MUTIARA & KRISTAL

MUTIARA & KRISTAL
HUKUMAN SETIMPAL


__ADS_3

Kedua tangan Ilham menggenggam tangan kedua Putrinya, melihat kondisi Muti yang semakin buruk, meksipun operasi Kristal berhasil.


Kris mengalami pendarahan ringan, dan benturan kepalanya tidak menunjukkan gejala serius. Operasi yang dilakukan juga bukan operasi besar, hanya saja dokter mengecek detail kondisi Kris agar bisa menangani langsung.


Selama tiga jam dalam perawatan, Kris akhirnya dibawa keluar dan digabungkan dengan Muti yang sudah pingsan bekali-kali.


Ikatan keduanya sangat kuat, Ilham sampai tidak bisa melepaskan salah satu tangan Putrinya yang sama-sama masih terbaring.


"Kapan masalah selesai? kedua putriku sudah terlalu banyak mendapatkan ujian, izinkan mereka menemukan kebahagiaan." Air mata Ilham menetes mencium tangan Kris dan Muti.


Tangan Dwi mengusap punggung suaminya, memeluk dari belakang agar lebih kuat. Dibalik ujian pasti ada sisi baiknya.


Dwi percaya, Kris dan Muti memiliki umur panjang, karena keduanya wanita tangguh, meksipun banyak rintangan dan masalah yang menghampiri keduanya.


"Kasihan kedua putriku Dwi, tidak merasakan kasih sayang Ayah dan ibu sejak kecil hingga dewasa. Meskipun aku ada di sisi mereka, tidak bisa membayar puluhan tahun yang sudah berlalu." Ilham menangis, meminta rasa sakit anak-anaknya dipindahkan saja kepada dirinya.


Suara ketukan pintu terdengar, Han melangkah masuk meminta waktu untuk bicara dengan Ilham.


Han menjelaskan bukti yang Kris tinggalkan, Arnas tidak melakukan operasi, ada dua Dokter yang menerima suap dan akan kehilangan gelarnya.


Bukti kasus paling besar, Kris meninggalkan jejak kejahatan keluarga Arnas yang sudah menipu banyak pengusaha.


"Bagaimana kondisi Arnas Han?"


"Kondisinya membaik, tapi kemungkinan besar satu kakinya lumpuh." Han menjelaskan detail kondisinya.


Satu lagi kabar baiknya, Maminya Arnas berhasil diselamatkan, berita yang Kris ucapkan soal kematian hanyalah prediksi.


Operasi berjalan lancar, pasien dalam kondisi pemulihan. Meksipun operasi berjalan lancar, tetap saja ada kemungkinan buruknya.


"Bagaimana kasus Ayah Arnas?" Tirta mengangkat kepalanya.


"Dia akan di penjara bersamaan dengan Nila yang terkena kasus berlipat. Kasus membuang Tirta, juga percobaan pembunuhan Elin, kejahatan berencana dan kasus penembakan Ibunya Arnas." Han sudah mendengarkan dari Ayahnya Gio jika Nila tidak akan bisa keluar dari penjara seumur hidupnya.


Kepala Tirta mengangguk, membiarkan Ayahnya yang bertindak, saat ini kesehatan Kris jauh lebih penting.


Ketukan pintu terdengar, Ayah Gio izin masuk melihat kondisi Kris yang baru saja menjalani perawatan intensif, dan sudah mendapatkan kabar jika kondisinya tidak seburuk dugaan.


"Bagaimana kondisi Kris Ham?"


"Kamu lihat sendiri, putriku masih tergeletak."

__ADS_1


"Putri ... kamu sudah menikah?" tatapan Gio langsung terkejut.


Senyuman Ilham terlihat, kisah hidupnya sangat panjang untuk diceritakan, apalagi perjalanan hidup kedua Putrinya yang sangat berat. Ilham memperkenalkan Dwi kepada sahabat lamanya.


"Dia istriku,"


"Kamu sudah menikah dengan wanita muda?"


Tawa pelan Ilham terdengar, sahabat lamanya masih saja tidak bisa ikut suasana sedih. Mendengar pertanyaan Gio membuat Ilham tertawa.


"Apa Tirta anak yang kamu ceritakan? dunia ini sempit Gi. Kita berdua tanpa disengaja menjadi besan." Tangan Ilham menepuk pundak sahabatnya.


Kepala Gio mengangguk, meminta maaf karena dirinya gagal melindungi Kris sesuai perjanjian mereka. Gio menyesal membiarkan Kris tahu semuanya.


"Jangan di sesalkan, tanpa diberitahukan Kris akan tetap tahu, dia gadis licik. Bisa melakukan segala cara demi mencapai apa yang dia inginkan." Han yakin, meskipun Kris memiliki banyak masalah dia akan bangkit kembali.


Mata Mutiara terbuka, Han langsung mendekati mencium kening istrinya yang sudah sadar. Muti langsung muntah, Ilham spontan membantu Muti mengeluarkan isi perutnya yang hanya air.


Muti belum makan apapun, dan hanya menerima minum. Wajah Muti juga langsung pucat, tapi masih mencari adiknya.


"Sayang, Kristal ada di samping kamu." Han merangkul untuk membantu Muti mengusap wajah adiknya.


"Sejauh ini baik, tapi kita akan mengetahuinya setelah Kris sadar. Pengaruh obat membuatnya tidur, mungkin besok baru bangun." Tangan Ilham mengusap kepala Putri tertuanya.


Senyuman Muti terlihat, bersedia menemani Kris sampai bangun. Muti merasa gagal menjaga adiknya, berkali-kali Kris masuk rumah sakit.


"Ada berapa nyawa kamu Kris? kamu membuat kak Muti khawatir."


Alhan meminta Muti kembali ke tempat tidurnya, bukan hanya Kris yang membutuhkan pemulihan, tetapi Muti juga sama.


"Mommy Nathalie dan Mami Cherly di mana?"


"Sudah pulang sayang, besok baru berkunjung lagi." Dwi menggenggam tangan Putrinya.


Muti memeluk lembut Dwi, meminta Manda nya tidak banyak pikiran, demi adiknya yang ada di dalam kandungan.


Melihat Manda ada di rumah sakit, Muti mengkhawatirkan adik kecilnya Lily yang pastinya menanti kepulangan kedua kakaknya.


"Assalamualaikum, Lily datang." Kedua tangan Lily menutup mulutnya melihat Muti dan Kris terbaring.


Tangisan Lily langsung terdengar, berlari ke arah Neneknya, menangis histeria. Lily merasa sedih melihat Kristal yang bernafas dengan bantuan, melihat Muti yang wajahnya pucat.

__ADS_1


Ilham langsung menggendong putri kecilnya, memintanya untuk tenang dan mendoakan kedua kakaknya bisa sehat kembali.


"Kak Lis kenapa? kak Mut juga kenapa?" Lily menatap Muti yang mengusap air matanya.


"Kakak sakit Nak, Lily semangati kak Mut dan kak Lis agar cepat sembuh, bisa main bersama Lily lagi." Dwi mengusap air mata Putri kecilnya.


Lily langsung mendekati Muti, memeluknya lembut sambil menatap Kris yang masih belum sadarkan diri.


Tatapan Lily melihat ke arah Tirta yang masih duduk di samping Kris, tidak bisa memalingkan pandangannya.


"Kak Tir, jangan sedih. Kak Lis kuat, dan pasti akan sembuh. Kita semua doakan kak Lis." Lily langsung memeluk Tirta yang tidak kuasa menahan air matanya, memeluk erat Lily yang menangis sambil menenangkan.


Melihat Lily yang menyemangatinya, Tirta percaya. Istrinya pasti akan pulih dan mereka bisa bersatu kembali, menjalani bahtera rumah tangga penuh kebahagiaan.


"Sayang, kamu harus cepat bangun. Kita semua menunggu kembalinya Kris, aku juga sangat merindukan kamu Kristal." Tangan Tirta, mengusap lembut wajah istrinya.


Melihat Putranya bersedih, Gio langsung melangkah keluar. Pamitan dengan Han untuk menjemput istrinya yang masih tinggal di panti.


Senyuman Han terlihat, meminta Gio berhati-hati dan membawa Elin untuk menjenguk Kris.


"Han, Muti muntah lagi." Manda memanggil Alhan yang langsung cepat masuk.


Muti baru saja ingin mengisi perutnya, tapi sudah muntah-muntah dan langsung lemas kembali.


Kondisi Muti langsung drop kembali, melihat Muti yang melemah Ilham langsung khawatir, mengecek suhu tubuh, dan denyut nadi Muti.


"Kita lakukan tes dulu, kemungkinan Muti memiliki penyakit yang tidak disadari." Ilham langsung menghubungi bagian Dokter untuk mengecek kondisi Muti.


Ilham juga mengambil darah, meminta proses dipercepat. Muti tidak bisa menerima makanan apapun masuk perutnya.


"Mungkin Muti sakit lambung panda."


"Kamu punya penyakit lambung sayang?"


"Iya, sekarang Muti lapar, tapi perut sakit dan mual. Biasanya Muti minum obat biasa untuk mengurangi sakit perut." Muti menggenggam tangan Han untuk menemaninya tidur.


Alhan meminta maaf, dia tidak mengetahui banyak hal soal istrinya.


***


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2