
Kedua tangan Lily digandeng oleh Muti dan Kris, Dwi berjalan di depan melangkah masuk ke mall yang sangat besar.
Senyuman empat wanita terlihat, langsung berjalan ke arah pakaian. Membeli beberapa baju couple untuk menonton bersama.
"Lily tidak suka." Bibir Lily monyong, menolak baju yang dibawa Muti.
"Tidak ada yang minta persetujuan kamu, terserah suka tidaknya. Paling penting Muti yang suka."
Kristal mengambil high heels tinggi, meminta pelayan menemukan ukuran kakinya. Beberapa wanita menatap Kris yang sibuk dengan sepatunya.
"Kristal, ini benar kamu Kris?"
Kris hanya senyum, bersalaman dengan teman kuliahnya. Lebih tepatnya bukan teman, hanya tahu wajah dan nama.
"Kris, aku dengar kamu menikah dengan Alhan. Sekarang sudah menjadi istri orang kaya, belanja saja spesial. Dilayani layaknya putri."
Tawa Kristal terdengar, begitulah beruntungnya dirinya. Belanja apapun hanya gesek kartu tidak harus menggunakan baju bermerek hasil jual diri.
Kristal juga menjelaskan jika dia bukan istrinya Alhan, tapi adik iparnya. Kris meminta wanita dihadapannya pergi, karena menganggu suasana hatinya.
Mutiara yang melihat dari kejauhan menatap tidak suka, langsung melangkah mendekat sambil menepuk pundak wanita dihadapan Kris.
Terlihat dari ekspresi langsung terkejut, Muti hanya tersenyum diikuti oleh Kristal yang tertawa kecil.
"Kalian menganggu Kris akan berurusan dengan kakaknya, jangan berharap mendapatkan traktiran." Muti menatap tajam, mengangkat bibir atasnya tidak suka melihat wanita cantik yang memanfaatkan Kris.
Kepala Kristal geleng-geleng, Muti memasangkan high heels di kakinya agar mendapatkan traktiran.
"Ayo berteman." Muti mengulurkan tangannya.
Suara Kris tertawa terdengar, menerima sambutan tangan kakaknya. Lily juga menggenggam tangan keduanya.
Tangan kecil Lily langsung hilang saat Kris menutupnya, dibantu oleh Muti yang menggenggam.
"Tangan Lily di mana?"
"Belanja hari ini Manda yang bayar." Dwi meminta ketiga putrinya membeli apapun yang diinginkan.
"Menghabiskan uang Panda?" Muti melihat kartu yang ada di tangan Dwi.
"Dasar Manda matre, menikahi Panda menginginkan uangnya." Kris menatap sinis.
"Bukannya uang suami, uangnya istri." Dwi tersenyum melihat Kristal yang menganggukkan kepalanya.
Semuanya belanja besar, rencana menonton gagal karena kehabisan tiket. Tepaksa hanya membeli cemilan dan duduk di area permainan.
Dwi pergi sendiri, membeli perhiasan untuk kedua putrinya. Hadiah pertama menggunakan uang pribadinya.
Senyuman terlihat, meksipun harganya tidak sebanding dengan perhiasan yang dimiliki oleh Kris.
__ADS_1
"Di mana Manda?" Muti melihat sekeliling.
Kristal sudah menggendong Lily yang tertidur, mengusap kepala adiknya yang lelah berkeliling.
"Sayang, Manda punya kado untuk kalinya. Jangan dihina." Manda menunjukkan dua kotak kecil.
Kristal langsung mengambil, membuka
hadiah. Air mata Kris menetes, perhiasan pertama yang ingin dimilikinya.
Senyuman Muti juga terlihat, langsung memeluk Dwi mengucapkan terima kasih. Dwi memasangkan di leher Muti begitupun dengan Kris.
"Kalian suka?" Dwi juga meneteskan air matanya.
Kristal menganggukkan kepalanya, tersenyum. Langsung memeluk Dwi yang sudah mengabulkan apa yang diinginkannya.
"Sejak dulu, Kris tidak membutuhkan barang mewah, cukup ada yang memperhatikan saja." Air mata Kristal tidak kuasa ditahan, akhirnya menetes.
Ketiganya menangis sambil berpelukan, banyak orang yang lalu lalang kebingungan. Lily juga terbangun langsung duduk, menatap aneh.
Dari kejauhan Ilham bisa melihat ketiganya, merentangkan tangannya meminta Lily mendekat.
Melihat Papanya datang, Lily langsung berlari kencang. Langsung lompat ke dalam pelukan.
"Sayang, sini peluk Panda." Ilham meminta kedua putrinya berdiri.
"Kristal! apa yang kamu beli? banyak sekali." Han menatap tajam.
Han tersenyum saat tahu yang belanja banyak istrinya, tidak berani menegur jika sampai Muti ngambek habis hidup Han.
"Kak Han gendong." Lily langsung ingin naik.
"Tidak boleh, sama Panda saja." Muti memeluk lengan Han, berjalan lebih dulu.
Di parkiran Tirta masih melakukan panggilan, banyak wanita yang memperhatikannya. Senyum dan memanggil, Kris yang melihatnya langsung panas.
"Tirta, peluk." Kris langsung berlari kecil, memeluk erat.
Melihat tingkah Kris, Tirta kebingungan. Mengusap punggung Kris, memintanya untuk masuk mobil.
Menyadari menjadi pusat perhatian, barulah Tirta paham. Kris tidak menyukai banyak wanita yang mengelilinginya.
"Kak Tirta, gendong." Lily menatap Tirta yang langsung mengangkat tubuhnya.
Satu tangan Tirta menggendong Lily, dan satunya merangkul pinggang Kristal agar para wanita yang mengaguminya segera pergi.
"Kita makan malam di luar saja, Han dan Tirta sudah selesai pekerjaan." Ilham menatap Han yang menganggukkan kepalanya.
Suasana makan makan di restoran mewah bersama keluarga besar, Nenda juga datang karena pernikahan sisa beberapa hari.
__ADS_1
Nenda melarang Kris untuk keluar rumah terlalu sering, begitupun dengan Tirta yang harus mengurangi pekerjaannya.
"Kak Muti juga nasehatin Nenda."
"Muti dan Han beda, mereka sudah menikah dan hanya mengulangi untuk acara pesta. Kalian berdua yang harus waspada." Tangan Nenda mencubit pipi Kris gemes.
Banyak hal yang dibicarakan untuk pesta, karena tamu undangan juga cukup banyak. Baik rekan kerja Han, rekan kerja Ilham, begitupun dengan Tirta.
Demi keamanan, Ilham memperketat penjagaan. Meminta Alhan memastikan kembali.
Pintu diketuk, Cherly langsung melangkah masuk melihat keluarga besar Muti dan Kris turut hadir.
"Mami." Tirta langsung berdiri, kaget melihat Maminya bisa tahu keberadaannya.
"Kamu benar-benar tidak menganggap Mami ya? bisa kamu mempersiapkan pernikahan, tanpa campur tangan Mami." Suara tinggi Cherly menggema.
"Silahkan duduk dulu kak." Dwi mempersilahkan, memberikan tempat untuk Cherly agar bergabung.
Senyuman Dwi terlihat, mendengar saran Cherly soal persiapan. Dia tidak ingin putranya menikah sederhana, ingin dirayakan besar-besaran.
Semuanya terdiam, hanya Dwi yang mendengarkan dan menunjukkan senyuman ramah.
"Kakak ingin pesta besar, kami juga menginginkannya. Jika semakin ramai, juga lebih baik." Dwi menggenggam tangan Kris untuk tenang.
"Bagus, pilih hotel yang mewah."
"Baik, tapi ada satu masalah kak. Pesta pernikahan ini yang menjalani Tirta dan Kris, alangkah baiknya, kita juga mendengar saran mereka, demi kenyamanan bersama." Manda menatap Putrinya sambil tersenyum.
"Maaf Mi, kita sudah menyewa villa di pantai untuk acara resepsi, dan sudah bayar juga."
"Kampungan, kalian ingin berenang berjamaah?" Cherly menatap sinis.
"Seru itu, Muti selesai menerima tamu langsung lari ke laut. Saran Tante luar biasa." Muti tersenyum menatap Han yang memalingkan pandangan.
Dwi menjelaskan soal tema pesta yang berada di alam, dan pantai salah satu tempat yang romantis sangat cocok untuk anak muda.
Mendengar ucapan Dwi, akhirnya Cherly setuju langsung meminta baju keluarga yang harus dibuat oleh desainer terkenal.
Dwi hanya mengiyakan saja, dan berharap mereka bisa bekerja sama sampai acara selesai digelar.
Muti mencolek Kris, melihat Manda yang sanggup meladeni Cherly yang bicaranya sangat besar juga memamerkan barang mahal.
Apapun yang Cherly katakan, Dwi bisa mengimbanginya.
"Manda luar biasa," ucap Muti.
Kris langsung menganggukkan kepalanya, membenarkan ucapan Muti.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira
jangan lupa like coment Dan tambah favorit