
Matahari bersinar dengan cerahnya, Muti sudah sibuk di dapur mempersiapkan sarapan untuk Alhan. Suara langkah Han terdengar karena dia berjalan menggunakan tongkat.
Mutiara meminta seluruh maid keluar dari rumah, dan belum boleh masuk sebelum Alhan pergi bekerja.
Mendengar perintah akhirnya satu-persatu melangkah keluar, Muti menarik kursi membantu Han untuk duduk.
Tatapan Alhan tajam melihat makanan di atas meja, melihat tangan Muti yang menyiapkan makanan.
Suara high heels terdengar, Alhan tidak menoleh sama sekali. Hanya Mutiara yang melihat ke arah Kristal yang langsung duduk di depan Han.
Mutiara juga duduk bersebelahan dengan Kris, menatap ke arah Han yang sudah mulai makan dengan tenang.
Kristal juga langsung makan tanpa bicara apapun, Muti juga melakukan hal yang sama. Suara sendok terbanting terdengar.
Muti menatap mata Han yang sangat menakutkan, langsung menatap Kristal yang masih duduk, makan dengan tenang.
Sampai makanan selesai, baru Kris mengangkat kepalanya. Mutiara tidak berani menghabiskan makanannya.
"Siapa yang aku nikahi?" Han mengambil pisau daging dan menancapkan ke atas piring.
Mutiara langsung berdiri, melihat piring pecah menyingkirkan dari hadapan Han agar tidak melukai tangannya.
"Hati-hati tuan, nanti urat nadi putus bisa mati." Tangan Muti mengambil tisu, menyingkirkan tangan Alhan.
Kristal menatap Alhan, meminta maaf atas kebingungan yang terjadi selama pernikahan mereka.
"Han, dari awal keadaan sudah tidak baik dan aku harap kamu bisa mendengar penjelasan kami." Kris tidak menunggu jawaban Han, langsung menjelaskan awal masalah mereka.
Pertemuan Muti dengan Kristal juga membuat mereka binggung, karena ini pertama kalinya mereka bertemu. Hal lebih buruknya, pertemuan mereka setelah Muti menikah dengan Han.
Kristal terpaksa mengambil tindakan, karena saudaranya berasal dari desa dan tidak mengerti tentang kehidupan kota.
Mutiara belajar cepat untuk beradaptasi dengan banyaknya perbedaan, apalagi Muti harus berpenampilan seperti Kristal.
"Kami tidak bermaksud berbohong, tapi hanya ini yang bisa kami lakukan. Han aku tahu kamu membenci aku, tapi tolong mengertilah posisi kami." Mata Kris menatap Mutiara yang hanya diam.
Alhan menganggukkan kepalanya, dia sudah dianggap bodoh oleh Kristal hanya karena kekurangan dirinya.
"Tuan Han sejak kapan tahu soal kami? tidak ada keterkejutan sama sekali. Tuan tidak bodoh sampai hari ini hanya diam, tanpa melakukan kekerasan." Muti mengucapkan terima kasih karena Alhan selama ini berpura-pura tidak mengetahuinya.
__ADS_1
Tatapan Han fokus kepada Mutiara, langsung melihat ke arah Kristal yang masih duduk santai.
"Apa rencana kalian berdua?"
"Aku ingin menguasai perusahaan keluarga Iskandar, dan siap membantu kamu untuk menguasai perusahaan JK group." Senyuman sinis Kris terlihat, dia siap ada di belakang Alhan.
Kening Han berkerut, dia tidak akan pernah mempercayai dua saudara yang sudah bersembunyi di dalam rumahnya.
"Boleh juga, dengan satu syarat. Salah satu dari kalian menjadi budak." Han menatap Kris dan Muti.
"Tidak bisa Han, kami tidak ingin kamu kendalikan." Kepala Kristal menggeleng menolak keinginan Alhan.
"Siapa yang aku nikahi, dia yang harus menjadi budak. Kamu jangan main-main Kristal, jika ingin dengan mudah kamu dilenyapkan, dan dia bisa menjadi Kristal sesuai keinginanku." Han tidak membiarkan Kristal membantahnya.
Han memperingati Kristal untuk mengikuti segala perintah, jika tidak bukan Muti yang akan Alhan singkirkan, tetapi Kristal.
"Kenapa kalian berdua lebih mirip musuh? tidak bisakah kita bekerja sama."
"Bekerja dengan kalian berdua, tidak ada untungnya untuk aku." Han menatap tajam Muti.
Bibir Mutiara langsung monyong, mendengar suara seseorang masuk membuat Alhan, Kristal dan Mutiara terkejut.
"Hai, ibu mertua. Silahkan duduk." Kristal melihat ke arah Cherly dengan senyuman manisnya.
Han langsung melihat ke arah Mutiara yang sudah tidak terlihat, Han menghela nafasnya lega karena tidak ada yang tahu.
Cherly langsung duduk dengan senyuman sinis, menatap Han dan Kristal yang sarapan berdua.
"Kalian berdua, kenapa bekas makan ada tiga?"
"Apa itu penting? aku ingin makan berdua lima piring bukan urusan kamu." Nada bicara Alhan sangat sinis, tidak memperdulikan apa yang Cherly bicarakan.
Senyuman licik terlihat, sebuah berkas di serahkan kepada Alhan yang mengerutkan keningnya.
"Baca ini Han, kamu harus berhati-hati. Pria cacat seperti kamu bisa dengan mudah kami singkirkan." Cherly mengerutkan keningnya, ingin melihat ke bawah meja.
Alhan menepuk meja kuat, meminta Cherly mempersingkat pembicaraan karena dirinya ingin ke kantor.
Tanpa banyak basa-basi Cherly langsung melangkah pergi, dan Alhan meminta seluruh penjaga masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Alhan melempar seluruh penjaga di depan rumah menggunakan gelas yang jatuh berhamburan pecah, bahkan piring di meja menghantam banyak orang.
"Jika kalian ingin bekerja, maka bekerjalah dengan benar. Jika satu kali lagi, ada yang masuk rumah ini tanpa izin maka kalian aku habisi." Han meminta semua orang keluar, sebelum kemarahan Han semakin besar.
Mutiara yang ada di bawah meja hanya bisa meringis kesakitan, dia melihat banyaknya gelas piring kaca berhamburan.
"Aduh." Muti mengusap kepalanya yang terkena meja.
Tangan Han menahan kepala Muti agar keluar secara perlahan, ada darah di tangan Muti karena pecahan yang mengenainya.
"Bersihkan darah itu, sebelum aku tusuk tangan kamu menggunakan pisau." Han meminta Kristal mengambil tisu.
Alhan memukul map di atas meja, sekarang Tirta sudah memiliki saham Ayahnya dan sudah pasti Han dan Tirta bisa seimbang untuk menjadi pimpinan.
"Apa yang harus kita lakukan? perang sekarang sudah di mulai." Kris melempar berkas di atas meja.
Alhan menatap Mutiara, memintanya Kris dan Muti berhati-hati jangan sampai ada yang tahu jika keduanya kembar.
"Jadi kamu setuju untuk kita menyembunyikan ini." Kris tersenyum melihat Mutiara yang juga tersenyum lega.
"Kalian berdua jangan senang dulu, aku hanya tidak ingin mengambil resiko. Sebelum Cherly mundur." Alhan meminta Muti mengikuti dirinya ke kamar.
"Kenapa aku harus ke kamar? istri kamu Kristal." Muti berteriak melihat Kris sudah berlari ke kamar.
"Kamu betugas mengurus aku, dan Kristal mengurus perusahaan. Mulai hari ini berhenti berpenampilan seperti Kris yang seksi, tapi jangan juga gunakan baju kampungan kamu." Han mengeluarkan kartu menyerahkan kepada Muti untuk keperluannya.
"Aku punya uang, kata Kristal kita memiliki kartu masing-masing." Muti menolak kartu yang Han berikan.
Alhan menepuk jidat, Mutiara satu-satunya perempuan yang menolak di beri kartu.
Senyuman Muti terlihat, mengucapkan terima kasih karena Alhan tidak mengusirnya dan menyakiti.
"Minum obat dulu, baru aku akan mengobati kaki kamu."
"Kamu tidak berencana membunuh aku?" Han langsung duduk mengambil obat dari tangan Muti.
Senyuman Han terlihat menatap Muti yang sibuk menyiapkan pakaian bekerja, bahkan membereskan tempat tidur.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazara