
Ibu, sebuah nama yang ditunggu oleh Muti seumur hidupnya untuk datang menemuinya. Seseorang yang melahirkan dan dimiliki oleh semua orang kecuali Mutiara.
Dia ingin tahu wajah wanita yang melahirkannya, secantik apa ibunya dan siapa namanya? sungguh Muti ingin melihat dan mendengar meksipun hanya satu kali dalam hidupnya.
Melihat tatapan mata Kristal, Muti tidak memaksa adiknya untuk mejelaskan jika memang tidak nyaman dan tidak pantas mereka bahas.
Muti sangat mengerti perasaan Kristal yang sebenarnya mengalami kesulitan yang sama dengan dirinya, hanya saja mer yang ada di tingkatan yang berbeda.
"Bagaimana rasanya hidup tanpa ayah dan ibu kak?" Kris melihat Mutiara yang terkejut dengan pertanyaannya.
Muti tersenyum, hidup tanpa orangtua sejujurnya sangat sulit bagi Mutiara. Dia merasa berbeda dari orang lain, saat anak-anak seumuran mendapatkan dukungan orang tua, berbeda dengan Muti yang hanya bisa menundukkan kepalanya.
Dirinya ingin memiliki ibu, memiliki ayah. Makan bersama, jalan-jalan dan bercerita banyak hal.
"Semuanya sudah terlambat ya Kris, aku sekarang sudah besar. Seseorang yang ingin aku panggil ibu tidak pernah ada." Muti tersenyum, meminta Kristal melupakan pertanyaan.
Muti keluar kamar mandi, melanjutkan tidurnya sambil menunggu Kris yang mengganti baju.
Kristal duduk di meja rias, mengeringkan rambutnya sambil melihat Muti dari balik kaca.
"Kak."
Muti mengangkat kepalanya, melihat kristal yang tidur di sampingnya. Menarik selimut menghela nafasnya berkali-kali.
Kristal tidak memiliki banyak ingatan dengan ibu kandungnya, mereka hanya bersama sampai usia Kris tujuh tahun.
Secara tiba-tiba Mamanya mengantar Kris sekolah dan berpesan untuk tidak pernah mengingat, dan juga mencari keberadaannya.
Hari itu menjadi terakhir sekali Kristal melihat Mamanya, Kris menangis saat tahu mamanya benar-benar pergi meninggalkannya.
Setiap hari dirinya terus menunggu, tapi mamanya tidak pernah datang sampai akhirnya Daddy-nya membawa istri baru.
Kris mengikuti keinginan Mamanya untuk melupakan, karena dia tidak memiliki alasan untuk mengingat. Mungkin Mamanya juga sudah memiliki keluarga baru, dan sudah bahagia.
Muti melihat Kris mengambil sebuah bingkai foto, menunjukkan foto ibu kandung mereka.
"Apapun alasan Mama pergi seharusnya tidak meninggalkan." Kris menatap sedih, alasannya tidak pernah meninggalkan rumah, karena berharap suatu hari mamanya akan datang.
"Mama cantik mirip kita." Muti tersenyum, meminta Kristal tidak membenci, terkadang orang dewasa memiliki alasan sehingga harus mengambil pilihan.
"Aku tidak bisa memaafkannya, gara-gara dia aku tinggal bersama kuntilanak." Kris meminta Muti berhenti membahas soal Mama mereka.
__ADS_1
Tidak ada untungnya membahas orang yang sudah memutuskan untuk pergi, meskipun memiliki alasan.
Kristal memutuskan untuk tidur, sedangkan Mutiara masih menatap foto Mamanya. Mimpi terindah Muti bisa melihat sosok Mama, meskipun hanya dibalik foto.
"Mama, kenapa kalian membuang Muti? salah Muti apa Ma?" Mutiara keluar dari kamarnya duduk di ruang tamu.
Air mata Mutiara menetes, meletakkan foto Mamanya sambil berbicara sendiri. Muti tidak menyangka jika secara sekejam hidupnya penuh tanda tanya.
"Ma, nenek sudah meninggal. Muti berpikir ini akan menjadi waktu yang tepat untuk memulai dunia baru." Mutiara tidak habis pikir dunia baru yang dia masukin, sesuatu yang sulit dia terima.
Sejak kecil Muti selalu bertanya soal ayah ibunya, saat ini semuanya terjawab jika Daddy-nya sudah menikah lagi, sedangkan Mamanya sudah pergi tidak tahu ke mana arahnya.
Saat ini Muti hidup di dalam nama adiknya, mereka berbagi tempat, kesulitan juga kebahagiaan.
Mutiara memiliki satu pertanyaan lagi yang tidak tahu ingin dia pertanyakan kepada siapa, kenapa dirinya diasingkan jauh dari kehidupan keluarganya? apa alasan dirinya dianggap mati?
Suara tangisan Muti terdengar oleh Han yang ternyata tidak bisa tidur, Han melihat di ruang tamu istrinya sedang menangis melihat sebuah bingkai foto.
"Kamu masih mencari keberadaan Mama kamu?" Han melihat foto yang langsung Muti tutup.
"Tidak, aku hanya merindukan Mama." Muti melihat kaki Han, dirinya sudah berjanji akan mengobati kaki, karena sudah meminjam kursi roda.
Mutiara mengambil kaki Han, tangan Alhan menahan Muti yang bisa membuatnya semakin lumpuh.
"Beberapa hari ini masih sering sakit tidak?" Muti tersenyum memijit pelan, dirinya ahli dalam pijit memijit.
Alhan sesekali menahan tangan Muti, lama-lama menikmati dan terlelap tidur di sofa. Muti masih memijit Han sama seperti dia mengurus neneknya sebelum menutup mata.
Sampai matahari terbit, Alhan dan Mutiara masih tidur di sofa. Maid yang melihat tidak berani mendekat, karena akan membuat Alhan marah.
Kristal juga binggung tidak melihat kakaknya, Kris juga binggung apa yang harus dirinya lakukan, ikut Han ke kantor atau tidur di rumah.
Suara benturan terdengar, Kris langsung membuka pintu melihat sekitar. Alhan yang sedang tidur juga terbangun, Mutiara juga juga terbangun melihat Tirta datang ke rumah.
"Kak, tolong Tirta."
Alhan mengusap wajahnya yang masih mengantuk, dan melihat Tirta sedang mabuk.
Saat melihat Muti, Tirta langsung memeluknya. Mutiara kaget melayangkan tendangan kuat ke arah perut membuat Tirta terpental, sambil berguling-guling.
Han yang melihat menahan tawa, Tirta langsung menangis. Mutiara berlari ke dapur mengambil air satu ember dan menyiram kepala Tirta.
__ADS_1
"Sadar Tirta." Kaki Muti dipeluk oleh Tirta, langsung dipukul menggunakan ember sampai pingsan.
Alhan yang melihat langsung terkejut dan takut melihat kejamnya Kristal, Han tidak mengeluarkan suara hanya duduk sambil tertunduk.
"Tirta kenapa? seharusnya disiram menggunakan air sadar karena dia sedang bermimpi." Muti kebingungan mendekati Han.
"Dia mabuk bukan tidur." Han meminta Muti menjaga jarak, dan membuang ember yang bisa membuat gegar otak.
Maid berusaha menyadarkan Tirta, kepalanya juga benjol karena dipukul oleh Muti.
"Kak Han, kepala Tirta sakit."
"Sakit, dan butuh obat." Muti meminta maid mengambil obat sakit kepala.
Alhan menahan tangan Muti, memintanya berhenti becanda. Tirta mabuk, bukan sakit. Saat ini dia tidak sadar atas apa yang dia lakukan.
"Panggil penjaga untuk mengantar dia ke rumahnya." Han menatap Tirta yang menangis sambil mengusap kepalanya.
Baju Tirta basah, kepalanya benjol. Saat sadar pasti sangat lucu karena pulang mabuk dalam keadaan memalukan.
"Kenapa dia mabuk?" Muti menatap wajah Han yang binggung.
"Dia sama seperti kamu, selalu lari ke minuman." Han menatap Muti kesal.
"Lari ke jalanan, bukan ke minuman." Mutiara memperbaiki ucapan Alhan yang dia pikir tidak tepat.
Han meminta Muti segera mandi dan ikut dirinya ke kantor, membiarkan Tirta tidur di kamar tamu, dan jangan dipedulikan.
Muti ingin berjalan ke kamarnya, tapi Han menarik ke dalam kamarnya pindah ke kamarnya.
"Tunggu, kenapa aku harus ke sana?"
"Karena aku suami kamu." Han menatap tajam, meminta Muti pindah kamar.
***
follow Ig Vhiaazara
jangan lupa like coment Dan tambah favorit
vote hadiahnya ya ditunggu
__ADS_1