
Pagi-pagi Dwi sudah menyiapkan sarapan, bahkan Muti tidak membantu sama sekali. Hanya duduk diam sambil melamun.
Suara Tirta menyapa Dwi terdengar, menepuk pelan pundak Muti yang masih diam. Senyuman kecil terlihat di wajah Muti.
Panda dan Han juga bergabung, hanya Kris yang belum terlihat batang hidungnya.
"Tirta, kamu di mana nak?" Cherly langsung memeluk Tirta dari belakang.
Papi Han juga masuk melihat rumah lamanya, menatap Han yang hanya duduk diam langsung mengunyah sarapannya.
"Silakan duduk Pi, Cherly. Kita makan bersama dan tidak membuat keributan." Muti berdiri mengambil piring.
Dwi meminta Muti tetap duduk, langsung melangkah mengambil piring untuk dua orang.
"Makan yang banyak Tirta, kamu harus sembuh."
"Tirta baik-baik saja Mi, jangan terlalu khawatir dan dipikirkan. Aku tidak suka menjadi beban pikiran."
Cherly mengusap air matanya, melihat Tirta menahan mual saat mencoba makanannya. Han juga langsung menghentikan makannya.
"Pi, kita keluar negeri saja untuk pengobatan Tirta." Tangisan Cherly semakin terdengar.
Tatapan Tirta langsung tajam, dokter Ilham mencoba menjelaskan kepada Papinya Tirta soal kondisinya.
Sudah tidak memungkinkan bagi Tirta untuk ke luar negeri, hal pertama yang akan dilakukan melakukan pengecekan ulang dan melakukan kemoterapi.
Jika kondisi membaik, dan bisa menghentikan perkembangan kangker, Ilham mengizinkan Tirta melakukan pengobatan di luar negeri.
"Terlalu lama, Tirta harus di operasi untuk mengangkat kangker." Suara Cherly meninggi.
"Mi, tolong jangan membuat keributan. Dokter sudah mencari cara terbaik, hargai usaha mereka." Tatapan Tirta lemas, sakit kepalanya kambuh.
Dwi memberikan Tirta minum, mengusap punggungnya. Meminta Han lebih baik segera ke rumah sakit.
"Siapa kamu beraninya memerintah?" tanya Cherly dengan wajahnya yang sinis.
Pukulan di meja terdengar, Muti meminta Cherly diam. Jangan pernah membentak orang yang ada di rumahnya, karena Cherly hanya tamu.
"Kami akan mengikuti apapun saran dokter, tolong berikan pengobatan terbaik untuk Tirta." Papi Han memohon agar meyelamatkan anak tirinya.
Han masih diam, tidak mengeluarkan sepatah katapun. Han masih sibuk membaca pesan di handphone untuk menghubungi dokter terbaik.
"Malhan, maafkan Papi. Terima kasih karena kamu sudah baik kepada Tirta."
Semua orang menatap kepada Han, ucapan Papinya tidak Han pedulikan. Han langsung berdiri menjawab panggilan, dan meminta Muti dan Tirta bersiap ke rumah sakit
Han melangkah pergi ke ruang tamu, berbicara dengan bahasa asing meminta bantuan dokter terbaik jika pemeriksa Tirta memungkinkan untuk operasi.
__ADS_1
Segala gejala sakit kepala, mual dan muntah Han jelaskan. Jawaban dari panggilan membuat Han binggung dan mengerutkan keningnya.
"Kak, ayo kita pergi."
"Tirta, Mami akan menuruti apapun yang kamu inginkan, dan tidak akan memaksa lagi. Kamu harus sembuh ya sayang."
"Iya mami, jangan khawatirkan Tirta."
Panggilan masuk ke ponsel Papinya Tirta, meminta bantuan Han menjaga Tirta. Dia langsung melangkah pergi, diikuti oleh Cherly
"Muti rasa Papi ada masalah." Muti menatap penasaran.
Alhan meminta Muti mengabaikan Papinya, karena saat ini Tirta jauh lebih penting.
Kristal keluar dari kamarnya, menguap besar belum mandi membuat Han menarik nafas menahan emosi.
"Sebaiknya kita pergi, tinggalkan saja Kristal." Han langsung keluar diikuti oleh Ilham yang tertawa melihat putrinya bangun kesiangan.
Tirta mendekati Kris, mengusap wajahnya gemes. Kris masih memejamkan matanya meminta Tirta menyiapkan dirinya susu.
"Susu Kris mana?"
"Aku ingin sembuh dan menikahi kamu Kris, dan melayani apapun yang diinginkan." Tatapan Tirta melihat Dwi, meminta tolong menyiapkan susu.
Suara Han memanggil terdengar, Han binggung alasan Tirta mencintai Kris. Wanita satu-satunya yang Han temukan tidak bisa bangun pagi, dan tidak tepat waktu dalam segala hal.
"Kris mengemaskan sekali."
"Mami sama Papi tidak ikut?" Tirta melihat mobil Papinya sudah tidak ada.
Mobil melaju menuju rumah sakit, Han sudah membuat janji sebelum dengan dokter ahlinya.
"Dokter Ilham, aku rasa ada yang aneh dari laporan ini?" Han menunjukkan sesuatu kepada dokter Ilham.
"Aku juga merasakan hal yang sama Han, dan meminta dokter yang mendiagnosis Tirta untuk datang dan melihat pemeriksaan ulang."
Senyuman Han terlihat, seharusnya sejak awal mereka merasakan keganjilan. Dan berharap ada sisi baik dari diagnosis para dokter lain.
Di rumah Dwi kerepotan karena Kristal yang mengamuk ingin ke rumah sakit, seluruh baju dihamburkan karena binggung.
"Ya Allah, kamu yang bangun kesiangan. Ingin menyalahkan siapa?" Kepala Dwi geleng-geleng melihat tingkah Kristal.
Kris berlari untuk mandi, Dwi menyiapkan pakaian, sepatu, tas, jam tangga serta aksesoris lainnya.
Tatapan Kris sinis melempar sembarang handuknya, langsung memakai baju, meminta Dwi mengeringkan rambutnya.
"Kamu cukup pintar dalam fashion." Kris menyukai semua pilihan Dwi.
__ADS_1
"Rambutnya aku kuncir, nanti kamu menangis rambut pasti berantakan."
Kris hanya mengeluarkan kata hmm, mengirimkan pesan kepada Muti untuk menjelaskan kondisi Tirta.
Tanpa bertanya, Dwi memasangkan high heels tidak terlalu tinggi untuk Kris, memasang jam tangan dan menyerahkan tas.
"Kamu sudah siap berangkat." Nafas Dwi ngos-ngosan.
"Susu sama sarapan." Kris meminta dibawakan ke mobil.
Tidak menunggu lagi, Dwi langsung berlari keluar kamar menuju dapur menyiapkan sarapan sandwich, juga susu yang dituang ke dalam botol.
"Kenapa aku melakukan ini?"
Suara Kris memanggil terdengar, Dwi menghentakkan kakinya menyerahkan makanan dan minuman Kris.
"Hati-hati di jalan."
"Kamu juga ikut, setir mobil. Mata Kris masih mengantuk." Tatapan Kristal tajam.
"Astaghfirullah Al azim, ya Allah. Berikan hamba kesabaran untuk menghadapi wanita ini." Berkali-kali Dwi mengusap dadanya.
"Dwi ... cepat!" Suara teriakan Kristal menggema.
Perasaan Kris sangat cemas, mulutnya penuh makanan dan susu yang hampir habis. Dwi mengusap punggung Kris agar bisa tenang.
Meskipun sikap Kris jahat, dan memancing emosi. Tapi ada rasa sedih yang dia sembunyikan. Dwi bisa tahu, jika Kris haus kasih sayang, dan Tirta pria yang memberikan kasih sayang.
"Habiskan dulu makanan di mulut, baru menangis."
"Iya, lapar." Kris mengusap air matanya.
Tatapan Kris tajam melihat Dwi yang ternyata bisa menyetir mobil, niatnya Kris ingin mengerjai, tapi ternyata Dwi bisa segala-galanya.
Mobil tiba di rumah sakit, Kris langsung berlari. Dwi berteriak jika tas Kristal ketinggalan. Terpaksa Dwi juga berlari ke dalam rumah sakit mencari ruangan pemeriksaan.
"Kris telpon tuan Han." Suara Dwi berteriak terdengar.
"Kak Muti nanti cemburu jika menghubungi suaminya."
"Astaghfirullah, itu tidak penting. Apa sekarang waktunya cemburu?" Panggilan di ponsel Kris terdengar, Dwi langsung menjawabnya.
Tangan Kristal ditarik, langsung mengikuti Dwi dan melihat Muti sudah melambaikan tangannya.
Dokter Ilham keluar, Tirta akan segera dibawa ke ruangan pemeriksaan. Ilham secara langsung akan melihat hasilnya.
Han menganggukkan kepalanya, merangkul Kris dan Muti. Mereka akan menunggu, dan berdoa yang terbaik untuk Tirta.
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazaira