MUTIARA & KRISTAL

MUTIARA & KRISTAL
PANDA


__ADS_3

Wajah Muti dan Kris mendadak murung, Tirta masih menahan tawa melihat si kembar yang gila harta.


Apapun yang bersangkutan dengan uang pasti sangat bahagia, heboh dan tidak ingat dunia. Tetapi jika gagal wajahnya sedih memelas.


"Kamu mencari gara-gara Tirta." Han langsung pamitan untuk membayar administrasi.


"Han, aku sudah mengurus semuanya." Dokter Ilham menepuk pundak Alhan.


Ilham memberikan tabletnya soal pilihan dokter untuk Kristal, dia berhak memilih dokter terbaik untuk menjaganya.


"Kenapa wajah kalian berdua murung?"


"Kita hanya sedih." Kris menatap tablet.


"Kenapa dokter Ilham namanya Hartono? kita berharap Kembara. Kenapa? astaga. Membuat kesal saja." Muti berguling di sofa sambil merengek.


Tatapan Ilham melihat Han, sedangkan Tirta masih menahan tawa. Kepala Han menggeleng keduanya memang sulit dipahami jika bersangkutan soal uang.


"Kris, Muti boleh aku bicara sebentar?"


Mutiara dan Kristal menganggukkan kepalanya, keduanya masih memikirkan soal Ilham Kembara, seandainya mereka memang putrinya pasti sangat luar biasa.


Ilham memperkenalkan dirinya terlebih dahulu, sekaligus menyapa Nathalie dan Iskandar sekaligus meminta maaf dan mengucapkan terima kasih.


Iskandar sudah mendengar semuanya dari Han, dan tidak bisa menyalahkan Ilham atas apa yang terjadi. Sekarang hal yang paling penting fokus untuk masa depan, bukan menyalahkan masa lalu.


"Aku tidak ingin memaksa, tapi setidaknya sebagai ayah biologis aku memilki harapan bisa menjadikan, Muti dan Kris sebagai putriku." Ilham meminta pendapat Iskandar, dan juga menerima penolakan kedua putrinya.


"Caranya bagaimana? bukannya secara nyata sudah sah." Muti mengerutkan keningnya.


"Muti lebih baik kamu diam."


"Dokter Ilham bertanya, makanya Muti menjawab." Tatapan Muti langsung tajam melihat adiknya.


Kristal menghela nafasnya, Ilham sedang meminta izin untuk meletakkan status Kristal dan Mutiara sebagai anak kandungnya bukan hanya sekedar yang diketahui, tapi tercatat secara hukum.


"Apa kita akan berganti nama?" Muti melihat Ilham yang tersenyum.


"Jika diizinkan, aku ingin meletakkan nama keluarga Kembara di belakang nama kalian."


"Oh ... apa?" Muti dan Kristal berteriak secara bersamaan, langsung kaget.


Semua orang menutup telinga, suara Muti yang sangat besar ditambah lagi dengan suara Kristal yang menggelegar.


"Nama dokter Ilham Kembara?" Kris memastikan pendengarannya.

__ADS_1


Kepala Ilham mengangguk, menatap binggung Muti dan Kris yang sudah tersenyum lebar.


"Mutiara kembara dan Kristal Kembara, oh my God, bukannya ini bagus sekali." Muti tersenyum lebar melihat Kristal yang sudah kesenangan.


Alhan hanya geleng-geleng kepala, Muti dan Kristal memang bersaudara yang tidak tahu malu.


"Aku ingin nama Kembara ada kepada kalian." Ilham menatap keduanya yang terlihat kesenangan.


"Kita bersedia, Dokter pemilik rumah sakit ini, berarti kita putrinya pemilik rumah sakit." Kris menutup wajahnya malu-malu.


"Oh, jadi kalian berdua terlihat bahagia karena ini?"


"Tidak, kita hanya bahagia, akhirnya status kita jelas dengan nama keluarga. Kita tidak akan berpisah lagi Kristal." Muti langsung berjalan mendekati Kris memeluknya erat.


"Kris juga bahagia sekali kak, akhirnya kita kaya." Kristal dan Muti tertawa diikuti oleh Han dan Tirta yang tidak kuat lagi menahan tawa melihat kekonyolan Muti Kris.


"Apa sekarang kita punya sugar Daddy?" Muti menatap Ilham yang terkejut.


Alhan langsung batuk, melotot melihat istrinya yang membicarakan sugar Daddy tanpa tahu artinya.


Han mendekati Muti, menatap matanya yang bisa tahu soal Sugar Daddy, Kris menggeleng kepalanya tidak pernah mengajari Muti.


"Kamu tahu artinya apa?"


"Tahu, pria kaya yang memiliki banyak uang, Muti menyukai Sugar Daddy, dan juga Sugar suami." Bibir Muti monyong ingin mencium Han.


"Kurang apa kamu Muti? Sugar Daddy artinya lelaki tua yang menjalin hubungan dengan wanita muda." Han melotot meminta istrinya berhenti menyebut sugar Daddy.


Kristal hanya geleng-geleng kepala, meminta maaf kepada Ilham. Mereka berdua hanya bercanda soal status sosial.


"Jujur Kris bahagia, jika dokter mengakui kita."


"Terima kasih Kristal, Papa juga bahagia." Senyuman Ilham terlihat.


"Jika berkenan, bisa tidak yang menjadi dokter pribadi Kris Pamud saja?"


Tatapan Ilham kaget, air matanya langsung jatuh saat mendengar Kris menginginkan dirinya menjadi dokter pribadi.


"Kak Han, boleh Kris tinggal di rumah kak Han. Kristal nyaman di sana, dan sudah terbiasa. Sesekali Kris akan menginap di rumah Mommy and Daddy."


"Kris, rumah aku juga rumah kamu. Kamu bisa datang kapan pun, dan ingat rumah kak Han tempat Kristal pulang." Han tersenyum melihat Kris yang memberikan bentuk love.


Bibir Muti langsung monyong, Han menatap istrinya yang mulai iri dan cemburu sekedar mencari alasan untuk bertengkar.


"Rumah kita, ada Han, Mutiara, juga Kristal. Pintu rumah juga terbuka untuk Tirta, Tante Nathalie, om Iskandar juga dokter Ilham." Han menjelaskan lebih detail agar bibir istrinya tidak manyun.

__ADS_1


"Kasihan, mami Cherly dilarang datang." Muti mentertawakan Tirta.


"Dia selalu masuk tanpa permisi, sama seperti Mommy." Kris tersenyum melihat Mommynya.


Alhan meminta semuanya bersiap untuk pulang, mobil sudah menunggu di bawah. Pembicaraan soal ganti nama Han yang akan mengurusnya.


"Panda, apa akan mengantar kita pulang?" Muti menatap dokter Ilham yang kebingungan.


Kristal menolak duduk di kursi roda, langsung merangkul Muti untuk berjalan keluar. Melihat tanggapan Panda terlihat sekali polosnya.


"Panda sudah dua puluh lima tahun menjomblo, kita tidak punya Manda. Sekarang kita punya Panda muda." Kris tersenyum menatap kakaknya yang menganggukkan kepalanya.


Han dan Ilham saling pandang, keduanya tidak mengerti apa yang Muti dan Kris bicarakan. Sebentar akur, tidak lama lagi berkelahi, tertawa, menangis seperti anak kecil.


Tirta membuka pintu mobil, Kris dan Muti sudah saling dorong karena rebutan duduk di dekat jendela.


"Masuk, itu jendela ada dua. Satu di sana, satunya di sini." Han menaikan nada bicaranya mengusap dadanya.


"Muti ingin sebelah sini, karena nanti bisa lihat orang jualan makanan, jika di sana hanya lihat jalan." Kris langsung menangis memukul Kristal.


"Kris duduk depan bersama Tirta." Han membukakan pintu.


"Tidak mau, Kris mau tempat duduknya luas."


"Duduk di bagasi kalian berdua, atau sekalian mau aku sewakan motor?" Han melotot kesal.


Kristal langsung masuk, duduk cemberut memalingkan wajahnya. Muti juga langsung masuk sambil tersenyum manis.


"Hati-hati di jalan Tirta, Han. Nanti Om akan menghubungi kalian lagi." Ilham tersenyum melihat keduanya putrinya sudah berdekatan.


"Dah Panda, besok pagi sarapan di rumah kita, soalnya masakan kak Muti enak." Kris melambaikan tangannya.


Ilham melihat ke belakangnya, tidak ada Panda. Ilham binggung siapa yang sebenarnya dibicarakan Kristal.


"By Panda, kita pulang duluan. By by by." Muti menunjuk Ilham yang masih binggung.


Tirta yang melihat mengacak-acak rambutnya, mobil tidak bisa jalan melihat tingkah jahil Muti dan Kristal yang menjahili Papanya


"Panda itu artinya Papa Om." Tirta tersenyum langsung pamit pulang.


Ilham tersenyum melihat kedua putrinya tertawa lepas, menutup kaca mobil yang sudah berjalan.


"Sejak kapan Papa berubah menjadi Panda?" Han memejamkan matanya pusing.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2