MUTIARA & KRISTAL

MUTIARA & KRISTAL
PUTUS PERSAUDARAAN


__ADS_3

Di dapur Muti sudah sibuk memaksa bersama Dwi yang sesekali tertawa mendengar ocehan Muti yang konyol, tetapi sangat menghibur.


"Kak Dwi maaf sebelumnya." Muti sedikit ragu untuk bertanya.


Senyuman Dwi terlihat, mengizinkan Muti bertanya apapun. Selama pantas dijawab, Dwi akan memberikan jawaban.


Secara jujur Muti mempertanyakan status Dwi yang dia dengar sudah menjanda, dan juga singel parents.


Kepala Dwi geleng-geleng, melihat Muti menundukkan kepalanya merasa tidak enak dengan pertanyaannya


Tidak ada keraguan, Dwi membenarkan jika dirinya sudah menjanda selama lima tahun. Anak dan suaminya meninggal di hari yang sama.


"Maaf ya kak, Muti tidak tahu. Kak Dwi terlihat sangat kuat."


"Sekarang kuat, tapi baru-baru kehilangan aku hancur Muti."


Mutiara memeluk Dwi, mengusap punggungnya karena sudah menjadi wanita mandiri dan kuat setelah kehilangan anggota keluarga.


Menjadi seorang yatim piatu sejak kecil dan setelah menikah ditinggal pergi oleh anggota keluarga secara bersamaan sungguh tidak bisa Dwi sangka.


"Kamu masih beruntung Muti, karena memiliki Kristal. Aku sendirian." Dwi mengigit bibir bawahnya menguatkan hatinya.


Melihat Dwi menahan air mata Muti merasa semakin sedih, Dwi berdiri sendirian tanpa penopang hidup.


Masakan hampir selesai, Dwi membawa ke meja makan yang sebenernya banyak lauk lainnya.


Han merinding melihat goreng belut yang Dwi letakan dihadapannya. Muti juga datang membawa makanan.


"Kak Dwi, ayo makan bersama kita." Muti menarik kursi.


"Tidak terima kasih, aku ke belakang sekarang."


Nenda tersenyum melihat Dwi, meminta duduk bersama. Nenda sudah menganggapnya putri sendiri.


Nenda memuji masakan yang Muti buat, rasanya benar-benar luar biasa.


"Masakan Muti enak, sama seperti Dwi." Nenek mengusap punggung Dwi.


Kristal mengangkat bibir atasnya, merasa risih dengan kehadiran Dwi yang mencari perhatian.

__ADS_1


Makan malam terasa nikmat, dan juga penuh canda dan tawa. Muti juga banyak bicara bersama Dwi.


"Kak Dwi cantik dan baik, Muti bahagia sekali jika kita bisa menjadi keluarga."


"Aku tidak, tidak nyaman ada orang asing di dalam keluarga." Kris menatap Muti yang sudah mengerutkan keningnya.


Bagi Kristal, keluarga dia yang diakui bukan pelayan yang ingin menjadi nyonya besar. Apalagi ingin menjadi bagian keluarga.


"Jaga ucapan kamu Kris." Muti masih bicara pelan.


Ilham menghentikan makannya, Tirta dan Han juga langsung selesai makan. Tatapan Muti dan Kris kali ini tidak bagus, sama seperti saat Della datang dan menyebabkan keributan.


"Kak Muti tidak tahu rasanya memiliki ibu tiri, tanya kak Han. Kita menangis tanpa air mata."


"Itu salah kamu sendiri, pikiran kamu banyak negatifnya."


Mutiara paham, Kristal tidak menyukai yang namanya wanita kedua. Tapi pikiran buruknya membuat suasana tidak nyaman.


Curiga sama orang boleh, tapi jika sudah menjelekkan seseorang tanpa bukti, sudahlain lagi ceritanya. Kris melakukan pencemaran nama baik.


"Aku tidak menyukai Dwi, dan aku katakan secara langsung. Kak Muti ingin apa? membela dia sebagai wanita baik-baik, dan menjodohkannya dengan Panda. Lakukanlah, tapi jangan anggap aku saudara." Kris langsung berdiri, menjatuhkan kursinya.


Senyuman Muti terlihat, menahan tangan Kristal. Sekarang Kris mulai lagi, dan lebih buruk dari sebelumnya.


Siapapun pasangan Papa mereka, Kris dan Muti tidak punya hak untuk menolak ataupun memaksa. Tujuan Muti hanya ingin Panda bahagia.


Dwi langsung berdiri, meminta Muti dan Kris berhenti bertengkar. Dwi juga tidak akan lama menetap.


Kedatangan Dwi hanya untuk menemani Nenda setelah kehilangan suaminya, tidak ada tujuan Dwi untuk menikahi majikannya.


"Nona Kris maafkan Dwi, besok Dwi pergi. Kalian jangan bertengkar." Tangisan Dwi terdengar.


Nenda juga menangis melihat keributan, apalagi Kris dan Muti memutuskan persaudaraan.


"Panda binggung ingin bicara apa? bertemu kalian kebahagiaan panda, tapi melihat kalian bertengkar sangat menyakitkan nak." Air mata juga menetes langsung mendekat Muti dan Kris.


Ilham tidak bisa menegur keduanya, karena bukan anak kecil lagi. Membela atau marah salah satu akan menyakiti satunya. Ilham tidak tahu cara bersikap adil agar tidak ada yang tersakiti.


"Mutiara punya pikiran sendiri soal Dwi, maafkan Panda tidak bisa menerima keinginan kamu. Tanpa membela sedikitpun Kristal, panda tahu diri jika Dwi tidak pantas. Dia masih muda, dan berhak mendapatkan lelaki yang seumuran. Kalian berdua harta Panda, jangan bertengkar."

__ADS_1


"Maafkan Muti, aku selalu berpikir jika semua orang baik, setiap orang berhak bahagia." Air mata Muti menetes.


Dia hanya menilai seseorang dari kebaikan hatinya, dan melihat masa lalunya. Muti senang ada teman seperti Dwi dan merasa Papanya membutuhkannya.


"Sekali lagi Muti minta maaf, dan kita lupakan masalah ini." Muti langsung melangkah pergi.


Kristal melepaskan Papanya, langsung berjalan ke kamarnya. Air mata Kris juga menetes, melihat dirinya dibalik kaca.


Kristal sadar dirinya hanya mempertahankan masa lalu yang menyakitkan, dan betapa menakutkannya ibu tiri.


Han menatap Kris yang langsung mengusap air matanya, Han paham rasa sakit Kris berasal dari Bundanya.


"Kris tidak semua orang sama, Bunda saja yang tidak beruntung. Kamu tidak boleh membenci Cherly. Dia tidak sepenuhnya jahat, hanya saja Bunda tidak bisa terima keberadaannya." Han tidak ingin Kris menyimpan amarah kepada satu orang, tapi meluapkan kepada orang lain.


Tangisan Kristal langsung pecah, meremas kepalanya yang terasa sakit. Bayangkan Bunda Han dipukul oleh Ayahnya tanpa belas kasihan.


Cherly hanya diam saja, dan membiarkan Bunda jatuh pingsan, bahkan Kris yang berniat menolong juga dipukul.


"Kris, dek. Kristal maafkan kak Han. Seharusnya aku tidak pulang telat hari itu." Han memeluk Kris yang ingin memukul kepalanya.


Tirta langsung memeluk Kris, meminta maaf atas mami dan Papinya. Tirta memohon maaf atas nama orangtunya yang menyebabkan rasa sakit yang dalam untuk Kris.


Melihat Kristal teriak, Dwi langsung membawa minum, meminta kakinya diluruskan dan menyendok air hangat untuk Kris.


Semuanya langsung panik melihat kondisi Kristal, tangan Kris diusap agar sadar dan bisa mengendalikan dirinya.


"Dia pernah dipukul Han?" Dwi melihat kekhawatiran Han dan Tirta.


"Iya, Papa membawa istri muda dan Kris sedang main ke rumah. Han tidak tahu jelasnya, Kris sudah jatuh pingsan dalam pelukan Bunda."


Mata Kris terbuka, Tirta langsung menggendong untuk masuk ke kamar dan dipasang infus.


Mata Kris melihat semua orang mengkhawatirkannya, kecuali Mutiara yang tidak terlihat keberadaannya.


"Kak Muti membenci Kris." Tangan Kristal langsung memeluk Tirta.


"Tidak Kris, Muti hanya menenangkan dirinya untuk melawan ego."


Suara dentuman di dalam kamar Muti terdengar, Han langsung berlari bersama Dwi masuk ke dalam kamar melihat Muti yang tengkurap.

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2