
Hampir subuh Tirta tiba di apartemennya, melihat isi apartemen yang berantakan. Tirta membuka pintu kamar, tidak melihat keberadaan Kristal sama sekali.
Berkali-kali Tirta mencoba menghubungi, tapi tidak mendapatkan jawaban karena ponsel Kris mendadak mati.
"Astaghfirullah Al azim, ke mana kamu Kris?" Tirta terduduk di pinggir ranjang, jantungnya berdegup kencang.
Rasa cemas dan khawatir berkecamuk di dalam hati, Tirta sangat mengenal sikap buruk Kris yang bertindak sesuai keinginannya, tanpa tahu kebenarannya.
"Sayang, kamu di mana?" Tirta masih mencoba menghubungi istrinya.
Tidak memiliki pilihan, Tirta langsung mengecek CCTV, melihat arah pergi istrinya. Wajah Kris tidak sedang dalam emosi, tapi dia pergi tanpa menggunakan mobil, hanya meminta taksi menjemputnya.
Cepat Tirta langsung keluar, mencoba mencari keberadaan taksi yang membawa Kris. Saat bertemu, supir hanya mengatakan jika Kris berhenti di supermarket, lalu tidak menggunakan taksi kembali.
"Sampai matahari terbit, Tirta masih mencari keberadaan istrinya. Handphone Kris masih mati, dan Tirta pagi-pagi sudah tiba di rumah Han.
Kedatangan Tirta secara dadakan membuat Han binggung, apalagi langsung bertanya keberadaan Kristal.
"Ada apa?" Han duduk memakai sepatunya.
"Kris pergi dari apartemen tengah malam, aku sudah mencari, tapi tidak ada hasil. Ponselnya juga masih mati." Tirta meminta bantuan Han untuk menghubungi Kris.
"Ada masalah apa?" Han meminta Tirta menjelaskan masalahnya.
Tirta menjelaskan kedatangan Arnas, sahabat kecilnya yang Han juga mengenalnya karena beberapa kali Arnas selalu datang bersama Tirta.
Saat di rumah sakit, dokter mengatakan jika Arnas harus di operasi usus buntu, dan Tirta sudah menghubungi orang tuanya, tapi tidak bisa meninggalkan begitu saja.
Saat keluarga Arnas tiba, Tirta langsung kembali ke apartemen dan melihat Kristal sudah pergi.
"Kamu bisa menghubungi keluarga Arnas, tapi tidak bisa menghubungi Kris yang menunggu kepulangan kamu selama berjam-jam." Han melipat tangannya di dada.
Kepala Tirta tertunduk, air matanya juga menetes. Dirinya sangat menyesal tidak menghubungi Kris.
Alhan langsung melakukan panggilan, tapi hasilnya tetap sama. Ponsel Kris tidak aktif dan sudah dimatikan.
"Ada apa kak Han?" Muti membawakan minuman untuk suaminya.
Muti tersenyum melihat Tirta, langsung duduk kebingungan. Tirta terlihat sedang banyak pikiran.
__ADS_1
"Di mana Kristal?"
"Kris pergi dari rumah, ada salah paham." Han memijit pelipisnya.
Mendengar jawaban Han, Muti langsung terkejut. Penikahan yang masih hitungan hari sudah berpisah, bahkan Tirta menghadirkan orang ketiga.
Selama mengenal Kris, Muti sangat paham jika adiknya sangat tidak menyukai wanita yang hadir di antara hubungan orang lain, tapi Kris lebih membenci lelaki yang memberikan ruang untuk orang lain.
"Muti, Kris tidak menghubungi kamu?"
"Tidak! Muti dari tadi mencoba menghubunginya, karena hari ini Manda akan cek ke dokter. Kristal tidak bisa dihubungi, Mutiara harus mengatakan apa kepada Manda dan Panda." Muti menatap tajam, meminta Tirta mencari Kris sampai ketemu.
Han juga dilarang pergi kerja sebelum menemukan Kristal, Muti tidak akan memaafkan siapapun, jika sampai adiknya tidak ditemukan.
"Apa yang sedang kalian berdua tunggu? cari sekarang." Muti berteriak marah.
Alhan langsung berdiri, meminta Tirta mengikutinya untuk mencari keberadaan Kris. Han mengetahui beberapa tempat yang mungkin Kris kunjungi.
Muti langsung terduduk lemas, mencoba memanggil nomor Kristal, tapi masih tidak aktif.
"Kamu di mana Kris? jangan menyelesaikan masalah dengan cara seperti ini, kamu punya kak Muti." Air mata Muti menetes, menatap foto adiknya.
Panggilan dari Manda masuk, Muti langsung bersiap-siap untuk ke rumah sakit menemani Mamanya cek usia janin.
"Emh ... Kris ada pekerjaan Manda, cek kali ini berdua saja." Muti berusaha menunjukkan senyuman, meskipun perasaannya sedang cemas.
Sesampainya di rumah sakit, Muti mengantarkan Mamanya masuk ke ruangan dokter kandungan.
"Ma, Muti mengangkat panggilan sebentar." Muti langsung berjalan keluar, langsung berlari menjauh.
Suara Muti berteriak terdengar, memarahi Kristal yang mematikan panggilan. Muti sangat menghawatirkan adiknya, meminta Kris kembali.
[Apa yang sebenarnya terjadi Kris?]
Kemarahan Muti terpancing mendengarkan penjelasan Kris, meminta adiknya untuk tidak pulang sementara waktu, Muti akan mengurus semuanya.
"Siapa kamu? Arnas. Sebelum menyentuh adikku, hadapi dulu kakaknya." Muti langsung berjalan ke bagian pasien, memperkenalkan dirinya sebagai putri pemilik rumah sakit.
Cengkraman tangan Muti kuat, langsung berjalan ke arah ruangan wanita yang mengusik rumah tangga adiknya.
__ADS_1
Dari luar kamar Muti bisa mendengar suara tawa, dan beberapa wanita ada di dalamnya sedang membicarakan rumah tangga Tirta yang tidak akan bertahan lama.
"Aku baru tahu jika Tirta anak tunggal dari keluarga terpandang, sedangkan Cherly sebenarnya bukan ibu kandungannya."
"Benar Mommy, Anas juga baru tahu. Selama ini Tirta sengaja menutupi identitasnya, dan perasaan Tirta masih sama, dia tidak mungkin bisa menyakiti perasaan wanita." Arnas tersenyum, memastikan jika hubungan persahabatan mereka jauh lebih penting, dari pada pernikahan.
Jika Tirta sampai tahu istrinya hanyalah wanita nakal, dan tidak memiliki apapun. Kris hanya menang gaya saja, tapi soal isi dompet tidak ada artinya.
"Kristal hanya beban keluarga, dan Tirta tidak pantas untuknya."
"Lalu yang pantas siapa? kamu!?" Muti membuka pintu secara tiba-tiba.
"Kristal." Arnas terlihat kaget.
Senyuman Muti sinis, mengambil tas branded yang ada di atas meja langsung melemparkan keluar, melalui jendela.
Suara teriakan histeris terdengar, tas mahal Muti buang seperti sampah.
"Perempuan sialan!"
"Katakan berapa harganya, sekalian aku bayar pukulan ini." Muti melayangkan tamparan.
Meminta wanita yang sudah menghina adiknya menyebutkan nominal, untuk harga tas juga tamparan.
"Kamu akan menyesal jika Tirta sampai tahu." Arnas langsung mengambil ponselnya menghubungi Tirta.
Muti langsung merampas ponsel, menghidupkan speaker dan menunggu Tirta menjawab.
Saat panggilan tersambung, Muti meminta Tirta menyebutkan nominal harga dirinya, Muti meminta Tirta menceraikan adiknya dan membayar harga diri Kristal, tapi jika ingin mempertahankan rumah tangganya, tidak ada sahabat, keluarga yang boleh menyakiti istrinya.
Ponsel langsung Muti lempar ke dinding, meremas mulut Arnas agar menarik ucapannya soal keburukan adiknya. Tidak ada yang boleh menyakiti Kris, kecuali Mutiara sendiri.
"Siapa kamu? perempuan gila."
"Bersyukurlah wanita yang ada dihadapan kamu seorang Muti, jika Kris yang di sini bukan tas ataupun ponsel yang dilemparkan, tapi kamu yang langsung mati jatuh ke bawah." Muti memperingati, tidak ada yang boleh bermain-main dengan keluarga Kembara.
Tamparan Muti melayang, tidak peduli Arnas baru selesai operasi. Bagi Muti orang yang merendahkan orang lain, tidak lain sampah yang menjijikan.
"Kami akan menuntut kamu." Mommynya Arnas langsung memanggil pihak rumah sakit.
__ADS_1
"Kamu pikir aku takut, detik ini juga kalian angkat kaki dari sini, jika tidak aku akan membakar ruangan ini." Muti menatap sinis langsung melangkah pergi dengan jari tengah ditunjukan kearah orang tua.
***