
Seorang dokter langsung masuk memeriksa kondisi Mutiara, memberikan obat penenang agar Muti beristirahat total.
Han memijit pelipisnya, dia kehabisan kata-kata melihat semua yang terjadi. Jika kondisi Kristal semakin memburuk, mentalnya Muti semakin terguncang.
"Apa yang harus aku lakukan? kapan kami bahagia jika terus menghadap masalah yang satunya saja belum selesai." Han menghela nafasnya bekali-kali.
Tubuhnya lelah, pikirnya juga lelah tubuhnya juga hampir tumbang jika keadaan tidak ada yang membaik.
"Bertahanlah, kamu harus baik-baik saja agar dia juga bisa baik. Badai pasti berlalu, ujian ini harus kamu lewati untuk mendapatkan kebahagiaan." Dokter tersenyum, meminta Han beristirahat karena Muti akan tidur selama lima jam.
Senyuman Han terlihat, mengucapkan terima kasih langsung masuk ke ruangan Muti. Menggenggam erat tangan istrinya, langsung memejamkan mata untuk tidur sesaat.
Tirta dan Han membagi tugas, Tirta mengawasi Kris sedangkan Han menjaga Muti. Soal perusahan diserahkan kepada Apri, begitupun soal kasus yang menimpa Kris diurus oleh Iskandar.
Seorang dokter mendekati Tirta, melihat sekilas ke arah ruang rawat Kris yang terlihat sangat buruk.
"Apa kamu suaminya?"
"Aku lelaki yang mencintai dia." Tirta masih menundukkan kepalanya.
Senyuman dokter yang menangani Muti terlihat, mengusap punggung Tirta. Tidak ada kata-kata yang keluar, mencintai seseorang memang penuh perjuangan.
Rasa cinta akan diuji saat mendapatkan masalah, dan memiliki segalanya. Cinta yang suci dia yang bertahan, bukan meninggalkan.
"Kamu harus kuat?"
"Kuat, aku lemah tanpa Kris. Bagaimana jika dia tahu keguguran? hubungan kami akan semakin jauh, rasanya perjalanan kami sangat panjang." Tatapan Tirta melihat ke arah pintu ruangan Kristal.
Beberapa dokter keluar dari ruangan Kris, mengabarkan kondisi Kris yang sudah bisa dipindahkan ke ruangan rawat meskipun belum menunjukkan tanda dia akan bangun.
Tirta tersenyum, setidaknya Kris bisa keluar dan Tirta bisa bertemu dan menjaganya.
"Mereka kembar? tidak heran jika yang satunya terlihat depresi, ikatan mereka kuat." Dokter tersenyum menatap Kristal yang akhirnya pindah ruangan.
Tirta langsung mengirimkan pesan kepada Han, langsung mengikuti dokter yang membawa Kris.
Setelah beberapa jam, Muti bangun melihat Alhan masih tidur di sampingnya. Muti langsung turun perlahan, melepaskan infus ditangannya.
Muti berjalan tanpa alas kaki, melangkah ke kamar rawat Kris. Menatap Kristal sudah tidak ada di dalam ruangannya langsung berlari, berteriak memanggil Kris.
Tatapan Muti melihat kamar mayat, langsung masuk. Dokter yang ada di dalam ruangan jenazah kebingungan. Muti membuka semua penutup tubuh.
__ADS_1
"Kristal, kamu di mana dek? jangan tinggalkan kak muti." Air mata Muti menetes, terus memanggil Kristal.
Seorang dokter menahan tangan Muti, meminta untuk menarik nafas buang nafas dan kendalikan diri.
"Kamu mencari adik kamu, dia sudah pindah ruangan." Dokter langsung menuntun Muti untuk ke ruangan Kristal.
Tatapan dokter sedih, Muti berjalan tanpa alas kaki, bahkan tangannya mengepal erat, air mata terus menetes.
"Adik kamu secepatnya akan pulih, kamu harus bisa menahan diri agar menjadi penyemangat untuk dia."
"Kami sejak dalam kandungan tidak diinginkan, dipisahkan sejak bayi. Adiknya Muti sakit, Bunda yang melahirkan kita jahat, dia bahkan berkali-kali menyakiti Kris." Muti langsung duduk jongkok, menangis sesenggukan mengingat adiknya yang sakit.
Dokter juga langsung duduk mengusap kepala Muti, memintanya menarik nafas kembali agar bisa kontrol emosi.
Mutiara sedang marah dengan kehidupannya, dia membenci dirinya yang lahir dari orang yang salah. Banyaknya ujian hidup membuatnya berat menerima kenyataan jika untuk kesekian kalinya terluka.
"Kamu harus kuat, tidak semua orang tua jahat. Jangan simpan amarah di hati kamu yang bisa menyebabkan rasa sakit yang dalam." Senyuman dokter di samping Muti terlihat merangkulnya ke kamar Kristal.
Muti langsung masuk melihat Kristal yang belum bangun, Tirta juga tidur menggenggam tangan Kris pelan.
"Siapa nama kalian? perkenalkan saya dokter Ilham."
"Mutiara, dia adiknya Muti namanya Kristal."
Muti berbicara dengan Kris, melihat ponsel Tirta yang mendapat laporan dari Apri keberadaan Della.
Tatapan Muti tajam, langsung melangkah pergi untuk menemui Della yang akan segera ditahan oleh kepolisian.
Suara kaki Muti berlari kencang terdengar, dokter Ilham yang baru saja ingin pulang kaget melihat Muti berlari ke jalanan.
"Astaga, suaminya tahu tidak?" Dokter Ilham langsung menghubungi bagian administrasi untuk menghubungi keluarga Muti.
Dokter Ilham langsung mengikuti Muti yang sudah melaju menggunakan taksi. Tatapan mata Muti kosong ingin bertemu Della.
Perawat masuk ruangan rawat Muti, membangunkan Han dan memberikan kabar jika Muti melarikan diri.
"Ke mana dia pergi?"
"Silahkan hubungi dokter Ilham, dia yang mengejar pasien."
Alhan langsung berlari ke parkiran, menghubungi dokter yang menangani Muti untuk memberikan lokasinya.
__ADS_1
Jalanan macet, Han mengerutkan keningnya karena baru saja Apri memberikan kabar keberadaan Della.
"Astaga Muti, kenapa kamu ingin bertemu dia?" Han memukul setir mobilnya, langsung menghubungi Apri untuk segera menangkap Della dan menemukan Muti.
Sesampainya di kediaman Della, Muti langsung berlari memaksa untuk masuk dan bertemu Della yang sudah berencana melarikan diri ke luar negeri.
"Kristal, kamu akhirnya datang ke sini?" Rayan menyambut Muti dengan bahagia.
"Minggir!" Muti mendorong Rayan, langsung berteriak memanggil Della.
Tatapan Della tajam melihat Muti yang mirip perempuan gila, lebih tepatnya mulai gila.
"Kamu Kristal atau Mutiara?" Rayan menarik tangan Muti.
"Kris sedang koma karena ditusuk oleh Della." Muti menatap tajam Rayan yang kaget.
Tatapan Rayan tajam, meminta penjelasan Della dan tidak mempercayai ucapan Muti. Della membenarkan, Kris mencoba melindungi ibu tirinya.
Rayan langsung membanting vas bunga, melangkah ke dapur mengambil pisau mengarahkan kepada Della yang sudah mencelakai wanita yang dicintainya.
Muti mengerutkan keningnya melihat kondisi Rayan yang bertengkar dengan Della, Muti hanya duduk diam melihat keduanya yang masih berdebat.
Kepala Muti terasa sakit, dirinya sudah lepas kendali dan melupakan tujuan yang ingin menjaga Kris, bukan menjadi beban Han.
"Aku akan membunuh kamu!" Rayan mengarahkan pisau ke arah Della.
Lemparan kuat menghantam kepala Rayan, darah mengalir. Della melempar Rayan mengunakan vas bunga sampai kepala Rayan mengeluarkan banyak darah.
"Kamu sudah benar-benar gila Rayan." Della menatap Muti yang meremas kepalanya sendiri.
Della mendapatkan kabar jika polisi ingin menangkapnya, tanpa banyak berpikir Della langsung mengambil kopernya untuk melarikan diri.
Muti mengabaikan Rayan yang pingsan, memilih menghentikan Della yang ingin lari dari hukumannya.
"Kamu harus bertanggung jawab." Muti menahan tangan Della.
Della tidak merasa bersalah, apa yang terjadi kepada Kris karena kebodohannya. Della sudah meminta Kris untuk berhenti ikut campur jika tidak ingin rugi.
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1
jangan lupa like coment Dan tambah favorit
vote hadiahnya ya