MUTIARA & KRISTAL

MUTIARA & KRISTAL
CEMBURU


__ADS_3

Tatapan Tirta fokus melihat Kristal yang selalu tersenyum bersama Alhan, keduanya terlihat sangat bahagia bahkan berjalan juga saling menggenggam tangan.


"Sejak kapan Han dan Kris mempertontonkan hubungan mereka?" Cherly menatap tidak suka.


Tirta hanya menghela nafasnya, ikut senang melihat keduanya mulai saling menerima dan bahagia.


Alhan sibuk bekerja bersama Apri, Muti hanya melihat berkas sesekali karena kepalanya pusing melihat banyak tumpukan.


Melihat Han dan Apri sibuk bicara berdua, Muti langsung melangkah keluar untuk mencari udara segar.


Langkah seseorang terdengar menggema, langsung menabrak Muti sampai hampir jatuh jika Tirta tidak menangkapnya.


"Indri, hati-hati jalannya." Mata Tirta menatap penuh amarah.


"Dia yang tidak menggunakan matanya untuk melihat."


Tirta langsung mendekati Indri, mencengkram kuat lengan Indri memperingatinya untuk tidak menyentuh Kristal.


"Dia Istri dan budak Han, kenapa kamu yang tersulut api cemburu?" tawa Indri terdengar, merasa lucu melihat tingkah Tirta yang belum dewasa.


Tirta melihat Muti, mengkhawatirkannya jika sampai perutnya merasakan tidak nyaman pasti akan menganggu kesehatan baby.


"Lain kali hati-hati Kris, kamu mencari apa?"


"Aku hanya bosan." Muti langsung berjalan ke luar perusahaan.


Muti tersenyum melihat Tirta yang menemaninya, awal bertemu Tirta cukup tidak mengenakkan tapi Muti yakin jika Tirta sebenarnya pria yang baik.


"Ini minuman sehat untuk kamu." Tirta duduk di samping Muti di taman menikmati bunga yang sedang mekar.


"Terima kasih Tirta."


Muti melihat kesedihan dari wajah tampan Tirta, saat pertama melihat Tirta anaknya ceria dan lucu, tapi sekarang banyak diam.


"Setiap orang memiliki masalah, tapi jangan biarkan masalah mengubah kepribadian kamu." Senyuman Muti terlihat, memahami perasaan Tirta yang lelah diatur Maminya.


Senyuman Tirta terlihat, dia tidak memikirkan soal Maminya dan juga perusahan. Tirta sudah berjanji akan membuktikan kepada Kristal jika dia bisa menjadi dewasa.


"Menjadi dewasa tidak enak kak Tirta, kita akan kehilangan banyak waktu hanya untuk mengejar sesuatu yang sebenarnya sudah kita miliki atau tidak pernah bisa dimiliki." Kepala Muti tertunduk, menghela nafasnya bekali-kali.


"Aku melihat kamu dan kak Han sangat akur dan terlihat bahagia, selamat ya aku ikut senang."

__ADS_1


Mutiara tertawa kecil, tidak melihat kebahagiaan dari mata Tirta, tapi lebih menunjukkan kesedihan.


Muti juga masih mengingat pembicaraan Han dan Tirta soal bisnis Maminya Tirta yang ingin Kristal temukan.


"Soal bisnis Cherly, kamu mengetahui banyak hal, dan jika berkenan jaga Kristal." Mata Muti fokus melihat dua kupu-kupu kembar sedang beterbangan berdua.


Tirta meminta maaf, dia sadar tidak pantas membicarakan soal menjaga kepada seorang suami bahkan kakak tirinya.


"Aku hanya mengkhawatirkan kalian Kris, sungguh aku ingin melindungi kamu."


"Iya, aku tahu. Lakukanlah Tirta, kamu tahu jika cepat atau lambat aku akan menemukannya." Muti tersenyum manis langsung pamit pergi.


Tangan Tirta menahan pergelangan tangan Muti, memintanya untuk duduk dan mendengarkan sedikit saran dari Tirta.


Tirta hanya tahu sedikit soal bisnis Maminya, saat Tirta berusia sepuluh tahun mencari Maminya yang tidak pulang beberapa hari.


Saat Tirta menemukannya, maminya ada di restoran mewah yang memilki jalan ke bawah tanah dengan penjagaan yang ketat.


"Kebanyakan orang menyebutnya, home heart. Letakkan sangat strategis, ramai, dan terbuka untuk umum bagi restoran."


"Bangunan bawah khusus untuk para pejabat dan orang-orang beruang dan berpangkat?" Muti cukup kaget.


Tirta menganggukkan kepalanya, menurut sepengetahuan Tirta di sana banyak wanita malam yang melayani laki-laki yang memiliki banyak uang, menghabiskan waktu satu malam dan terkadang berlanjut keluar home heart.


"Jangan Kris, pemilik tempat itu bukan mami, tapi seseorang yang sangat dekat dengan kak Han, tapi aku tidak tahu siapa." Tirta juga sudah meminta Maminya untuk meninggalkan tempat mengerikan tersebut, namun sesekali Maminya masih berkunjung bersama Papinya.


"Jadi ada orang lain yang merencanakan kepergian Bunda?" Han menatap tajam Muti dan Tirta.


Tatapan Tirta kaget, langsung berdiri menatap Alhan yang tidak menyukai istrinya duduk bersama Tirta, apalagi Han tahu jika Tirta mencintai Kristal.


Alhan duduk di samping Muti, senyuman Muti terlihat menatap Han yang berjalan menggunakan tongkat.


"Di mana tempatnya?" Han meminta Tirta sebaiknya jujur sebelum Alhan berbuat licik.


"Aku tidak tahu, meksipun Tirta tahu tidak akan mengatakannya."


Alhan dan Mutiara saling pandang, membiarkan Tirta melangkah pergi.


Dari kejauhan Alhan langsung berdiri saat melihat Cherly menampar Tirta di depan umum, perasaan Han sakit melihat Tirta diperlakukan seperti binatang.


"Cherly! ini di kantor dan perusahaan ini milik aku, maka bersikaplah lebih sopan." Han melangkah emosi melihat Tirta tidak melawan.

__ADS_1


"Kita ada di luar kantor, dia anakku jadi terserah ingin aku apakan. Kamu jalan saja tidak mampu, mencoba menghentikan aku tidak mungkin bisa." Cherly memperingati Tirta untuk menemui wanita yang akan Cherly jodohkan.


Tatapan Tirta tajam, langsung menolak keinginan Maminya yang memaksanya menikahi wanita yang tidak disukai.


"Lakukan ini jika kamu tidak ingin jatuh miskin!"


"Jangan lakukan kak Tirta, cukup aku yang dinikahi hanya untuk kekuasaan. Demi mempertahankan perusahaan Daddy menjual kami seperti barang." Muti menatap sinis Cherly.


Tangan Cheryl ingin menampar Mutiara, tapi Muti lebih cepat menangkap memperingati Cherly untuk tidak main tangan.


"Kamu akan merasakan sakitnya tidak dicintai, dan sakitnya dikhianati." Muti tersenyum sinis.


Mutiara mendengar pembicaraan Cherly di telepon, jika suaminya sedang berduaan dengan wanita lain.


"Kamu pertahanan saja rumah tangga kamu, jangan sibuk mencari harta sampai menjual Tirta."


"Aku bisa dengan mudah membuang Papinya Han?"


"Cherly, dia masih memiliki harta di luar perusahan ini." Muti tersenyum sinis melihat Cherly pergi penuh amarah.


Alhan dan Tirta terlihat kaget karena mereka tidak menyangka, jika Papinya akan mencari wanita lagi.


Han tahu persis soal bisnis Papinya, jika harta terakhir sudah menjadi milik Tirta.


"Papi selingkuh lagi?" Han mengusap wajahnya..


"Siapa? dasar aki-aki tua, tidak ingat mati lagi." Tirta menghela nafas kasar.


Mutiara langsung tertawa, dia juga tidak tahu kebenarannya. Hanya saja Muti mendengar pertengkaran jika Maminya Tirta menuduh suaminya selingkuh, tanpa bukti.


Benar tidaknya, Muti tidak peduli. Keterkejutan Han Tirta sangat lucu bagi Mutiara yang jahil.


"Membuat kaget saja." Han meminta Muti masuk kantor.


Suara dentuman Mutiara jatuh terdengar, Alhan bukannya menolong tapi mentertawakan Mutiara yang tekena Karma, karena jahil.


"Kak Han! apa ini lucu?" Tirta berteriak kuat, langsung membantu Mutiara berdiri, mengusap perut Muti yang rata.


Tatapan Alhan langsung tajam, memukul kepala Tirta menggunakan tongkat karena lancang mengusap perut istrinya.


Han juga bahkan belum pernah menyentuh, mengusap dan mengelus, tapi Tirta dengan santainya menyentuh perut.

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2