MUTIARA & KRISTAL

MUTIARA & KRISTAL
BANGUN SIANG


__ADS_3

Suara keributan di pagi hari terdengar, Kris masih berat sekali membuka matanya, karena baru tidur saat hampir subuh.


Tirta langsung keluar kamar, melihat Muti teriak histeris marah-marah kepada penjaga bahkan maid, karena pohon kesayangannya rusak.


Tangan Han menutup mulut istrinya yang mengamuk, bahkan menangis meminta ada yang bertanggung jawab.


"Siapa yang berniat memotong pohon?" Han menatap semua orang.


Tidak ada yang berani angkat bicara, menyebut nama Kristal hanya akan membuat perang ketiga sehingga semuanya hanya menundukkan kepala.


"Maafkan Tirta kak, tanpa sengaja Tirta melakukannya." Senyuman manis Tirta terlihat, menundukkan kepalanya meminta maaf.


Melihat Tirta meminta maaf membuat Muti diam, Han juga tidak percaya jika Tirta yang melakukanya, Han sudah tahu siapa pelaku sebenarnya.


Muti tidak tega memarahi Tirta, sehingga pilihan terakhirnya memaafkan. Melarang Tirta melakukan kedua kalinya, karena bisa membunuh anak Muti.


"Jangan diulangi lagi Tirta, Muti ingin menyiapkan baju kerja kak Han." Muti langsung melangkah pergi ke kamarnya.


Han meminta semua orang bubar, langsung terduduk di kursi sambil memijit pelipisnya. Masih pagi tetapi sudah ada kehebohan.


"Sabar kak, maafkan perbuatan Kristal." Tirta langsung duduk di depan Kakaknya.


Alhan hanya bisa menganggukkan kepalanya, stok kesabaran Han harus lebih banyak dan berlipat tebalnya.


"Tirta siap-siap untuk kerja dulu, mungkin malam ini Tirta sudah balik ke apartemen."


Han menganggukkan kepalanya, langsung berjalan ke arah kamarnya juga untuk bersiap-siap pergi kerja.


Senyuman Tirta terlihat, memeluk istrinya yang masih tidur. Rasa cinta Tirta sangat besar kepada Kris, apalagi setelah mendengar pengakuan Kris betapa berharganya dirinya.


"Kak Tirta, Kris mengantuk."


"Iya sayang, kak Tirta bersiap pergi kerja dulu, nanti jika ingin keluar izin terlebih dahulu." Kecupan lembut mendarat di kening Kris.


Tirta tidak pernah melarang Kris pergi, tapi harus wajib izin agar Tirta tahu keberadaan istrinya juga tidak khawatir selama Kris melakukan aktivitasnya.


Tirta langsung menggunakan bajunya, mencium kening Kris langsung pergi kerja. Sebelum Tirta pergi Muti sudah teriak memintanya untuk sarapan.


"Kris belum bangun?" Muti meminta Tirta duduk.


"Belum, tidur juga hampir subuh." Tirta langsung menyantap makanan bersama Han.

__ADS_1


"Masih mual tidak sayang?" Han mengusap perut Istrinya.


Muti menganggukkan kepalanya, tetapi mual hanya sesekali, muntah-muntah juga sudah tidak lagi. Muti jauh lebih kuat melawan morning sickness.


"Daddy pergi kerja dulu ya sayang, kamu baik-baik di dalam sana." Han bicara dengan perut Muti sambil mengusap-usap.


"Kenapa harus Daddy? Muti tidak menyukainya. Panggil Ayah." Senyuman Muti terlihat.


"Papa saja sayang, Tirta sudah dipanggil Ayah. Nanti anak kita baru belajar bicara memanggil aku ayam." Han memohon agar Muti menyetujuinya.


Setelah Muti tersenyum dan menganggukkan kepalanya barulah Han bernafas lega, bersemangat untuk pergi bekerja mencari uang untuk istri dan anaknya yang. hobi belanja.


Setelah Han dan Tirta pergi bekerja, Muti langsung masuk ke kamar Kristal. Kris masih terlelap tidur, terlihat sangat lemas.


Muti tidak ingin menganggu, langsung naik ke atas ranjang, memiliki untuk berguling-guling di atas tempat tidur.


Perlahan mata Muti juga terpejam, langsung terlelap tanpa sadar.


***


Manda memanggil kedua Putrinya yang tidak terlihat, maid langsung mendekati Dwi mengatakan jika kedua Nona ada di kamarnya.


"Astaghfirullah Al azim, sudah jam sebelas siang masih tidur. Anak berdua ini memang tidak ada lawannya." Dwi menggelengkan kepalanya.


Pelan-pelan Dwi menepuk tangan Kris dan Muti untuk bangun, keduanya berencana untuk belanja sampai menganggu Dwi dan memaksa agar ikut.


Dwi bahkan mengundur jadwal pemeriksaan demi kedua Putrinya, tetapi dua-duanya masih belum bersiap.


"Sayang, bangun sudah siang." Dwi menarik tangan Muti dan Kris.


"Manda sudah datang?" Muti langsung duduk, memegang perutnya yang terasa mual.


Kristal menarik selimut, menutupi kepalanya menolak untuk bangun. Kris sangat mengantuk karena semalaman tidak bisa tidur.


Menunggu Kris bangun terlalu lama, Muti dan Manda akhirnya memilih ke rumah sakit terlebih dahulu untuk memeriksa kondisi janin Dwi.


Senyuman Muti terlihat menatap adiknya dari balik layar, berharap adiknya dan anaknya akan akur, karena usia keduanya tidak terpaut jauh.


"lucunya adikku." Muti mengagumi apa yang dilihatnya.


"Sebentar lagi Muti juga bisa melihat anak yang ada di kandungan kamu." Dwi mengusap perut Muti.

__ADS_1


"Di mana Kristal? dia tidak pernah terlihat mengantar ke rumah sakit." Dokter Rani tersenyum melihat Muti dan Mamanya terlihat akur sekali seperti dua bersaudara.


Pintu ruangan diketuk, Kris langsung melangkah masuk dengan penampilannya yang sangat elegan.


Muti terkejut, mereka meninggalkan Kris masih tidur dan sekarang sudah terlihat mirip artis yang ingin foto.


"Akhirnya muncul juga yang dicari?"


"Bagaimana kondisi Manda dan Muti?"


"Sangat baik, perkembangan janin juga sesuai perhitungan." Dokter Rani menjelaskan secara detail kondisi Muti dan Dwi.


Kristal melepaskan kacamatanya, mengambil jeruk milik sahabatnya langsung memakannya sambil menganggukkan kepalanya memahami ucapan dokter.


Sesaat dokter terdiam, menatap Kris yang tidak berhenti makan buah jeruk padahal rasanya sangat masam.


"Kenapa berhenti? lanjutkan. Aku akan menyimak." Kris masih mengupas jeruk ketiga.


"Kristal, jangan dihabiskan milik Dokter Rani." Tangan Dwi menarik lengan Putrinya yang masih tetap makan.


Senyuman Rani terlihat, menggeleng-gelengkan kepalanya. Merasa unik dengan keluarga baru Kristal yang memiliki rasa kasih sayang sangat besar.


"Kris, coba kamu tes. Jangan banyak tanya lakukan saja." Rani menyerahkan satu tes pack.


Melihat benda pipih di atas meja membuat Kris terkejut, juga kebingungan. Rani memintanya untuk tes kehamilan, padahal Kris tidak merasa ada yang aneh dari dirinya.


Rani memaksa Kris untuk memeriksa, tepaksa Kris langsung masuk kamar mandi untuk melakukan apa yang diinginkan sahabatnya.


"Ada apa Dokter Rani?" Manda langsung khawatir.


"Santai saja, aku melihat perubahan dari Kris. Sejak berteman dengannya Kris tidak makan jeruk, apalagi rasanya sangat masam." Rani mengambil jeruk yang manis, juga jeruk masam.


Manda langsung mengambil dua jeruk, mencicipinya dan rasanya hampir sama baginya hanya bedanya satu sangat manis, dan satunya tidak terlalu manis.


"Buah jeruk ini sangat masam, bagi orang normal ini masam, tapi mungkin beda bagi ibu hamil." Rani melihat Kristal keluar kamar mandi.


Rani menatap tes pack, mempertanyakan jadwal terakhir mentruasi Kristal. Kris tidak terlalu paham, tetapi dirinya sudah terlambat satu minggu, Kris memakluminya karena dirinya baru keluar dari rumah sakit.


"Astaghfirullah Al azim, aku banyak istighfar untuk kamu Kris. Setidaknya kamu hampir berhasil membunuhnya dengan terbang di atas mobil, juga memukuli orang." Rani menunjukkan tes pack.


***

__ADS_1


__ADS_2