
Seluruh pakaian Muti dimasukkan ke dalam koper, Kris yang melihatnya kebingungan. Banyak pertanyaan di kepala Kris, tetapi melihat wajah Muti tidak berani mengeluarkan suara.
"Kamu tidak ingin bertanya?" Muti melihat adiknya yang mengemas pakaiannya.
Kepala Kristal hanya geleng-geleng, takut jika Muti berubah menjadi singa yang mengamuk kepadanya.
"Apapun alasan kak Muti ingin pergi, Kris ikut." Senyuman Kristal terlihat.
"Kita diusir bodoh, kenapa kamu tersenyum?" kaki Muti menendang kopernya.
Tawa kecil terdengar, dia sangat mengenal Han. Tidak mungkin bisa mengusir Muti, pasti ada kesalahpahaman antara keduanya. Apalagi Mutiara yang mudah ngambek.
"Kak, masih ingat tidak betapa menakutkannya rumah ini?" Kris melihat isi kamar tempat persembunyian mereka.
Muti menganggukkan kepalanya, pertanyaan Kris mengingatkan Muti saat pertama melihat manusia paling mengerikan bernama Alhan.
Jangankan untuk berbicara, mendengar nafasnya saja membuat jantung berdegup kencang. Saat orang menyebut namanya, rasanya bumi berguncang. Mutiara sangat takut dengan Alhan.
Berbanding kebalik dengan sekarang, Han lebih banyak meminta maaf bahkan selalu mengalah dan mengikuti keinginannya.
"Apa sekarang Muti banyak berubah? atau kak Han yang berubah?" Wajah Muti celingak-celinguk mengingat banyaknya perubahan mereka.
Senyuman Kris terlihat, meminta Muti duduk disampingnya, karena sebenernya tidak ada yang berubah.
Saat awal datang, Alhan hanya menunjukkan sisi gelapnya. Dia hanya memperlihatkan cara membela diri agar bisa ditakuti.
"Dulu kak Muti bukan takut, hanya mengalah dari keegoisan kak Han. Sekarang ada cinta di antara kalian, sisi buruk hilang dan yang terlihat jati diri yang sebenarnya." Kris mengusap wajah kakaknya yang sangat cantik.
Kristal tidak membela Han sedikitpun, tapi dia yakin jika Han mengatakan sesuatu pasti memiliki alasan, masalahnya Muti yang memperbesar masalah tanpa mendengarkan alasannya.
"Kak Muti salah?"
"Wanita tidak pernah salah, meskipun tahu dirinya salah. Ayo kita berkemas pulang ke rumah Panda." Kristal menarik kopernya.
Senyuman Muti terlihat, kamar yang memiliki banyak kenangan. Sebentar lagi, mereka harus meninggalkan sementara waktu.
Kedua tangan Han menghadang Muti, memohon agar tidak pergi meninggalkannya. Sedikitpun tidak ada niat Han untuk berpisah.
"Sayang, aku akan menjelaskan apa yang terjadi? jangan pergi." Han menggenggam tangan Muti penuh permohonan.
"Muti hanya mengungsi ke rumah Panda, nanti pulang lagi jika rasa kesal sudah hilang." Muti memeluk Han, meskipun dirinya kesal sebenarnya sulit sekali meninggalkan suaminya.
Kristal hanya bisa geleng-geleng, cara Muti ngambek terlalu mengemaskan. Meminta Han tidak menahannya, agar ada alasan mereka bertengkar.
__ADS_1
"Kita pergi dulu kak Han, sekarang kita punya tempat kabur." Kris tertawa langsung melangkah keluar rumah.
"Aku antar ke rumah Panda." Han membuka bagasi mobil memasukkan dua koper.
Pintu mobil terbuka, Kris langsung masuk mobil. Menahan tawa melihat kelucuan Muti dan Han yang sedang bertengkar, tapi tangannya masih saling menggenggam.
"Jangan lama-lama di rumah Panda."
"Kak Han yang jangan lama pisah ranjang." Bibir Muti monyong, hatinya tidak ingin berpisah.
"Sekarang bukan hanya pisah ranjang, tapi pisah rumah." Han mengacak-acak rambutnya.
Nama Cherly disebut oleh Han, Kris langsung membulatkan matanya. Menatap Alhan meminta penjelasan, tapi langsung menolak, karena tidak ingin Muti salah paham.
Alhan juga binggung cara menyebutnya, dia menikahi Mutiara yang bernama Kristal. Sampai kepala Han pecah tidak menemukan solusi.
"Kak Han mampir ke apartemen Tirta sebentar." Kris menepuk pundak Han yang menganggukkan kepalanya.
Sesampainya di apartemen, Tirta sudah turun ke parkiran.Tersenyum melihat Kristal yang sudah mengeluarkan kepalanya.
"Kris, kamu mirip monyet." Muti memukul kening Kris yang di luar.
Han hanya geleng-geleng melihat Kristal dan Muti mulai berdebat, pintu mobil dibuka sampai kepala Kris nyangkut.
Senyuman Han terlihat, memukul kepala adiknya menggunakan map. Tirta menyelesaikan tugasnya dengan cepat, dan meminta waktu keluar dengan Kristal.
Alhan melihat Muti dan Kris sudah keluar mobil, mengejar kucing liar yang lari-larian di parkiran.
"Tirta, aku sedang dalam keadaan binggung. Sekarang pisah ranjang sekaligus rumah dengan Muti ...." Han membuka pintu mobilnya langsung keluar.
"Innailaihi kak, jangan gila." Tirta sangat kaget, sambil kepala menggeleng.
"Saat pernikahan, nama Kristal yang aku sebut sesuai dengan buku nikah, tapi yang aku nikahi Mutiara. Buku nikah bisa diganti, tapi yang aku ucapkan bisa ditarik tidak?" Helaan nafas Han terdengar.
"Kak Han berpikir sedang melakukan zina?" Tirta hanya tersenyum melihat kecemasan kakaknya.
"Ya, kamu mengerti maksudnya kak Han."
"Kak Han kenapa binggung? apa yang terjadi di masa lalu bukan hal yang disengaja, dan kita tidak mengetahuinya."
Han menganggukkan kepalanya, dia tahu jika semuanya tidak disengaja. Tetapi perasaan Han kurang nyaman.
"Menikah ulang saja."
__ADS_1
"Memangnya boleh? apa aku harus menceraikan terlebih dahulu, lalu menikah lagi." Tangan Han mencengkram kuat baju Tirta.
"Bisa dianjurkan bila diduga ada kalimat talak cerai yang diucapkan suami. Atau kedua diduga pernikahan pertama tidak memenuhi syarat, kata Buya Yahya. Namun, melakukan akad nikah dua kali tidak merusak pernikahan itu sendiri. " Tawa Tirta terdengar, membacakan ulang apa yang dia temukan.
Han mengangguk sambil tersenyum lebar, bicara dengan Tirta selalu menjadi solusi dalam hidupnya.
Pelukan Han erat, mengusap punggung adiknya sampai rambut Tirta juga diusap lembut.
"Terima kasih Tirta."
"Buat apa? Tirta mencontek punya Mbah googele." Tepukan pelan di pundak kakaknya membuat Tirta senang.
Alhan meminta Tirta ikut dirinya mengantar Muti dan Kristal ke rumah orangtuanya, sementara waktu.
Kepala Tirta menggeleng, dia hanya izin meminjam Kris. Ada hal yang masih ingin Tirta perjuangan.
Tatapan Han tulus melihat adiknya, kedua tangan Han menyentuh kepala Tirta, menyatukan kening keduanya.
"Apapun pilihan kamu, kak Han ada di depan. Jangan takut dan ragu, lelaki sejati dia yang bisa bersikap adil untuk dua wanita yang berarti."
"Terima kasih kak Han sudah menjadi pelindung Tirta, bahkan menerima kehadiran Tirta." Mata Tirta berkaca-kaca merasakan haru.
"Mutiara, ayo kita pergi." Han menarik tangan Muti untuk masuk mobil. Satu tangan Han mengusap kepala Kris.
Senyuman Kristal terlihat, dan meminta Han tidak mengkhawatirkannya. Kris yakin bisa menaklukkan Cherly.
"Kristal, Tirta fighting." Muti menyemangati keduanya.
"Fighting." Kris melambaikan tangannya, melihat mobil melaju pergi.
Tirta merangkul Kris, memintanya masuk apartemen terlebih dahulu, sebelum pergi ke restoran untuk bertemu Mami dan Papinya.
"Kita masuk ke dalam, ingin membuat Melati?"
"Siapa Melati?"
"Melati anaknya Kristal, berarti dia Kristal junior." Wajah Kris langsung cemberut.
Tirta menggelengkan kepalanya, tidak ada buat membuat sebelum sah suami istri. Tirta tidak ingin membuat kesalahan yang sama, apalagi dalam keadaan sadar.
"Haruskan aku membuat Papinya Melati mabuk, agar prosesnya cepat. Semua ini lambat, karena nenek lampir Cherly." Kris bergumam pelan, mengoceh di belakang Tirta.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira