
Tidur Dwi mulai gelisah, suaminya masih sering pulang malam dan ditinggal hanya bersama mertuanya juga dua maid dan penjaga.
Suara Dwi meringis terdengar, mengusap perutnya yang terasa sakit. Ada pesan masuk mengatakan jika Ilham lembur, ada operasi dadakan.
Ilham meminta Dwi tidur lebih dulu, tidak menunggu dirinya. Mata Dwi terpejam, mencoba tidur dan menahan rasa sakitnya.
Sekuat tenaga menahan sakit dan mencoba tidur, Dwi masih berusaha untuk tenang meskipun sudah mandi keringat.
"Astaghfirullah Al azim, sakit ya Allah." Dwi langsung bangun, duduk di pinggir ranjang.
Usia kandungannya baru delapan bulan, jalan sembilan. Rasa sakitnya seperti ingin melahirkan.
Air mata Dwi menetes, mengusap perutnya merasakan sakit yang teramat parah. Keringat mengalir membasahi tubuh, meksipun AC sudah dingin.
Perlahan Dwi keluar kamar, ingin menemui mertuanya jika perutnya sangat sakit.
Pintu rumah terbuka secara otomatis, Dwi tersenyum kemungkinan suaminya pulang. Dwi sangat bahagia.
"Assalamualaikum." Han masuk bersama Muti sambil menarik koper.
Diikuti oleh Tirta yang menggendong Lily, satu tangannya merangkul pinggang Kris untuk berjalan pelan.
Lily masih tidur di dalam gendongan, Dwi tersenyum lebar saat melihat ketiga Putrinya pulang secara tiba-tiba tanpa memberikan kabar.
"Manda sama Panda mungkin sudah tidur, kita pelan-pelan saja." Han meminta Kris dan Muti diam.
"Papa belum pulang, karena tiba-tiba ada operasi dadakan." Dwi tersenyum melihat anak menantunya pulang.
"Manda, kita kangen." Dwi dan Kris langsung mendekat, memeluk kanan dan kiri sambil mencium pipi.
"Bagaimana kabar kalian berdua?" Dwi mengusap perut kedua anaknya.
Han dan Tirta langsung mencium tangan, Manda menyambut Putrinya Lily yang masih tidur.
Melihat Lily yang lelah langsung membawanya ke kamar tidur agar bisa beristirahat dengan leluasa.
Beberapa koper yang berisikan oleh-oleh Han bawa masuk, Kris dan Muti bukan beristirahat tetapi langsung bongkar koper.
Banyak barang yang dikeluarkan, langsung dibagi-bagi bersama untuk beberapa orang. Han dan Tirta masuk kamar masing-masing untuk mandi.
Suara perdebatan Muti dan Kris terdengar, Dwi hanya duduk diam melihat pertengkaran keduanya, sambil menahan sakit perutnya.
"Manda, kenapa diam saja? ini baju untuk adik laki-laki kita, Manda tidak perlu membeli lagi, karena semuanya sudah kita sediakan." Muti menyusun baju untuk adiknya.
__ADS_1
"Ini juga perlengkapan bayi, ada tas dan banyak lagi. Persiapan ke rumah sakit harus membawanya." Kris menarik tas, menyusunnya rapi.
Mata Dwi terpejam, mencengkram kuat sofa duduk. Tidak bisa menahan lagi perutnya yang sangat sakit.
Tarikan nafasnya juga sudah terdengar berat, Kris dan Muti masih belum menyadari. Sibuk membicarakan soal baju, juga barang-barang unik yang keduanya beli.
"Manda mengantuk, tidur saja. Mata Manda terpejam, kasihan." Muti tertawa pelan, meminta Mamanya beristirahat.
"Sayang, Manda bukan mengantuk. Perut Manda sakit sekali." Dwi meringis menahan sakit perutnya.
Melihat wajah pucat Mamanya, Kristal langsung menendang oleh-olehnya. Berdiri untuk segera membantu Mamanya ke rumah sakit.
"Muti bangun, Manda kesakitan." Kris menyentuh perut, melihat kaki Manda sudah mengalir darah bercampur air ketuban.
Tangisan Muti terdengar, langsung ketakutan melihat banyaknya air dan darah bercampur menjadi satu.
"Kita harus bagaimana?" Muti menyingkir barang-barang, membawa tas yang berisi peralatan bayi.
"Bangunkan kak Han, malam ini juga kita pergi." Kris langsung berjalan ke kamarnya, melihat Tirta yang sudah tergeletak tidur.
Kaki Tirta ditarik sampai hampir jatuh dari ranjang, Kris membangunkan Tirta yang baru saja terlalap.
Mata Tirta masih terpejam, meminta Kris tidur. Rasanya tubuh Tirta ingin demam, panas dan tubuhnya sakit semua.
Tubuh Tirta langsung bangun, pendengarannya tidak jelas hanya rumah sakit lahiran. Tirta mengacak-acak rambutnya melihat Kris yang tidak membiarkan tidur dengan tenang.
Suara teriakan Mutiara menggema membangunkan Nenda juga para maid yan langsung berlarian keluar kamar.
Muti sudah membawa tas melempar Han dengan tas, memintanya bangun untuk ke rumah sakit.
Alhan menendang tas, kesal melihat tingkah istrinya yang kekanakan. Dirinya baru saja memejamkan mata, sudah mendengar suara Muti membuat heboh.
"Ayo ke rumah sakit, Manda ingin lahiran." Muti menarik tas langsung membanting pintu.
Melihat Kris dan Muti yang heboh, Dwi yang menahan sakit hanya bisa terdiam. Nenda sudah panik meminta mobil disiapkan.
Dua maid membantu Dwi untuk berjalan, karena air ketuban sudah pecah. Kris membuka pintu mobil, tas yang Muti bawa langsung dilempar ke bagasi.
"Siapa yang membawa mobil?" Nenek panik, menghubungi Ilham, tetapi nomornya tidak aktif.
"Kristal yang membawanya,"
Semuanya masuk mobil, Muti berpesan kepada maid jika Han dan Tirta bangun, segera menyusul ke rumah sakit.
__ADS_1
Mobil melaju meninggalkan kediaman, Dwi sudah tarik nafas buang nafas tidak menyangka dirinya ingin melahirkan lebih cepat, di luar prediksi dokter.
Langka Tirta dan Han bertabrakan saat menyadari jika Manda ingin melahirkan, Tirta tidak menggunakan baju sedangkan Han menggunakan celana pendek.
"Di mana baju kamu Tirta?"
"Celana kak Han juga di mana?" Tirta berlari kembali ke kamar.
Han juga langsung berlari kencang, cepat mencari celana panjang, mengganti bajunya untuk segera menyusul ke rumah sakit.
Di jalanan Kris kebut-kebutan, Muti membiarkan saja karena kondisi Manda sudah tidak kuat lagi menahan sakit.
Ponsel Kris memanggil sahabatnya Rani untuk ke rumah sakit, karena Mamanya ingin melahirkan. Kristal tidak menerima penolakan.
Jika Rani lama datang dan Manda juga adiknya dalam masalah, Kris akan membakar rumah Rani.
"Kristal tidak boleh mengancam begitu." Dwi menggelengkan kepalanya.
"Santai saja Manda, palingan Rani di hotel sedang bercinta dengan pacarnya." Kris mengoceh sembarangan
Jalanan yang sepi memudahkan Kris untuk mengemudi cepat, panggilan suaminya tidak dihiraukan. Kris sudah kesal melihat Tirta yang lambat.
Sesampainya di rumah sakit, Kris tersenyum melihat Rani juga sampai. Bahkan rambutnya masih acak-acakan.
"Kristal sialan, suka sekali mengancam." Rani membantu Manda untuk ke ruangan persalinan.
"Aku tahu kebiasaan kamu, tidur seperti orang mati. Jika tidak diancam pasti make up dulu." Kris menghubungi Papanya untuk menemani Mandan.
"Manda ingin melahirkan?"
"Iya Muti, tidak mungkin dia ingin buang air besar, tapi penuh air ketuban." Kepala Rani gatal melihat tingkah dua bersaudara yang membuatnya darah tinggi.
"Lahirannya lebih cepat dari dugaan Ran?" Kris merasakan khawatir.
Rani menganggukkan kepalanya, sejak awal sudah dirinya prediksi. Lahiran bisa lebih cepat, juga lebih lama.
Prediksi tidak selalu benar, makanya Rani meminta Dwi rajin kontrol, karena dia darah tinggi. Khawatirnya pendarahan.
"Kalian tunggu di luar saja." Rani masuk ruangan persalinan bersama beberapa perawat untuk membantunya.
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1