
Suara Alhan marah masih terdengar, Tirta sudah berusaha menjelaskan dan tidak menyembunyikan apapun.
Tirta juga tidak mengetahui jika Han, bahkan Kristal tidak mengetahuinya.
"Periksa saja ke dokter kak, saat kami di rumah sakit usia kandungan delapan minggu."
Alhan langsung berjalan ke kamar Kristal, menatap Kris yang memalingkan wajahnya sambil menangis.
"Apa yang kamu tangis? kak Han tanya sekali lagi, apa kamu tahu soal ini?" Han berbicara sangat tegas sampai Kristal takut.
"Kris tidak tahu kak, selama ini Kris merasa kurang sehat saja." Tangisan Kristal semakin kuat.
Han langsung menarik tangan Kristal, memeluknya lembut meminta Kris berhenti menangis, karena mereka akan menemukan solusinya.
Secara terpaksa, Kris mengikuti Han untuk mengecek kondisinya bersama Tirta. Dokter membenarkan apa yang Tirta katakan.
Kris menggelengkan kepalanya, usia kandungan Kris sudah masuk dua belas minggu, kondisi bayi juga sehat.
Han menatap Tirta yang sepenuhnya ingin bertanggung jawab, dia sangat mencintai Kristal dan siap dengan anak yang Kris kandung.
"Kris, bayi ini tidak salah, dan kamu harus menikah dengan Tirta." Nada bicara Han sangat pelan, dia akan segera mengungkapkan identitas Kris dan Muti.
"Aku tidak ingin menikah dengan Tirta, dan aku tidak menginginkan anak ini." Tatapan Kris tajam, tidak ingin disentuh oleh Tirta, bahkan menolak mendengar suaranya.
Di rumah Mutiara hanya duduk diam menunggu kepulangan Han dan Kris yang akan membawa kabar baik, tapi juga buruk.
"Kristal mencintai kak Han? apa aku menganggu hubungan mereka?" kepala Muti tertunduk.
Pintu terbuka, Kris langsung melangkah masuk menatap Muti yang fokus ke arah foto pernikahan mereka.
"Apa hasilnya benar Kris?" Muti tidak menoleh sedikitpun.
"Iya, sudah 12 minggu. Kris tidak bisa menerima anak ini." Tangan Kristal menghapus air matanya.
"Kristal, apapun yang terjadi kita pertahankan anak yang tidak berdosa." Han langsung berdiri diantara Muti dan Kristal.
__ADS_1
Kepala Kristal menggeleng, sampai kapanpun Kris tidak akan menerima Tirta apalagi menikahi anaknya Cherly. Kris memilih menghilang selamanya daripada menikah.
Tirta langsung mendekati Kris, dia mengaku salah atas apa yang menimpa Kris.
"Aku tidak akan memaksa Kris, tapi kamu harus berjanji satu hal. Pertahankan anak ini, saat dia lahir jika kamu tidak menginginkannya serahkan kepadaku." Senyuman Tirta terlihat, langsung pamit pulang kepada Han agar Kris bisa beristirahat.
Alhan memejamkan sesaat matanya, meminta Kristal memikirkan perasaan Tirta. Apa yang terjadi tidak sepenuhnya kesalahan Tirta, dia juga manusia biasa.
"Aku tidak ingin mengandung anak ini kak, Kris belum siap. Kita masih memiliki jalan panjang, bahkan aku belum bisa menguasai perusahaan Iskandar, Muti juga belum mendapatkan keadilan." Kris tidak sanggup jika harus mengandung selama sembilan bulan.
Mutiara hanya diam, mendekati Kristal yang tidak bisa mengabulkan permintaan siapapun.
"Aku bahagia bertemu kamu, tapi bukan ini akhir yang Muti inginkan. Jangan ungkap siapa aku, karena memang aku terlahir tanpa identitas." Muti menggenggam tangan Kris, memohon untuk mempertahankan bayi yang tidak berdosa.
Meksipun rencana mereka masih panjang, tapi jalan terbaik menerima takdir. Karena sebaik apapun rencana mereka tidak akan bisa melawan takdir.
"Kak Muti bisa bicara seperti itu karena tidak bisa merasakan di posisi Kris."
"Andai aku bisa, lebih baik aku yang menggantikannya. Banyak orang yang menunggu kehadiran anak, tapi doa mereka belum terjawab." Senyuman Muti terlihat, dia tidak pernah menyalahkan hadirnya buah hati.
Kepala Mutiara menggeleng, meksipun dirinya yang menikah dengan Han tapi tidak ada yang mengetahui keberadaannya.
"Sudah saatnya kita kembali ke posisi awal, kamu bisa menjadi istrinya kak Han dan mengandung, juga melahirkan tanpa harus bersembunyi karena sejak awal semua orang tahu jika kalian sudah menikah." Muti tidak ingin Kris bersembunyi, apalagi menanggung sakit sendirian, karena Muti yang akan bersembunyi.
Alhan menggenggam tangan Muti, menggelengkan kepalanya. Dia tidak ingin menikahi Kristal. Jika sejak awal Kris tidak melarikan diri, mungkin Muti tidak pernah ada diantara mereka.
"Aku tidak masalah mengakui anaknya Kris dan Tirta, tapi untuk menjadikan Kris istri tidak mungkin aku lakukan." Han menatap Muti tajam untuk mempertahankan hubungan mereka.
"Kenapa kak Han?" apa rasa cinta kak Han sudah berpaling? aku dan Muti sama saja, lalu apa yang kak Han bandingkan antara kami?. Apa karena dia belum tersentuh? sedangkan aku tidak sempurna." Suara Kris meninggi, tidak terima dengan penolakan Han soal dirinya.
Han menatap tajam Kristal, jatuh cinta kepada seseorang yang selalu bersamanya bagi Han mudah, dan melupakan seseorang yang menolaknya lebih mudah lagi. Sejak Kris meninggalkan, rasa cinta Han sudah hilang.
Jika memaafkan Kris mungkin bisa Han lakukan, tapi untuk mencintai orang itu kembali sudah tidak mungkin.
Meksipun wajah Kris dan Muti mirip di mata banyak orang, tapi bagi Han keduanya berbeda jauh.
__ADS_1
"Kris, aku menyayangi kamu sebagai adikku, cukup sebagai adik. Sampai kapanpun perasaan ini tidak akan berubah, bukan karena kekurangan kamu, tapi karena hati yang memilih." Alhan meminta Kristal beristirahat, dan bicara saat keadaan emosi sudah turun.
"Kak Han mencintai Muti, dan mencampakkan Kris?"
"Sudah cukup! bisa kita akhiri percakapan ini." Muti menatap tajam Alhan dan Kristal yang langsung bubar.
Kris masuk ke dalam kamarnya, Alhan juga langsung masuk kamar meninggalkan Mutiara yang meneteskan air matanya.
Muti duduk dengan kepala tertunduk, menyentuh dadanya yang terasa sesak. Hatinya sakit mendengar ucapan Kristal. Secara tidak langsung Kristal menyalahkan kehadiran Muti.
"Apa salah Mutiara? nenek tolong Muti." Air mata Muti menetes.
Alhan membuka pintu kamarnya, meminta Mutiara masuk, ada beberapa hal yang harus mereka bicarakan.
Muti menghapus air matanya, langsung berjalan ke kamar Han meskipun ada keraguan.
Han memutar isi dari flashdisk yang Jenny sembunyikan, Han meminta Muti memperhatikan dan menjelaskan padanya setelah tahu isinya.
Suara air menguyur terdengar, Muti menatap layar komputer tanpa memperhatikannya. Pikiran Muti tidak bisa fokus.
Sebuah tangan yang terasa dingin memeluk Muti dari belakang, tatapan Muti langsung melihat wajah Han yang basah, bahkan rambutnya masih berantakan.
"Kamu tidak menonton sama sekali, jangan pernah berpikir kamu bisa pergi dari aku. Mutiara apa yang terjadi bukan salah aku, kamu, ataupun Kristal. Kamu tidak boleh berkorban." Han mengeratkan pelukannya, mencium wajah Muti yang sangat nyaman baginya.
"Apa yang harus kita lakukan kak?"
"Tidak ada, biarkan terus seperti ini, perlahan aku akan memperbaikinya. Satu hal yang harus kamu dan Kristal lakukan, tidak ada yang boleh menyerah, karena tujuan kita belum tercapai." Han memutar kursi Muti, mencium bibirnya.
Muti mendorong dada Han yang tidak menggunakan baju, tubuh Han sangat dingin.
"Kak Han." Kristal menatap Han dan Muti yang sedang berciuman.
***
jangan lupa like coment Dan tambah favorit
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira