh kemarahan.


Saling dorong juga sudah terlihat, Muti menatap tajam. Dwi langsung menepis pria yang mendorong suaminya.


Tubuh Dwi didorong kuat, bersyukurnya Tirta cepat datang langsung menangkap Dwi yang hampir terlempar jatuh.


"Astaghfirullah Al azim, Manda." Tirta langsung membawa ke tempat duduk.


Mutiara langsung maju, tangan Muti ditarik oleh Ilham. Melarang Putrinya mengotori tangan.


Tangan Ilham menggenggam kuat, mengikuti apa yang diinginkan oleh korban. Ilham menghubungi kepolisian untuk menyelesaikan masalah ke jalur hukum.


"Kami akan menuntut rumah sakit ini."


"Silahkan jika anda mampu, seberapa banyak kekayaan kalian sehingga mampu mengalahkan kekayaan keluarga kami." Ilham meminta pengacaranya datang, dan pihak rumah sakit langsung mengeluarkan Arnas dari rumah sakit secara tidak terhormat.

__ADS_1


Melihat istrinya disakiti, Ilham tidak terima apalagi sedang hamil muda, dirinya tidak bersikap sebagai dokter, tapi suami dan seorang Ayah.


"Kamu marah demi anak, saya juga sama." Ilham menahan tangan yang ingin memukulnya.


Tendangan Muti langsung melayang, jika Papanya sampai melayangkan pukulan bisa merusak reputasinya sebagai dokter, tapi bagi Muti tidak ada reputasi yang harus dijaga.


"Berhenti!" Han langsung memeluk Muti dari belakang, Ilham dan Tirta sudah terjatuh kalah melawan kemarahan Muti.


Tatapan Han tajam, meminta Tirta membawa Muti keluar, sekaligus bersama dengan Manda agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


Pukulan Han langsung melayang, wanita yang dipukul istrinya. Dia wanita yang paling Han cintai, tapi diserang oleh pria lain.


"Pak Han."


"Aku yang memberikan kalian kemewahan, dan beraninya kamu menyentuh istriku."


"Han, demi hubungan baik keluarga kita, sebaiknya masalah ini dibicarakan baik-baik. Istri kamu yang mulai duluan."


"Putriku tidak pernah membuat masalah lebih dulu, jika kalian tidak mengusiknya." Ilham tidak ingin damai, apalagi sudah mendorong istrinya.


Alhan tersenyum sinis, tidak ada namanya hubungan baik dalam bisnis bagi Han. Siapapun yang menyakiti keluarganya, sama saja mengibarkan keributan.


"Sebaiknya kalian pergi dari rumah sakit ini, dan kita selesaikan di persidangan." Ilham meminta satpam mengusir keluarga Arnas.


"Han, bagaimana dengan kerja sama kita?"


Mata Han sinis, tidak ada kerja sama bagi siapa yang menyentuh istrinya. Setelah suasana tenang, Ilham langsung mencari Dwi untuk memeriksakan kandungannya.


"Apa yang kamu rasakan?"


"Dwi baik-baik saja, tadi tidak terjatuh sama sekali." Senyuman Dwi terlihat, meminta Han dan Ilham diam.


Mutiara sedang marah kepada Tirta, dan tidak ada yang berani membantah hanya diam mendengarkan saja.


Kepala Tirta hanya tertunduk, tidak memberikan jawaban atas tuduhan Muti yang mengatakan jika dirinya membuka peluang untuk orang baru.


Tirta langsung ingin membela diri, dia berani bersumpah tidak ada maksudnya mengudang ke apartemen.


Kedatangan Arnas tanpa sepengetahuan Tirta, bahkan Tirta juga tidak terpikirkan jika Arnas sedang sakit.


"Aku hanya menolong, dan aku tidak tahu apapun tujuan Arnas."

__ADS_1


"Oke, anggap saja kamu tidak tahu, lalu apa maksudnya jika kamu sebenarnya bukan anaknya Cherly. Tujuan mereka tidak jauh dari harta." Muti menatap tajam, meminta penjelasan alasan Tirta menutupi identitasnya.


Kepala Tirta menggeleng, dia tidak tahu menahu soal siapa dirinya. Selama Cherly diam, dan tidak mengatakan kebenaran, Tirta juga tidak ingin mengetahui lebih jauh.


Jika kebenaran terbongkar, kemungkinan dirinya akan lebih merasakan sakit lagi. Bagi Tirta dia tidak peduli dari mana asal usulnya, cukup hidup tenang tanpa mengusik hidup siapapun.


"Sekarang di mana Kristal? bahkan kamu tidak tahu keberadaan istri kamu, karena sibuk mengurus wanita lain." Muti langsung melangkah pergi.


Ilham langsung terkejut, menahan Muti meminta penjelasan maksud dari ucapan Muti soal keberadaan Kris.


"Ada apa Muti? di mana Kristal?"


"Biarkan saja Kris menenangkan diri sementara waktu, biarkan Tirta mengurus sahabatnya terlebih dahulu. Muti pastikan Kris baik-baik saja." Muti langsung melangkah keluar, menggunakan taksi untuk pulang.


Panggilan Han juga tidak dihiraukan, semua orang terkena imbasnya hanya karena masalah satu orang.


Dwi langsung menghubungi Kristal, nomor Kris tidak aktif. Perasaan Dwi langsung khawatir, melihat dari sikap keras Muti, sudah pasti Kris lebih keras lagi.


"Kak, cepat temukan Kristal."


"Tirta, jelaskan kepada Panda. Apa yang sebenarnya terjadi?" Ilham bicara pelan, meminta penjelasan.


Tirta langsung mengatakan kebenarannya, tanpa melewati atau mengurangi apa yang sebenarnya terjadi secara dadakan.


Ilham langsung meminta bantuan bawahan, harus mencari Kristal sampai ketemu, dan Putrinya tidak boleh terluka sedikitpun.


"Percuma, Kris tidak mungkin bisa ditemukan." Han sangat mengetahui sikap Kris.


Jika dia sudah menghilang, tidak ada yang bisa menemukannya kecuali dirinya sendiri yang mengatakan keberadaannya.


Saat masih muda, Kris juga pernah melarikan diri. Tidak ada yang bisa menemukannya, sekalipun Han.


"Kris memiliki tempat persembunyian yang masih dirahasiakan, ke ujung dunia sekalipun tidak mungkin bisa menemukan Kristal." Han meyakinkan untuk membiarkan Kris kembali dengan sendirinya.


Alhan akan mencoba bicara dengan Muti yang pastinya tahu keberadaan saudara kembarnya, karena melihat dari sikap Muti yang sudah mengetahui semuanya, berarti Kris sudah menghubungi.


"Tirta, jauhi Arnas. Dia bisa menjadi bumerang dalam rumah tangga kamu. Apapun alasan, jangan pernah memberikan peluang." Han menepuk pundak adik lelakinya yang terlihat terluka.


***


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2