
Mobil keluarga tiba di villa mewah yang sudah disewa, persiapan pesta pernikahan sudah hampir sempurna.
Acara ijab kabul diadakan di dalam villa, ruangan sudah dihias sebegitu indahnya.
"Wow ... bagus sekali." Lily menyentuh bunga yang sudah dirangkai.
Muti dan Kris juga tersenyum, mengangumi keindahan villa yang berubah seperti istana. Senyuman Kristal juga semakin lebar, melihat kamar pengantin yang sangat indah.
Dari lantai atas, Muti bisa melihat kesibukan di pinggir pantai. Cuaca menjadi bagian dari keberhasilan pesta.
Jika angin semakin kencang, tenda bisa bergoyang kemungkinan juga bisa berjatuhan. Melihat kondisi persiapan, Muti cukup kagum, dengan semangat juang para pekerja yang memberikan terbaik.
Kedua mata Muti terpejam, membiarkan angin sepoi-sepoi menerpa wajahnya. Menikmati cuaca dingin di tengah terik matahari.
Pelukan erat dari Alhan juga terasa, senyuman Muti terlihat. Bisa mengetahui siapa yang memeluknya hanya melalui bau badannya.
"Apa yang sedang kamu nikmati sayang?" Han melihat ke arah pandang Muti.
"Tidak ada kak, kagum saja dengan keindahan tempat ini." Kris melambaikan tangan melihat Tirta ada di tempat persiapan pesta.
Han melihat ke arah Tirta, tersenyum melihat adiknya yang mudah akrab dengan banyak orang.
"Kak Han, menyayangi Tirta." Muti bisa melihat ketulusan di mata suaminya.
Alhan hanya menghembuskan nafasnya, tidak memberikan jawaban apapun. Cukup menjalani apa yang sedang keduanya lewati.
Di lantai satu suara tangisan Lily terdengar, Han dan Muti langsung turun ke lantai satu untuk melihat adik kecil yang tangisannya sangat kuat.
Ilham langsung menggendong putri kecilnya, tersenyum menatap Papinya Han dan Tirta yang juga datang untuk menyambut penikahan anak-anaknya.
Lily tidak sengaja menabrak, melihat wajah Papinya Han juga menyeramkan, apalagi sampai digendong.
Kristal yang pertama kali melihat hanya tertawa, merasa lucu dengan adik kecilnya yang ada tempat takutnya.
"Siapa anak ini?"
"Dia putri saya, silahkan duduk." Panda mempersilahkan.
Tirta langsung melangkah masuk, menahan tangan Papi tirinya agar bisa menjaga sikap, Tirta tidak akan bersikap baik jika apa yang terjadi di hotel sampai terulang kembali.
Selama dirinya dan keluarga masih menerima dengan tangan terbuka, Tirta harap tidak mempermalukan dirinya juga Han.
Muti menatap Alhan yang langsung melangkah pergi, tidak mengerti apa yang sebenarnya Han pikiran sehingga diam menjadi pilihannya.
__ADS_1
Manda juga melihat ke arah Alhan yang memilih untuk mengecek kamar pengantinnya, tidak menganggap Papinya ada di hadapannya.
***
Hembusan angin semakin menusuk tulang, Han duduk sambil menghirup susu hangatnya. Hanya diam menatap langit malam yang sepi dan sunyi, karena saat mata hari terbit hingga terbenam akan ramai.
"Malhan, izinkan Papi duduk di samping kamu."
Han menoleh sekilas, langsung fokus kembali ke langit malam. Membiarkan Papinya duduk di sampingnya.
Permintaan maaf yang sudah lama Han inginkan akhirnya terucap, dan terdengar. Setelah bertahun-tahun selingkuh, menduakan cinta Bundanya sampai akhirnya tutup mata.
Di saat terakhir, Papinya bahkan tidak datang dan membiarkan Han sendiri, duduk di kursi roda sambil menangis.
"Maafkan Papi Han, kamu pantas membenci Papi." Air mata menetes, mengusap kepala Han yang masih diam.
Tangisan Papinya tidak mengerakkan sedikitpun perasaan iba di hati Han, tidak ada balasan sama sekali dari putra semata wayangnya.
"Kamu harus bahagia, dan tidak boleh menderita lagi."
"Emh ... jika tidak ada yang ingin dibicarakan lagi, silahkan pergi." Nada bicara Han terdengar dingin, bahkan tangannya bergerak menunjukkan jalan.
"Maafkan Papi."
Papi Han juga berdiri, menyentuh pundak anaknya. Sejak Han kecil dia tidak seutuhnya mendapatkan kasih sayang Papinya, hanya Bunda yang menjadi pelindung.
Keegoisan Papinya, membuat Han kehilangan pelindung, penjaga bahkan salah satu kebahagiaan Han.
"Seandainya aku bisa menukar dengan seluruh harta dunia ini agar Bunda kembali, Alhan memilih hidup susah asalkan bahagia." Tangan Han menepis air matanya, tidak mengizinkan membasahi pipinya.
"Maafkan Papi Nak."
"Tidak masalah, sekarang Han sudah mengikhlaskan. Tetapi, aku harap kamu mengerti hubungan kita ...." Han menggantung ucapan.
Papinya Han bagaikan tersambar petir, ucapan yang keluar dari mulut Han sudah menjadi penjelasan jika Han tidak menganggapnya.
Bagi Alhan, Papinya hanya tamu dirinya dan Papi dari adiknya Tirtan. Keberadaan Papinya tidak lebih orang asing bagi Han.
Bukan Alhan yang memutuskan hubungan, bukan dirinya juga yang membuang hubungan darah antara ayah dan anak.
Papinya sendiri yang beribu kali mengusir Han dan mengatakan jika dirinya bukan anaknya, dan kehadiran Han hanyalah kesalahan terbesar.
"Kita bisa kembali ke hubungan tidak saling mengenal, maafkan Alhan." Han langsung melangkah pergi.
__ADS_1
"Malhan, maafkan Papi Nak." Tangisan menyayat hati terdengar.
Han menuruni tangga, menangis karena mengigat Bundanya yang pastinya sangat sedih jika tahu Han memilih menerima putusnya hubungan.
Langka Han terhenti saat melihat Cherly, langsung mengusap air matanya dan melewati Cherly begitu saja.
"Kenapa kamu tidak membenci Tirta?"
Senyuman Han terlihat, menatap Cherly yang melihat ke arah lain. Mungkin selama bertahun-tahun, Han hanya diam saja dan berpura-pura tidak mengetahui apapun.
Tirta satu-satunya orang yang ada di sisinya, menjaganya dari kejauhan. Saat Bundanya meninggal, Tirta yang mengurus kepulangan jenazah sampai pemakaman Tirta turun langsung mengantikan Han untuk mengantarkan Bundanya.
"Aku berharap suatu hari, Tirta akan menjadi pengkhianat, sehingga aku punya alasan membenci kalian semua." Kepala Han menggeleng, Tirta tidak sekalipun meninggalkan meksipun beribu kali menerima penolakan.
Cherly langsung menatap mata Han, amarah terlihat dari mata Han. Saat menyebut nama Tirta, emosi dan keegoisan Han singkirkan.
"Tirta hanya satu kali menantang aku, saat dia jatuh cinta kepada Kristal. Han mengerti tidak ada yang bisa mengendalikan perasaan, sekalipun pemiliknya." Kening Han berkerut, langsung melangkah pergi meninggalkan Cherly yang terlihat masih memiliki banyak pertanyaan.
Suara tawa terdengar dari kamar Tirta yang tidak tertutup rapat, Han langsung mengintip diikuti oleh Nenda yang menepuk pundak Han.
Terlihat Tirta sedang bermain bersama Lily yang kabur dari kamar neneknya, bukan mencari kamar orang tuanya tetapi kamarnya Tirta.
"Lily, malam ini boleh mencari kak Tirta, tapi malam besok tidak boleh lagi." Tangan Tirta menyentuh hidung.
"Kenapa?"
"Besok malam, kak Tirta ingin membuat dedek bayi. Jika ada kamu bagaimana membuatnya?"
"Jangan khawatir, Lily akan membantu membuatnya. Sekarang Lily sudah bisa membuat kepala, pundak, lutut, kaki, lutut, kaki." Senyuman Lily lebar menunjukkan giginya.
Tirta menatap sinis, tanaman bisa tumbuh saja karena ada benih. Sama proses membuat manusia harus menanam benih.
"Kak Tirta, kenapa tidak seperti ayam saja bertelur? menanam benih terlalu lama, harus di siram pagi dan sore, dipupuk. Prosesnya lama sekali." Bibir Lily manyun.
Ketukan pintu terdengar, Han menarik telinga Tirta. Langsung menggendong Lily untuk kembali ke kamar neneknya.
Nenda hanya tertawa melihat kelucuan Tirta yang sangat dekat dengan anak-anak.
***
follow Ig Vhiaazaira
***
__ADS_1
maaf kemarin tidak up, terserang demam