MUTIARA & KRISTAL

MUTIARA & KRISTAL
KEJUJURAN


__ADS_3

Malam-malam Han terbangun merasakan perutnya lapar, sudah berusaha menahannya tapi sulit sekali.


Ingin membangunkan Muti, tetapi tidurnya sangat pulas. Han bangun sendiri untuk mencari makanan.


Melihat lampu dapur masih terang, Han berpikir Tirta pasti belum tidur karena kebiasaan suka bergadang meyelesaikan pekerjaan, saat di kantor mengerjakan hal lain.


Teriakan Kris terdengar, kaget melihat Han yang berdiri di belakangnya sambil melipat tangan di dada.


"Kristal, apa yang kamu lakukan?" Han langsung membuka kulkas.


"Kris lapar, sedang mencari makanan." Kris mengeluarkan buah-buahan dari dalam kulkas.


Tidak ada makanan apapun yang bisa Han makan di dalam kulkas, karena Muti belum sempat belanja apalagi selalu muntah-muntah di pagi hari.


Kris sudah duduk, mengupas buah-buahan, mengeluarkan keju, mayones, dan yogurt, membuat salad buah dari mangga, apel, anggur, pir, juga kiwi.


Lama Han memperhatikan, langsung duduk di depan Kris, meminta dibuatkan juga makanan yang Kris nikmati.


"Kak Han lapar juga?"


"Kamu pikir aku ke sini ingin apa?" Han langsung menikmati buah-buahan.


"Bagaimana kondisi kandungan kak Muti?" Kris cukup lama di rumah sakit, sehingga belum pernah menemani Muti juga Mamanya untuk periksa.


Dokter mengatakan kondisi kandungan Muti sehat, Ibunya juga sehat. Setiap pagi Muti selalu mual, muntah-muntah juga pusing, kata dokter hal yang normal.


Han lebih binggung menghadapi Muti sangat posesif, jika ada maunya harus dituruti.


"Kak Han bahagia sekarang?"


"Sangat, kebahagiaan ini tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Kamu juga harus bahagia Kris, ingat janji kita harus bahagia bersama." Han tersenyum melihat Kristal yang tertawa kecil.


Kecelakaan yang menimpa Kristal sangat Han sesali, dari kecil Han tidak pernah bisa menghentikan Kris, sehingga selalu terluka.


Musibah yang terjadi hampir menyakiti Muti, tapi Kris menjaganya sampai bekali-kali mengorbankan diri.


"Maafkan aku Kris, terima kasih sudah membawa kebahagiaan untuk aku dan Muti." Han mengambilkan Kris minum.

__ADS_1


"Kristal yang mengucapkan terima kasih, kak Han sudah menjadi kakak terbaik untuk Kris, Tirta, Muti. Bukan hanya sebagai kakak, tapi Ayah bagi kami, terutama Kris." Senyuman Kristal terlihat.


Senyuman Han terlihat, langsung melangkah pergi meninggalkan Kristal, tapi tidak lama kembali lagi.


Han meletakkan sebuah permainan kertas yang pernah dibelikan oleh Bunda semasa kecil Muti dan Han, permainan lama yang sudah tidak pernah dimainkan lagi.


"Masih ingat permainan kertas kejujuran, ingin bermain lagi." Han meletakkan di atas meja.


Tawa Kristal terdengar, tidak menyangka jika Han masih menyimpannya. Meksipun permainan untuk kejujuran, Kris selalu bermain curang, dan membohongi Han.


"Kak dulu Kris bermain curang," ucap Kris sambil tertawa kecil.


"Kak Han tahu, tapi daripada kamu menangis lebih baik kak Han mengalah." Han menyusun dan meminta Kris mulai lebih dulu.


Suara tawa terdengar, Kris tidak bisa bermain curang lagi, karena Han sudah mengetahui taktik liciknya.


Mata Kris sudah merah, Han selalu menang dan tidak memberikan Kris kesempatan untuk menang.


"Kak Han,"


"Iya," Han membiarkan Kris menang sampai senyumannya kembali terlihat."


"Kris, kita sudahi permainan hari ini. Kak Han sudah mengantuk." Han langsung berdiri, meminta Kris masuk.


Kepala Kris menggeleng, mengizinkan Han pergi lebih dulu dan membiarkannya bermain sendiri, karena mengingatkan Kris dengan masa kecilnya.


Han langsung melangkah pergi, meninggalkan Kris yang masih tertawa sendiri. Tatapan Han masih melihat Kris yang masih sama seperti dulu, tawa dan senyuman masih belum berubah.


"Kris, kita sudah memiliki kehidupan masing-masing, aku bahagia menyayangi kamu sebagai adik, meksipun kita bertambah dewasa, kamu tetap masih Kris kecil kak Han." Alhan menunju ke kamar Kris, ingin membangunkan Tirta.


Senyuman Tirta terlihat, sebenarnya Tirta sudah lama bangun dan melihat istrinya tertawa bersama Han, bercerita dan akrab sekali.


"Kak, tidurlah." Tirta melambaikan tangannya.


Han menggelengkan kepalanya, langsung melangkah ke kamarnya membiarkan Tirta menemani istrinya.


Di dalam kamar Han menatap istrinya yang masih tidur, mencium lembut perut Muti, mencium kening dan seluruh wajahnya penuh rasa bahagia.

__ADS_1


"Memiliki kamu kebahagiaan terbesar aku." Han mengusap wajah istrinya yang mulai berisi.


"Kak Han dari mana?" Muti membuka matanya, lalu tidur kembali.


Han langsung naik ranjang, memeluk dari belakang dan lanjut tidur lagi. Hatinya bahagia, meskipun tanpa Bundanya.


Mata Muti terbuka, mengusap tangan suaminya. Muti juga sempat bangun, mencari keberadaan Han.


Alhan sedang tertawa bersama Han, dan Tirta hanya menatap dari kejauhan melihat kedengarannya. Muti tidak cemburu sama sekali kepada adik dan suaminya, hanya saja Muti kagum dengan Han yang sangat menyayangi Kris.


Hati Muti sempat bertanya, sebesar apa sayang Han kepadanya dan Kris, siapa yang ada di posisi pertama.


"Terima kasih kak, meksipun aku menjadi wanita kedua, tapi pertama di hati kak Han. Bunda akan selalu menjadi yang pertama bagi seorang putra." Muti tersenyum mendengar ucapan Han, jika dirinya wanita di hati, tidak ada wanita lain.


Kris bahkan bertanya, kristal ada diposisi berapa, Han memberikan jawaban jika tidak ada ruang untuk Kristal, karena sudah dikuasai oleh Muti dan sebentar lagi ada anaknya.


Posisi Kris dan Tirta bahkan beda jauh, Han akan membela Kris dalam segala hal, tapi Tirta jauh lebih berarti bagi Han, karena Kristal sudah istimewa di hati suaminya, menjadi ratu dan wanita satu-satunya.


Mempertanyakan rasa sayang, tidak ada yang bisa mengekpresikan apalagi mengungkapkan besarnya sayang. Han sangat menyayangi Kris, Muti dan Tirta, besarnya sama, tapi berada di tempat yang berbeda.


"Kristal, jika ada wanita yang membuat aku cemburu, mungkin itu kamu. Malam ini kamu dan kak Han menyadarkan aku, jika rasa khawatirnya terlalu bodoh, karena adikku tidak akan mengkhianati." Muti mengusap perutnya.


Kris sejak awal selalu menegaskan jika dirinya mengaggap Han sebagai kakak, juga Ayah baginya. Seorang Ayah yang menjaga putrinya.


Kebahagiaan Kris saat Muti bahagia, kebahagiaan seorang Putri saatnya Ayahnya bahagia. Tidak ada sekalipun perasaan Kris untuk menyakiti kedua orang yang berarti baginya.


Tirta mungkin bukan lelaki pertama yang dicintainya, tetapi menjadi lelaki terakhir yang berhak atas dirinya. Jika bukan Tirta pendampingnya, mungkin tidak ada Kris yang sekarang.


"Kamu melihat aku dan Kris sedang bercanda berdua? seharusnya jangan menguping, tapi bergabung. Nanti kita main kejujuran berempat, atau bersama anak-anak kita." Han mengeratkan pelukannya, merasa lucu dengan Tirta dan Muti yang menguping permainan Kris dan Han.


"Maaf, Muti bahagia melihat kak Han dan Kris berhubungan baik." Muti membalik badannya, memeluk suaminya.


"I love Mutiara, aku sangat mencintai kamu."


"Muti juga mencintai kak Han, sangat mencintai kak Han." Muti mengeratkan pelukannya.


Mendengar ucapan Muti, Han sangat bahagia.

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2