MUTIARA & KRISTAL

MUTIARA & KRISTAL
MENJEMPUT MANDA


__ADS_3

Senyuman Muti terlihat, langsung berlari mendekati mobil memeluk Dwi yang kebingungan.


Kening Kristal juga berkerut, binggung dengan sikap Muti yang terlihat manja juga kesenangan menatapnya.


"Manda jangan pergi, Kristal sudah merestui."


Kris langsung kaget, menarik Muti menghadapnya. Kris tidak pernah mengatakan jika dia setuju.


Suara Ilham berdehem terdengar, meminta supir segera mengantarkan Dwi untuk kembali ke panti.


"Muti sayang, biarkan Dwi pulang." Panda langsung masuk ke dalam rumah.


Kristal juga langsung melangkah masuk, melihat Papanya masuk kamar. Perasaan Kris tidak nyaman, langsung mengetuk pintu masuk ke dalam setelah dipersilahkan.


Senyuman Panda terlihat meminta Kris melanjutkan makannya yang sempat tertunda.


"Panda, ayo kita makan bersama."


"Kamu duluan saja sayang, Panda ingin melakukan panggilan."


Kepala Kristal tertunduk, meminta maaf atas sikapnya yang keras dan tidak sopan. Keberadaannya membuat Papa dan neneknya tidak senang.


Senyum tipis terlihat dari wajah Kristal, langsung izin keluar meminta Papanya tidak lupa makan.


"Kristal ... maafkan Panda yang membuat masa kecil begitu menyakitkan, Panda tidak berguna menjadi ayah yang baik dan bisa membahagiakan anak-anaknya. Semuanya terasa terlambat." Satu tangan Ilham menutup wajahnya.


Ketukan pintu terdengar, Kris membuka menatap Mutiara yang melangkah masuk mengatakan jika Dwi sudah pergi.


Melihat Papanya menangis, Mutiara juga merasa bersalah dan tidak bisa mengerti Papanya.


"Maafkan Muti Panda, tanpa mengenal baik karakter masing-masing membuat kita ego ingin menang dengan pendapat masing-masing." Muti menatap adiknya yang juga sudah menetes air mata.


Perlahan Kris memeluk erat kakaknya, sejak awal keduanya sudah berjanji untuk selalu berdua dan menyelesaikan masalah.


Memiliki sosok ayah mungkin sebuah mimpi yang tidak pernah dibayangkan.


"Kenapa bicara seakan-akan Papa menyesal? Papa yang terlambat menemukan kalian, dan merasa bersalah karena tidak bisa menjadi penengah." Ilham mengusap kepala kedua putrinya, langsung menangis memeluk erat.


Bibir Kris gemetaran, meminta maaf karena dirinya yang selalu memulai keributan. Ketakutan masa lalu membuatnya takut dengan segala hal.


"Kak Muti benar, masa lalu tidak bisa kita perbaiki yang terjadi biarkan terjadi. Panda juga harus menemukan kebahagiaan, sama seperti kita yang berjalan menuju bahagia. Maafkan keegoisan Kristal."


Kepala Ilham geleng-geleng, Kris tidak salah begitupun dengan Muti. Melihat kedua anaknya hidup bahagia sudah lebih dari cukup.

__ADS_1


"Kamu wanita hebat Kristal, Panda bangga sama kamu yang berani mengaku salah dan meminta maaf."


"Jujur Panda itu semua terpaksa, Kristal setengah sadar." Tawa Kris terdengar bersama Muti.


Mutiara sudah yakin pasti terpaksa, Kris hanya tidak ingin Muti terus mengungkit kesalahannya, dan mengomelinya tidak akan selesai sampai Kris meminta maaf.


"Kenapa kamu menerima Tirta? sedangkan kamu membenci ibunya." Pertanyaan Muti juga ingin Ilham ketahui jawabannya.


Tangan Kris menyentuh dadanya, bohong jika dirinya sudah memaafkan Dwi dan Papinya Han. Kata maaf untuk keduanya seakan-akan mati bersama dengan Bunda Han.


"Di dada ini ada amarah untuk mereka, tapi di sini juga ada cinta. Kris ingin menjauhi Tirta, tapi rasanya sakit." Tarikan nafas Kris tertahan, lalu dihembuskan perlahan.


Sejak awal tahu jika Tirta anaknya Cherly, Kris sudah menghindar. Bahkan dia tidak menerimanya mengakui bayi yang dikandung.


"Sebenarnya Kristal menyakiti diri sendiri, menghindar dan menjauhi tidak memberikan solusi. Akhirnya Kris memutuskan untuk melawan dan mempertahankan." Senyuman Kris terlihat, karena perasaannya sudah normal dan bisa menerima.


Ilham tersenyum, mencium kening Kristal yang memang luar biasa mengendalikan perasaannya. Keputusan Kristal sudah tepat, dan dia tidak sendiri untuk berjuang karena Tirta ada disisinya.


"Panda, jangan bosan melihat kita bertengkar. Banyak hal yang tidak kita ketahui dari diri masing-masing." Kris menatap Muti yang menganggukkan kepalanya.


"Izinkan Panda mengetahui sedikit demi sedikit karakter kedua putri kesayangannya Panda." Ilham tersenyum mengusap kepala kedua anaknya.


"Kebahagiaan kami saat Panda juga bahagia." Muti menggenggam tangan Papanya.


Ilham kaget mendengar ucapan Kristal, wajah Muti langsung tegang. Soal menilai orang, Kris sangat paham.


"Kamu tahu dari mana Kris?"


"Tentu Kristal tahu, Dwi mondar-mandir ingin menemui Panda sambil membawa minuman, sampai akhirnya dia mendekat. Ada rasa kasihan, kagum, dan nyaman." Kris mengingatkan Panda saat pertama Dwi mengatakan jika dia sudah janda.


Selesai berbicara berdua, Dwi memberikan senyuman manis. Jika Kristal tidak tahu perasaan Dwi tidak mungkin dia mengeluarkan kata-kata kasar juga peringatan.


"Astaga, kenapa Muti tidak terpikirkan."


"Kak Muti hanya menilai baiknya orang, tapi tidak bisa menilai tujuannya."


"Tujuannya kak Dwi baik, kamu saja yang suka membuat masalah." Muti melotot, sambil memegang keningnya.


Kristal tahu Dwi memang baik, tapi tidak ada yang tahu jika sikap, perasaan seseorang bisa berubah. Jika Dwi ingin serius dia harus bisa bertahan dengan sikap Kris yang keras.


"Kamu terlalu kejam Kristal."


"Kak Muti tahu, Kris tidak bisa mengendalikan ucapan, tanpa tahu tempat dan suasananya." Kristal bahkan tidak memperdulikan perasaan orang.

__ADS_1


Ilham hanya duduk diam memperhatikan perdebatan Muti dan Kristal yang mengabaikan dirinya.


"Kak Muti yang memaksa, tanpa bertanya perasaan Panda."


"Seperti Kamu tahu saja."


Kris gelang-gelang kepala, Muti tidak pernah kalah berdebat. Meksipun Kristal tahu, dia tidak pernah memaksa.


"Dengarkan kak Muti, Panda sudah tua, sedangkan kak Dwi masih muda. Jika bukan kita yang menjadi Mak comblang, keduanya tidak mungkin bersama. Satunya sadar diri sudah tua, dan yang satunya tidak percaya diri." Muti menaikan nada bicaranya, liur juga berhamburan.


Ilham menepuk dadanya, Muti menyebut kata tua langsung di depannya dirinya tanpa sensor. Pengucapan juga bekali-kali, membuat Ilham tahan tawa.


"Iya Panda memang sudah tua, pelan-pelan saja bicaranya sayang." Ilham tersenyum menatap dirinya tidak direspon.


"Terserah kak Muti, Kris angkat tangan."


"Kenapa angkat tangan? bantuin. Bagaimana perasaan Panda"?


"Kagum, kagum, kagum dan mengagumi. Dia baik, Sholeha, cantik, mandiri, pintar segala hal. Sebagai lelaki normal juga pasti suka. Benar tidak Panda?" Kris melihat Papanya yang terlihat kaget.


Ilham binggung ingin menjawab apa? langsung memilih keluar karena merasakan lapar. Kris dan Muti mengikuti dari belakang, meminta jawaban soal perasaan Papanya.


"Mutiara, Kristal sudah cukup. Kita lupakan soal cinta."


"Jawab dulu, ucapan Kristal benar tidak?"


Ilham menganggukkan kepalanya, Mutiara langsung lompat-lompat berlari memeluk Han, lupa dengan keningnya.


"Nenda, ayo kita bersiap-siap ke panti?"


"Kenapa sayang? kalian ingin adopsi anak?"


"Bukan Nenda, kita ingin adopsi Manda." Muti memeluk neneknya yang masih binggung.


Ilham menggelengkan kepalanya, meminta Kristal membelanya dan menghentikan keinginan Muti.


***


follow Ig Vhiaazaira


jangan lupa like coment Dan tambah favorit


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2