
Kamar mewah Kris terasa kosong, dia langsung memasukkan beberapa tas mewah, jam, perhiasan, bahkan surat-menyurat mobil untuk di jual kembali.
"Kristal, kenapa kamu membawa semua barang kamu?" Nathalie binggung, Kris memasukkan barang kesayangannya ke dalam kotak.
"Maaf Mom, Kris hanya ingin pindah. Boleh Kris membawa semuanya." Senyuman Kristal terlihat, membawa semua miliknya.
Nathalie memberikan izin, dan meminta pendapat Kris soal rencananya yang ingin memiliki anak.
"Daddy sama Mommy memutuskan untuk adopsi anak. Bagaimana menurut kamu?"
"Bagus mom, Kris menyetujuinya. Jaga dan cintai dia selayaknya anak kandung, Kris akan sering main ke sini." Kris memasukkan barangnya ke mobil.
Senyuman Nathalie terlihat, sangat senang dengan jawaban Kristal yang ingin selalu berkunjung. Memanggil lebih sopan, juga nada bicara Kris yang berubah total.
"Mom, Kris langsung pulang. Jangan sungkan menghubungi Kris, jika Mommy membutuhkan kehadiran Kristal." Pelukan Kris lembut kepada Mommynya.
"Terima kasih sayang, kamu hati-hati di jalan. Salam untuk Mutiara." Tangan Nathalie melambai.
Air mata Kris menetes, dirinya berbohong kepada Mommynya. Tetapi Kris tidak punya pilihan, dia tidak ingin menyusahkan orang lain.
Selesai menjual seluruh barang mewahnya, Kris langsung menghentikan taksi. Dua mobil mewahnya juga terpaksa di jual.
"Semangat Kristal, apa yang kamu miliki hanya titipan? Allah bisa memberi dan secepat kilat juga mengambil." Kris menepis air matanya, melihat mobilnya harus ditinggal.
Sesampainya di rumah Han, Kris tidak melihat keberadaan Muti. Langsung berlari ke kamarnya, mengambil surat apartemennya.
Kris memutuskan menjual apartemen untuk membayar gaji karyawan Bundanya, dan membayar uang sewa.
"Apa lagi yang bisa aku jual?" Kris membuka lemarinya, mengambil beberapa tas mewah, high heels untuk dijual sebagai tambahan.
"Apa yang kamu bawa Kris?" Alhan mengerutkan keningnya, mengambil surat apartemen.
Han menunjukkan ke wajah Kris, meminta penjelasan. Jika Kris ingin pergi setidaknya harus membawa koper yang berisikan baju.
"Kristal, jangan diam saja. Jelaskan." Han langsung duduk di sofa, menatap bungkusan tas branded yang Kris bawa.
"Nanti saja membahasnya kak, Kris akan menjelaskannya setelah kembali." Kepala Kris tertunduk, menarik map yang Han pegang.
Tarikan tangan Han lebih kuat, tatapan matanya tajam terlihat marah. Han tidak menyukai jika Kristal mulai berbohong, dan mencoba menyelesaikan masalah sendiri.
Kris menatap Muti yang baru kembali, melangkah mendekat Kris dengan tatapan kecewa.
__ADS_1
"Kenapa kamu diam saja Kris? kita bisa menyelesaikan masalah berdua." Air mata Muti menetes.
"Aku tidak mengerti apa yang kak Muti bicarakan? Kris tidak memiliki masalah apapun." Tatapan Kristal terlihat serius.
Tatapan Muti melihat ke arah Han, langsung melangkah duduk di samping suaminya. Meminta Kristal duduk.
Han tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, Kris jika ada masalah tidak pernah mengatakan apapun, selalu menyelesaikan sendiri.
"Manda sudah cerita semuanya, Kristal kita bisa menyelesaikan semuanya bersama." Muti mengambil tas Kris yang sudah ada di kotak.
"Kak Muti, izinkan Kris menyelesaikannya. Kris mengerti jika mengatakan kepada Panda, kak Han pasti ada solusinya. Tetapi, biarkan Kris yang melunasi hutang Bunda, tanpa bantuan." Wajah Kris memohon agar Han dan Muti membiarkannya.
Alhan langsung menyerahkan surat apartemen, meminta Kris memberikan harga. Han akan membeli dan menyerahkan apartemen untuk Tirta.
"Kenapa harus Tirta? seharusnya tetap untuk Kris."
"Terserah Kristal, mau Kris ataupun Tirta sama saja. Kamu menjual berapa?"
Kristal tersenyum, menunjuk sepuluh jarinya. Kris meminta 10M untuk apartemennya dan membatalkan penjualan tas yang hanya sisa lima.
Kepala Alhan gelang-gelang, Kristal jika berurusan soal uang tidak main-main. Apartemen yang seharga 2M bisa menjadi 10M.
"Bayar saja kak Han, 10M tidak terlalu tinggi. Jika Kris meminta seratus juta baru gila." Tangan Muti menepuk pundak suaminya yang geleng-geleng.
Kristal menahan tawa melihat kakaknya yang tidak kalah bodoh, seratus juta terlalu sedikit untuk harga apartemen.
Mobil saja bisa mencapai 2m, apalagi apartemen mewah dan lokasinya sangat strategis.
"Sayang, kamu tahu berapa harga tas ini?" Han mengeluarkan tas milik Kristal.
"Emh ... sepuluh juta."
"Enak saja, tas ini 300juta Mutiara Kembara." Kris memeluk tas kesayangannya yang memiliki harga fantastis.
"Mahal sekali, tidak mungkin tas ini ratusan juta." Muti menggelengkan kepalanya.
Kris memeluk semua tasnya yang mencapai jumlah milyaran, bahkan Kris pernah berpikir untuk membeli tas seharga 1M, tetapi dimarah oleh Mommynya.
"Buat apa tas semahal ini?"
"Investasi masa depan, selain untuk pamer." Senyuman Kristal terlihat, memasukkan kembali tasnya ke dalam kotak agar tidak lecet.
__ADS_1
Langka Kris berlenggak-lenggok berjalan kembali ke kamarnya, membawa lima bungkus tas bermerek. Senyumannya terlihat sangat lebar, karena hutangnya lunas hanya dengan menjual apartemen secara cuma-cuma.
Tatapan Mutiara tajam, kesal sekali melihat adiknya yang mendapatkan banyak uang hanya beralasan banyak hutang.
"Kak Han, Muti juga ingin tas bermerek."
"Punya kamu ada di kamar, dan jangan mengikuti gaya hidup Kristal." Han menasihati istrinya untuk hemat uang.
Alhan cukup pusing, membayar Kris seharga 10M ditambah lagi Muti yang merengek-rengek ingin koleksi tas seharga 1M.
"Kak Han ... satu saja ya."
"Sayang, cari uang susah. Kamu mau beli tas mahal, lalu makan lauk tempe. Hidup harus diimbangi, jika ada uang lebih boleh membeli, tapi jika pas-pasan itu namanya bodoh." Han mencium bibir istrinya yang monyong.
Mutiara langsung melangkah ke kamarnya, mengambil seluruh kartunya. Melangkah ke kamar Kris untuk menghabiskan uangnya untuk investasi tas.
"Kris, ayo kita beli tas seharga M." Muti menunjukkan lima kartunya.
"Kak Muti belum tahu rasanya ditipu, makanya bisa dengan mudah mengeluarkan uang." Kris menepuk jidat, karena membeli tas bermerek dengan harga fantastis tidak seperti membeli di toko.
Panggilan dari Tirta masuk, sudah mendengar kabar soal Kris yang harus membayar hutang Bundanya dengan jumlah yang tidak sedikit.
Mendengar kecemasan Tirta, membuat Kris tersenyum. Mengetahui Kris kesulitan keuangan, Tirta menyerahkan apartemennya untuk dijual.
[Jangan kak, nanti Mami kamu marah. Kris tidak ingin terlihat seperti gembel dimatanya, dan atur waktu untuk Kris bisa bertemu Mami.] Senyuman Kris terlihat, memeluk tasnya.
Tirta bernafas lega, karena Han yang memberikan bantuan meksipun harus menyita apartemen Kris. Tirta tidak tahu, jika apartemen untuk dirinya.
[Kamu sabar ya Kris, aku menyelesaikan pekerjaan dulu. Soalnya calon istriku matre, jadi harus giat bekerja untuk menghasilkan banyak cuan." Tawa Tirta terdengar, langsung menutup panggilan.
Kris juga tertawa, dia terkenal menjadi wanita matre, Kris tidak merasa kesal sama sekali karena faktanya memang dia matre.
"Kamu sudah siap menghadapi Cherly?"
"Tentu, meksipun Kris kehilangan dua mobil, lima belas tas dan perhiasan, jam bermerek, setidaknya masih ada ke-lima anakku." Pelukan Kris terarah kepada tasnya.
"Demi uang, ibu menjual anaknya." Muti langsung menendang tas Kristal yang membuatnya teriak histeris.
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1