MUTIARA & KRISTAL

MUTIARA & KRISTAL
TERTIDUR


__ADS_3

Setiap liburan berkeliling beberapa negara, hampir dua bulan dihabiskan untuk memuaskan Mutiara, Kristal dan Lily yang ingin berkeliling dunia.


Rencana jalan-jalan ke rumah Ayah Ibu, tetapi berakhir mengunjungi delapan negara selama dua bulan.


"Besok kita pulang."


"Tidak mau, kita ke dua negara lagi." Muti memohon kepada Han.


"Perut sudah besar, lebih dari tujuh bulan. Paham tidak jika berbahaya." Tirta setuju dengan Han untuk mengakhiri liburan panjang.


Kristal merengek, meminta satu negara lagi. Tirta menyetujuinya, tetapi pulang ke mansion Ayahnya. Pamitan ke sana, meminta doa agar diberikan kelancaran saat lahiran.


Saat Tirta yang sudah bicara tegas, Muti dan Kris hanya bisa diam. Langsung menganggukkan kepalanya, menyetujui untuk pamitan dan izin pulang.


Cepat Han memalingkan wajahnya, merasa lucu dengan dua bumil yang tidak bisa diam. Han tidak bisa menghitung lagi berapa banyak uang yang dihabiskan untuk belajar.


Mengikuti Kris dan Muti berbelanja bisa membuat satu toko besar langsung, keduanya lupa jika mencari uang susah, bukan seperti memetik daun.


Penerangan membawa Han dan yang lainnya kembali setelah dua bulan bersenang-senang, Lily sampai perutnya ikutan buncit.


"Assalamualaikum, Bu." Kris berteriak memanggil mertuanya.


Elin langsung tersenyum, memeluk Kris dan Muti yang perutnya sudah besar. Kristal membawakan banyak oleh-oleh untuk ibu mertuanya.


Kepala Krisna pusing melihat banyaknya barang, Bundanya jika berurusan dengan belajar nyawanya bertambah berlipat-lipat.


"Banyak sekali Kris? Ibu tidak binggung cara memakai berapa lama." Senyuman Elin terlihat, mengusap perut Kristal.


Tirta mengutarakan niatnya untuk kembali, berharap kedua orangtuanya menyempatkan waktu untuk berkunjung dua bulan lagi saat Kris maupun Muti lahiran.


"Siapa yang kemungkinan duluan lahir?" Ibu menatap ukuran perut Kris dan Muti yang sama.


"Duluan kak Muti buk, kita beda dua minggu. Kak Muti mendekati delapan bulan." Kris mengusap perutnya yang besar.


Saat lahiran Ayah Gio akan langsung kembali, menyambut cucu pertamanya. Keluarga besar akan berkumpul, bertemu dan dan bersama di hari bahagia.


"Han, Tirta hati-hati pulangnya. Gunakan jet pribadi saja agar aman."


Kepala Han mengangguk, mengucapkan terima kasih atas izin untuk menggunakan jet saat pulang.

__ADS_1


Sebelum kembali, Alhan meminta agar Kris dan Muti menginap kembali beberapa hari untuk melepaskan rindu terhadap anak menantu.


Tangan Lily membuka kamar Krisna, melangkah pelan-pelan langsung masuk dan terdiam melihat kamar yang sangat luas, tetapi di penuhi buku.


Lily naik ke atas ranjang, menatap sekeliling sambil berguling-guling. Tatapan Lily fokus melihat lukisan seorang ibu yang melepaskan tangan anak kecil.


Perlahan mata Lily sayu, langsung tertidur pulas di kamar Krisna yang terasa sangat nyaman.


Seisi rumah berkeliling mencari keberadaan Lily, Muti sampai habis suara mencari adiknya yang sudah dua jam tidak terlihat.


Seluruh kamar diperiksa, setiap ruangan di buka tetapi tidak melihat keberadaan Lily sama sekali.


"Mencari siapa Bunda?" Krisna duduk bersama Bundanya yang tidak ikut mencari, hanya duduk santai sambil makan.


"Lily menghilang, seluruh ruangan sudah diperiksa, tapi tidak menemukannya." Kris juga sudah lelah melihat semua orang berlarian.


"Kenapa pusing? cek CCTV." Krisna menggelengkan kepalanya.


Ucapan Krisna benar, tidak ada yang berpikir untuk mengecek CCTV, sibuk mondar-mandir mengecek ruangan bekali-kali.


Tatapan Krisna melihat ke arah kamarnya, langsung melangkah perlahan. Perasaan Krisna, ada yang memasuki kamarnya.


Tidak ada yang berani mengecek kamar Krisna, karena tidak suka jika barang-barangnya disentuh, apalagi sampai rusak.


"Lily tidur di kamar Krisna, membuat panik saja." Tirta mengusap-usap dadanya.


"Dia kelelahan, biarkan saja." Senyuman Elin terlihat, meminta semua asisten rumah tangga berhenti mencari, karena Lily sudah ditemukan.


Helaan nafas Krisna terdengar, menyelimuti Lily yang tidurnya sangat pulas. Krisna membuka ruangan belajarnya, memilih berdiam diri di dalamnya.


Tirta yang kelelahan melupakan Lily yang belum dipindahkan, begitupun dengan Han. Biasanya Lily selalu bertukar-tukar tempat tidur.


Pernah juga satu kamar diisi lima orang, karena Lily tidak berhenti menangis. Memaksa tidur bersama-sama, hanya karena dia ketakutan melihat orang-orangan yang berukuran besar dan tinggi.


Kris dan Muti lebih parah lagi, tidur lebih dulu. Lupa dengan keberadaan adiknya yang masih tidur di kamar Krisna.


Tangan Krisna membangunkan Lily, meminta pindah kamar. Dia juga mengantuk dan membutuhkan istirahat.


"Lily, pindah ke kamar kak Tirta atau Han, aku juga ingin tidur." Tatapan Krisna kesal, menyusun dua guling, langsung tidur di samping Lily.

__ADS_1


Pintu kamar Krisna terbuka, Ayah Gio mengusap kepala Krisna yang sudah terlelap tidur. Tersenyum melihat Lily yang juga tidur mengorok. Menarik selimut, menutupi tubuh kedua anak yang kurang beruntung di keluarga lama, tapi bernasib baik menemukan keluarga baru.


"Yah, Lily tidak dipindah."


"Jika tidur dengan kita nanti dia menangis, tidak enak menganggu Han dan Tirta yang sudah beristirahat. Biarkan saja tidur bersama Krisna." Senyuman Ayah Gio terdengar, meredupkan lampu.


Tangannya langsung merangkul istrinya untuk beristirahat, membiarkan Lily yang nyaman tidur di kamar Krisna.


***


Pagi-pagi Krisna sudah bangun, sholat dan menyiapkan bukunya. Lily masih belum juga. bangun.


"Ly bangun, sudah siang."


"Kak Krisna, sudah waktunya makan malam?" Lily langsung duduk, mengusap perutnya.


"Ini sudah pagi, waktunya sarapan bukan makan malam." Krisna meminta Lily turun, dia ingin merapikan tempat tidurnya.


Tangan Lily menunjuk ke arah lukisan, Lily bisa merasakan kesedihan dari lukisan. Gambar bagus, tapi rasanya gelap.


"Dia Ibunya kak Krisna? apa dia masih hidup? Ibunya Lily sudah meninggal begitupun Ayahnya Lily." Senyuman Lily terlihat, mengingat jelas saat Ibunya meninggalkannya, menjadi trauma besar baginya.


Krisna duduk di samping Lily, menatap lukisannya yang memang sangat menyedihkan. Ibunya meninggalnya saat kecil di panti, meskipun Ibunya berjanji akan kembali, tapi jangankan kembali memberikan kabar saja tidak dirinya dapatkan.


Saat besar nanti Krisna ingin mencarinya, dan mempertanyakan alasan dirinya dibuang. Jika tidak diinginkan seharusnya, Ibunya tidak berjanji akan kembali.


Janji yang diucapkan menyakiti Krisna, karena dirinya lelah menunggu, terus menunggu dan tetap menunggu.


"Kamu masih kecil Ly, ingatan kamu juga kecil soal orang tua kamu."


"Iya, perlahan wajah mereka mulai Lily lupakan, meksipun memaksa untuk selalu mengingat. Kak Krisna, apa Lily gadis yang berutang?" Lily menatap kakaknya.


Kepala Krisna mengangguk, dirinya percaya jika Lily anak yang beruntung. Dari 100% dia salah satu yang memiliki kesempatan untuk bahagia.


"Kamu harus menjadi anak baik, bahagiakan kedua orang tua yang mencintai kamu. Janji anak yang beruntung." Jari kelingking Krisna menyentuh jari kelingking Lily.


Kepalanya mengangguk, tersenyum manis.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2