
Tubuh Muti terlempar, Della berhasil melarikan diri dan terhenti saat melihat Dokter Ilham. Wajah Della benar-benar kaget melihat Ilham kembali setelah puluhan tahun.
"Kak Della?"
"Minggir." Della langsung mendorong Ilham dan berlari kencang.
Suara mobil polisi terdengar, Della semakin panik dan tidak tentu arah. Aksi kejar-kejaran terjadi di jalanan.
Sebuah mobil besar menekan klaksonnya, Della tetap berlari sampai tubuhnya terlempar ke atas dan jatuh terguling bekali-kali.
Polisi yang mengejar Della berdiri di pinggir jalan, meminta kendaraan berhenti. Langsung menatap Della yang sudah tergeletak penuh darah.
Han dan Ilham saling pandang, Ilham langsung berlari ke jalanan untuk melihat kondisi Della dan memeriksanya.
"Larikan dia ke rumah sakit." Ilham langsung menghubungi rumah sakit memberitahu kondisi Della yang sudah jatuh pingsan.
Kepolisian langsung membantu dokter Ilham, membawa Della ke rumah sakit untuk segera melakukan perawatan.
Alhan berlari bersama Apri langsung masuk ke dalam rumah, Han kaget melihat Rayan yang tergeletak penuh darah. Ada pecahan vas bunga.
"Mutiara, di mana kamu?" Han berteriak, langsung mengejar ke segala ruangan.
Apri mendekati Rayan, memegang urat nadinya yang sudah tidak terasa. Menyentuh hidung yang tidak bernafas lagi.
"Han, Rayan meninggal."
"Jangan bercanda, tidak mungkin hanya dipukul vas saja sudah mati." Han melakukan yang sama seperti yang Apri lakukan.
Kepolisian langsung datang, Han meminta mereka memeriksa Rayan yang kondisinya buruk langsung dilarikan ke rumah sakit.
Han dan Apri sudah berkeliling mencari Muti, tapi keberadaannya tidak ada. Alhan juga langsung memeriksa CCTV, melihat Muti yang memang datang, tapi setelah Della pergi dia juga melangkah pergi melewati pintu lain.
"Ke mana lagi kamu Muti?" Han langsung memerintahkan Rayan meminta bantuan untuk mencari di jalanan.
Mutiara harus ditemukan, Han tidak ingin Muti sampai terluka sedikitpun karena kondisinya sedang dalam keadaan tidak baik.
Di rumah sakit Tirta binggung melihat Della yang mengalami kecelakaan sangat mengerikan, kondisinya menakutkan.
Han menghubungi Tirta, jika Muti ke rumah sakit harus menghubunginya.
"Ada apa lagi?" Tirta menatap dokter Ilham yang sudah penuh darah.
Bukan hanya Della, Rayan juga dilarikan ke rumah sakit, tapi Rayan saat tiba di rumah sakit langsung dinyatakan meninggal.
__ADS_1
Tirta masuk ke ruangan Kristal, menatap wajah Kris yang mungkin akan sedih jika melihat kondisi Della yang menakutkan, karena wajahnya hancur.
Tangan Kristal bergerak, Tirta kaget langsung memanggil dokter dengan perasaan yang sangat bahagia.
Kris langsung diperiksa, Nathalie dan Iskandar juga langsung tersenyum melihat Kris membuka matanya meskipun tatapan masih kosong.
"Kristal, kamu mengenal kita? katakan kamu di mana?" Dokter memanggil nama Kris berkali-kali, tapi masih belum ada respon.
"Sayang, ini Mommy." Nathalie mengusap tangan Kris.
"Kita akan melakukan pemeriksaan detail, biarkan istirahat terlebih dahulu."
Tirta tersenyum, melihat Kris bangun saja dia sudah bersyukur dan sangat bahagia. Tatapan Kris hanya melihat cahaya lampu, tidak ada pergerakan apapun.
"Kris, dulu kamu juga seperti ini saat bangun dari koma. Apa kamu juga lupa saudara kamu Mutiara." Air mata Nathalie menetes, mengusap pelan wajah putrinya.
Iskandar juga meneteskan air matanya, sakit sekali melihat Kristal yang mengalami koma dua kali, dan kali ini tidak merespon apapun.
Tirta menghubungi Han, mengatakan soal Kristal sudah bangun. Rayan meninggal dunia, dan kondisi Della belum diketahui.
Han yang kewalahan mencari Muti memutuskan untuk kembali ke rumah sakit, melihat keadaan Kristal lebih dahulu.
Kedatangan Han membuat Kris memalingkan pandangannya, belum ada kata-kata yang keluar hanya bola mata Kris bergerak.
Kris memalingkan kembali pandangannya, melihat ke arah jendela. Cahaya matahari terasa sangat terik dan panas.
Han dan Tirta membicarakan soal Muti yang belum di temukan, Iskandar juga mengkhawatirkan Muti yang mendadak aneh.
"Di mana terakhir Muti berada?"
"Di rumah Della, kita sudah mengecek CCTV untuk mencari keberadaan Muti." Han sudah memastikan seluruh CCTV di area rumah Della tidak melihat arah pergi Muti.
"Kak Han, Muti bukan hantu. Jika kalian tidak menemukan dia di luar, berarti dia masih di dalam rumah itu." Tirta menaikan nada bicaranya.
Kristal menatap ke arah Han dan Tirta yang masih membahas Muti, Alhan membenarkan ucapan Tirta kemungkinan besar Muti masih di rumah Della.
"Muti tidak membunuh Rayan?" Tirta menatap dengan cemas.
"Jangan bicara sembarangan, Della yang memukulnya bukan Muti." Han menatap sinis, langsung pamit untuk pergi lagi.
Han melihat sekilas Kristal, langsung melangkah mendekati Kris kembali sambil mengusap kepalanya.
"Terima kasih sudah bangun Kris, jika tidak Muti dan aku akan gila. Muti tidak bisa hidup tanpa kamu, dan aku tidak bisa bertahan tanpa Muti. Terima kasih sudah membuka mata, kita akan hadapi masalah ini bersama-sama." Han tersenyum, mengusap pelan wajah Kris.
__ADS_1
Apri langsung melangkah masuk, membisikkan sesuatu kepada Han yang membuat Alhan mempercepat lajunya ke rumah Della kembali.
"Kamu yakin, Rayan mati karena racun?"
"Dokter sudah memastikannya, Della sudah mempersiapkan kematian Rayan." Apri menjalankan mobil kembali.
"Lalu bagaimana kondisi Della?"
Apri menatap sekilas, dia tidak berani mengatakannya. Han harus melihat langsung kondisinya.
"Della terkena karma, karena menyakiti anak-anaknya." Apri menghela nafas panjang.
***
Muti melangkah ke ruangan bawah rumah Della yang terbuka, langsung menutupnya kembali. Mutiara binggung melihat ruangan yang sangat gelap, tapi di bawahnya terang.
"Tempat apa ini?" Muti melihat banyak lampu yang sangat indah.
Mutiara duduk di kursi, melihat berkas-berkas yang tidak dirinya mengerti. Banyak sekali foto-foto orang yang terlihat kusam.
Muti membuka sebuah buku besar, melihat foto Della bersama seseorang, Muti mengerutkan keningnya tidak percaya dengan apa yang dia temukan.
"Siapa dia? apa mungkin dia Ayah kandung aku dan Kris? kalian berdua jahat." Muti melihat foto kebersamaan Della dan seorang pria yang sangat tampan.
Cukup lama Muti melihat foto kenang-kenangan Della, ada banyak hal yang tidak Muti mengerti tertulis di dalam buku.
Tulisan terakhir yang sangat menyayat hati, Della mengakhiri hubungan karena harus menikah dengan Iskandar, tapi dia tidak mengatakan kepada kekasihnya.
Hal yang paling Della sesali karena mengandung anak dari lelaki yang dia cintai, tapi dia juga tidak pernah tahu jika Della hamil anaknya.
Hubungan keduanya seakan terkubur, rasa benci Della kepada dunia sangat besar, sebesar dia benci mengenal cinta.
"Bunda sudah terlalu jauh salah jalan, terkadang memang benar kata orang. Seseorang yang jahat, bukan sepenuhnya jahat, dia hanya pernah baik, tapi tidak dihargai." Muti membawa buku Della untuk kembali ke rumah sakit melihat kondisi Kris.
Tatapan Muti sedih melihat ruangan yang pengap, tapi menyimpan banyak kenangan.
***
Jangan lupa like coment Dan tambah favorit
follow Ig Vhiaazaira
jangan lupa vote hadiahnya
__ADS_1