MUTIARA & KRISTAL

MUTIARA & KRISTAL
GARA GARA TAS


__ADS_3

Tatapan Gemal Kris masih terlihat meksipun sambil makan, sedangkan Muti menatap tajam Lily yang sudah mengadu kepada Kris


Senyuman Lily terlihat, duduknya tidak ingin jauh dari Tirta, karena kedua kakaknya sedang berperang melalui mata.


"Berhentilah saling tatap, makan dulu." Han mengoyakkan tangan Kris dan Muti.


"Aku tidak mau memaafkan kak Muti, bercandanya tidak lucu." Kris memukul meja membuat minuman tumpah.


"Nanti kak Han yang ganti, kamu boleh pilih tas branded apapun." Han meminta keduanya berhenti bertengkar.


Air mata Kristal langsung menetes, dirinya bukan mempermasalahkan soal membelinya, tapi rasa sayang Kris terhadap barang-barangnya.


Membeli yang baru muda, tapi sudah beda model juga waktunya. Kristal tidak suka ada yang merusak barangnya.


Suasana hati Kris langsung rusak, menghentikan makannya dan langsung melangkah keluar restoran ingin pulang.


"Kristal, kak Han tidak bermaksud menyinggung," Han memanggil Kris yang tetap mengabaikannya.


"Semua ini gara-gara Lily yang suka mengadu." Muti menunjuk wajah Lily yang menundukkan kepalanya.


Han menghentikan Muti yang menyalahkan adiknya, padahal dirinya yang salah tidak berpikir sebelum bertindak.


Tirta hanya bisa mengaruk-garuk kepalanya,. langsung mengejar Kris yang masih tetap menangis.


Tepaksa Tirta meminta Han mengantarkan Lily pulang, dirinya pulang lebih dulu agar sekalian Kris langsung istirahat.


Mobil Tirta melaju lebih dulu, di segala cara sudah Tirta lakukan untuk menghentikan tangisan istrinya, tapi bukan membuat diam. Kris menangis lebih kuat lagi.


"Kris ingin mengambil anak-anak." Teriakkan Kris menggema.


Tirta langsung menuju rumah Han, sampai di sana Kris langsung masuk melihat pohon mangga di depan rumah.


Pohon kesayangan Muti, Kris langsung ke dapur mencari benda tajam untuk merusak pohon. Muti harus merasakan sakitnya kehilangan barang yang disayang.


Kris memotong pohon, Tirta langsung kaget memeluk istrinya dari belakang. Pohon tidak salah apapun, kenapa dia yang harus Kris bunuh?


"Sayang, tidak boleh seperti itu. Kasihan pohonnya." Tirta langsung menggendong Kristal yang sudah mengamuk minta dilepaskan.


Tangisan Kris kembali, terdengar, melihat tas bermerek di isi buah mangga. Kris menumpahkan mangga, menatap tasnya yang kotor, dan banyak goresan.


"Kris, dengarkan aku. Mutiara mungkin tidak tahu jika ingin tas yang memiliki harga mahal, maklum saja." Tirta merangkul istrinya agar duduk di sofa.


Wajah Kris terlihat sangat sedih, mengusap pelan tas kesayangannya yang rusak dan tidak layak digunakan kembali.

__ADS_1


"Kristal ingin mandi, lalu beristirahat." Kris berjalan ke kamarnya.


Kepala Tirta pusing, Mutiara juga bercandanya tidak lucu. Tas yang berharga ratusan juta, dengan santainya di jadikan tempat mangga.


Di dalam kamar Kris menatap tasnya yang sisa sedikit, langsung mengambilnya dan memasukkan ke dalam tempatnya agar bisa dibawa ke apartemen.


Kehamilan Muti membuat Kris menangis, Kris ingin memukul tetapi tidak tega dengan keponakannya.


"Anak sama ibu sama saja, tidak bisa membedakan antara aset dan keset." Kris langsung mengumpat kesal.


Hampir satu jam Kris sibuk berbenah, pintu kamarnya dibuka tanpa ketukan. Sudah tahu siapa pelakunya, tidak lain dan bukan pastinya Muti.


Wanita aneh yang merusak barang-barang branded, dan tidak meminta maaf sama sekali.


"Ini aku ganti tasnya." Muti meletakkan tasnya, memberikan kepada Kris.


Tas langsung dilempar kuat, Kristal meminta Muti keluar dari kamarnya. Dirinya sedang tidak ingin bercanda.


"Aku minta maaf, hargai pemberian orang." Muti langsung mengambil tasnya.


"Tidak lucu sama sekali kak, tas seharga tiga ratus dibandingkan dengan tas ratusan juta. Kak Muti bercanda di waktu yang tidak tepat." Kris menunjuk ke arah pintu, meminta Mutiara keluar.


Ucapan Kris soal harga membuat Muti kebingungan, tas yang dirinya berikan berharga mahal. Muti membayarnya menggunakan kartu dengan harga hampir dua ratus juta.


"Kak Muti gila, tunjukkan kepada Kris sertifikatnya. Setiap brand selalu menyertakan nomor seri, ini tidak ada." Kris membuka tas, tidak ada tanda-tanda tas bermerek.


Kening Muti sudah berkerut, dirinya tidak memiliki sertifikat. Muti juga tidak mengerti soal nomor seri tas.


"Kak Han mengizinkan aku membeli tas seharga satu M, tapi Muti menyukai tas ini."


Kepala Kris geleng-geleng, langsung melangkah keluar meminta Han mengecek keuangannya.


Muti membeli tas seharga ratusan juta, tapi tidak memiliki nomor seri bahkan sertifikat apapun.


"Kak Han lihat tingkah kak Muti, ditipu orang."


"Aku tidak tahu soal tas, memangnya tidak ada sayang?" Han menatap Muti yang berjalan lemas.


Kepalanya menggeleng, memeluk Han dari belakang. Dirinya melihat tas bangus, langsung bertanya harganya dan mengirim uang lalu tasnya dikirim juga, tetapi Muti tidak tahu apapun.


"Cek mutasi rekening kamu?" Han menepuk pelan tangan istrinya yang menahan air mata.


Kris mengambil ponsel Muti, langsung mengecek mutasi. Mata Kris langsung panas, emosinya langsung naik.

__ADS_1


Sejak hamil Muti semakin bodoh, membeli apapun yang disukai tanpa mencari tahu, Kris berharap anak yang lahir pintar seperti Han, bukan kekanakan seperti Muti.


"Berapa ratus juta sayang?" Tirta langsung melihat mutasi.


Tangan Tirta menutup mulutnya menahan tawa, tidak habis pikir dengan Mutiara yang sikapnya sangat aneh.


Memesan tas seharga 250juta, tapi hanya transfer 250ribu. Tas yang dikirimkan juga pastinya tas kW, karena tidak sesuai harga.


"Sayang, lain kali diperhatikan nol nya."


"Muti tidak tahu, karena suka langsung saja." Muti langsung meneteskan air matanya, membuang tas ke sembarang tempat.


Alhan hanya tersenyum, memeluk istrinya yang memang tingkahnya aneh. Membeli apapun yang disuka, tapi tidak dimakan apalagi digunakan.


"Sudah jangan menangis, besok pergi bersama Kris membeli tas bersama. Kamu belajar bersama kristal untuk memahami perbedaan tas." Han mengusap air mata, bicara dengan lembut.


"Kak Muti bodoh, anaknya juga ikut-ikutan." Kris menendang tas.


"Kristal, tidak boleh bicara seperti itu." Han tersenyum melihat Kris yang mengomel.


Tangisan Muti membesar, anaknya dikatai bodoh oleh Kris. Han menakup wajah cantik istrinya yang sangat mengemaskan.


"Kak Han besok Kris beli tas ini ya? tas keluaran baru. Kristal maunya dua?" Kris menunjukkan dua jarinya.


Kepala Han mengangguk sambil tersenyum, Kris langsung lompat-lompat kesenangan. Han menganggap sebagai rasa syukur karena Kris kembali dalam keadaan baik, dan juga untuk kabar bahagia kehamilan Muti.


Tangan Muti menunjukkan angka tiga, dirinya juga menginginkannya. Han hanya mengangguk, apapun yang membuat istrinya bahagia pasti akan Han berikan.


"Muti juga ingin membeli mobil."


"Kamu belum bisa menyetir sayang, belum punya SIM juga. Mobil dari Panda juga belum dipakai." Han mengacak-acak rambut istrinya.


"Muti ingin membeli baju boleh?"


"Boleh, beli saja apa yang kamu inginkan. Sekarang bersihkan badan, lalu istirahat." Han mendaratkan ciuman lembut di kening.


***


follow Ig Vhiaazaira


***


Maafkan TYPE atau ada bacaan tidak sesuai, dan tertukarnya nama.

__ADS_1


Soalnya belum direvisi sampai akhir bulan, aku lagi bom update, dan baru revisi Tanggal satu April.-


__ADS_2