MUTIARA & KRISTAL

MUTIARA & KRISTAL
MENGANTARKAN KE TEMPAT TERAKHIR


__ADS_3

Keputusan Muti dan Kristal untuk tidak menjenguk Della sudah bulat, Han dan Tirta tidak ada yang pulang.


Kristal langsung mengurung di kamarnya, tanpa tahu apa yang Kris lakukan. Muti juga hanya diam, menyibukkan diri di dapur membuat kue.


Melihat Muti dan Kris berdiam diri, Dwi merasa tidak nyaman. Alhan dan Tirta belum ada yang kembali sejak mengatakan ada yang meninggal.


"Nona Muti, siapa yang meninggal?" Pelan-pelan Dwi berbicara dengan nada yang sangat lembut.


Muti hanya menggelengkan kepalanya, dia tidak tahu menahu soal Della. Dan tidak ingin membicarakannya.


Dwi hanya menunjukkan senyuman, dia mengerti mungkin Muti memiliki masalah dengan Della, dan Dwi memang tidak memiliki hak untuk ikut campur.


"Dia ibu yang melahirkan aku dan Kris, dan dia juga yang ingin menjual Muti demi harta sampai dipisahkan dari Kris." Air mata Muti menetes kembali, menceritakan sosok Della yang sangat jahat terhadapnya.


Tidak ada yang Muti tutupi, semua yang dia ketahui tentang Della diceritakan. Meskipun Della tidak mengakui sebagai anak, dan menyesal melahirkannya.


Senyuman Dwi terlihat, sekarang mengerti alasan Muti dan Kristal memilih pulang dan menyibukkan diri.


"Jangan dibahas lagi, Muti akan menganggap tidak mengenalnya."


Kepala Dwi menggeleng, Muti berbohong jika saat ini dirinya baik-baik saja. Karena pada kenyataannya, Muti sedang menutupi kesedihannya dengan menyibukkan diri.


"Kamu tidak membenci dia, hanya saja kecewa." Dwi langsung mengangkat kue yang sudah mengembang.


Mutiara masih berdiri diam, mendengar Dwi yang tidak memiliki orang tua sejak lahir. Dwi tinggal di panti asuhan, tidak tahu rasanya memiliki ibu dan ayah.


Nasib Dwi beruntung, dia mengenal Nenda yang selalu datang ke panti untuk donasi. Sampai lulus sekolah, Dwi dibiayai dan akhirnya berkerja di rumah Nenda.


"Aku tidak tahu rasanya memiliki ibu, tapi tahu rasanya menjadi ibu. Meskipun aku sangat mencintai anakku, tetap saja belum bisa menjadi ibu yang baik untuknya." Air mata Dwi menetes, langsung cepat menepisnya.


Tidak ada ibu di dunia ini yang ingin anaknya tersakiti, pasti ada rasa penyesalan yang besar Della rasakan.


Jika waktu bisa diputar kembali, mungkin akan mengubah jalannya, menikmati proses kehamilan dan menyambut buah hati penuh cinta.


Semua ibu di dunia ini ingin memeluk anaknya, melihatnya tumbuh menjadi seseorang yang luar biasa.


"Ada anak yang ditinggal ibunya, ada juga ibu yang ditinggal anaknya. Pisah hidup sakit, tapi lebih sakit dipisahkan oleh kematian." Potongan kue Dwi berikan kepada Muti yang sudah duduk sambil menangis.


"Muti ingin mempunyai Bunda, sekali saja memeluk penuh kelembutan."

__ADS_1


"Tidak apa Muti, kamu bisa menjadi ibu yang akan memeluk anak kamu, rasanya akan sama." Tangan Dwi mengusap air mata yang mengalir di wajah Muti.


Harapan Della pastinya hanya satu, kedua putrinya bisa memaafkan kesalahannya agar dilapangkan kuburnya.


"Meksipun kalian tidak mendapatkan cinta, antar Bunda Della ke tempat peristirahatan terakhir."


Muti langsung menangis sesenggukan, berjalan meninggalkan dapur langsung membuka pintu kamar kristal.


Kris juga sedang menangis, melihat foto masa kecilnya. Kris bahkan tidak memiliki foto Bundanya.


"Kak, Bunda sudah tidak ada. Sekarang kita bebas, dan tidak harus mencari Bunda lagi." Kris mengusap air matanya, tersenyum melihat Mutiara yang masih menangis.


Muti membuka lemari baju, langsung mencari pakaian untuk pergi ke pemakaman. Kristal binggung melihat Muti memintanya untuk bersiap-siap.


"Kita antar Bunda ke tempat peristirahatan terakhir."


Kristal kaget mendengar ucapan Muti, tidak menyangka jika Muti masih berpikir untuk menemui Bundanya.


"Kenapa kita harus ke sana? bukannya Bunda tidak menganggap kita." Tangisan Kristal semakin kuat.


"Bunda tidak memiliki siapapun, dia hanya punya kita. Untuk terakhir kalinya, kita berbakti." Tangan Muti menutup matanya tidak kuasa menahan kesedihannya.


Pintu diketuk, Dwi langsung masuk melihat si kembar sendang menangis sesenggukan saling menguatkan.


"Terima kasih kak Dwi." Muti mengambil baju langsung menggantinya.


Kristal juga melakukan hal yang sama, mereka akan mengantarkan Bunda untuk meninggalkan dunia.


***


Di rumah sakit Ilham yang akan mengambil jenazah Della dan memakannya selayaknya, Han dan Tirta juga berdiri di samping Ilham.


"Kamu pulang saja Tirta, ingat pesan dokter untuk beristirahat. Darah kamu masih rendah." Han bicara sangat pelan.


"Tidak kak, aku ingin di sini mengantikan Kristal. Dia pasti sedang menangis mengetahui Bundanya meninggal." Tirta langsung masuk mobil untuk menggiring mobil jenazah.


Alhan sepemikiran dengan Tirta, langsung bergegas untuk ke masjid dan menyolatkan jenazah baru ke pemakaman.


Tidak banyak orang yang mengantar, hanya pengurus masjid dan bapak-bapak sekitar masjid yang tinggal di sekitar rumah Ilham.

__ADS_1


"Kasihan Della, diakhir hidupnya kesepian." Ilham mengusap matanya yang merasa kehilangan.


"Sabar Pa, kita lakukan yang terbaik untuk Della dan melupakan semua keburukannya." Han menepuk pundak menyemangati.


"Terima kasih Han, Tirta. Kalian anak baik yabg bisa mudah memaafkan."


Selesai menyolatkan, jenazah dibawa ke pemakaman umum yang sudah Apri siapkan setelah Han meminta bantuan.


"Siang pak Han, hari ini saya mendapatkan pekerjaan menggali kuburan." Apri menggeleng kepalanya, heran melihat Han yang memerintah hal aneh.


Tirta ingin tertawa, tapi menahan dirinya karena tidak ingin merusak suasana duka yang sedang meliputi pemakaman.


Sebuah mobil tiba, Dwi langsung turun dan membukakan pintu. Han cukup kaget karena Mutiara juga datang ke pemakaman.


"Kristal dan Muti datang."


"Kenapa kaget? Kris menghubungi aku menanyakan lokasi pemakaman." Apri menghela nafas melihat wajah kaget Tirta dan Han.


Panda tersenyum sambil menangis melihat kedua putrinya datang, langsung memeluk keduanya yang langsung menangis.


"Bunda, maafkan Kristal." Tangisan Kris sesenggukan, air matanya tidak terlihat karena menggunakan kacamata hitam.


Muti terlihat lebih kuat dan berbesar hati, Ilham menggenggam tangan kedua putrinya untuk mendekat makam.


"Apri turun ke bawah untuk menyambut jenazah." Han memerintahkan.


"Maaf pak, anda menantunya silahkan turun." Senyuman Apri terlihat memalingkan wajahnya.


Ilham langsung turun, Han mengumpat dalam hatinya langsung turun. Tirta tetap di atas, Han karena ada bapak-bapak lain yang membantu.


Pemakaman lancar dan penuh hikmat, Muti menadahkan tangannya mendoakan Bundanya agar dilapangkan kuburnya.


"Bunda, terima kasih sudah melahirkan Muti, Bunda tenang sekarang. Mutiara sudah memaafkan Bunda, dan tidak akan melupakan Bunda." Air mata Muti menepis, Han langsung menepisnya merangkul lembut meminta Muti ikhlas.


Kristal juga masih menundukkan kepalanya, mendoakan Bundanya. Kris memanfaatkan segala kesalahan masa lalu, dan berjanji kepada Bundanya untuk bahagia.


Hujan turun dengan lebatnya, beberapa orang langsung meninggalkan tempat. Ilham langsung berdiri merangkul kedua anaknya.


"Terima kasih Della sudah melahirkan kedua putriku, sekarang aku akan menjaga mereka. Dan memastikan kedua putri kita bahagia." Senyuman Ilham terlihat, langsung melangkah pergi.

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2