MUTIARA & KRISTAL

MUTIARA & KRISTAL
BUNGA LILY ***


__ADS_3

Sesampainya di rumah sakit sudah penuh orang, kecelakaan beruntun menyebabkan rumah sakit penuh.


"Kak Muti, Kristal di sini." Kris melambaikan tangan, tapi langsung meringis kesakitan.


Mutiara langsung berlari, menangis melihat adiknya terluka. Kepala Kris dibalut, begitupun dengan tangannya.


"Kamu baik-baik saja, Nak." Panda memeluk erat, mengusap kepala putrinya.


"Iya Panda, Kris hanya luka ringan. Tetapi mobil kita hancur." Kris memonyongkan bibirnya.


"Mobil tidak penting Kris, di mana Tirta?" Han mendekat, mencari keberadaan Tirta.


Tangan Kris menunjuk ke arah depannya, memperlihatkan Tirta yang sedang menggendong anak kecil yang sedang menangis.


Salah satu orang tua anak kecil harus melakukan perawatan intensif, Tirta menjaga anaknya sampai ada keluarga yang datang.


"Tirta keluar dari mobil bukan meyelamatkan Kris, tapi lari ke jalan menangkap anak kecil." Kris menatap sinis, kesal karena Tirta lebih menyayangi anak kecil.


"Artinya Tirta pria yang sangat penyayang Kris." Panda mengusap kepala Kristal.


Alhan mendekati Tirta, melihat ada beberapa luka gores, dan tidak diobati.


"Wajah tampan kamu terluka." Han mengusap darah di wajah Tirta.


Senyuman Tirta terlihat, langsung duduk sesuai perintah Han. Ilham membawa obat, menyerahkan kepada Han yang membersihkan luka di kaki.


"Bagaimana kamu bisa kecelakaan?"


"Mobil bermuatan besar lepas kendali, karena supirnya mabuk. Tirta masih sempat banting setir sampai tidak terbawa mobil, jika tidak pasti innalilahi." Senyuman Tirta terlihat, meminta maaf karena membuat khawatir.


Muti duduk di samping Tirta, menggendong anak kecil yang baru berusia sekitar tiga tahun. Kecelakaan maut yang terjadi menyebabkan banyak pengedar yang terluka, bahkan ada yang meninggal.


Dokter keluar, mencari keluarga korban yang meninggal. Tatapan Tirta melihat anak kecil dalam pelukan Muti. Ibunya baru saja meninggal dalam kecelakaan.


"Di mana orang tuanya Tirta?"


"Baru meninggal kak Han." Muti melotot kesal.


Alhan menghembuskan nafasnya, Alhan mencari keberadaan keluarga korban karena mereka harus pulang.


Seorang suster mengambil anak kecil yang tidur dalam pelukan Muti, menunggu keluarga korban datang menjemput.


"Sayang, kamu pulang bersama anak-anak. Alhan hati-hati di jalan." Ilham langsung membantu korban yang membutuhkan operasi.


Alhan membawa Kristal, Muti pulang. Tirta akan pulang bersama Dwi membawa mobil lain, karena Tirta harus memberikan keterangan untuk saksi.


Mobil Tirta hancur bagian belakang, tangan Tirta juga biru karena menahan tubuh Kristal agar tidak terpental.


"Kamu sudah diperiksa Tirta?" Dwi mengangkat baju Tirta yang sobek.


"Hanya luka kecil Manda." Tirta menyerahkan laporan kepolisian, dan akan segera mengurus mobilnya.


"Ayo kita pulang." Tirta menatap Dwi yang memanggil dokter.


Lengan Tirta biru, dan mengalami benturan. Ada sobekan juga yang seharusnya dijahit, dan periksa detail.


Dokter meminta Tirta mengikutinya, memeriksa Tirta sesuai yang Dwi inginkan.

__ADS_1


Dugaan Dwi benar, lengan Tirta mengalami memar di dalamnya. Ada keretakan tulang siku yang langsung diobati sebelum terjadi gak yang tidak diinginkan.


"Terima kasih Manda, Tirta menganggap remeh luka kecil."


"Lain kali jangan remehkan luka kecil, jika terjadi sesuatu bisa terlambat. Ayo kita pulang." Dwi berjalan lebih dulu.


Langkah Dwi terhenti, melihat anak kecil menangis sesenggukan memanggil Mama. Tirta juga tidak tega melihatnya.


"Apa keluarganya belum datang?" tatapan Dwi fokus melihat pertengkaran wanita tua dan suaminya.


Perlahan Dwi mendekat, menyapa lembut dengan sopan. Menanyakan keluarga anak yang sedang menangis.


"Dia cucu saya, tapi kami tidak bisa membesarkannya. Ayahnya sudah lama meninggal sejak dalam kandungan, dan sekarang ibunya." Nenek mengusap air matanya, binggung harus melakukan apa?


Membawa pulang jenazah putrinya saja tidak ada biaya, menuntut orang yang menyebabkan kecelakaan juga membutuhkan uang.


Dwi menawarkan diri untuk membayar kepulangan jenazah, dan biaya rumah sakit putri dan cucunya.


"Masalahnya tidak sampai di sana, kami tidak punya biaya untuk menghidupi. Makan saja susah, jika kamu berminat besarkan cucuku." Air mata menetes dari wajah keriput.


Kepala Dwi tertunduk, dia harus memberitahu suaminya terlebih dahulu. Jika mendapatkan izin barulah Dwi berani mengatakan iya.


"Dwi, kenapa belum pulang?" Ilham melepaskan sarung tangannya.


"Kak, sini." Dwi menarik tangan suaminya mendengarkan keluhan kakek nenek.


Ilham menatap ke arah ruangan anak kecil, melihat Tirta yang sudah bercanda bersama agar menghentikan tangisan.


Senyuman Dwi terlihat, langsung memeluk suaminya dan cepat juga melepaskan, karena ada di rumah sakit.


Setelah mendapatkan izin, Dwi langsung masuk ruangan menggendong anak kecil yang matanya masih sembab.


Tirta sedikit binggung, karena Dwi memutuskan untuk membawa pulang. Dan menunggu persetujuan suaminya untuk melakukan adopsi.


"Manda, kenapa membawanya pulang?"


"Dia yatim piatu, dan nenek kakeknya tidak bisa membesarkannya."


Mobil melaju meninggalkan rumah sakit, Tirta melihat anak kecil yang duduk di belakang meraba kaca mobil.


"Mama ... Ma." Suara memanggil terdengar, Dwi memintanya duduk di depan agar tenang.


"Pelan-pelan saja membawa mobilnya Manda, dia takut mobil."


Kepala Dwi mengangguk, menjalankan mobil pelan hingga sampai di rumah. Di depan rumah, Kris, Muti, dan Han menunggu dengan wajah cemas.


"Kenapa lama sekali pulangnya?" Kris berteriak.


"Mutiara, bantu Manda membawa adik kamu." Dwi membuka pintu mobil.


Muti langsung menarik pintu, menggendong anak kecil yang sedang tidur.


Kris kebingungan melihat Mamanya, membawa anak kecil yang ada di rumah sakit. Bukan hanya Kris yang kebingungan, Muti juga merasakan hal yang sama.


"Ada apa ini Manda?"


"Nanti Panda yang akan menjelaskan, masuk dulu sayang." Dwi membawakan barang-barang yang sempat dia beli untuk susu, baju dan cemilan.

__ADS_1


Bukan hal yang sulit bagi Dwi menjaga anak kecil, karena sudah terbiasa mengurus anak panti.


"Siapa nama kamu?" Han melihat anak kecil yang baru bangun.


"Lily, lilililili." Senyuman terlihat menyapa Han.


"Bunga Lily sudah lahir duluan sebelum Anggrek." Kris mencubit Lily sampai menangis mengusap tangannya.


"Kristal." Han menatap marah.


Dwi memberikan susu, tapi Lily menolak langsung mengambil air putih dan meminumnya.


"Anak hemat, menolak susu karena air putih sehat." Suara tawa Kristal terdengar langsung berlari ke arah kulkas, mengambil sayur.


Suara tawa Muti terdengar, melihat Kris meminta Lily memakan daun yang belum dimasak. Han mengambil sayur, memukulkan ke arah Kris dan Muti.


"Kak Muti dan Kris nakal ya, dek Lily." Tirta mengusap kepala.


Tatapan Lily melihat ke arah aquarium, menunjukkan sambil memanggil ikan dan tertawa.


"Dia suka ikan." Muti langsung mengambil ikan di kulkas menyerahkan kepada Lily.


"Ini ikan." Kris meminta Lily memakannya.


"Ikan belenang, Lily tidak suka mam ikan." Ikan dilempar ke arah Muti.


"Kamu ingin makan apa?" Senyuman Han terlihat gemes.


"Nasi, ecap, num juga."


"Dia hanya makan nasi, menggunakan kecap dan air putih. Begitulah makanan sehari-harinya." Tirta menatap sedih, diikuti oleh Kris, Muti dan Han yang juga merasakan kasihan.


***


Jangan lupa like coment Dan tambah favorit


vote hadiahnya


follow Ig Vhiaazaira


***


VISUAL, menurut halu author.


***



MALHAN JACKSON



MUTIARA KEMBARA



TIRTA ADIPATI

__ADS_1



KRISTAL KEMBARA


__ADS_2