
Wajah binggung Muti terlihat, menatap dasi yang dia pegang. Han hanya tersenyum sinis menarik tangan Muti untuk duduk di satu pahanya, mengajari Muti cara memasang dasi.
"Oh, begini caranya. Mudah." Muti tersenyum merapikan jas Han.
"Kamu cukup pintar dalam belajar."
"Em maaf, berat badan Muti bertambah kaki kamu juga lagi sakit." Muti mengusap paha Alhan lembut.
Han menghela nafasnya, merasa tersinggung dengan ucapan Muti yang seakan menghina dirinya yang cacat.
"Sabar, pasti ada waktunya sembuh. Aku tidak mengerti perang apa yang sedang terjadi, tapi jangan lupa makan, istirahat, juga minum obat. Paling penting, jangan mempercayai siapapun yang memberikan obat." Muti melihat kaki Han, langsung mengambil minyak yang biasanya Muti gunakan untuk mengobati neneknya.
Alhan hanya diam mendengarkan ocehan Muti soal neneknya yang memiliki penyakit sama seperti Han, dan lebih buruknya lagi setelah sembuh neneknya meninggal karena usianya sudah sembilan puluh tahun.
"Dia meninggal karena apa?"
"Sudah tua, nenek usia 90 tahun, tapi masih cantik." Muti menunjukkan dirinya yang mirip neneknya.
"Bohong, mana ada orang sudah 90 tahun cantik? gila kamu ya." Han gelang-gelang kepala.
"Hanya istilah saja, kecantikan bukan dari wajah, tapi hati. Nanti kak Han juga pasti sembuh, sebelum tua." Suara tawa Mutiara terdengar mengejek Han yang sudah menarik telinganya.
Alhan sangat penasaran dengan kehidupan Muti sebelum datang ke kota, terlihat dari cara bicaranya sangat berbeda dengan Kristal.
"Di desa kamu tinggal bersama siapa? kamu tahu siapa orang tua kamu?"
Mutiara hanya menggelengkan kepalanya, dia hanya hidup bersama neneknya. Setiap Mutiara bertanya soal ayah ibu, pasti jawabannya sudah meninggal namun Muti tidak pernah tahu makam orangtunya.
"Lalu kenapa kamu datang ke kota?"
"Hanya ingin saja, Muti hanya bermodal nekat karena tidak memiliki keluarga, maka tidak ada alasan untuk tetap tinggal." Tatapan Mutiara langsung sedih, menundukkan kepalanya memberikan senyuman terpaksa.
Han meminta Muti duduk di depannya, seharusnya dia lari saat tahu akan menikah bukan tetap tinggal bahkan bekerja sama dengan Kristal.
Mutiara tidak tahu siapa Kristal, dia wanita bodoh yang egois dan keras kepala. Meksipun dulu hubungan keduanya baik, Han belum bisa memaafkan Kristal.
Senyuman Muti terlihat, dia ingin lari bahkan berkali-kali lari, tapi dirinya bukan wanita pintar yang bisa bersembunyi, memukul bahkan Muti tidak bisa mengatakan jika dirinya bukan Kristal.
__ADS_1
"Aku ada dan aku hidup, tapi tidak ada yang mengetahui tentang Muti. Siapa aku? bagaimana masa laluku? sampai saat ini aku menumpang hidup pada Kristal." Air mata Muti menetes, dia tidak bisa bohong jika sejujurnya sedih.
Meksipun Alhan mengatakan Kristal jahat, tapi bagi Muti dia satu-satunya orang yang merangkul saat Muti buta segala-galanya.
"Jika orang bertanya apa kami kembar? Muti tidak tahu." Air mata Mutiara semakin deras membasahi pipinya.
"Seandainya air mata kamu bisa berubah menjadi mutiara, mungkin aku bisa semakin kaya, tapi sayangnya yang keluar air. Berhenti menangis, nanti kamar ini banjir." Han memberikan tisu.
"Jangan benci Kristal, tolong jaga dia."
"Khawatirkan diri kamu sendiri, bisa saja dia meninggalkan kamu demi hidupnya sendiri." Han menatap tajam, memalingkan wajahnya.
Mutiara tidak tahu apa penyebab bencinya Alhan kepada Kristal, jika hanya soal hati tidak mungkin Han bahkan memalingkan wajah.
"Kak Han."
"Kristal, saksi mata kecelakaan Bunda, tapi dia menolak memberikan saksi. Bunda meninggal bukan karena kecelakaan, tapi dibunuh. Kris jahat Bunda dimakamkan tanpa mendapatkan keadilan." Han tersenyum lucu, menepuk dadanya yang terasa sesak.
"Maaf, maaf kak Han. Jika sudah berurusan dengan orang tua pasti sangat sakit, karena kak Han menahan dan menyembunyikan sakitnya." Muti mengusap dada Alhan agar tenang.
Muti mengerti kenapa Alhan memukulnya saat pertama bertemu, mungkin hati Han sakit melihat wajah Muti.
Sakitnya Alhan selama lima tahun bukan hanya trauma kecelakaan, tapi juga rasa takut karena hanya sendiri sehingga membuatnya sulit sembuh.
"Penyakit kak Han ada di kepala dan hati."
"Lalu apa yang harus aku lakukan? aku membenci Kristal, dia sahabat bahkan wanita yang pernah aku cintai, kenapa dia tega? aku membenci Papi juga keluarga barunya." Han berteriak kuat.
Kristal langsung masuk karena mengkhawatirkan Muti, Alhan memejamkan matanya memeluk Mutiara erat.
"Ada apa?" Kris kebingungan langsung mundur ingin keluar.
"Kenapa Kris? kenapa kamu tega sama Bunda? kenapa kamu berpura-pura tidak tahu? apa salah bunda?" Alhan melepaskan Mutiara, langsung melangkah menahan Kristal.
Ari mata Kristal juga menetes, hatinya juga sakit mendengar pertanyaaan Alhan soal Bundanya.
"Aku sangat menyayangi Bunda, karena hanya Bunda yang menyayangi aku." Kris menutup wajahnya menangis sesenggukan berlutut di kaki Han.
__ADS_1
Kristal tidak bisa berbuat apapun, dia ingin membela Bunda, tapi dia tidak bisa melakukannya.
Sebelum Bunda Han menutup mata, dia membisikkan sesuatu kepada Kristal untuk tidak mengungkap kematian.
"Apa yang aku lakukan keinginan Bunda kak, hanya ini yang bisa Bunda dan aku lakukan. Kak Han boleh membenci Kristal, tapi amanah Bunda jauh lebih penting. Kak Han harus hidup, dan membuktikan kepada mereka semua jika kak Han kuat." Kristal bersumpah, jika dirinya ingin melindungi Han sebagai sahabat juga kakak.
Air mata Alhan menetes, langsung cepat ditepis. Tatapan mata Kristal tidak ada kebohongan.
Kepala Alhan menggeleng, dia tidak membutuhkan harta, Han hanya ingin hidup bersama Bundanya.
"Kak, Bunda sudah kritis dan berharap Cherly melepaskan kak Han, karena menyelamatkan Bunda sudah tidak mungkin. Berjuanglah kak Han." Kris menundukkan kepalanya.
"Berdiri." Han menarik tangan Kristal, meminta Kris menatap matanya dalam dan membenarkan jika Cherly yang membunuh Bundanya.
Kristal menganggukkan kepalanya, Kris tidak menutupi apapun lagi dari Alhan bahkan mengatakan seluruh orang yang terlibat.
"Papi kamu juga tahu kak, orang yang sempat menolong Bunda kemungkinan Tirta, aku tidak sempat melihat wajahnya, hanya punggung saja." Kris memohon kepada Alhan untuk menahan emosi, hanya satu jalan mereka menyingkir Cherly dengan melihat kegagalannya.
Mutiara lompat-lompat kesenangan di atas tempat tidur membuat Alhan menatap tajam, Kristal panik jika Han sampai marah.
"Kak Muti turun." Kris menarik tangan Muti.
"Kristal, kak Alhan bisa jalan." Muti berputar-putar memeluk Kristal yang juga melihat ke arah Han.
Alhan menatap kedua kakinya, dia melangkah menahan Kristal tanpa menggunakan tongkat.
Senyuman Kristal terlihat, langsung mendekati Han memberikan tongkatnya.
"Kak Han ini pertama kalinya, akhirnya kaki kak Han ada kemajuan. Apa rasanya sakit?"
"Kaki aku hanya lemah." Han meminta Muti mendekatinya untuk membantu berjalan ke tempat tidur.
***
follow Ig Vhiaazara
Like coment Dan tambah favorit
__ADS_1
vote hadiahnya