
Senyuman Muti terlihat menatap suaminya yang datang bersama Ibu Elin, Muti merasakan jantungnya berdegup kencang.
"Kristal, kenapa ada di sini?" Ibu Elin kebingungan, menggenggam tangan Muti.
"Saya Muti Bu, bukan Kris. Kita kembar." Tangan Muti menggenggam balik, bersemangat ingin melihat anaknya.
Panda mempersilahkan masuk, dokter sudah menunggu di dalam ruangan. Kedatangan Muti disambut baik, dan dokter yang menangani Muti temanya Kristal.
"Kamu kembaran Kris, wajahnya mirip sekali." Rani mempersilahkan Kris mendekat.
Muti mengakui jika dirinya dan Kristal kembar, tetapi tidak setuju jika Kris lebih cantik darinya.
Ocehan Muti membuat Rani tersenyum, ucapan Kris benar. Kakaknya wanita yang tidak pernah ingin kalah, tidak suka dibandingkan, cerewet dan selalu benar.
"Sudah berapa bulan terlambat? biasanya suami juga tahu soal ini?" tatapan dokter melihat ke arah Han.
Kepala Muti menggeleng, suaminya tidak tahu apapun karena mereka sempat pisah ranjang, lalu menikah lagi. Saat bulanan, Muti tidak pernah mengatakan kepada Han.
Dokter Rani menepuk jidatnya, Han langsung menyebutkan jika perkiraan sekitar dua bulan. Saat Muti bulanan banyak mengeluh, pemalas dan suka mengomel.
"Naik ke atas ranjang, saya periksa lebih dulu." Tangan dokter terulur meminta Muti turun dari kursi roda.
"Tidak bisa periksa di sini saja, Muti malas untuk turun. Lagi nyaman duduk di sini."
Alhan langsung menggendong istrinya, memindahkan untuk berbaring di atas ranjang. Han meminta Muti tetap diam, dan mengikuti instruksi dokter.
Kepala Rani geleng-geleng, tingkah laku Muti lebih buruk daripada Kristal. Han cukup kuat menghadapi keanehan istrinya.
Tatapan Muti dan Han melihat ke arah layar, Muti bertepuk tangan melihat gumpalan kecil darah. Han yang melihatnya juga terharu, anaknya masih sangat kecil.
Dokter memprediksi usia kandungan memasuki Minggu kelima, meminta Muti menjaga pola makannya, dan lebih berhati-hati.
"Kondisinya baik Dok?" Ilham tersenyum melihat calon cucunya.
"Baik, pertumbuhan janin bagus, dan ibunya juga dalam keadaan sehat. Jika pagi muntah sesuatu yang normal, dan bagus untuk kehamilan trimester pertama." Dokter menyerahkan buku ibu hamil, meminta Muti membacanya.
Mutiara mengusap perutnya, tidak terasa anaknya sudah berkembang sekitar lima minggu di perutnya.
Bukan hanya Muti yang bahagia, Han juga sama bahagianya karena akan segera menjadi Ayah. Tangan Han mengusap pelan perut istrinya, tidak sabar lagi melihat anaknya lahir.
__ADS_1
"Selamat ya sayang." Ilham mencium kening Muti, merasa bahagia untuk kebahagian Putrinya.
"Sekarang ada dua bumil di keluarga Kembara, usia kandungan Manda dan Kris hanya beda satu bulanan lebih." Muti memeluk tubuhnya sendiri merasakan kebahagiaan.
Perlahan Muti langsung turun, memeluk Ibu Elin dan menunjukkan perutnya yang ada anaknya.
"Jaga kandungan kamu dengan baik, sehat terus yang di dalam sana." Elin mengusap lembut perut.
"Muti harus memberikan kabar baik kepada Kristal." Muti mengucapkan terima kasih kepada dokter dan akan berjumpa untuk pertemuan berikutnya.
Langkah kaki Muti penuh kebahagiaan, langkah terhenti saat melihat kehadiran Mamanya, juga adik kecil, dan Neneknya yang tersenyum.
Alhan tersentak kaget melihat Muti berlari langsung memeluk Neneknya, memberikan kabar baik jika dirinya akan menjadi Ibu, dan Neneknya menjadi Nenek lagi.
Air mata Nenek langsung menetes, memeluk lembut cucu pertamanya yang membawa kabar bahagia.
"Berapa bulan sayang?" Dwi langsung memeluk lembut Putrinya.
"Baru lima minggu Ma, Muti tidak menyadari kehadirannya. Kristal pasti bahagia mendengar kabar ini, jika dia akan menjadi Aunty." Tidak Muti sadari, air matanya menetes.
Lily lompat-lompat kesenangan, dirinya akan menjadi Aunty kecil, berharap dirinya mendapatkan adik perempuan, dan keponakan perempuan, sehingga memiliki banyak teman.
"Krisna, kamu akan memiliki sepupu."
Kepala Krisan hanya mengangguk, langsung melangkah ke ruangan Kristal. Meksipun Muti dan Kris kembar, Krisna bisa membedakan keduanya.
***
Hampir dua minggu Kristal berada di rumah sakit, setelah pulih total baru Ilham izinkan untuk pulang sekaligus langsung mengantar Ibu dan Ayah mertuanya untuk berobat ke luar negeri.
"Berapa lama perginya Ayah?" Tirta menatap Ayahnya yang memangku Krisna.
"Ayah juga sekaligus bekerja Tirta, karena sejak awal Ayah sudah meninggalkan negara ini. Kamu jangan khawatir kita akan sering berkunjung, kamu dan Kris juga bisa datang ke rumah kita." Gio meminta maaf, karena tidak bisa lebih lama lagi menetap.
Tanpa dijelaskan, Tirta sangat memahami dan tidak keberatan dengan keputusan Ayahnya, karena demi kebaikan Mamanya.
Kristal meminta Krisna mendekatinya, pamitan dengan Kakek dan Neneknya karena sementara waktu akan berpisah.
"Kristal, ada sesuatu yang Ayah ingin bicara dengan kalian berdua." Mata Gio melihat ke arah Krisna.
__ADS_1
Tatapan Tirta langsung melihat ke arah putra angkatnya, pandangan Papanya bisa Tirta mengerti, tapi dirinya tidak bisa menyetujui jika putranya juga harus ikut.
"Ibu ingin tinggal bersama Krisna, Ayah tahu ini keterlaluan." Gio tersenyum, tidak memaksa Kris dan Tirta mengizinkan.
"Yah, maafkan Tirta. Aku tidak bisa mempercayai siapapun untuk menjaga Krisna, karena kita berdua tulus menginginkan Krisna." Tangan Tirta menggenggam jari jemari Istrinya.
Rasa sedih langsung menyelimuti hati Kris, dirinya tidak punya hak untuk memutuskan apa yang diinginkan mertuanya. Tidak ada yang berhak atas Krisna, kecuali dirinya sendiri.
"Segala keputusan ada pada Krisna, kami sangat menyayangi dia, tapi Kris tahu Ibu juga sangat menyayangi Krisna sama seperti mencintai anaknya." Kris mengeratkan pegangan tangan suaminya.
Pelukan Kristal sangat erat kepada Putranya, tanpa Kris jelaskan pasti Putranya sudah mengerti apa yang sedang mereka bicarakan.
"Sayang, kita semua keluarga dan yang pasti sangat menyayangi kamu. Sampai kapanpun, Krisna tetap anaknya Bunda."
"Krisna juga sayang Bunda, terima kasih Bunda. Dunia Kris gelap, tapi melihat Bunda dan Ayah Krisna bahagia. Nama Krisna, Ardian, ibu meninggalkan Kris di panti dan tidak pernah kembali." Tangisan Krisna terdengar, langsung memeluk erat Kristal.
Apapun masa lalu Ardian, biarlah menjadi ingatan dan tidak perlu berlarut-larut dalam kesedihan. Kris akan memastikan jika putranya akan menemukan kebahagiaan.
"Krisna bisa tinggal bersama Bunda dan Ayah, tetapi Ayah Bunda tidak melarang Krisna untuk ikut Kakek Nenek. Keputusan ada pada Krisna." Bicara Kris sangat pelan meminta putranya mengerti.
Kepala Krisan mengangguk mengerti, dirinya ingin sekali tinggal bersama Ayah Bundanya, tetapi Krisna tahu Neneknya sedang masa pengobatan, Krisna ingin menemani Neneknya.
Jantung Tirta berdegup kencang, memalingkan wajahnya meneteskan air matanya tidak menyangka jika Krisna memilih ikut Ayah Ibunya.
"Ayah Bunda jangan sedih, nanti Krisna akan selalu memberikan kabar, saat libur sekolah pulang ke rumah Ayah Bunda. Iyakan Kakek?"
Kepala Gio mengangguk, berjanji akan mengantar Krisna kapanpun dia ingin bertemu kedua orangtuanya.
"Ayah."
Tirta masih memalingkan wajahnya, masih berat hatinya menerima keputusan Krisna, meskipun Tirta tahu demi kebaikan semuanya.
"Buat surat perjanjian, sedikit saja Krisna terluka. Aku tidak akan memaafkan Ayah, karena jujur Tirta belum mempercayai Ayah sepenuhnya."
"Sudah Ayah lakukan atas saran Han, karena dia sangat memahami sikap adiknya yang tidak bisa mempercayai siapapun." Gio langsung memeluk erat Putranya.
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1