
Tangan Kris mengambilnya hasil tes pack, tidak mempercayai hasilnya. Dirinya dan Tirta batu saja menikah tidak mungkin bisa hamil cepat apalagi usia kandungannya diprediksi empat bulan.
Rani menjelaskan jika kehamilan tidak dihitung dari kapan berhubungan, tetapi dari hitungan menstruasi.
"Aku sudah hamil saat kecelakaan? aku tidak merasakan apapun."
"Kris, kamu tidak merasa karena berpikir kondisi memburuk karena sakit, sehingga tidak memikirkan kehadirannya." Rani mengeluarkan lima tes pack, bahkan meminta Kris memeriksa langsung mengunakan alat agar bisa yakin jika ada janin yang sedang tumbuh.
Tangisan Kristal langsung terdengar, tangannya sampai gemetaran karena dirinya tidak berharap banyak, karena pernah keguguran.
Dokter juga sudah memperingati Kris jika dirinya akan mengalami kesulitan hamil, tapi ternyata salah, dirinya masih diberikan kepercayaan untuk cepat menjadi seorang ibu.
"Panda." Kris menangis langsung memeluk Papanya sangat erat.
Tatapan Ilham langsung khawatir, mendengar Kris menangis sesenggukan membuat Ilham takut apalagi Putrinya baru keluar dari rumah sakit.
"Ada apa ini Dwi?"
Dwi menunjukkan hasil tes pack Kristal, dia dinyatakan hamil sudah empat minggu. Saat kecelakaan sudah ada baby, Kris tidak menyangka dan menyadarinya.
Baby Kris sangat kuat, Rani sudah mengecek jika janin dalam keadaan aman. Dia tidak terganggu dengan obat-obatan yang masuk ke tubuh Kris, bahkan dibawa oleh Kris kebut-kebutan, bertengkar sampai tertabrak mobil.
"Ya Allah, luar biasa sekali kejutan di balik ujian." Ilham mengusap perut Putrinya, mengucapkan terima kasih karena cucunya sangat kuat dan tidak ingin meninggalkan Bundanya.
Air mata Muti juga menetes, memeluk pinggang Kristal. Mengusap pelan perut adiknya, bersyukur karena baby masih kuat.
Tangan Manda juga menghapus air mata Kris, melarangnya untuk menangis dan harus menyambut bahagia kehadiran anaknya.
"Kris tidak menyangka saja, soalnya dokter kandungan sebelumnya mengatakan Kris sulit untuk hamil lagi." Tangisan Kris terdengar menyayat hati.
Dirinya bahkan mengatakan kepada Tirta tidak boleh kecewa melihat Muti dan Manda hamil, sedangkan Kris akan kesulitan.
Harapan hamil, Kris buang jauh-jauh dan ingin menikmati masa pacaran bersama suaminya, tapi tidak Kris sangka pikirannya yang mencoba mengikhlaskan langsung diberikan.
"Dokter Rani, tolong dipastikan kembali. Kita semua tahu bagaimana kondisi Kris saat kecelakaan?" Ilham menatap Rani yang hanya tersenyum.
"Dokter Ilham tidak tahu saja, Ibunya saja mirip monster yang tahan banting, kecelakaan hal kecil, wajar saja anaknya model begitu ...." Rani langsung menutup mulutnya, karena kelepasan membicarakan Kristal.
__ADS_1
Rani sejak muda sangat mengenal Kris yang kuat dan tangguh, satu bulan sekali pasti kecelakaan. Bukan hal yang mengejutkan bagi Rani jika Kris dan anaknya baik-baik saja.
Senyuman Kris terlihat, menyentuh perutnya langsung melakukan sujud syukur karena ketakutannya tidak benar.
Beratnya jalan yang Kris lalui memberikannya hadiah paling besar, sebagai seorang Ibu hal yang sangat menghacurkan saat kehilangan anaknya, tapi mencoba kuat dihadapan semua orang. Meksipun sesungguhnya Kris hancur berkeping-keping.
Mendapatkan kabar jika dirinya akan kesulitan hamil, keguguran Kris merusak rahimnya. Prediksi dokter dijawab secara langsung oleh Allah yang maha memberi segalanya.
Tangisan Kris tidak terbendung lagi, Ilham langsung berjongkok mengusap punggung Putrinya yang masih menangis.
Air mata Muti juga menetes, langsung melakukan sujud untuk kebahagian adiknya. Muti tahu Kris memiliki banyak luka, tapi masih terus terlihat baik-baik saja.
"Kak Muti, Kris masih tidak percaya. Kris tidak mimpi?"
"Tidak Kris, selamat adikku sayang. Kita hamil bersamaan." Muti mencium wajah Kristal, langsung menghapus air matanya.
Manda juga langsung memeluk Muti dan Kris, doa lama Muti dan Kris dikabulkan karena menginginkan hamil secara bersamaan.
"Kristal ingin menemui kak Tirta, dia pasti yang paling bahagia." Kris mengusap air matanya, mengambil tes pack untuk menunjukkan kepada suaminya.
Kris hanya pergi bersama Muti ke kantor, Manda harus menjemput Lily terlebih dahulu.
Senyuman Kris dan Muti terlihat, langsung mencium pipi Dwi dan memeluk Papanya langsung pamit untuk pergi.
Ilham mengusap kepala kedua anaknya, bahagia melihat senyumannya yang sangat lebar.
Mobil Kris melaju pergi ke arah kantor, Muti mencoba menghubungi suaminya, tetapi tidak mendapatkan jawaban.
Sampai di kantor, senyuman Muti dan Kris terlihat, banyak orang yang menatap binggung karena dua Nyonya datang berkunjung ke kantor.
Banyak karyawan yang menyapa, tapi masih kebingungan membedakan Kris dan Muti. Kristal mempertanyakan keberadaan Tirta.
"Pak Tirta sedang ada di ruangan meeting."
"Sudah berapa lama meeting?" Kris melihat jam tangannya.
Setelah mengetahui keberadaan suaminya, Kris dan Muti langsung naik ke lantai tempat meeting.
__ADS_1
"Kak Han juga lagi meeting?" Muti mengunyah jeruk yang dia ambil dari tempat Rani.
"Pastinya, dia pimpinan utama di sini." Kris meminta jeruk yang sangat enak baginya.
Muti selalu mendengar cerita suaminya jika Tirta juga pemegang saham terbesar, bahkan perusahaan sudah membuka cabang baru milik keluarga Adipati. Ayah Tirta menyerahkan seluruh asetnya atas nama Tirta, dan beberapa hari ini Muti melihat suaminya sedang mengerjakan proyek besar kerja sama bersama Tirta.
"Kristal tidak tahu, Tirta juga belum cerita."
"Kamu sedang pemulihan, mungkin kak Tirta tidak ingin menganggu istirahat kamu." Muti juga tidak tahu banyak hal, tapi hanya tahu intinya saja.
"Apa nama perusahaan Adipati?"
"Emh ... Muti lupa ... jika tidak salah ada sinar apa gitu." Muti mencoba mengigat, tapi tidak bisa mengingatnya.
"S P group, biasanya orang menyebutnya perusahaan sinar. S P berarti sinar Pati." Kris tidak terpikirkan jika mertuanya seorang pebisnis besar
"Betul, S P tapi kak Han menyebut Sinar group, melakukan kerja sama dengan JK group." Muti dan Kris menghentikan langkah kakinya.
Keduanya coba mengintip ruangan rapat, tidak ada terlihat apapun, mendekatkan telinga juga tidak bisa mendengar apapun.
Kristal langsung membuka pintu, tidak ada satu orangpun yang melihat ke arah pintu. Semuanya fokus mendengarkan Tirta bicara soal kerjasama.
Dua perusahaan besar akan terlibat secara langsung, Tirta tidak menerima kesalahan sedikitpun.
"Kenapa kerjasama ini tidak melibatkan Kris? bukannya aku juga karyawan JK group, dan jabatan aku juga cukup tinggi." Kris melipat tangannya di dada.
"Sayang, kenapa kamu di sini?" Tirta langsung berdiri.
"Wow ... karyawan JK group sekarang banyak wanita cantik, bajunya juga seksi. Muti juga ingin kembali ke perusahaan." Muti langsung duduk di meja, menatap Han yang mengerutkan keningnya.
Kedatangan Kris dan Muti mengejutkan, karena secara tiba-tiba. Pamitan ingin belanja, tapi menyasar ke perusahaan.
"Kita membawa kabar baik untuk Tirta." Muti menatap Tirta yang sudah mendekati istrinya.
"Ada apa sayang? kamu baik-baik saja." Tirta langsung mengusap kepala Kris.
Tatapan semua orang binggung, Tirta sangat tegas, dingin jika di kantor, tetapi kepada istrinya sangat lembut.
__ADS_1
"Selamat menjadi calon Ayah." Kris menatap mata suaminya.
***