MUTIARA & KRISTAL

MUTIARA & KRISTAL
GAGAL MESRA


__ADS_3

Acara selesai sesuai rencana, Mutiara dan Kristal sudah berlari ke pinggir pantai bermain kejar-kejaran.


Ilham hanya duduk diam bersama istrinya memperhatikan kedua anaknya yang menghabiskan waktu berdua.


Suara tawa keduanya terdengar, mengabaikan siapapun seakan-akan dunia hanya milik berdua.


"Pa, keduanya terlihat sangat bahagia."


"Aku kehilangan mereka lagi Dwi, padahal aku baru saja menemukannya." Tatapan sedih terlihat, ada rasa bahagia bercampur kesedihan.


Kepala Dwi mengangguk, mengusap punggung suaminya. Meskipun dipisahkan kembali, setidaknya masih ada kesempatan untuk bersama dan berkumpul.


"Semoga keduanya tetap akur seperti sekarang." Ilham meminta Kris dan Muti kembali ke villa, karena sudah larut malam.


Mutiara menarik tangan adiknya, mereka pagi-pagi akan melihat matahari terbit bersama suaminya.


"Selamat malam Panda, dan Manda." Kris melangkah masuk.


"Peluk Panda dulu Nak." Ilham merentangkan tangannya.


Muti dan Kris langsung balik lagi, memeluk erat Papanya. Mencium pipi kanan dan kiri, bergiliran memeluk Manda.


Di kamarnya Han sudah mandi, menunggu Muti yang suaranya sudah terdengar rusuh. Langsung masuk kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


"Sayang, di mana handphone kamu?"


"Tidak tahu, cari saja di manapun." Muti membuka semua bajunya, tanpa menyadari Han sudah memeluk dari belakang.


Tatapan Muti tajam, tetapi hanya bisa diam saja saat Han memeluknya dari belakang, menciumi wajahnya tanpa henti.


"Muti ingin mandi kak." Teriak Muti menggema sambil memukuli suaminya.


"Baiklah." Han langsung melangkah keluar, menunggu di atas tempat tidur.


Selesai mandi, Muti tersenyum melihat Han yang sudah terlelap tidur sambil memegang buku. Menarik selimut langsung menutupi tubuh suaminya.


"Tumben tidurnya cepat, biasanya harus diusap kepala dulu." Muti mengusap pelan, memejamkan matanya yang memang mengantuk.


"Sayang, kita tidak ingin malam pertama?" Han masih memejamkan matanya.


"Tidak, Muti capek dan mengantuk." Pelukan Muti erat di tubuh suaminya.


Han menganggukkan kepalanya, menggenggam tangan Muti, tidur bersama penuh rasa bahagia.


Berbeda di kamar Tirta, suara Kris teriak-teriak terdengar. Tirta sengaja mengunci pintu kamar mandi, agar Kris tidak bisa mandi.


"Buka, aku dobrak ya!" Kristal langsung mendobrak pintu, bersamaan Tirta membukanya.

__ADS_1


Tubuh Kris jatuh ke dalam pelukan, suara tawa Tirta terdengar. Kris langsung menjambak rambut suaminya yang tidak berhenti tertawa.


"Sayang sakit, maafkan aku." Tirta menahan tangan Kristal.


"Dasar jahil." Kris menendang kaki, langsung berdiri untuk mandi.


Kristal langsung membuka bajunya, Tirta hanya duduk diam menikmati tubuh istrinya yang tidak tertutup.


Kris mengerutkan keningnya, meminta Tirta keluar. Kristal ingin membuka seluruh bajunya.


"Keluar Tirta!" Kris melotot marah.


"Kenapa harus keluar? ini malam pertama kita." Tirta langsung berdiri, membantu Kristal menurunkan seluruh gaunnya.


Pelukan erat dari belakang membuat Kris terdiam, tangan Tirta menyentuh perutnya sampai ke atas.


Kris langsung menutup mulutnya, sentuhan Tirta tidak pernah gagal sehingga membuatnya terbuai.


Tubuh Kris dibalik untuk menghadap, Tirta menyentuh bibirnya. Tangan Kristal sudah mengantungi leher. Ciuman panjang terjadi sampai Kris kehabisan nafas.


"Selesaikan mandi kamu." Tirta tersenyum langsung melangkah keluar.


Kris menyentuh bibirnya, mengusapnya pelan sambil menggigit bibirnya dan bergegas mandi.


Selesai mandi kristal melihat Tirta duduk di sofa sambil bermain game. Biasanya jika sudah bertemu game, lupa dengan istri.


Mata Kris sudah terpejam, akhirnya tidur meninggalkan Tirta yang masih gila main game. Saat selesai main, Kris sudah terlelap.


"Sayang, malam pertama kita belum?" Tirta langsung memeluk Kristal yang sudah lama terlelap.


Tirta menyalahkan game yang selalu membuatnya ketagihan, sehingga lupa dengan malam pertama.


Ingin membangunkan Kris, pasti akan membuatnya marah. Apalagi sudah menunggu lama, dapat jatah tidak bertengkar iya.


***


Sudah larut malam, Lily terbangun kembali dari tidurnya, menatap neneknya yang masih tidur. Langsung turun membuka pintu, berjalan ke arah kamar Tirta, tapi mengurungkan niatnya.


Tirta sudah berpesan untuk tidak diganggu, karena sedang proses membuat dedek bayi. Lily berjalan ke kamar Mutiara, tapi kakaknya juga sudah berpesan untuk tidak mengganggunya semalam saja.


"Manda, Lily mau pipis." Langka Lily berlari mengetuk kamar Dwi dan Ilham.


Ekspresi Lily sudah tidak tahan lagi, dia binggung cara membuka pintu kamar mandi yang tinggi.


Langsung berlari keluar rumah, karena pintu hanya ditutup sehingga Lily hanya perlu mendorongnya.


Tanpa rasa takut Lily berlari keluar rumah untuk pipis, tapi larinya terlalu jauh sampai hampir mendekati pantai.

__ADS_1


Meksipun pantai terang, karena masih ada lampu bekas acara pesta. Lily melihat sekitarnya yang sepi, langsung menangis memanggil kakaknya, juga Papa dan mamanya.


Lily berlarian mencari jalan pulang ke villa, dia tidak menemukan jalan, tapi semakin menjauh dari villa dan berada di tempat kegelapan.


Tirta membuka pintu kamarnya, merasa ada suara Lily yang memanggil tetapi tidak terlihat keberadaannya.


"Tirta, di mana Lily?" Nenda terbangun dan mencari si kecil.


"Tirta tidak melihatnya Nenda."


Nenda langsung mengetuk pintu kamar Ilham, dan jawaban yang sama tidak tahu keberadaan Lily.


"Kak Han, maaf menganggu. Apa Lily ada di dalam?" Tirta mengetuk pintu kuat.


Alhan membuka pintu, menggelengkan kepalanya. Dia dan Muti sedang tidur, tidak melihat Lily sama sekali.


Semuanya langsung kaget, Manda terbangun langsung teriak saat tahu putri kecilnya menghilang.


Teriakan memanggil nama Lily tidak ada jawaban, Tirta melihat pintu terbuka langsung berlari keluar untuk mencari di luar villa.


"Lily, di mana kamu?" Tirta berteriak diikuti oleh Han.


Ilham dan Dwi yang mencari di dalam rumah tidak menemukan keberadaan Lily, kristal terbangun mendengar suara memanggil Lily.


Mutiara juga terbangun, langsung bangkit dari atas tempat tidur melihat Manda sudah menangis sesenggukan mencari keberadaan Lily.


"Ada apa kak Muti?"


"Tidak tahu Kris, kenapa semuanya memanggil Lily." Muti langsung mendekati Nenda yang sudah menangis juga.


"Ada apa Nenda?" Kris duduk sambil menguap.


"Lily menghilang."


Muti dan Kris hanya menganggukkan kepalanya, langsung terdiam dan saling tatap. Teriakan keduanya terdengar langsung berlari keluar rumah, saat menyadari jika Lily menghilang.


Penjaga villa sudah dikumpulkan, ada beberapa yang sedang mabuk. Ilham terlihat marah, meminta orang-orang fokus mencari keberadaan Lily.


Tirta dan Han sudah sampai di pantai, menyinari pesisir pantai, namun tidak melihat keberadaan Lily.


"Di sini sudah tidak ada penerangan lagi, masuk ke sana berbahaya. Ada beberapa penjaga villa yang mabuk." Han menatap Tirta yang tetap berjalan di kegelapan mencari Lily.


"Hal yang menakutkan, jika Lily ada di luar rumah dan berada di kegelapan." Tirta memanggil nama Lily bekali-kali.


Alhan juga langsung mengikuti Tirta keluar jalur aman, dan mencoba melihat pergerakan, berharap Lily segera ditemukan.


***

__ADS_1


__ADS_2