MUTIARA & KRISTAL

MUTIARA & KRISTAL
TAMU TIDAK DIUNDANG


__ADS_3

Beberapa mobil pulang beriringan, masa liburan dan bulan madu akhirnya selesai, dan kembali ke kehidupan sehari-hari.


Kaca jendela mobil Tirta terbuka, Kris langsung melihat ke arah pantai yang sangat indah. Tidak bosan dirinya terus mengagumi betapa indahnya alam.


Angin sepoi-sepoi menerpa wajahnya, rasa dingin juga menebus kulit membuat tubuhnya merinding.


Melihat istrinya kedinginan, tangan Tirta langsung menarik pundak dan menutup jendela, tidak ingin istrinya terkena demam karena kedinginan.


"Kenapa ditutup kak?" Kris menatap suaminya yang tersenyum.


"Dingin sayang, nanti kamu demam." Tangan Tirta mengusap kepala istrinya.


Mendengar larangan suaminya, Kris akhirnya hanya diam menatap ke arah luar, meksipun kurang puas, karena kaca mobil ditutup.


Mobil melaju dengan kecepatan tinggi, Tirta masih melihat mobil lainnya yang ada di belakangnya dan sesekali menatap istrinya yang sudah tertidur.


Panggilan masuk, Tirta langsung menjawab panggilan dan mendengar apa yang dibicarakan oleh suara dibalik telpon.


"Kristal, kita langsung pulang ke apartemen, ya, Sayang." Suara pelan terdengar, Kris hanya merespon dengan menganggukkan kepalanya.


Tirta hanya membunyikan klakson mobil, dan berpisah dari mobil lainnya langsung menuju apartemen. Laju mobil juga dipercepat, agar Kris bisa segera beristirahat.


Sesampainya di apartemen, Tirta langsung mengeluarkan koper dan meminta istrinya keluar lanjut tidur di kamar.


"Kita sudah sampai?" Kris membuka pintu.


"Ayo masuk sayang." Tirta langsung menarik dua koper untuk naik lift.


Kristal hanya mengikuti dari belakang, memeluk suaminya dari belakang karena masih sangat mengantuk.


Pintu apartemen terbuka, Kris langsung masuk dan menuju kamar mereka. Lompat ke atas tempat tidur melanjutkan mimpi indahnya.


Senyuman Tirta terlihat, melepaskan sepatu istrinya dan menyusun di rak sepatu. Merapikan isi koper menyusun baju di lemari.


Tirta langsung mandi, dan menyiapkan makan malam untuk mereka berdua. Tidak Tirta bayangan akan ada tamu tidak diundang yang berkunjung.


Suara bel terdengar, Tirta yang tidak berpikir dua kali untuk mengecek terlebih dahulu tamunya langsung membuka secara langsung.


"Tirta." Pelukan erat memeluk pria dihadapannya.

__ADS_1


"Tunggu Nas, kamu kenapa bisa tahu tempat ini?" Tirta melepaskan pelukan, tidak ingin Kris salah paham terhadap dirinya.


"Tentu aku tahu, kamu lupa jika aku satu-satunya yang tahu letak apartemen ini." Arnas langsung masuk ke dalam.


"Aku sudah menikah Nas, dan ada istriku di sini." Tirta masih membuka pintu, binggung cara mengusir sahabat masa kecilnya.


Kepala Arnas mengangguk, dia tahu jika Tirta sudah menikah, karena bertemu dengan Maminya Tirta terlebih dahulu. Kedatangan Arnas bukan untuk membuat masalah, tapi dia hanya merindukan sahabatnya.


"Kamu masih belum berubah Tirta, tetap rapi dan selalu masak sendiri." Tanpa seizin Tirta, Arnas langsung mengambil makanan di atas meja.


"Jika tidak ada yang ingin dibicarakan silahkan keluar." Nada bicara Tirta masih sopan.


Senyuman manis terlihat, sikap Tirta yang perlahan berubah tidak sebaik dan senyaman sebelumnya. Mereka sudah saling mengenal selama puluhan tahun, dan Tirta langsung menganggap asing setelah dirinya menikah.


"Di mana istri kamu?" Arnas tidak melihat keberadaan Kristal.


Tirta menghela nafasnya, langsung meninggalkan sahabatnya menuju ke dalam kamar. Kris sudah bangun dan mandi, masih mengeringkan rambutnya.


"Siapa yang datang?" Kris melihat wajah Tirta dari balik kaca.


"Sahabat lama, tapi dia seorang wanita. Aku tidak pernah cerita, dan tidak menyangka dia akan datang ke sini." Kepala Tirta tertunduk, merasa tidak nyaman dengan kehadiran Arnas.


Kris tersenyum sinis, langsung melangkah keluar untuk menyambut tamu yang datang tanpa diundang.


Tangan Kris terulur, berjabatan tangan dengan wanita bule di hadapannya. Tirta sangat pintar dalam memilih teman, karena Kris tidak bisa melihat sopan santunnya.


"Tirta masih belum berubah, dia selalu menyiapkan makan." Senyuman Arnas terlihat, mengingatkan kenangan lamanya yang selalu memakan masakan Tirta.


"Tidak ada yang spesial, tapi yang istimewanya, aku memakan masakan suami, dan rasanya nikmat." Kris tersenyum sinis.


Tirta langsung muncul, duduk di samping Kris, melihat dua wanita yang sedang makan, tapi saling menyindir secara halus.


Arnas menatap wajah Tirta, menikmati ketampanan sama seperti sebelumnya. Arnas mengingatkan Tirta terakhir pertemuan mereka.


Mendengar ucapan Arnas, Tirta langsung batuk dan mengambil minum. Jika Kris tahu, pastinya akan membuat keributan besar.


"Apa yang terjadi? Tirta mengatakan cinta, atau kamu yang mengakui cinta? apapun itu, kalian berdua tidak berjodoh." Kris tertawa kecil, memaklumi kegagalan cinta Arnas.


Melihat tawa Kris yang mengejek, Arnas mengatakan jika dia dan Tirta sudah bersahabat lama, dan perasaan keduanya melebihi apapun sehingga tidak pantas diukur dengan cinta.

__ADS_1


"Aku tidak tahu apa tujuan kamu datang? tapi jika untuk mendapatkan cinta sahabat, hidup kamu begitu miris." Kristal meletakkan sendok makannya, menatap tajam wanita dihadapannya.


"Kamu jangan terlalu bangga Kris, aku tahu busuknya masa lalu kamu?" Tatapan Arnas sangat tajam.


"Nas, sebaiknya kamu pulang, jangan membuat masalah di dalam rumah tanggaku." Tirta menatap tajam, meminta Arnas segera keluar.


Arnas langsung berdiri, meminta Tirta mengikutinya ke lantai bawah dan bicara berdua.


Melihat tatapan Kris, Tirta hanya diam saja tidak menanggapi ucapan sahabatnya. Arnas sudah berteriak meminta Tirta keluar.


"Dasar perempuan tidak tahu malu." Kris langsung melangkah mendekati Arnas, jika dia tidak mengizinkan Tirta keluar.


"Aku ingin bicara dengan Tirta."


"Dia tidak akan meninggalkan aku tanpa izin, coba saja jika berani." Kris bertolak pinggang, menantang wanita dihadapannya.


Air mata Arnas menetes, langsung memeluk Tirta mengatakan jika kondisinya tidak baik. Hanya Tirta tempat dirinya berlari dan mengadu.


"Tir, bantu aku sekali saja. Hanya kamu yang aku punya."


"Ada masalah apa?" Tirta binggung melihat Arnas yang terlihat menahan sakit.


Secara tiba-tiba Arnas jatuh pingsan, wajahnya pucat. Tirta langsung melihat ke arah Kris yang tidak peduli sama sekali.


"Kris kita harus ke rumah sakit sekarang." Tirta langsung menggendong Arnas untuk dilarikan ke rumah sakit.


Melihat Tirta keluar, Kris langsung berteriak mengumpat kasar. Menolak mengikuti Tirtan, lebih memilih untuk tidur dan mencoba melupakan apa yang terjadi.


Selama berjam-jam Kris menunggu Tirta kembali, tapi sampai larut malam belum ada kabar seakan lupa jika memiliki istri.


"Sialan, belum lama menikah sudah muncul pengganggu." Kris menendang meja rias sampai berhamburan.


Kristal melangkah ke dapur, melihat makanan yang masih terletak di meja, langsung menghamburkan isi meja.


Tangan Kris menggenggam erat, kemarahannya ada di puncaknya. Melihat ponselnya yang mendapatkan pesan dari nomor tidak dikenali.


Kris melihat Tirta tertidur di samping ranjang Arnas, senyuman Kris terlihat langsung tertawa konyol.


"Aku bukan hanya bisa membunuh Tirta, tapi langsung kalian berdua." Kris tersenyum sinis langsung mengganti baju dan melangkah keluar apartemen.

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2