
Di rumah sakit Han terduduk diam, kepalanya menggeleng jika mengingat saat pertama kali masuk ruangan Tirta.
Han menemukan sebuah map, dan melihat hasil tes kesehatan yang menyatakan jika Tirta terkena kanker
Awalnya Han tidak percaya, dia tahu jika Tirta sering becanda dan mencoba menipu Maminya.
Saat melihat cara Cherly memperlakukan dengan kasar, Han akhirnya percaya jika Tirta memang sakit.
Dia selalu melawan apapun yang Maminya katakan, pertama kalinya Han melihat Tirta yang diam tidak melakukan perlawanan apapun.
"Alhan."
Ilham menepuk pundak Han, meminta makan terlebih dahulu. Kondisi Tirta sudah cukup parah.
"Pa, Tirta bisa sembuh?" Han mengusap wajahnya.
Tidak ada jawaban hanya helaan nafas panjang, kondisi Tirta sudah terlambat diobati. Seharusnya dia sudah melakukan sejak kanker baru stadium satu.
Han tidak bisa berpikir lagi, segala cara akan dia lakukan agar adiknya bisa pulih kembali tertawa seperti biasanya.
Pintu ruangan Tirta terbuka, Han langsung melangkah masuk menatap adik tirinya yang dari awal selalu mengikuti Han meksipun keberadaannya tidak diterima.
"Tirta, kenapa kamu tidak pernah mengatakan apapun kepada kak Han?"
Mata Tirta terbuka, menatap sekitarnya. Tangannya juga diinfus membuat Tirta sudah mengerti sekarang dirinya ada di mana.
"Kak, Tirta ingin pulang saja."
"Bodoh, kamu harus diobati. Kita akan mengobati penyakit kamu, meskipun harus ke ujung dunia." Han menaikan nada bicaranya.
Tirta langsung tertawa, merasa lucu dengan ucapan Han yang berlebihan. Melihat hasil pemeriksaan, dokter saja tidak yakin bisa diobati.
Hasil pemeriksaan sudah cukup jelas bagi Tirta, dia tidak ingin menghabiskan waktu di rumah sakit dan mengikuti proses pengobatan yang membuatnya bisa gila.
"Aku tidak ingin diobati kak, sebaiknya kita pulang."
"Sampai kapan kamu keras kepala, jika sakit harus berobat bukan menunggu sampai menyebar dan membunuh kamu." Tangan Han menahan tubuh Tirta agar tetap di rawat
Han akan menemani Tirta sampai sembuh, Han akan melakukan segala cara agar bisa mengobati kanker yang ada di tubuh adiknya.
"Stadium empat kak, aku hanya bisa bertahan satu tahun. Waktu satu tahun bisa Tirta gunakan untuk bersenang-senang, bukan membusuk di rumah sakit." Bibir Tirta gemetaran, air matanya menetes tidak bisa dibendung lagi.
__ADS_1
Tangisan Tirta langsung pecah, memeluk Han sangat erat jika dia tidak ingin diobati. Meminta Han mengerti jika sudah terlambat baginya.
"Kenapa kamu baru melakukan pemeriksaan sekarang? tidak mungkin selama ini tidak merasakan sakitnya." Han mengusap kepala adiknya.
Tirta memang sering sakit kepala saat tinggal di luar negeri, meminum obat seadanya dan hilang. Saat lelah, sakit kepalanya pasti kumat dan sampai beberapa kali pingsan.
"Rasa sakitnya sering datang, bahkan dalam satu hari beberapa kali. Tirta mengecek ke dokter dan dinyatakan kangker." Air mata Tirta banjir membasahi pipinya.
Dokter Ilham mendekat, mengusap punggung Tirta meminta sementara tetap di rumah sakit. Ilham akan menghubungi dokter terbaik di luar negeri, dan meminta pengecekan detail.
"Kita usahakan obati dulu, tidak ada penyakit tanpa obat. Kamu harus menyemangati diri sendiri, banyak orang di sisi kamu. Jangan menyerah nak."
"Stadium empat, Tirta bertanya apa ada kesempatan hidup?"
"Memang sulit Tirta, setidaknya kita melakukan penanganan cepat, untuk mengurangi keluhan dan mengurangi pertumbuhan sel kanker."
Tirta meremas kepalanya, membaringkan tubuhnya. Tidak ingin bicara dengan siapapun hanya bisa diam.
Melihat kondisi Tirta yang menolak pengobatan, Han tidak punya pilihan kecuali menemui orang tua Tirta.
"Pa, Han titip Tirta. Aku harus menemui Papi dan Maminya."
Alhan langsung melangkah pergi, ditemani oleh Apri yang menemukan Tirta jatuh pingsan saat persiapan meeting.
"Bagaimana keadaan Tirta Han?"
"Buruk, dia tidak ingin diobati." Kepala Han juga langsung pusing.
Apri sudah menduga, tidak heran di ruangan Tirta banyak obat-obatan yang selalu dia konsumsi.
"Han, aku memiliki saran. Lebih baik Kris tahu, dan membantu membujuk Tirta."
Han menganggukkan kepalanya, dia akan memikirkan lagi. Lebih baik memberitahu orang tua Tirta agar menemukan solusi terbaik.
Sesampainya di kediaman Papi dan Mami tirinya, Han ragu untuk melangkah masuk apalagi sudah malam.
Apri di minta tetap diam di mobil, karena Han tidak akan lama bicara dengan dua orang yang tidak dia sukai.
"Semoga saja Cherly tidak membuat keributan." Han memohon dalam hatinya.
Kedatangan di tengah malam membuat Papinya kaget dan langsung cemas melihat Han yang berdiri di ruang tamu.
__ADS_1
"Mau apa kamu? ini pertama kalinya menginjakkan kaki ke sini?" Cherly menatap aneh.
"Jika bukan sesuatu yang mendesak, aku tidak akan datang ke sini." Han menatap Papinya yang meminta Han duduk.
Suara Cherly yang banyak bicara, menuduh Han yang pastinya meminta bantuan soal perusahan. Perasaan Cherly tidak pernah salah, jika Han memang harus melepaskan perusahaan.
"Diam Cherly, kamu duduk dulu Han."
"Aku datang bukan untuk menyapa kalian."
"Kurang ajar sekali kamu jika menyapa di jam segini, kedatangan kamu pasti ada masalah." Wajah Cherly menatap sinis.
Han membenarkan jika kedatangannya karena ada masalah, sebuah masalah yang tidak bisa Han selesaikan sendiri. Bukan kewajiban Han untuk menanggungnya, karena dia masih memiliki orang tua.
"Ada apa Han, kamu duduk dulu. Bicara pelan dengan Papi."
Alhan menyerahkan sebuah map, meminta Papinya membaca dengan teliti. Cherly langsung merampas, melihat sekilas isi map yang menyatakan diagnosis dokter soal penyakit kangker.
Cherly langsung melempar ke atas meja, Han baru saja sembuh dari lumpuh, sekarang sudah mengindap kanker.
"Kesialan apa ini Han? kamu sakit. Butuh biaya pengobatan."
"Cherly! aku mampu soal biaya. Aku datang hanya ingin meminta dukungan kalian soal kondisi Tirta." Han membuka map dan menunjukkan nama Tirta tertera.
Cherly langsung menyobek kertas, tidak mempercayai Han yang pastinya hanya berniat membatalkan pernikahan Tirta.
Kepala Han geleng-geleng, Cherly memang tidak punya otak. Penyakit dianggap main-main.
"Aku sudah memberikan kabar, terserah percaya atau tidak. Kanker stadium akhir, Tirta menolak pengobatan." Han melangkah pergi, berhenti sesaat menatap Papinya yang langsung panik.
Han memberitahu tempat rawat Tirta, berharap ada dukungan agar Tirta memiliki alasan untuk bangkit dan berjuang untuk hidup.
"Aku hanya kakak tiri, hubungan kami tidak terlalu dekat. Kalian harus datang memberikan cinta untuknya." Han langsung melangkah pergi.
Sejujurnya Han sakit melihat rumah yang dulunya Bundanya bangun, tapi dimiliki oleh orang lain. Tetapi demi Tirta Han memaafkan kesalahan lama Papinya yang sudah tega melukai Bundanya.
"Han terima diabaikan, tapi jangan lakukan kepada Tirta. Dia tidak salah, dan sekarang harus berjuang melawan penyakit mematikan." Langkah kaki Han meninggalkan rumah yang menyesakkan dadanya.
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1