
Kesibukan di perusahaan semakin banyak, Alhan bernafas lega karena Tirta bisa bekerja sama untuk mengurus beberapa pekerjaan penting.
"Terima kasih Tirta, kamu sekarang jauh lebih dewasa." Han menyerahkan laporan yang sudah dia revisi dan tanda tangani.
"Aku harus belajar agar bisa mengimbangi kak Han, bukannya itu pernjanjian kita. Tirta juga mengucapkan terima kasih karena kak Han memberikan Tirta kepercayaan, juga kesempatan untuk menjaga Kris." Senyuman Tirta terlihat, menunjukkan kedewasaannya.
Suara Cherly datang menggema di depan pintu langsung memaksa masuk melihat Tirta dan Han yang menatapnya.
"Anak kurang ajar!" Cherly menampar Tirta sangat kuat.
Keputusan Tirta meninggalkan rumah, dan tinggal di apartemen sederhana membuat Cherly murka.
Dia rela menjadi simpanan demi putranya bisa hidup enak dan memiliki segalanya, setelah perjuangan Tirta tega meninggalkannya.
"Mi, Tirta tidak pernah meninggalkan Mami, tapi hargai keputusan Tirta. Sekarang Tirta sudah besar, dan tahu baik buruknya tindakan." Tatapan Tirta memohon, menarik tangan Maminya untuk keluar ruangan Rehan.
Suara Cherly mencaci maki Tirta terdengar sampai keluar, dirinya sangat kecewa dengan keputusan Tirta.
Pintu langsung terbuka, Kristal langsung masuk menatap tajam Cherly yang tidak tahu malu dan mempermalukan Tirta.
"Sampai kapan kamu terus seperti ini? dia bukan anak kecil yang harus selalu diatur."
"Diam! lebih baik kamu diam! jangan ikut campur." Tangan Cherly menunjuk ke wajah Kristal.
Tirta menarik tangan Maminya untuk keluar, tapi langsung ditepis. Cherly memukuli Tirta bahkan menjadi tontonan banyak orang.
Alhan yang melihat langsung memukul meja sangat kuat, tatapannya langsung gelap melihat Cherly yang selalu membuat keributan.
"Pergi dari sini, jika tidak satpam akan membawa kamu keluar secara paksa." Han menatap tajam.
"Kamu pikir aku takut, kamu sengaja memanfaatkan Tirta untuk menguasai segalanya." Cherly menatap tajam Han.
"Dasar wanita tua tidak tahu diri, sudah merebut suami orang, memaksa juga mengambil harta orang lain. Tidak tahu malu." Kris menatap sinis.
Cherly langsung mendekati Kristal, menamparnya. Tirta menyentuh wajahnya yang ditampar demi melindungi Kristal.
"Apa yang kamu lakukan? mencintai istri Han. Tahu diri Tirta, dia hanya wanita murahan yang Han pungut."
"Kamu yang murahan!" Kristal langsung ingin memukul Cherly.
"Dia wanita baik-baik Mam, dan Tirta sangat mencintai dia." Suara Tirta meninggi, menatap Maminya tajam meminta segera pergi.
__ADS_1
"Apa ini Tirta? kamu mencintai wanita sampah?"
Pintu terbuka, Mutiara juga masuk melangkah mendekati Cherly. Meletakan es krim di tangannya langsung melangkah duduk di samping suaminya.
Cherly mengerutkan keningnya, menatap Muti yang masih memakan es krim dengan santainya.
"Tidak lucu." Cherly melempar es krim ke arah wajah Muti.
Alhan menatap istrinya yang penuh es krim, suara tawa Kristal langsung terdengar melihat Muti berantakan.
"Kristal!" Muti kaget saat melihat Cheryl dihadapannya.
Kristal dan Tirta saling pandang, Han hanya bisa geleng-geleng kepala melihat Mutiara yang tidak menyadari jika ada Cherly sedang bertengkar dengan Tirta.
Cherly menepuk wajahnya, langsung melihat ke arah Tirta yang menoleh ke arah Kristal yang sudah sembunyi.
"Kalian kembar?"
"Tidak, Tante buta dan matanya sedikit juling." Muti langsung berdiri, lari ke dalam toilet.
Alhan dan Tirta saling pandang, tidak ada kedamaian jika ada Muti dan Kristal. Keduanya selalu saja meninggalkan masalah.
Tirta langsung menarik tangan Maminya untuk keluar, Han menggelengkan kepalanya melihat Kristal yang tertawa.
"Hanya main, lihat perut aku semakin besar. Kita harus membeli baju bayi." Kris tersenyum duduk di depan Han.
Tatapan mata Han sangat dingin, kandungan yang baru masuk empat bulan sudah ingin membeli baju. Han kehabisan kata-kata menangapi Kristal.
"Kris, apa sekarang saatnya memikirkan baju bayi?"
"Lalu aku harus memikirkan apa?" Kristal menunjukkan ekspresi binggung.
Nada bicara Han sangat pelan, meminta Kristal memikirkan kembali untuk menerima Tirta, karena anak Kris membutuhkan ayahnya.
"Kak Han meminta aku menikahi Tirta, lihat saja gilanya Cherly. Bisa setiap hari kita berperang." Kristal sangat percaya diri bisa membesar anaknya.
Mutiara langsung duduk di samping Han, dia sangat memahami perasaan Kris. Cherly wanita gila yang sangat menyeramkan.
"Baiklah, sekarang mungkin sudah waktunya aku membahas ini. Kristal, apa Nathalie ibu tiri yang jahat?"
"Iya sangat jahat, dia membuat Daddy dan Bunda berpisah." Kris membayangkan wajah Nathalie saja kesal.
__ADS_1
"Bukan itu maksudnya, apa dia pernah melakukan sesuatu yang tidak wajar? Jelaskan tanpa mengingat jika dia merebut Daddy kamu."
Kristal mengerutkan keningnya, Kris tidak tahu pasti sikap buruknya Nathalie. Dia tidak pernah marah, jika Kris tidak kelewatan.
Segala masalah yang terjadi, karena Kristal yang memulai lebih dulu. Bahkan Kris sengaja membuat ibu tirinya dalam masalah.
Mutiara mengerutkan keningnya, mendengar suara Nathalie dari panggilan telepon saat Muti dan Kris menghilang nadanya sangat khawatir meksipun bicaranya kasar.
"Aku ingin mencari tahu penyebab kalian berdua terpisahkan. Nathalie mungkin mengetahuinya." Han menatap Kris dan Muti yang sama kagetnya.
"Untuk apa kak Han mencari tahu?"
"Della mulai bergerak, dia tidak bisa mendapatkan Muti secara langsung, dan menyerang perusahaan bekali-kali. Aku harus menemukan kelemahan Della." Han memberikan sebuah berkas yang langsung Kris baca.
"Kenapa Bunda jahat sekali? seharusnya dia bahagia melihat Kristin kembali, tapi kenapa bertindak sejauh ini?" Kris menutup berkas menyerahkan kembali pada Han.
Muti menatap ke arah luar jendela, beberapa hari ini Muti bermimpi berulang-ulang soal dirinya melihat Kristal yang di pukul oleh Bundanya.
"Kris, aku merasa Bunda memang membenci kamu sejak kecil karena selalu membuat susah." Muti menatap Kristal yang kebingungan.
Muti sangat mengingat jelas, mimpinya terasa nyata dan mungkin saja memang ingatan miliknya.
"Aku bermimpi makan mewah bersama Bunda, bermain, sekolah, belajar dan jalan-jalan bersama Bunda. Aku tidak melihat kamu Kris, dan anehnya aku melihat kamu dipukul oleh Bunda." Muti mengganggap mimpinya bunga tidur yang tidak harus dipikirkan.
Kristal menggelengkan kepalanya, dia juga bermimpi yang sama. Tubuhnya penuh pukulan dan selalu minum obat.
"Anak kecil yang sakit itu aku, dan Bunda menyesal melahirkan aku." Kris meneteskan air matanya.
"Jangan menangis, kita akan menemukan jawabannya. Aku ingin menemui Nathalie juga Della, bersama dengan Kristal."
"Aku tidak mengizinkan kalian menemui Della, dia belum kita ketahui baik atau tidaknya. Firasat aku tidak bagus sayang." Han menggenggam tangan Muti.
Han tahu jika setiap malam Muti tidurnya tidak tenang, dan selalu berkeringat juga ketakutan.
Menemui Nathalie mungkin petunjuk pertama, karena nenek yang membawa Muti sudah tiada dan tidak meninggalkan sedikitpun bukti soal identitas Mutiara.
Kristal langsung menghubungi rumahnya, mempertanyakan keberadaan Nathalie.
***
jangan lupa like coment Dan tambah favorit
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira
vote hadiahnya ya