MUTIARA & KRISTAL

MUTIARA & KRISTAL
KESALAHAN DIAGNOSIS


__ADS_3

Beberapa dokter yang menatap layar saling pandang, dokter Ilham juga sampai binggung melihat hasil pemeriksaan Tirta.


"Apa-apaan ini?" Ilham melihat dokter yang pernah mendiagnosis Tirta.


Bekali-kali dilakukan cek ulang, tidak terlihat keberadaan dari kangker yang menyerang bagian kepala, bahkan seluruh tubuh Tirta.


"Sudah cukup, bisa jelaskan ini?" Ilham menatap dokter yang kebingungan.


"Saya akan mencari tahu terlebih dahulu."


Hampir tiga jam menunggu, Han mulai cemas dan bingung. Tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi sampai pemeriksaan sangat lama.


Kesabaran Kris habis, langsung berdiri ingin melangkah masuk dan melihat apa yang sebenernya para dokter lakukan.


"Berapa lama lagi kak Han?" Muti mengaruk kepalanya, melihat Han yang mondar-mandir.


Dokter Ilham keluar dari ruangan, menatap Han, Kris dan Muti yang sama-sama berdiri dan menatap khawatir.


"Panda, bagaimana kondisi Tirta?" Jantung Kristal berdegup kencang, tubuhnya terasa lemas dadakan.


Han menganggukkan kepalanya, dirinya siap apapun hasilnya. Han akan mencari pengobatan terbaik.


Dokter lama yang menyatakan Tirta mengidap penyakit kangker otak langsung menundukkan kepalanya, meminta maaf kepada keluarga.


"Bagaimana hasilnya?" Tanya Han yang merasa ada yang tidak beres.


Tirta langsung keluar, berdiri di samping kakaknya yang terlihat mulai marah. Seorang suster langsung mendekat memberikan hasil pertama dan kedua.


Han langsung mengambil hasil tes kedua, melihat hasil yang berbeda jauh dan Han rasanya ingin marah, juga menangis bahagia.


"Kami meminta maaf kepada Tirta dan juga pihak keluarga." Dokter dan tim yang menangani pertama kali langsung menundukkan kepala berkali-kali.


Dokter mejelaskan kejadian saat pemeriksaan Tirta, dan ada seseorang juga yang melakukan pemeriksaan dan nama keduanya hampir mirip, satunya sakit kangker otak dan Tirta mengalami darah rendah.


Kristal langsung teriak kaget, Tirta sama kagetnya dan tidak menyangka dokter bisa melakukan kesalahan fatal.


Alhan langsung mengangkat tangannya ingin memukul dokter, tangan Han langsung ditahan oleh dokter Ilham untuk menahan diri.


"Kalian tahu sulitnya kami beberapa minggu ini, kesalahan kecil tapi berakibat fatal. Ini bersangkutan dengan nyawa, dan sampai detik ini tidak ada yang tahu jika kami tidak memeriksa ulang." Pukulan kuat menghantam dinding.

__ADS_1


Meminta maaf mudah, tapi seorang dokter tidak boleh melakukan kesalahan yang merugikan orang lain.


"Aku tahu dokter juga manusia, kalian bisa melakukan salah. Ini penyakit kangker stadium akhir, kami hampir ikutan mati memikirkannya." Han menggenggam tangannya menahan emosi.


Kristal mendekati dokter, air matanya sudah menetes menarik kerah baju dokter meminta menatap.


Ilham langsung memeluk Kris dari belakang, tidak mengizinkan Kris menyakiti. Hasil pemeriksaan Tirta ada kesalahan, tapi setidaknya mereka semua bersyukur jika memang salah


"Lalu kenapa dia selalu sakit kepala?" Muti menatap dokter menjelaskannya.


Tirta mengalami pusing, mual bahkan tubuhnya lemas karena darahnya sangat rendah. Dirinya sempat pingsan karena darah hanya mencapai 50.


Dokter Ilham mengizinkan untuk pergi, meminta semuanya tenang dan bersyukur diagnosis salah.


Han sudah duduk di lantai, menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Mengendalikan dirinya yang rasanya ingin sekali memukul Tirta.


"Aku tidak sakit kangker?" Senyuman Tirta terlihat.


"Alhamdulillah ya Allah." Dwi merangkul Muti langsung berpelukan.


Tirta langsung memeluk Mutiara dan Dwi yang sangat mensupport dirinya, Kris juga menangis dalam pelukan Papanya.


Sejak Kris masuk rumah sakit Tirta memang banyak melamun, gila kerja dan tidak seperti dirinya biasanya. Kesibukan dan banyak pikiran membuat tubuhnya tidak fit.


Saat melakukan pemeriksaan, kondisinya mengejutkan meksipun hasilnya salah tetapi sudah menjadi ketakutan terbesar.


"Kak, Tirta baik-baik saja. Terima kasih masih di sisi Tirta dalam keadaan yang sangat menakutkan." Pelukan Tirta erat kepada Han yang masih diam saja.


Sejujurnya hati Han sangat bahagia, karena satu-satunya orang yang masih menganggapnya manusia hanya Tirta.


Meksipun Han selalu menolak keberadaannya, Tirta selalu datang mengunjungi dan hanya sekedar menyapa.


"Minggir, aku ingin pulang." Han memukul pelan kepala Tirta.


Kristal langsung memeluk Tirta erat, tangisannya masih terdengar bersyukur karena Tirta baik-baik saja.


"Dibalik masalah ini ada hikmahnya, aku berpikir akan kehilangan kamu. Kris aku mencintai kamu, dan tidak ingin diterima hanya karena rasa kasihan." Pelukan Tirta masih erat, mengusap kepala Kris.


Senyuman semua orang terlihat, Kris juga tersenyum tidak ingin membuang waktu lagi dengan mencari yang terbaik, karena ada yang baik di sisinya.

__ADS_1


Han menatap Muti yang terlihat bahagia menatap Kris dan Tirta bisa berbaikan, Muti ingin melakukan sujud syukur melihat Tirta baik-baik saja.


"Kak Tirta jangan banyak pikiran lagi, Muti akan membuatkan makanan yang sehat agar darahnya semakin banyak, jika perlu gunakan darah ayam."


"Terima kasih Muti, kamu yang terbaik soal makanan." Usapan lembut tangan Tirta di kepala Muti.


Dokter Ilham melihat riwayat Tirta, dia memang mudah darah tinggi, tapi secara tiba-tiba bisa sangat rendah.


"Tirta, Panda akan menyiapkan obat agar darah kamu stabil, jika rendah bahaya tetapi lebih bahaya lagi jika darah kamu tinggi yang bisa seratus ke atas." Dokter Ilham meminta Tirta banyak istirahat.


Panggilan masuk, Ilham langsung kaget dan menatap Han yang bisa mengerti jika ada sesuatu yang tidak beres.


Han mengikuti dokter Ilham, Tirta dan Kris Muti ditemani Dwi menuju ruangan dokter untuk mengecek tekanan darahnya yang selalu tidak stabil.


Alhan masuk ke ruangan Della bersama Ilham, melihat kondisi Della yang menyedihkan, dia tidak bisa lagi makan dan minum, bicara juga sulit.


Ilham mendekat meletakan telinganya ke arah Della yang bicara terbata-bata meminta Ilham menjaga kedua putrinya, Della meminta maaf karena dia menjadi ibu yang paling kejam.


Muti dan Kris sudah menderita lahir dari rahimnya, sudah menderita lahir dan batin. Della berharap Ilham bisa memberikan cinta yang tidak pernah kedua anaknya dapatkan.


"Apa kamu ingin bertemu mereka?"


Air mata Ilham menetes, kedua putrinya sudah memutuskan tidak mengenal Della karena selama masih ada dirinya, maka keduanya tidak akan bahagia.


"Maafkan aku Ilham, maafkan Bunda Kristin, Kristal. Maafkan Bunda." Della bicara terbata-bata, memejamkan matanya.


Dokter tidak bisa berbuat lebih, Della sudah kesulitan untuk bertahan. Dokter sudah angkat tangan, kondisi Della semakin hari semakin buruk.


"Maafkan aku kak Della, seandainya dulu aku tidak pergi dan bersikap dewasa mungkin kita akan bahagia, membesar keduanya." Perlahan Ilham menggenggam tangan Della yang menghembuskan nafas terakhirnya.


Alhan menundukkan kepalanya, langsung melangkah keluar mencari keberadaan Kris dan Muti yang ada di ruangan tunggu.


"Kris Mutiara, kalian berdua harus ikut kak Han. Della meninggal." Han menatap keduanya yang dia saja.


Muti langsung berdiri, meminta Dwi mengantarnya pulang, begitupun dengan Kristal yang memutuskan untuk pulang.


Hanya Tirta dan Han yang menjenguk Della yang sudah dipastikan meninggal.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2