MUTIARA & KRISTAL

MUTIARA & KRISTAL
ANAK SIAPA


__ADS_3

Merasa lebih baik Kristal meminta pulang, tapi Han belum datang. Kristal mengerti karena Han kesulitan berjalan, dan ada Muti yang harus dirahasiakan.


Tirta duduk di ruang tunggu menunggu Han datang, tapi yang di tunggu belum juga tiba.


Kristal keluar dari kamar, tubuhnya terlihat baik-baik saja hanya kepalanya yang terasa masih sakit.


"Kamu ingin ke mana Kris? Han belum datang, dia harus bicara dengan dokter." Tirta menjaga jarak dari Kristal.


"Biarkan saja, ada Han di sini lebih merepotkan." Kris berjalan pelan diikuti oleh Tirta dari belakang.


Pintu mobil dibukakan, Kris langsung masuk duduk di samping Tirta yang menjalankan mobil menuju kediaman Han.


Sepanjang perjalanan keduanya hanya diam, tangan Kris menyentuh pergelangan tangan Tirta yang memegang setir mobil.


"Ada apa Kris?"


"Aku mau makan buah itu." Kris menoleh ke belakang menunjuk ke arah para pedagang kaki lima yang menjual buah-buahan.


"Kamu tunggu di sini." Tirta langsung turun, tapi menatap kaget Kristal sudah berlari ke arah pedagang.


"Pelan-pelan Kris." Tirta langsung berlari menahan tangan Kristal agar berjalan pelan.


Setelah mendapatkan makanannya, Kris tersenyum makan sepanjang jalan. Mengunyah sambil bernyanyi riang.


"Tir, aku tidak ingin pulang ke rumah Han, tapi antar aku Ke apartemen saja." Kris menunjukkan jalannya.


Tirta kaget dan binggung, dalam kondisi saat ini Kristal dan Han memilih pisah rumah.


"Kenapa? kamu bertengkar dengan Han? atau karena kondisi kamu sekarang." Tatapan Tirta khawatir.


Tirta berniat membicarakan dengan Han agar hubungan keduanya membaik, bukan pisah rumah.


"Cerewet Tirta, antar ke apartemen atau aku turun di sini." Kristal menatap tajam.


Kepala Tirta mengangguk, menurut permintaan Kris menuju apartemennya.


Sampainya di apartemen, Kristal masih tidur. Tirta binggung cara membangunkan hanya bisa diam sambil menatap.


"Kris aku mencintai kamu, meksipun kau tahu cinta ini salah. Anak yang kamu kandung, anak aku atau anaknya kak Han?" tangan Tirta mengusap pelan, mencium kening Kristal lembut.


Tirta tidak tahu ini kabar baik untuknya atau kabar buruk baginya, karena Tirta tahu tidak bisa memiliki.


"Sudah sampai." Kris membuka pintu mobil langsung melangkah ke dalam.


Tirta hanya melihat dari balik mobilnya sampai Kristal menghilang dari pandangannya, dada Tirta terasa sesak.

__ADS_1


"Lupakan dia Tirta, jangan sakiti kak Han." Kepala Tirta dibenturkan di setir mobil.


Tatapan Tirta melihat ke arah makanan Kristal, langsung membawanya dan berniat mengantarnya.


Apartemen Kristal sangat mewah, karena salah satu apartemen elite.


Suara bel terdengar, Kristal langsung membuka pintu membiarkan Tirta masuk dengan tatapan sinis.


"Kenapa? aku mengantuk." Kris tidur di sofa sambil tengkurap.


"Kris jangan tidur seperti itu, kasihan dia."


Mata Kristal menatap tajam Tirta yang melihat sekeliling apartemen, Kris tersenyum sinis mengingat rencananya untuk menemukan keberadaan bisnis Maminya Tirta.


"Kenapa kamu ingin menghacurkan Han?"


Tirta mengerutkan keningnya, tidak akan ada yang percaya meskipun Tirta mengatakan jika dia tidak tahu apapun.


"Aku tidak melakukan apapun, tidak membela kak Han ataupun membeli Mami. Terserah ingin percaya atau tidak." Senyuman Tirta terlihat langsung pamit pulang.


"Kenapa kamu mengizinkan Mami kamu yang hanya wanita malam? merebut kebahagiaan orang lain." Kris langsung duduk, matanya menunjukkan kebencian.


Tirta langsung duduk, mempertanyakan apa yang ingin Kristal katakan sebenarnya.


"Aku dan kak Han sama, kita tidak bahagia dengan keluarga kedua ayah. Kami tersakiti dan merasakan iri dengan kebahagiaan orang lain."


"Pernah tidak kamu membayangkan posisi aku?"


Tirta tersenyum sinis, tidak ada anak yang ingin melihat ibunya merusak kebahagiaan orang lain. Tirta bahkan malu dengan dirinya sendiri, tapi apa yang bisa dia lakukan, dia tidak bisa memilih ibu yang seperti apa.


"Aku dipukul, diusir, dihina, dicaci maki, bahkan selalu direndahkan oleh wanita yang melahirkan aku, apa kamu pikir aku punya hak untuk menghentikan?" kedua tangan Tirta mencengkram kuat sofa.


"Tapi kamu juga menikmati hasil dari kejahatan Mami kamu."


"Seandainya aku menolak, tidak akan mengubah apapun Kristal."


Kris menghela nafas kasar, emosinya mulai naik dan menatap Tirta penuh kekecewaan.


"Apa kamu tahu bisnis Mami kamu?"


"Bisnis apa?"


Kristal melipat tangannya di dada, meminta Tirta memilih untuk menghentikan Maminya atau terus melihat kejahatan.


"Aku tidak mengerti, sebaiknya kamu istirahat dan aku akan pulang." Tirta melangkah pergi.

__ADS_1


"Tunggu! aku akan melakukan segala cara untuk menghacurkan Cherly, dan menemukan bisnis yang Cherly sembunyikan." Kristal menatap punggung Tirta yang berhenti melangkah.


Tatapan Tirta langsung tajam, melihat ke arah Kristal dengan wajah terkejut. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut Tirta, langsung melangkah pergi.


Bisnis yang Kristal bicarakan membuat Tirta takut, kemungkinan besar jika sampai terbongkar kembali kejadian Bundanya Han akan terulang kembali.


"Apa yang sedang Kris dan kak Han rencanakan?" Tirta langsung menuju mobil ingin menemui Alhan.


Sepanjang perjalanan Tirta memikirkan ucapan Kris, berharap kali ini Han akan mendengarkan saran darinya.


Sesampainya di rumah Han, Tirta langsung meminta izin masuk. Setelah mendapatkan izin Tirta melihat Alhan duduk di kursi roda menatap foto Bundanya.


"Kenapa kamu selalu datang ke sini?" Han menatap tajam.


Mutiara yang membawakan makanan mengurungkan niatnya, melihat dua bersaudara tiri sedang berbicara.


"Kak Han bertengkar dengan Kris? dia memilih tinggal di apartemennya?"


"Kamu tahu dari mana?" Han merasa terkejut.


Tirta mengerutkan keningnya, sudah berpesan kepada penjaga jika Tirta pergi bersama Kristal dan meminta Han menyusul ke rumah sakit.


Han menggaruk kepalanya, dia tidak bertemu pengawal sama sekali dan tidak tahu menahu soal Kristal yang sudah pergi dari pagi.


"Satu hal lagi yang ingin Tirta pertanyakan? apa kak Han dan Kristal sedang mencari keberadaan bisnis mami?" Tirta melihat ke arah foto Bunda yang tergantung.


"Kamu tahu dari mana?"


Tirta langsung berlutut, menyentuh kaki Han memohon kepada kakaknya untuk tidak terlibat. Sejak Bunda meninggal Maminya sudah meninggal bisnisnya.


"Kenapa kamu memohon? jika tidak ada apapun, seharusnya kamu santai saja, apalagi jika mami kamu sudah berhenti mengelolanya." Han menepis tangan Tirta yang menghela nafasnya, mengacak-acak rambut.


"Kak, Tirta akan menyerahkan saham atas nama anak kak Han, tapi tolong jangan mendekati mereka lagi."


Semakin Tirta menahannya, semakin besar keinginan Alhan untuk mengetahuinya dan menemukan apa yang sebenernya sudah Bundanya temukan sehingga harus di bunuh.


"Kak Han hanya akan menyakiti Kristal, kondisi kak Han saja memprihatikan. Lebih baik duduk diam, dan fokus ke perusahaan." Suara Tirta terdengar marah.


"Akhirnya kamu menghina aku, dan ini yang aku tunggu. Kamu menjadi lelaki sejati."


"Aku akan melindungi Kristal, dan kak Han urus diri sendiri." Tirta menendang kursi roda Han pelan langsung melangkah pergi.


***


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


jangan lupa like coment Dan tambah favorit


vote hadiahnya


__ADS_2