MUTIARA & KRISTAL

MUTIARA & KRISTAL
PERSIAPAN LAMARAN


__ADS_3

Nenda menatap Ilham yang tidak membenarkan ucapan Mutiara, jika mengangumi Dwi memang benar, tetapi untuk menikah sungguh jauh dari bayangannya.


Ilham tahu diri, Dwi berhak mendapatkan pasangan yang seumuran. Melihat Muti dan Kris bahagia, juga sudah lebih dari cukup.


"Lebih baik bahas pernikahan Kris dan Tirta." Pandangan Ilham melihat Tirta yang terlihat tersenyum.


"Panda, menunggu Kris dan Tirta masih lama. Ada nenek lampir yang harus mereka taklukan, untuk bisa berbicara dengannya harus melewati lautan, gunung, lembah, binatang buas, dan harus menembus langit ke tujuh." Muti menatap Han meminta pembelaan.


Alhan hanya mengangguk saja, daripada urusan panjang jika Muti sampai mengamuk dan tidak ingin berbicara.


Mendengar ocehan Muti membuat Tirta tertawa, karena dia mempunyai rencana tersendiri untuk menaklukkan Maminya.


"Usia bukan penghalang, masalah cinta urusan belakang paling penting nyaman."


"Cinta juga penting Tirta, karena tanpa cinta kita tidak bisa nyaman." Kris menatap tajam, tidak membenarkan ucapan kekasihnya.


Nenek meminta semuanya berhenti berdebat soal Dwi, karena keputusan ada di tangan Ilham dan Dwi langsung.


Tidak boleh ada pemaksaan, karena keduanya sama-sama sudah dewasa dan paham baik dan buruknya rumah tangga.


"Dwi memiliki pengalaman dalam pernikahan, berbeda dengan Ilham yang belum pernah merasakan pernikahan." Nenek tersenyum melihat putranya yang mengerutkan keningnya.


Muti hanya duduk diam, dia hanya tidak ingin banyak mengundur waktu. Harapannya hanya ingin Panda mendapatkan kebahagiaannya.


"Dokter Ilham menyukai Dwi?" Han melihat mertuanya yang kaget.


"Jawab saja Panda, kita keluarga harus kerja sama dalam hal ini." Mutiara menggenggam tangan suaminya, memeluk erat.


Kristal mengambil ponselnya, melakukan panggilan dengan seseorang. Kris berbasa-basi menanyakan perjalanan Dwi yang sudah tiba di panti.


Suara anak-anak terdengar ramai menyambut kedatangan Dwi yang tanpa pemberitahuan.


[Dwi, aku tidak ingin banyak basa-basi. Aku tahu kamu mengagumi Panda, lebih baik jujur saja.]


[Aku rasa masalahnya sudah selesai Kris.]


Kristal tertawa kecil, masalah akan selesai setelah ada kejelasan. Dwi pulang memiliki dua alasan, dia tidak ingin memperkeruh keluarga bahagia Kris bersama Muti dan Papanya. Dan alasan keduanya ingin menghilangkan perasaannya.


[Katakan jika dugaan aku salah, kamu tidak mungkin menyukai Panda. Aku tahu kamu orang yang jujur.] Kris bicara dengan nada dingin, meminta Muti diam.


[Kamu sebenernya ingin mendengar jawaban apa?] Dwi menghela nafasnya, Kris terlalu suka memojokkan.


Kristal langsung ke intinya, dia ingin tahu alasan Dwi menyukai Papanya. Dan ingin tahu pandangan dari sisi Dwi.

__ADS_1


[Baiklah, aku menyukai Papa kamu. Jujur bukan untuk memiliki, sejak lama aku mengangumi sikap, akhlak, dan ketaatannya.] Dwi berharap tidak ada yang mendengar ucapannya.


[Kamu siap menjadi istrinya Panda?]


[Jangan bicara sembarangan Kris, saya tahu diri.]


Kristal mematikan ponsel secara sepihak, menatap Papanya yang masih diam. Muti dan Nenda sudah tersenyum lebar Paling bahagia se-dunia.


"Panda, keputusan ada di Panda. Jika iya kita langsung melamar, tapi jika Panda menolak. Anggap saja hanya Kristal yang mendengar pembicaraan tadi." Kris berjalan mendekati Papanya, menggenggam erat tangannya.


Nenda menundukkan kepalanya, langsung duduk lagi. Nenda sudah terbiasa dengan penolakan Ilham untuk berumah tangga.


Muti juga langsung duduk, merangkul neneknya yang terlihat kecewa dan pasrah.


"Panda, takut tidak bisa membuat bahagia. Dan memiliki kalian sudah lebih dari cukup."


"Kenapa memutuskan akhir tanpa tahu jalannya, Panda tahu dari mana tidak bahagia? jika belum mencoba, tidak tahu hasilnya."


Han sepemikiran dengan Kristal, solusinya hanya satu tidak mendengar ucapan siapapun, tapi mengikuti isi hati.


"Han tidak paham soal perasaannya, tapi rasa nyaman salah satu alasan mencintai. Aku dan Muti juga tidak tahu akhir akan seperti ini, tapi jujur Han bahagia dipertemukan dengan cara terbaik dan hasil yang baik." Senyuman Han terlihat, meminta Ilham memikirkan dirinya sendiri.


"Kamu masih belum bisa melupakan Della?" Nenda menatap Ilham.


"Tirta yes Panda, kak Dwi cantik, baik dan wanita yang Soleha."


"Minta dirobek mulut kamu Tirta, beraninya memuji wanita lain." Kris berteriak kuat.


"Iya maaf Ayang, aku hanya mendukung Panda agar kita juga cepat menikah." Senyuman Tirta terlihat, dia harus segera mendapatkan restu Maminya.


Senyuman Ilham terlihat, menatap Bundanya yang menunggu hari dirinya ingin menikah. Dan Ilham memutuskan Bundanya yang mengambil tindakan.


"Ilham, kamu serius?"


"Iya Bunda, pilihlah wanita terbaik bagi Bunda."


Nenda langsung sujud syukur, Mutiara langsung lompat kesenangan karena akhirnya dia memiliki Manda.


Meskipun terlambat memiliki sosok ibu, setidaknya Muti bisa membanggakan dirinya yang akan segera punya Ibu.


"Terima kasih Panda, Muti bahagia sekali. Impian setiap wanita menjadi ibu, juga memiliki ibu." Muti langsung berlari memeluk Kristal yang juga tersenyum bahagia dengan tawa kakaknya.


"Hati-hati saja jika kita mendapatkan ibu tiri yang kejam." Kris menakuti Muti.

__ADS_1


"Tidak mungkin, Manda orang baik." Muti tersenyum langsung memeluk Tirta dan Alhan yang juga bahagia.


***


Persiapan lamaran sudah dilakukan, Muti dan Kris tinggal bersama neneknya. Keduanya sibuk mengurus rencana lamaran.


Han harus berpisah dengan istrinya sementara waktu, karena pekerjaan dan hanya bisa komunikasi lewat panggilan video.


"Terima kasih sayang, kehadiran kalian menambah kebahagiaan Nenek."


"Kita juga bahagia nenek, dan semoga saja lamaran kita di terima dan melihat panda menikah." Muti memeluk neneknya.


Kris menghela nafasnya, Panda langsung ke panti bersama Han dan Tirta. Mommy dan Daddy-nya juga ikut untuk menyaksikan lamaran.


"Kak Dwi tahu tidak kita ingin datang." Kris menatap Muti yang tersenyum, menganggukkan kepalanya.


Muti dan Papanya sudah datang ke panti, saat Kris dan neneknya berbelanja untuk parsel lamaran.


Papanya bicara langsung dengan Dwi, menyampaikan niat baiknya dan disambut baik juga.


Senyuman kebahagiaan terlihat, akhirnya harapan mereka untuk kebahagian Panda sudah ada di depan mata.


"Bagaimana tanggapan Dwi?"


"Dia malu-malu, tapi menganggukkan kepalanya. Muti gemes sekali melihatnya, kenapa Muti dulu tidak dilamar?"


"Kamu ingin dilamar? telat Muti." Kris tertawa lebar diikuti oleh Mutiara dan Nenda.


Seluruh persiapan sudah masuk ke dalam mobil, Muti dan Kris sudah bermake-up dan menyempatkan mendadani neneknya.


Keluarga besar Ilham menggunakan baju yang sama, dan terlihat sekali bahagianya.


"Cantiknya dua cucu neneknya."


"Sebentar lagi Panda menikah, dan diikuti oleh Kris. Lalu kita hamil bersamaan pasti lucu sekali. Nama anak kita Mawar Melati dan Anggrek." Muti tersenyum melihat Kris.


"Kenapa satunya Anggrek?"


"Karena kita berdua kembar jadinya Mawar Melati, sedangkan Anggrek adiknya kita." Bayangan Muti sudah sangat jauh.


"Bagus juga, tapi kasihan Anggrek sudah menjadi Tante sejak kecil." Kris mengerutkan keningnya meminta Muti bersiap-siap.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2