MUTIARA & KRISTAL

MUTIARA & KRISTAL
ANAK SULTAN


__ADS_3

Mata Muti terbuka, melihat Han ada di sampingnya menggenggam erat tangan tidak ingin melepaskan.


Tangan Muti mengusap wajah lelaki yang dicintainya, lelaki yang membuatnya berani menerima kenyataan hidup yang pahit.


Saat pertama datang di kota, Muti sangat takut. Hari pertamanya sangat menyakitkan, karena Han langsung memukulnya tanpa rasa kasihan.


Muti berpikir dia masuk ke dalam kegelapan, dan kematian ada di depan matanya. Hari yang sama Muti melihat Han juga berada di kegelapan.


"Kak, hari itu kak Han menangis sambil menarik kaki memukul dada dengan rasa sakit yang sangat dalam. Besok paginya kak Han terlihat baik-baik saja." Muti mengusap rambut Han, Muti ingin kuat seperti Han yang menangis dalam kegelapan, tapi pulih dengan cepat tanpa ada yang tahu dirinya terluka.


Rasa sakit yang Muti simpan meluap, dirinya tidak sekuat Han yang bisa bertahan bertahun-tahun dengan permasalahan yang semakin banyak.


Pintu terbuka, Muti memejamkan matanya, merasakan sentuhan tangan. Han terbangun langsung menegur dokter Ilham.


"Bagaimana kondisi Muti dok?"


"Dia baik-baik saja, hanya membutuhkan istirahat."


Alhan tersenyum, mencium tangan Muti. Melihat kondisi Muti dan Kris sangat menyakitkan.


"Terima kasih Han kamu sudah menjaga kedua putriku, jujur aku tidak tahu cara mengatakan kepada mereka. Apa mereka menerima aku sebagai Ayahnya?" Tatapan dokter Ilham melihat Tirta yang duduk diam menemani Kris.


"Pastinya diterima, meksipun ada lelaki yang dia cintai di sisinya, sosok ayah tetap cinta bagi putrinya." Tirta tersenyum melihat Han yang menganggukkan kepalanya.


"Memangnya Kristal mencintai kak Tirta?" Muti membuka matanya, Han dan dokter Ilham kaget mendengar celotehan Muti.


Tirta langsung tertawa, dia tahu jika Muti sudah bangun bahkan menyentuh Han tanpa menyadari jika ada Tirta juga.


"Mutiara mau pulang, sudah bertahun-tahun aku di sini." Muti langsung bangun tanpa sadar ada infus ditangannya.


Suara teriakan Han terdengar, menahan tubuh Muti dan tiang infus hampir jatuh menimpa, Dokter Ilham langsung menahannya agar tangan Muti tidak berdarah.


"Maaf." Muti menyentuh wajah dokter Ilham yang berdarah tekena tiang.


Bibir Muti langsung manyun, merasa bersalah karena membuat orang lain terluka karena dirinya yang ceroboh.


"Kamu baik-baik saja, coba lihat tangannya." Infus Muti diperbaiki agar tidak melukainya.


Tirta dan Han menatap mata seorang Ayah yang sangat tulus, karena sikap dokter Ilham memang lembut dan berwibawa.


"Ada apa kumpul-kumpul?" Kris memegang infusnya sambil melihat Muti.


"Kristal, lihat wajahnya dokter terluka karena Muti." Kening Muti berkerut meminta maaf.

__ADS_1


Senyuman dokter Ilham terlihat, lukanya tidak seberapa dibandingkan rasa sakit jika Muti yang terluka.


Tirta memberikan Kris kursi, meminta untuk duduk agar tidak kelelahan. Tatapan Kris tajam melihat ke arah Muti.


"Kak Muti, bisa tidak suaranya dikecilkan. Kris selalu terbangun mendengar suara besar yang memecahkan gendang telinga." Kris menghela nafasnya.


"Bukan aku yang teriak, tapi kak Han." Muti menatap sinis Kris yang memejamkan matanya.


Dokter Ilham menenangkan keduanya agar tidak bertengkar, Muti dan Kristal sudah diizinkan untuk pulang dan beristirahat di rumah.


Ada dokter pribadi yang akan datang untuk mengecek keadaan sampai pulih sepenuhnya, Kris juga tidak harus bolak-balik rumah sakit untuk mengontrol luka tusukan di perutnya.


"Akhirnya setelah berpuluh-puluh tahun bisa pulang." Muti bernafas lega.


"Muti kamu berlebihan, satu bulan juga belum." Tirta menggelengkan kepalanya, melihat wajah Muti yang tersenyum.


"Terima kasih dok, kami bahagia Kris bisa pulang." Han akan segera mengurus biaya rumah sakit.


"Kak Han hanya senang untuk Kris saja, Muti tidak?" Mata Muti melotot, mengutuk Han melalui pandangannya.


Kristal memukul kaki Muti, sejak awal yang masuk rumah sakit sebagai pasien kristal, dasar Muti saja yang kurang pekerjaan bisa jatuh sakit juga.


Tirta langsung menarik kursi, Han sudah memeluk Muti yang menatap sinis pastinya akan membalas Kristal.


Tatapan Kristal melihat dokter Ilham yang mengobati wajahnya, menutup luka agar tidak terlihat.


Kepala dokter Ilham menggeleng, lukanya kecil dan tidak harus ditanggapi serius.


"Apa aku boleh request dokter pribadi?"


"Boleh, siapa dokter yang kamu inginkan? saya bantu untuk mengatur jadwalnya." Tatapan dokter Ilham lembut mendekati Kris yang terlihat sedang berpikir.


Dokter Ilham melangkah keluar untuk melihat dokter yang disiapkan untuk Kris, dan melihat jadwal dokter lain yang harus dikosongkan.


Mommy dan Daddy juga tiba, langsung merapikan pakaian Kristal dan Muti untuk bersiap pulang.


"Kris kamu sekarang tinggal bersama Mommy dan Daddy, Mommy yang akan menjaga kamu."


"Kenapa tidak di rumah Han saja? rumah kita luas bisa menampung Muti dan Kristal." Alhan menatap Muti yang menundukkan kepalanya.


"Kristal yang bersama Nathalie, bukan aku." Muti tersenyum memainkan kukunya.


"Mutiara, kenapa bicara seperti itu? Mommy tidak bermaksud menyinggung kamu, tapi ... maafkan ucapan Mommy." Nathalie menyentuh tangan Muti yang dingin.

__ADS_1


Senyuman Muti terlihat, dirinya sangat mengerti apa yang Nathalie pikirkan. Muti sudah tanggung jawab Han, dan tidak bisa terus bersama Kristal.


Kris tersenyum melihat catatan, langsung berteriak bahagia. Suasana mellow langsung berubah heboh.


"Oh my God, jika begini Kristal bisa semakin kaya." Kris joget-joget di kursi memeluk ponselnya.


"Muti juga mau." Muti mendekati Kris, melihat apa yang sedang Kris pegang.


"Mau terus, syirik banget jika melihat orang lebih kaya?"


"Harta adik hartanya kakak, harta kakak ya milik kakak." Muti menatap sinis, menarik kursi mendekati Kristal.


"Sejak kapan ada istilah seperti itu? kak Muti selalu saja ya tidak pernah mengalah. Menyebalkan, Kris yang lelah mengumpulkan harta, kak Muti sibuk minta bagian." Adu mulut kembali terdengar, Kristal marah-marah sudah mirip demo.


"Kamu yang sekali-kali mengalah, jadi adik durhaka."


"Kris sudah mengalah sejak dalam kandungan, capek mengalah terus. Sekali-kali biarkan Kris menang." Pukulan di kursi terdengar.


Nathalie menyiram Kris dan Muti dengan percikan air, setan yang sudah merasuki keduanya selalu saja bertengkar.


Kris menatap sinis, menunjukkan sesuatu kepada Muti. Tatapan kedua bertemu langsung tertawa dan joget kesenangan.


"Kenapa kalian berdua ini?" Han memijit pelipisnya.


"Kak Han tahu siapa pemilik rumah sakit ini?" Muti tersenyum menatap Alhan.


Kepala Han mengangguk, pemilik rumah sakit keluarga Kembara. Seluruh anggota keluarganya memiliki gelar doktor dan salah satu keluarga terpandang.


Keluarga Kembara memiliki seorang putra yang akan menjadi pewaris tunggal rumah sakit, dan baru saja pemilik rumah sakit meninggal.


"Kak Han tahu siapa anak pemilik rumah sakit ini?" Kris menahan senyum.


"Tidak tahu, kenapa juga aku harus tahu?"


"Putranya bernama Ilham Kembara, berarti kita putri pemilik rumah sakit ini. Astaga ternyata kita berdua anak Sultan." Muti dan Kris berpelukan.


Alhan menggelengkan kepalanya, Muti dan Kristal bahagia hanya karena Ilham anak orang kaya dan kekayaan juga akan menjadi milik mereka.


"Kalian bahagia hanya karena harta?" Nathalie mengusap dada.


"Iya, kita sangat menyukai harta." Senyuman Muti Kris terlihat lebar.


"Kalian berdua salah orang, Ayah kalian Ilham Hartono, bukan Kembara. Gagal menjadi anak Sultan." Tirta menahan tawa melihat wajah Muti dan Kris yang tertunduk lesu.

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2