MUTIARA & KRISTAL

MUTIARA & KRISTAL
JANGAN ANGGAP ANAK


__ADS_3

Langkah kaki Alhan memasuki kantor bersama Kristal, bertemu dengan Tirta di lift yang langsung menyapa Han dengan sopan.


Senyuman Tirta terlihat, Alhan hanya diam saja tidak memberikan tanggapan sama sekali. Kristal juga sama dinginnya.


"Kak Han, sudah mendengar kabar soal saham Papi?" tatapan Tirta terarah kepada Han yang juga menatapnya.


Alhan hanya menganggukkan kepalanya, tidak mengatakan kepada Tirta jika Maminya sudah datang pagi sekali hanya untuk menyombongkan diri.


Pintu lift terbuka, Tirta menatap Alhan dan Kristal yang melangkah pergi seakan tidak ingin tahu soal saham.


"Kenapa kak Alhan tidak marah? Tirtan lebih senang di marah daripada diabaikan."


Tirta membuka pintu, melihat Maminya sudah menunggu sambil tersenyum lebar.


Pelukan hangat mendarat, mengusap punggung putranya yang akhirnya mendapatkan bagian yang bisa imbang dengan Alhan meskipun Han yang sudah memimpin perusahaan.


"Ini baru anaknya mami, berpikir ke depan dan tidak dibodohkan oleh orang lain. Kamu mulai sekarang dengarkan ucapan Mami?" Cherly memeluk putra semata wayangnya.


Tirta tidak memberikan jawaban, langsung duduk di tempat kerjanya. Membiarkan Maminya mengoceh.


"Tir, kita harus membuat Alhan turun dari jabatannya. Dia hanya perlu menerima setengah dari sahamnya untuk bertahan hidup." Cherly tersenyum melihat putranya.


Cherly sudah mengatur rencana agar seluruh dewan menyetujui Han dipecat, Cherly juga akan memastikan Tirta akan segera memimpin dengan jabatan tertinggi.


"Tirta, kamu tidak boleh kalah dari Han. Jangan pernah mengecewakan Mami." Cherly langsung melangkah keluar.


Tirta menjatuhkan seluruh berkas di atas mejanya, mengusap wajahnya yang kecewa dengan Maminya.


"Kapan aku penting bagi Mami? kenapa aku selalu dibandingkan dengan kak Han? dia kakakku bukan musuhku." Tirta membenturkan kepalanya di meja, merasakan frustasi.


Suara panggilan masuk, Tirta langsung mengambil ponselnya untuk bergabung bersama Han soal meeting pemegang saham yang baru.


Papi Alhan juga hadir bersama istrinya, Tirta langsung mencium tangan Papinya mempersilahkan duduk.


Semua orang berdiri kecuali Han yang masih di kursi roda, dia sibuk mengecek berkasnya yang harus di selesaikan secepat mungkin.


Papi Han duduk, tersenyum melihat Kristal yang mendampingi suaminya. Kris yang memperhatikan rapat mewakili Han.


Secara langsung Papi Alhan mengumumkan jika sisa saham sudah dipindahkan atas nama Tirta Jackson, putra bungsunya.

__ADS_1


Mami Tirta juga mengumumkan jika Tirta akan segera mengambil beberapa bagian dari perusahaan, karena dia juga direktur utama.


Alhan mengangkat kepalanya, tersenyum sinis melihat Papinya. Tangan Kristal menepuk pundak Han untuk menahannya.


"Aku rasa keputusan ini tidak bisa dirubah, tapi satu hal yang harus diketahui jika Tirta masih bawahan Han, dan harus bekerja sesuai kriteria perusahaan, bukan karena dia adik dari pemimpin perusahaan." Kris tersenyum melihat Tirta.


Tirta juga tersenyum memperkenalkan dirinya, dia akan bekerja dengan baik dan membuktikan kepada kakaknya jika dia pantas berdiri di samping Han.


"Kami berharap kamu berdiri sebagai kawan bukan lawan." Tatapan Kristal tajam melihat Cherly.


"Alhan sekarang lebih banyak diam, bukan hanya kaki yang lumpuh, tapi sudah mulai bisu." Senyuman penghinaan terlihat dari sudut bibir Cherly.


Alhan langsung tertawa, dirinya tidak mengakui Tirta sebagai adik, tapi Han juga tidak membenci Tirta layaknya musuh.


"Semua orang tahu kekurangan yang aku miliki, tapi kalian juga tahu kemampuan yang aku kuasai. Sebenarnya aku ingin menolak, tapi aku juga tidak ingin melihat perpecahan dalam keluarga." Han menghela nafasnya merasa kasihan dengan Tirta.


Selama lima tahun Alhan diam, melihat orang-orang meremehkan dirinya, bahkan ada rencana ingin menggantikan posisinya.


"Apa aku harus bahagia menyambut adik tiri yang tidak ada hubungan dengan keluarga Jackson, tapi memiliki daftar sebagai pemilik perusahaan ini. Apa aku harus bahagia atau sedih?" Han tersenyum kebingungan meminta pendapat para dewan.


Semua orang tersenyum melihat Alhan, memuji kebesaran hatinya yang rela membuka pintu untuk keluarga baru Papinya.


Cherly langsung memukul meja, dirinya merasa direndahkan mendengar ucapan Han. Rencananya mempermalukan Han, berbalik ke putranya yang akhirnya diketahui banyak orang hanya saudara tiri.


Rapat selesai, hanya tersisa Alhan, Kristal, Papi, Mami dan Tirta. Papi Alhan meminta Han mendengarkannya.


"Han, Papi tahu kamu membenci Papi? tapi Tirta tidak salah."


"Aku tahu! kalian berdua yang salah karena sudah selingkuh, menyakiti Bunda dan Han. Kamu yang menjanjikan kebahagiaan, tapi kamu juga yang menghancurkan kebahagiaan." Tangan Alhan menunjuk wajah Papinya.


Tidak ada alasan lagi Alhan menghormati lelaki yang pernah Han banggakan, lelaki yang selalu menjadi pelindung bagi Han.


"Hubungan kita hanya sebatas rekan bisnis, kamu bukan siapa-siapa di JK group, dan berakhir juga hubungan kita." Alhan mencengkram kuat tangan Papinya.


Han meminta Papinya melupakan dirinya, tidak menganggap dirinya sebagai anak. Karena Alhan tidak ingin tahu sekalipun Papinya hidup ataupun mati.


"Kak Han jangan bicara seperti itu, kak Han hina saja Tirta, tapi jangan papi dan Mami." Tirta berdiri dari kursinya.


"Kamu anaknya urus saja sendiri, Tirta aku tidak membenci kamu, tapi aku sangat membenci kedua orang tuamu." Han meminta Kristal membawanya keluar dari ruangan meeting, karena mereka memiliki banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.

__ADS_1


Papi Han hanya bisa menatap punggung putranya yang tidak ingin menoleh lagi, panggilan Tirta juga tidak dihiraukan.


"Tirta, kamu dengar sendiri. Alhan baru saja menghina kamu, jangan bersantai. Secepatnya kamu harus menyingkirkan dia." Cherly menatap tajam sambil berteriak.


"Kak Han bukan menghina, dia hanya mengungkap kebenaran. Tirta juga merasa malu mengambil hak yang seharusnya milik kak Han." Tirta langsung melangkah keluar mengabaikan kemarahan Maminya.


***


Di rumah Mutiara masih duduk diam di kamarnya sambil membaca banyak buku untuk menambah pengetahuan, Muti tidak bisa keluar kamar sebelum Kristal pulang.


Sudah larut malam, Kristal dan Alhan belum juga kembali. Perasaan Muti tidak enak dan merasa kasihan.


Balkon kamar terbuka, Muti berdiri melihat ke arah luar, langit malam yang sangat indah. Hati Muti yang gelisah merasa sedikit tenang.


Suara panggilan masuk, Kristal menghubungi Muti jika dia dan Han pulang terlambat. Muti bisa keluar, karena seluruh maid sudah pulang dan hanya ada penjaga di luar rumah.


"Kenapa kalian bekerja begitu keras sampai pulang sangat telat?" Muti ingin pergi, tapi melihat dari kejauhan sesuatu yang mencurigakan.


"Apa yang mereka lakukan?" Muti langsung melangkah keluar, dan menemui penjaga yang membawa beberapa barang.


Penjaga kaget melihat Nona muda ada di dalam rumah, bahkan tidak mengetahui kapan pulangnya.


"Apa ini?"


"Tidak tahu Nona, milik tuan Han."


Mutiara langsung mengambil pisau kecil, membuka bungkusan kardus besar.


"Benda ini milik tuan Han, dan tidak boleh dilihat isinya."


"Siapa yang mengirim kalian? bawa benda ini pergi jika tidak aku hubungi polisi." Muti menatap tajam.


Pengantar barang langsung berlari, penjaga sampai kebingungan.


"Kalian akan mendapatkan masalah jika Han pulang." Muti meminta barang diamankan langsung menghubungi suaminya.


***


follow Ig Vhiaazara

__ADS_1


LIKE coment Dan tambah favorit


vote hadiahnya ya


__ADS_2