MUTIARA & KRISTAL

MUTIARA & KRISTAL
MENYERAH


__ADS_3

Sudah larut malam, Kristal menunggu Muti dan Han pulang ke rumah. Tirta juga tidak tidur menunggu bersama.


Suara mobil tiba terdengar, Kris langsung berdiri berjalan ke arah pintu. Suara Muti mengomel terdengar, karena dia belum ingin pulang.


"Kak Muti, kenapa pulang terlambat?"


Mutiara langsung melangkah melewati Kristal, mengabaikannya yang sedang berbicara.


"Kak maafkan Kristal, janji tidak akan mengulanginya lagi." Kris menyentuh tangan Muti.


"Aku yang salah, kamu tidak perlu meminta maaf." Muti melepaskan tangan Kristal.


Pelukan Kris erat, mengusap wajah Muti yang dia tampar juga jidat yang ada bekas luka. Kris mengingat sedikit soal kakaknya.


Alhan meminta Kris dan Muti duduk, Kris menjelaskan soal ingatnya yang muncul soal masa kecil mereka.


"Kris kamu yakin yang sakit itu Muti?" Han menatap Tirta dan Muti yang juga penasaran.


"Aku memanggil dia kakak."


"Ini hanya perkiraan saja, bisa saja yang sakit itu kami Kris. Saat ini kalian berdua bersikap biasa saja, karena kita akan mencari jawabannya." Han meminta Kris dan Muti masuk kamar untuk istirahat, dan membahas besok lagi.


Tirta setuju dengan ucapan Han, karena keduanya sudah cukup lelah dengan pertengkaran dan istirahat bisa membuat pikiran lebih jernih.


"Kita istirahat dulu." Han mengandeng tangan Muti untuk masuk kamar bersamanya.


Muti ikut saja, tapi sesekali memikirkan ucapan Kristal yang melihat dirinya sedang sakit, atau mungkin yang sakit sebenarnya Kristal.


"Mandi dulu sayang, baru tidur." Han menyiapkan air hangat agar Muti bisa berendam.


"Kak Han keluar, Muti malu."


"Kenapa malu?" Han mengangkat baju Muti memperlihatkan perutnya yang rata.


Tangan Muti langsung memukul, Han menarik Muti ke dalam pelukannya. Memasukkan tangannya mengusap punggung.


Mata Han terpejam, mencium bau wangi tubuh Muti. Menggigit pelan pundaknya sampai berwarna merah.


"Kenapa semakin panas?" Muti melepaskan pelukannya masuk ke dalam air.


"Bajunya di buka." Han menatap Muti yang membuka bajunya.


Sabun di tuang ke dalam air, busa sabun menutupi tubuh putih Muti. Seluruh pakaiannya sudah terlepas.


Tangan Han masuk ke dalam air, menyentuh perut membuat Muti mengerutkan keningnya, meminta Han menyingkirkan tangannya, karena rasanya sangat geli.


Suara Muti terdengar aneh, sentuhan Han membuat tubuhnya semakin gerah dan mengeluarkan suara yang tidak biasanya.

__ADS_1


"Kamu pernah melihat pria dan wanita melakukan hubungan?" Han mendekati wajahnya kepada Muti yang menganggukkan kepalanya.


Muti pernah menonton bersama Kristal, dan melihat betapa menakutkannya hubungan yang Han bahas.


"Muti tidak ingin melakukannya? sakit."


"Apa yang kamu lihat, tidak sama dengan yang dirasa." Han berani menjamin dan membuktikan jika melakukannya tidak sakit seperti yang film tayangkan.


Muti menggelengkan kepalanya, menyentuh tangan Han yang sudah menyentuh pahanya. Bahkan Muti tidak bisa bicara lagi, bibirnya ditutup menggunakan bibir Han.


"Kak, hentikan!" Muti memukul dada Han, karena dia tidak bisa bernafas.


Tangan Han membuka bajunya, Muti langsung teriak menutup matanya melihat tubuh suaminya secara langsung.


Muti ingin berdiri, tapi dia tidak menggunakan baju dan pastinya memalukan jika Han sampai melihatnya.


"Kak, apa yang kak Han lakukan?" Muti tidak berani membuka matanya.


Tubuh Muti ada di atas Han, memeluknya erat dan mencium bau wangi dari sabun yang sudah menutupi tubuh keduanya.


Kedua tangan Han sudah meremas membuat Muti terus meringis meminta dilepaskan, suaranya selalu gagal keluar karena bibir hangat menutupinya.


"Kak Han, kenapa meminum susu?" Kepala Muti menatap kepala Han ada di dadanya.


Kedua tangan Muti memeluk kepala sangat erat, memejamkan mata merasakan sakit dan perih dadanya yang dimainkan.


Tangan Han tidak diam sampai sudah main di bawah, tubuh Muti terkulai lemas tidak memiliki tenaga.


Selesai mandi dan mengerikan rambut, Han memeluk Muti dari belakang melanjutkan adegan panas mereka di ranjang.


"Muti lelah, ingin tidur."


"Iya, tidur saja." Han menarik tangan Muti ke atas tempat tidur.


Han tidak bisa mengendalikan dirinya, rasa takut kehilangan membuat Han ingin secepatnya memiliki, dan menjadi Muti miliknya seutuhnya.


Suara Muti marah, meringis dan menangis tidak dihiraukan, Han memuaskan dirinya dengan merenggut apa yang seharusnya memang menjadi miliknya.


"Kak Han bohong, katanya tidak sakit."


"Nanti juga setelah terbiasa rasa sakitnya tidak ada lagi." Han memeluk erat tubuh istrinya yang terkulai lemas tanpa busana.


Senyuman Han terlihat, berjanji akan memperjuangkan Muti, menjaganya dan bahagia bersama.


"Terima kasih Muti, kamu milikku."


"Muti, milik diri Muti sendiri." Bibir Muti monyong, tapi matanya terpejam karena kelelahan.

__ADS_1


"Saat masuk tadi saja yang sakit, karena punya kamu sempit. Jangan marah sayang." Han mencium seluruh wajah Muti yang mengemaskan.


"Kak Han menyebalkan, Muti lelah." Air mata Muti menetes, tapi memeluk Han erat.


Perlakuan Han sangat lembut, menemani Muti sampai terlelap lebih dulu.


"Maafkan aku sayang, mungkin ini pemaksaan. Aku takut kehilangan kamu." Han memeluk lembut dan memejamkan matanya.


Muti belum sepenuhnya tidur, pikiran Muti sangat jauh saat dia sadar tidak bisa menjaga dirinya.


Rasa nikmat mengendalikan sampai akhirnya Muti menyerahkan diri kepada Han, melanggar janjinya yang tidak akan jatuh cinta.


Hati, dan pikiran tidak menjadi satu, Muti tidak punya pilihan saat hatinya lebih unggul ingin bersama Han, meksipun pikiran dan logika mencoba menahan.


"Apa yang aku punya, harta tidak ada sekarang kesucian sudah direnggut." Muti mengeratkan pelukannya.


***


Matahari sudah bersinar, Muti membuka matanya merasakan tubuhnya bergetar saat Han meminta haknya kembali.


"Kak Han, pikiran kak Han bangun tidur langsung masuk." Muti menutup wajahnya.


"Maaf Sayang aku ketagihan, hari ini jangan pergi ke manapun, tidur saja untuk memulihkan tenaga." Han langsung bangun, menutupi tubuh Muti dengan selimut.


Senyuman Muti terlihat, membiarkan Han pergi bekerja karena banyak pekerjaan yang terbengkalai.


Mata Muti terpejam, melanjutkan tidurnya karena tubuhnya remuk setelah di sentuh bekali-kali oleh suaminya.


Sampai matahari tinggi Muti lupa makan minum, dia masih tidur mengorok mengembalikan tenaganya.


Sentuhan tangan di kaki Muti membuatnya langsung menunjukkan genggaman, ingin memukul Han yang tidak ada kata lelahnya.


"Muti capek kak Han, bagian bawah masih sakit juga perih."


Kristal langsung melotot, melihat handuk Muti yang terkapar di lantai, dan sangat yakin pasti Muti tanpa busana.


"Kak Muti bangun, makan dulu." Kris menarik selimut melihat dada Muti penuh tanda merah.


"Kristal!" Muti menutup kepalanya.


"Kak Muti dan kak Han sudah melakukannya?" Kris langsung menutup mulutnya.


"Tidak bisa nahan, kak Han mengatakan tidak sakit, karena ingin tahu rasanya akhirnya menikmati." Muti menunjukan kepalanya.


Kristal tersenyum, menggelengkan kepalanya karena Han menipu kepolosan Muti yang memiliki rasa penasaran tinggi.


***

__ADS_1


jangan lupa like coment Dan tambah favorit


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2