
Wajah Ilham binggung melihat dua anak bertengkar hanya karena artis, pengarang cerita, penulis sampai teriak-teriak membentak.
Tidak ada satupun yang ingin mengalah, Muti dan Kris lupa jika mereka sedang mendengarkan penjelasan Ilham.
"Keluar!" Kris melempar Muti dengan buah-buahan yang tersusun rapi di sampingnya.
"Huh, tidak kena." Muti menghindari lemparan Kristal.
"Dasar kak Muti bodoh, sudah Kris jelaskan pengarang cerita sama saja dengan penulis cerita, tidak ada sangkut pautnya dengan artist." Kris melotot, masih melempari Muti.
"Kamu yang bodoh, artis juga bisa menulis. Dia juga bisa membuat cerita dan dia juga yang memainkan perannya." Muti masih saja menganga dirinya benar.
Perdebatan belum berakhir, adu mulut keduanya langsung panjang berjalan ke mana-mana, segala hal sudah diungkit.
"Tunggu, kak Muti mengatakan apa tadi? saham kita dikembalikan kepada Daddy?" Kris langsung ingin berdiri, mengambil infusnya.
Muti langsung diam menggelengkan kepalanya, dia tidak mengerti apapun soal saham. Kristal sudah mulai tuli.
Ilham masih diam, melihat kedua putrinya yang sudah dewasa, tapi masih kekanakan. Satu-persatu buah Ilham kumpulkan ke dalam ranjang buah, langsung menyiapkan air untuk mencucinya.
Muti dan Kris sudah diam, melihat dokter Ilham menyusun buah dan membersihkan bekas pertengkaran keduanya.
"Selesai bertengkar? kalian berdua apa sering seperti ini?" Senyuman dokter Ilham terlihat.
Muti langsung duduk, menendang buah apel sisa satu ke arah Ilham yang masih sibuk merapikan buah. Senyuman Ilham terlihat langsung mengambil buah apel dan mencucinya bersih.
Tatapan Kristal melihat lelaki lembut di samping ranjangnya, terlihat dari tangan masih sangat kekar.
"Kenapa dokter kembali ke sini?" Kris memalingkan wajahnya.
"Papa meninggal dua bulan yang lalu, dan Bunda meminta tinggal di sini dan menetap."
"Kenapa kamu tidak menikah?" Muti menaikan nada bicaranya.
Ilham langsung melihat Muti, dan menatap Kristal yang memiliki wajah sama dan memiliki sikap beda. Dari tatapan mata Ilham bisa melihat jika Kris anak yang egois, pintar mengendalikan diri, dan cara bicaranya berwibawa.
Sedangkan Mutiara, cara bicaranya spontan, tatapan matanya teduh dan menenangkan. Dibalik sikapnya yang keras, Muti wanita yang penyayang.
__ADS_1
"Kenapa dokter tidak menikah?" Kris mengulang ucapan Muti.
"Aku tidak bisa jatuh cinta, rasanya sakit hati masih terasa."
"Aku bertanya tidak dijawab, tapi Kris langsung dijawab. Dasar aneh." Tatapan mata Muti sinis, memalingkan wajahnya tidak suka.
"Maafkan aku Mutiara, kamu sebenarnya wanita baik dan penyayang. Mata kamu menunjukkan betapa baiknya kamu."
"Benar, Kris juga merasakan. Dokter harus tahu, kak Muti sangat nakal sejak kecil, dia juga cengeng dan suka menangis, selalu menunjukkan pribadi yang kuat, tapi selalu menangis dipojokan." Kristal tertawa melihat wajah kakaknya yang kesal.
"Kamu juga baik Kristal, belajar untuk memaafkan diri sendiri dan menerima kekurangan kamu, jangan takut jatuh." Dokter Ilham tahu, Kris banyak menyimpan rasa sakit sendirian, dan sudah waktunya dia berbagi.
Mata Mutiara terpejam, mulutnya masih mengunyah buah apel yang Kristal lemparkan. Muti memiliki banyak pertanyaan, tapi dia juga tidak bisa menyalahkan dokter Ilham.
Benar tidaknya yang terjadi, dirinya dan Kristal sudah lahir dan tumbuh dewasa, tidak ada gunanya lagi dia menyimpan amarah.
"Berapa usia dokter sekarang?" Muti membuat matanya.
Kristal langsung menatap ke arah dokter Ilham yang mengecek kondisi Kristal, senyuman terlihat dari wajah tampan yang masih terawat.
"Aku sudah tua, dan tahun ini menginjak empat puluh lima."
"Empat lima, tapi masih tampan dan terawat. Uang memang bisa mengubah segalanya, di desa tempat Muti tinggal empat lima punya lima cucu dan wajahnya keriput, istrinya ada tiga. Dia juga ingin menikahi Muti menjadi istri keempat, makanya Muti pergi dari sana." Tangan Muti menutup mulutnya, jika sudah mengoceh selalu lepas kendali.
"Kak Muti tidak pernah cerita?" Kristal langsung tertawa lucu.
"Di desa Muti yang paling cantik, nenek selalu melarang aku mandi di sungai, karena takut ada yang mengintip. Wajah Muti sengaja dibuat jelek, karena banyak orang yang datang melamar."
Wajah Kris langsung kaget, jika Han sampai tahu pasti sangat cemburu. Kris juga selama ini tidak sadar jika wanita secantik Muti tidak mungkin tanpa pengagum rahasia.
Seseorang yang tinggal di tempat terpencil, biasanya menikah muda dari usia remaja jarang sekali yang bisa di atas dua puluh tahun.
Kristal dan Mutiara langsung tertawa, cerita Muti soal para lelaki tua membuat keduanya tertawa lucu dan konyol.
Suara tawa Muti dan Kris langsung berhenti, Dokter Ilham meneteskan air matanya melihat wajah Muti yang hidup di tempat terpencil.
Cerita Muti tidak lucu bagi Ilham, tapi sangat menyakitkan untuk didengar olehnya.
__ADS_1
"Kenapa menangis?" Muti kebingungan menatap Kris.
"Berapa lama kamu tinggal di desa? sama siapa kamu di sana? berarti selama ini kalian terpisah?" Banyak sekali pertanyaan yang diajukan membuat Muti hanya diam.
Akhirnya Kristal yang menjelaskan kondisi mereka sejak kecil, lalu dipisahkan selama hampir dua puluh tahun, dan bertemu kembali dalam keadaan yang membingungkan.
"Kita berdua memiliki masa yang sama-sama sulit, tapi setelah bertemu apapun masalah kita tetap tersenyum. Ada banyak hal yang kami lewatkan." Kris mengulurkan tangannya meminta Mutiara mendekat.
Keduanya berpelukan, merasa senang karena masih diberikan kesempatan untuk memperbaiki diri dan membenahi keadaan.
"Della melakukan ini kepada kalian?" Ilham semakin terluka melihat senyuman si kembar.
"Kami sekarang baik-baik saja, tidak ada masalah yang ditakuti selama kita bersama." Muti memeluk Kris sangat erat, mencium pipinya.
Kedua tangan Ilham langsung memeluk Muti dan Kris penuh kasih sayang, air mata Ilham menetes di tangan Muti.
Suara pelan terdengar meminta maaf, rasa bersalah Ilham sangat besar setelah mengetahui kedua anaknya sangat menderita.
"Maafkan aku."
"Muti dan Kris maafkan, kami tahu dokter Ilham tidak salah. Maafkan kami yang memaksa untuk lahir, padahal kita tidak diinginkan." Muti menunjukkan senyuman.
"Jika aku tahu kalian tumbuh, aku tidak mungkin pergi dan melepas tanggung jawab. Apapun yang terjadi, kalian pasti akan aku besarkan." Suara Ilham bicara putus-putus karena dadanya sangat sesak.
Tangan Kristal mengusap air mata yang mengalir dari pipi, meminta berhenti menangis karena saat ini mereka sudah tumbuh dewasa. Apapun yang terjadi di masa lalu, sudah menjadi takdir.
Rasa kecewa, marah, sedih pasti Kris dan Muti rasakan, tapi ada hal yang tidak bisa mereka paksaan dan membiarkan masa lalu di belakang.
"Muti dan Kris takut, kita berdua takut saat tahu siapa Ayah kandung, karena kami takut ditolak dan tidak diakui." Muti mengusap air matanya.
Kristal menganggukkan kepalanya, rasa takut tidak diakui membuat keduanya memilih menjauh daripada banyak yang terluka.
***
follow Ig Vhiaazaira
jangan lupa like coment Dan tambah favorit
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira