MUTIARA & KRISTAL

MUTIARA & KRISTAL
GARA-GARA MANGGA


__ADS_3

Dari malam sampai pagi Han dan Tirta tidak tidur membicarakan tindakan mereka untuk menghentikan Della, Han sangat yakin pasti ada sesuatu yang disembunyikan.


Kebenaran soal Muti yang sebenarnya sudah dinyatakan meninggal tanpa tahu penyebabnya, hanya Della dan Iskandar yang tahu.


"Kita bisa menggunakan bodyguard untuk berjaga, atau pindah saja kak." Tirta yakin Della bukan orang yang lemah.


Alhan memijit pelipisnya, dia harus mengetahui hubungan Della dan Rayan dan penyebab Muti diasingkan jauh dari kota sampai berganti nama.


Suara ribut di depan rumah terdengar, Han langsung berdiri melangkah keluar melihat keributan.


Tatapan Alhan tajam, matahari saja baru bersinar. Muti sudah ada di atas pohon memanen buah mangga, Kristal di bawahnya memungut buah sambil mengunyah.


"Kristal, jangan dimakan!" Muti berteriak kuat, naik lebih tinggi lagi.


"Iya hanya satu." Kris menggendong banyak buah.


Tirta langsung tertawa melihat kekonyolan dua bersaudara, hanya hitungan jam keduanya langsung terlihat normal, seakan-akan tidak ada masalah.


Tirta langsung membantu Kris membawa buah, memasukkan ke dalam keranjang. Menatap Muti yang mirip monyet.


"Jangan di makan, nanti kak Muti marah." Kris mengunyah buah miliknya.


"Kamu boleh?" Senyuman Tirta terlihat, membersihkan bibir Kristal yang celemotan.


Muti di atas pohon menatap tajam melemparkan buah mangga ke arah Kris dan Tirta yang berteriak kesakitan, buah mangga jatuh tepat di kepala.


Alhan menatap Muti yang semakin tinggi, mengusap dadanya untuk menahan amarah.


Kris yang melihat tatapan mata Han langsung melangkah ke dalam rumah takut terkena imbasnya.


"Kamu ingin turun tidak Muti?" Han mendongak ke atas.


Mutiara tersenyum langsung turun perlahan, tatapan mata Han sangat tajam terlihat menakutkan.


Kris meminta maaf, dia hanya memanen buah dari pada busuk di atas pohon tidak bisa dinikmati.


"Muti dapat banyak buah mangga."


"Kalian potong pohon ini." Han meminta penjaga rumah memotong pohon mangga.


Muti langsung teriak, memeluk pohon kesayangannya. Suara Muti merengek terdengar seperti anak kecil.


"Jika kak Han ingin memotong pohon, potong dulu tubuhnya Muti." Tatapan Muti tajam.


Alhan hanya bisa geleng-geleng kepala, menarik tangan Muti untuk mandi dan membersihkan tubuhnya.

__ADS_1


"Kak Han jangan dipotong ya." Muti memeluk Han dari belakang.


"Iya, sekarang mandi. Kamu tidak boleh naik pohon lagi." Han menatap tajam.


Di dapur Tirta sudah sibuk membersihkan mangga, mengupasnya dan membuatkan Kristal dan Muti jus mangga.


"Bisa di sayur tidak?" Kris memegang kulit mangga.


Tirta langsung tertawa, Kris sangat lucu karena tidak tahu cara masak. Bahkan dia tidak tahu cara membuat jus, mengupas buah.


"Namanya juga buah, jika bisa dimasak namanya sayur." Senyuman manis terlihat, menatap Kristal yang tertawa membenarkan ucapan Tirta.


Tangan Tirta menyentuh perut Kris, menanyakan perasaan. Tirta mendengar dari Han jika Della menendang Kris sampai meringis kesakitan.


"Terima kasih Tirta, jujur aku sedih berada di sini, tapi aku juga bahagia." Kris mengusap air matanya.


Kristal menyadari jika dirinya sangat jahat kepada Han dan Muti, dia berada di antara keduanya.


Sejujurnya Kris ingin pergi, tapi masih berat meninggalkan Muti. Kristal bahagia memiliki saudara dan menyayanginya.


"Kenapa kamu berpikir seperti itu?"


"Kak Han mencintai Muti, aku juga tahu Muti menyukai kak Han. Keduanya tidak bisa bersatu karena aku, juga anakku." Kedua tangan Kris menutup wajahnya.


Tirta menarik Kris ke dalam pelukannya, mengusap punggung Kris agar bisa tenang dan membicarakan semuanya.


"Jika kamu merasa ada masalah harus jujur dan cerita, Muti kakak kamu. Kak Han juga kakak kamu, sudah sepantasnya mereka tahu kondisi kamu. Satu hal lagi Kris, kamu punya aku." Tirta menghapus air mata yang mengalir membasahi pipi.


"Aku tidak ingin kamu bertanggung jawab atas diriku, karena apa yang terjadi juga salah aku." Tatapan Kris melihat perutnya.


Tatapan Tirta juga tertuju ke perut Kris, mengusap perut buncit Kris. Bagi Tirta dia punya hak mempertanggungjawabkan perbuatannya, dan tidak perduli dengan penolakan Kris.


Meksipun dirinya tidak diakui, Tirta akan tetap menganggap anak yang Kris kandung anaknya, berkewajiban menafkahi dan membesarkan.


"Kris, aku tulus menyayangi kamu, bukan karena anak ini. Aku akan menunggu sampai kamu mengizinkan aku masuk meksipun harus menunggu seumur hidup." Tatapan Tirta memohon setidaknya Kris mengizinkan dekat dengan anaknya.


Kris terdiam, menerima Tirta sama saja menentang orang tua Tirta. Terutama Maminya sudah mempersiapkan lamaran untuk Tirta yang akan segera menikah dengan wanita lain.


"Aku akan mengizinkan kamu, tapi aku tidak bisa menerima kamu." Kris tersenyum, meminta maaf karena Kris akan membesarkan anaknya sendiri.


Tirta juga tersenyum, menghargai keputusan Kristal. Mendapatkan izin untuk dekat dan melihat anaknya jauh lebih dari cukup.


Alhan mendengar semua pembicaraan keduanya yang akan membesarkan anak bersama, meskipun tidak bisa bersatu.


Han mengerti pikiran Kristal, dia sangat membenci wanita yang merusak rumah tangga orang lain. Dia membenci ibu tirinya, dan membenci Maminya Tirta karena merusak rumah tangga orang lain.

__ADS_1


Rasa tidak suka Kris kepada Maminya Tirta, membuatnya mengambil pilihan menolak Tirta, karena dia tidak ingin memisahkan ibu dan anak.


Suara langkah kaki Muti berlari terdengar, langsung masuk melihat Tirta dan Kristal yang sudah tertawa bersama.


"Ini jus kamu Muti."


"Wow, jus mangga." Muti langsung meminumnya.


Kristal juga meminum miliknya langsung tersenyum manis, menyukai minuman buatan Tirta.


"Ini enak sekali." Kris ingin dibuatkan lagi, tapi kaget melihat Muti yang menyemburkan miliknya.


Ekspresi Muti langsung ingin mual, melepaskan minumannya yang rasanya sangat aneh.


"Ini minuman atau racun?" Muti meminta Alhan yang minum.


Han langsung menolak, dia tahu jika Tirta tidak bisa membuat jus dan kesulitan membedakan gula dan garam.


"Kak Tirta minum."


Tirta langsung hampir muntah, mengambil milik Kristal yang rasanya sama tidak enaknya, tapi Kris menyukainya.


"Kris ini jus garam, maafkan aku." Kening Tirta berkerut, langsung membuang jus.


Kristal menolak miliknya dibuang, langsung meminum sampai habis meminta dibuatkan lagi.


Han dan Muti menatap Kristal binggung, rasa tidak enak tapi enak bagi Kristal yang sudah menunggu makanannya.


"Pagi Han." Apri masuk langsung mendekati Tirta.


"Kamu sudah menemukan soal hubungan Della dan Rayan?"


Apri menghela nafasnya, dia binggung sebenarnya tugasnya apa sehingga memiliki banyak sekali pekerjaan.


"Han, kenapa tugas aku mencari identitas orang? kamu hubungi saja polisi." Apri mengerutkan keningnya.


Senyuman Han terlihat, menatap map yang Apri bawa langsung mengeceknya. Tirta juga mendekati Han untuk melihat hasil pencarian Apri.


"Ada hubungan apa Bunda dan Rayan?"


"Rayan dan Rendi anak tirinya Della, mereka memiliki hubungan baik." Han menatap Muti dan Kris.


"Dasar perempuan aneh, anak tiri disayang, tapi anak kandung dibenci. Apa dia normal?" Muti menatap sinis juga kesal.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira-


__ADS_2