
Melihat Maminya jatuh pingsan, Tirta langsung melayangkan pukulan. Kris mendekati Cherly, menepuk pelan wajahnya meminta Cherly bangun.
Air mata Kris menetes, menarik kaki Tirta untuk berhenti bertengkar. Membawa Cherly ke rumah sakit jauh lebih penting.
"Tirta, tolong Mami." Kris memangku kepala Cherly yang mengeluarkan darah dari hidung.
Tirta langsung menggendong Maminya, meminta Kris membuka pintu. Tatapan Kristal tajam kepada Papinya Tirta.
"Kamu tidak punya hak menghentikan aku, lelaki sampah yang hidupnya akan penuh rasa penyesalan." Kris mendorong kuat, langsung melangkah ke keluar.
Wajah Tirta terlihat sekali khawatirnya, berkali-kali mengacak rambut, mengusap wajahnya.
Kris hanya duduk diam, memangku kepala Cherly. Satu tangan Kris mengusap kening agar segera bangun.
Perlahan mata Cherly terbuka, menatap wajah Kristal yang sesekali mengusap matanya. Kris merasa bersalah menyebabkan Cherly yang terluka.
Air mata Cherly menetes, kekerasan yang dilakukan suaminya kepada mantan istri dan juga Kristal tidak pernah bisa Cherly lupakan.
Di depan matanya kekerasan terjadi, Kristal meminta pertolongan, tetapi dengan teganya Cherly hanya diam.
Rasa bersalah terus menghantui, saat tahu Kristal tidak mengingat apapun setidaknya Cherly tenang.
"Kenapa kamu berpura-pura lupa?" Cherly menatap Kris yang mengerutkan keningnya.
"Mami ... Mami sudah sadar." Tirta langsung menoleh ke belakang.
"Bunda yang meminta Kris pura-pura lupa, aku ingin melaporkan ke polisi. Bunda melarang demi menjaga perasaan kak Han, agar tidak membenci Papinya." Kris mengusap air matanya.
"Kamu juga pasti membenci aku? jangan balas dendam kepada Tirta, dia tidak tahu apapun soal ini." Cherly memegang kepalanya, berusaha untuk duduk.
Kristal menggelengkan kepalanya, saat tahu jika Tirta anaknya Cherly hati Kris marah, dan tidak ingin mengenal Tirta.
Saat kehilangan anak yang Kris kandung, Kristal menyadari kesalahannya. Kehilangan anak bukan menjadi akhir hubungan orang tuanya.
Kris sudah berusaha melupakan perasaan, tapi rasanya semakin sakit sehingga memilih memaafkan.
"Aku bukan wanita baik, itu benar. Tetapi aku bukan wanita jahat yang mempermainkan perasaan orang." Kris memberikan tisu untuk membersihkan darah di hidung.
"Siapa yang bisa percaya mulut wanita seperti kamu?" Cherly menatap sinis.
"Sayang, kita tidak perlu ke rumah sakit lagi. Mami sudah bisa marah, berarti baik-baik saja." Kris tertawa kecil, memeluk Tirta dari belakang.
Cherly langsung memukul punggung Kristal, cepat Kris pindah duduk di depan. Tidak ingin main cakar dengan Cherly.
"Mami baik-baik saja, kita periksa ke rumah sakit, ya." Tirta melihat Maminya melalui kaca spion.
__ADS_1
"Kita pulang saja, wanita ini tinggalkan saja di jalan." Tatapan Cherly sinis.
"Jika ada yang tinggal di jalan, Mami saja." Bibir atas Kris terangkat.
"Tirta, lihat Kristal. Tidak sopan sama Mami." Senyuman licik juga terlihat.
Helaan nafas Tirta terdengar, langsung melajukan mobilnya untuk pulang ke rumah Maminya. Sepanjang jalan Kris dan Cherly hanya diam mendengarkan Tirta yang bicara.
Keputusan yang Tirta ambil, mungkin tidak menyenangkan bagi Maminya, tapi sebelumnya Tirta sudah memikirkan matang-matang. Dia tetap akan menikahi Kristal.
Kapan waktu dan tempat, masih harus Tirta bicarakan kepada kedua orang tua Kris, dan juga Alhan sebagai kakaknya.
"Jika Mami memutuskan datang dan merestui, kebahagiaan Tirta akan lebih besar lagi. Dan Tirta meminta maaf, karena sudah mengecewakan." Mobil Tirta hentikan di depan gerbang rumah mewah Maminya.
Cherly masih duduk di mobil, meminta Tirta berpikir kembali. Dan tidak menyesal suatu hari nanti.
"Tirta, kamu pilih Mami atau Kristal?"
"Mi, aku sangat mencintai Kristal, dan selamanya juga akan tetap mencintai mami. Jangan paksa untuk memilih."
"Kamu memutuskan hidup bersamanya, maka lakukanlah. Tapi jika suatu hari Kris mengkhianati kamu, maka Mami yang akan bertindak." Cherly keluar, langsung membanting pintu mobil melangkah masuk ke dalam rumah.
Suara teriakan Kris dan Tirta terdengar, langsung berpelukan. Tirta langsung menjalankan mobilnya, sebelum Maminya mengubah pikirannya.
"Yes, akhirnya kita menikah." Kris joget-joget kesenangan.
Mobil berhenti pas lampu merah, genggaman tangan kedua masih menjadi satu. Sinar lampu menyinari mobil, Tirta mengerutkan keningnya.
Setir mobil langsung dibanting ke pinggir jalan, beberapa mobil terseret mobil besar yang menerobos lampu merah.
Kecelakaan besar terjadi di jalanan, banyak mobil yang terguling. Genggaman tangan Kris terlepas, darah mengalir di tangannya.
***
Di rumah Papanya Mutiara menjatuhkan gelas yang ada di sampingnya, saat mencoba menyingkirkan, tangan Muti langsung mengeluarkan darah.
Dada Muti langsung berdegup kencang, air matanya menetes tanpa penyebab.
"Sayang, kamu terluka." Dwi langsung menghentikan darah.
Tatapan Muti langsung melihat ke depan pintu, mencari ponselnya yang menerima pesan dari Kristal. Kris memberikan kabar jika dia sudah mendapatkan restu.
Mutiara langsung melakukan panggilan, berkali-kali menghubungi Kris dan tidak mendapatkan jawaban.
Perasaan Mutiara semakin khawatir, ditambah lagi Kristal yang tidak bisa dihubungi.
__ADS_1
"Ada apa Muti? kamu menghubungi siapa?" Manda menatap wajah Muti yang tiba-tiba pucat.
"Kristal tidak menjawab panggilan, kenapa?" tangan Muti langsung gemetaran, berlari ke pintu membukanya lebar.
"Muti, kamu dan Han baik-baik saja? Alhan sudah menghubungi Panda."
Muti menatap jauh ke depan, masih melakukan panggilan. Air mata Muti menetes, jongkok di depan pintu.
Dwi berusaha menenangkan Muti, dan mengantikan untuk melakukan panggilan. Ilham juga langsung menghubungi Tirta yang ponselnya tidak aktif.
"Tirta tidak aktif." Panda langsung khawatir, menghubungi Han yang tidak menjawab juga.
Mobil Alhan tiba di rumah orang tua Muti, melihat Han datang. Mutiara langsung berlari, masuk dalam pelukan.
"Di mana Kristal kak?" Muti mengeratkan pelukannya.
"Jangan khawatirkan dia, kamu baik-baik saja." Han mengusap wajah istrinya yang sudah banjir air mata.
"Kak Han datang membawa kabar buruk, Kris mengatakan mereka mendapatkan restu. Perasaan Muti tidak enak kak." Air mata mengalir di pelipis mata.
Alhan menepis air mata Muti, memintanya untuk tenang dan tidak berpikir buruk. Han menatap mertuanya yang binggung.
Han juga baru mendapatkan kabar, perasaannya juga sama khawatirnya saat mengetahui kedua adiknya korban kecelakaan.
"Kita ke rumah sakit dulu, Han yang akan mengantar."
"Bagaimana keadaan Kristal dan Tirta, Han." Panda langsung melangkah masuk mobil.
Mutiara langsung terduduk lemas, Dwi hanya memeluk erat masih berusaha menghubungi Kristal.
"Kamu dapat kabar dari siapa?" Panda menatap Han yang sudah menjalankan mobilnya.
Karyawan perusahaan yang juga menjadi korban, memberikannya kabar. Meksipun mereka belum bisa memastikan.
"Kristal baik-baik saja?" Muti langsung menangis.
Air mata Dwi menetes, mendengar jawaban dari Kristal. Tangisan langsung pecah.
[Kris, kamu baik-baik saja, nak.] Tangan Dwi gemetaran, memeluk Muti erat.
***
follow Ig Vhiaazaira
jangan lupa like coment Dan tambah favorit
__ADS_1
vote hadiahnya ya