MUTIARA & KRISTAL

MUTIARA & KRISTAL
MENGGILA


__ADS_3

Sudah tengah malam, tangan Cherly ditarik oleh Nathalie untuk menghentikannya. Ucapan Kris ada benarnya, Cherly tidak bisa menyerang sendirian.


Bisa saja Cherly dilaporkan melakukan penyerangan, dan berakhir dibalik jeruji besi.


"Aku tidak tahan lagi ingin menyobek mulutnya."


"Kita tunggu sekitar tiga puluh menit lagi, Kris dan Muti sedang menuju ke sini."


Cherly mengerutkan keningnya, Muti dan Kris sedang ada di panti, jarak tempuh membutuhkan waktu lima jam, Cherly yang sudah melakukan perjalanan sambil kebut-kebutan masih memakan waktu.


"Kristal pembalap liar, dia bisa menempuh jarak lebih cepat. Lagian mereka sudah lama berangkatnya." Nathalie mencoba menahan Cherly yang sedang emosi.


Di mobil Muti bekali-kali memejamkan matanya, melihat Kris yang membawa mobil mirip orang kesurupan. Muti masih sangat menyayangi nyawanya, berharap mereka sampai tujuan, bukan akhirat.


"Kris, aku belum ingin mati." Muti gemetaran, berpegangan sangat kuat.


"Santai saja, Kris juga pernah ikut balapan liar dan hasilnya menghacurkan pagar perumahan." Kristal tertawa, meminta Muti santai dan menikmati perjalanan.


Panggilan Han masuk, mempertanyakan keberadaan Muti. Kristal langsung menjawab, jika mereka langsung kembali lebih dulu, ada masalah dengan kondisi Mamanya.


Han dan Tirta bisa kembali keesokkan harinya, sekalian menjaga Ibu Tirta. Menghabiskan waktu bersama, dan mengutamakan kesembuhan.


"Kamu membohongi Kak Han? melibatkan Manda."


"Jangan bodoh Muti, Ayah Tirta sudah mengirim polisi untuk melakukan pengintaian. Kasus penculikan Tirta dibuka kembali." Kris tidak ingin membuang waktu, sebelum polisi turun tangan, dirinya ingin membalaskan beberapa hari yang terbuang tanpa suaminya.


Senyuman Muti terlihat, Kristal menyimpan dendam kepada Arnas yang mengusik rumah tangganya.


"Kita sudah masuk kota, berapa jam perjalanan tidak terasa." Muti merapikan rambutnya.


Kris mengambil lipstiknya, menambah make up diwajahnya agar terlihat lebih cantik, meksipun dirinya berencana mencabik-cabik Arnas.


Panggilan di handphone Kris masuk, Ayah Tirta meminta Kris mundur dan tidak membuat masalah, karena bisa saja target melarikan diri.


Suara Tirta juga terdengar, mereka akan segera menyusul pulang, meminta Kris tidak melakukan hal yang membahayakan dirinya.


"Maafkan aku Tirta, hati aku tidak puas jika belum menampar wajahnya." Kris langsung mematikan ponselnya, melempar ke dalam mobil.


Kris melangkah masuk, Cherly sudah berdiri bertolak pinggang. Nathalie juga sudah mematikan ponselnya, merasa terganggu ulah suaminya.

__ADS_1


"Lama sekali." Tatapan Cherly tajam.


"Lama matamu, nyawa Muti diujung tanduk. Masih bersyukur bisa sampai." Muti mengerutkan keningnya.


"Ayah sudah mengetahui siapa pelakunya, wanita kepercayaannya yang sudah membuang anak dan istrinya." Kris menceritakan jika kepolisian akan segera datang, kemungkinan pelaku sudah bersiap untuk melarikan diri.


Kristal tidak peduli apapun dendam masa lalu Cherly, sekalipun Cherly memukul, menampar, mematahkan tulang bahkan membunuh. Kris tidak ingin tahu.


Dalam lima jam Han, Tirta Ayah Tirta akan tiba dan menghentikan mereka, sebelum mereka tiba kemungkinan polisi sudah patroli.


"Kita tidak mempunyai banyak waktu, paling lama lima jam, dan bisa saja tiga jam lebih Han tiba di sini. Dan kepolisian akan tiba mungkin kurang dari satu jam." Kris melangkah lebih dulu untuk menuju apartemen.


"Apa tujuan kamu Kris? tidak mungkin soal penculikan Tirta." Cherly menahan tangan Kris.


"Nila bekerja sama dengan Ayahnya Arnas, karena tidak bisa menaklukkan hati Ayah Tirta, mereka ingin menguasai Tirta. Aku tidak terima, mengingat suamiku menggendong wanita lain. Sekarang waktunya membantunya mendekati akhirat." Kris langsung mengumpat kasar, mengingat malam kedatangan Arnas.


Muti dan Nathalie hanya mengikuti saja, mereka tidak mempunyai masalah apapun, tapi apapun yang bersangkutan dengan Kris akan menjadi masalahnya juga.


Sesampainya di pintu Kris menekan bel, menunggu sesaat tetap tidak ada yang membuka. Kris sangat yakin, pasti sedang asik tidur.


Mutiara menekan bekali-kali, sampai pintu terbuka. Cherly langsung menendang pintu melangkah masuk ke dalam.


Muti tersenyum, melambaikan tangannya. Langsung duduk di sofa menonton kemarahan Ayah dan Ibunya Arnas yang tidurnya terganggu.


"Di mana Nila? aku tahu dia ada di sini." Suara Cherly teriak-teriak terdengar.


Pintu kamar terbuka, Nila keluar langsung mendorong Cherly kuat sampai terjatuh karena sudah menganggu tidurnya.


"Perempuan murahan, jangan sebut namaku dengan mulut kotor kamu." Nila menendang wajah Cherly.


"Kamu yang murahan, dan penyebab hancurnya hidup kami." Cherly menendang perut, langsung bangkit berdiri.


Arnas juga keluar dari kamarnya, melihat keributan yang terjadi. Tatapan Arnas takut saat melihat Kris sudah tersenyum sinis.


Kristal langsung berlari, menahan pintu kamar yang ingin ditutup kembali. Maminya Arnas langsung menarik rambut Kris tidak boleh menyakiti anaknya.


Pintu terbuka, Kris yang sudah kehabisan kesabaran membanting Maminya Arnas, menarik-narik rambutnya.


"Lepaskan Mami." Arnas menarik rambut Kristal.

__ADS_1


Kris langsung mendorong Arnas ke atas tempat tidur, membuka baju Arnas yang tidak ada bekas jahitan operasi. Sekarang Kris mengerti jika uang sudah mempermainkan.


Tubuh Arnas berada di bawah Kris, tamparan Kristal bekali-kali mendarat. Melihat Putrinya diserang sampai menangis histeris.


Mami Arnas mengambil vas bunga, ingin memukul kepala Kris. Tendangan kuat menghantam pinggang, Muti sudah tersenyum sinis.


"Sudah aku katakan, tidak ada yang boleh menyakiti adikku kecuali Mutiara sendiri." Muti menendang kuat.


Di luar kamar suara teriakan terdengar, Cherly dan Nila sudah menjadi satu. Suara tembakan terdengar, Kris dan Muti langsung menoleh dan berlari keluar kamar.


Tangan Nathalie menahan tangan Ayah Arnas yang ingin menembak Cherly.


"Mommy." Kris langsung berlari, melompat tubuh pria besar, keduanya rebutan senjata.


"Mommy baik-baik saja." Muti langsung memeluk Nathalie yang gemetaran.


Melihat adiknya sudah menjadi satu rebutan senjata, Muti langsung menarik tangan pria besar yang tubuhnya lebih besar dari keduanya.


Satu tangan mencekik kuat leher Mutiara, satu tangan masih mempertahankan senjata yang hampir mengarah kepada Kris.


"Kalian berdua cari mati." Cekikan ditangan Muti semakin kuat.


Mata Muti melihat sumpit yang tergeletak, menarik baju Kris untuk menghentikan cekikan.


Kris langsung memutar tangan, mengigit satu tangan yang mencekik kakaknya.


Muti terlepas, langsung mengambil sumpit, menancap ke arah tangan sampai senjata terlepas. Kaki Muti menendang senjata sampai menjauh.


Cekikan berpindah ke arah Kris yang sudah tidak bisa bernafas lagi, Muti mengigit leher pria yang mencekik adiknya. Menarik Kristal agar bisa menarik nafas.


Muti melayangkan tendangan, menginjak-injak pria besar sampai tidak sadarkan diri. Kris yang melihat kemarahan Muti hanya bisa terdiam, sikap gila Muti mematikan.


Cherly dan Nila terduduk diam, mulut Muti penuh darah karena mengigit tidak sadar diri. Hidung juga mimisan, mengeluarkan banyak darah. Tangan Muti penuh rambut, karena menjambak dan menarik kepala.


"Kris kamu baik-baik saja?"


"Iya, kak Muti baik tidak?" Kris menunjukkan darah di hidung.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2