MUTIARA & KRISTAL

MUTIARA & KRISTAL
HANTU


__ADS_3

Pintu terbuka sangat keras, Alhan masuk seorang diri karena Kristal masuk lewat pintu lain.


Han melihat Muti yang melihat banyaknya barang haram yang dikirim ke rumah, bahkan ada beberapa bukti penyeludupan atas nama Han.


Apri yang mendapatkan kabar jika Alhan di jebak seseorang, dan ingin menghacurkan karir Han.


"Siapa yang mengirim ini?" Apri melihat ke arah penjaga.


Alhan memukul kuat para bodyguard yang menjaga area rumah, tapi bisa kecolongan hanya karena jasa pengiriman.


Muti menunjukkan sesuatu kepada Apri, dia sempat memotret Plat nomor mobil yang mengantar barang, meminta kepolisian segera menyelidiki.


"Apa ini tidak mencemarkan nama baik Han?"


"Kenapa bisa mencemarkan? kita di sini korban." Muti bicara dengan matanya yang melotot.


"Kris, jika ada barang sebanyak ini berarti mereka sangat berniat untuk mencelakai Han dan membalikkan fakta." Apri meminta pendapat Han yang masih melihat banyak barang aneh.


"Apa hukum di negara ini selucu itu?" Muti membentak Apri dengan ceramah Muti yang panjang lebar.


Alhan tidak punya kesempatan untuk bicara, suara Muti yang besar dan marah-marah membuat Apri dan Alhan tertunduk.


Kristal yang mendengar dari dalam rumah hanya bisa menahan tawa, ucapan Muti tidak ada yang salah sehingga membuat Han dan Apri terdiam seribu bahasa.


Mutiara langsung masuk ke dalam rumah, setelah menendang kuat bungkusan kotak besar membuat kakinya sakit.


Alhan meminta Apri segera mengirim seseorang untuk menindaklanjuti, langsung melangkah masuk karena Mutiara sedang ngambek.


"Kak Muti, kenapa marah-marah seperti ibu-ibu komplek?" Kris tersenyum melihat Muti ngos-ngosan.


"Aku capek Kris, sudah lelah mengumpulkan bukti tetapi Apri menganggap bukti belum cukup, takutnya Han dimanfaatkan." Muti cemberut langsung duduk di sofa.


Alhan langsung masuk, meminta Kristal membantunya berjalan melihat Mutiara yang ngambek.


"Kamu tahu darimana memotret semuanya?"


Muti menunjuk ke arah tv, Alhan dan Kristal saling pandang melihat Mutiara yang sendang belajar cara membedakan penjahat.


"Mutiara, apa yang kamu lihat di internet tidak seperti fakta." Han bicara sangat pelan mejelaskan kepada Muti.


Alhan memiliki banyak bodyguard di luar rumahnya, tidak sembarang orang yang bisa memasuki kawasan.


Apa yang barusan terjadi semuanya hanyalah rekayasa, Han sedang menyelidiki seseorang yang mengkhianatinya dan mendukung Cherly.

__ADS_1


"Kamu seharusnya membiarkan saja."


"Maafkan aku, seperti aku mengacau pekerjaan kalian yang bekerja sampai larut malam. Maafkan kebodohan aku yang berniat membantu, tapi kenyataannya aku menganggu." Muti tersenyum tidak akan keluar kamar sekalipun ada gempa, tsunami, gunung meletus, kebakaran.


"Kak Muti, kita yang minta maaf karena tidak memberitahu dari awal jika ada hal yang sedang diselidiki." Kris tahu Mutiara sedang sensi dan emosinya tidak terkontrol.


"Maaf, aku tidak akan mengganggu lagi." Muti langsung melangkah ke kamar mengunci pintu langsung menangis.


Alhan menatap Kristal dengan wajah binggung, Kristal meminta Han beristirahat.


"Apa dia marah?" Han langsung duduk di sofa.


"Aku akan bicara dengan Muti." Kris langsung melangkah ke kamar mengetuk pintu meminta Muti membukanya.


Han mengambil ponselnya, mengecek rekaman CCTV yang sudah Han perbarui. Bahkan kamar Muti juga ada CCTV.


Senyuman Han terlihat menatap aktivitas Muti seharian yang pasti membuatnya bosan, hanya tiduran, memainkan ponselnya, menonton televisi, membaca buku, membuka resep masak dan belajar membuat obat herbal.


Tidak ada teman bicara dari pagi sampai malam, dan betapa semangatnya Muti saat dirinya bisa membantu.


"Astaga, kenapa bertambah lagi beban untuk mengurus ini anak?" Han menghela nafasnya melihat Kristal turun dengan hasil nihil.


Kristal meminta maaf atas nama kakaknya, kemungkinan suasana hati Muti sedang tidak baik.


"Kenapa bertanya seperti itu? aku tidak peduli masa lalu kami, tapi aku percaya kami saudara." Kris sejujurnya takut jika ada yang mengetahui soal Mutiara.


Jika suatu hari kebenaran terungkap soal mereka berdua, orang yang paling disakiti pasti Mutiara. Kris takut jika suatu hari Muti pergi meninggalkannya.


"Ketakutan kamu belum tentu benar Kris, anggap saja Muti dibawa nenek kalian atau dia diculik." Han meminta Kristal tidak memikirkan kemungkinan buruk.


Kristal meneteskan air matanya, meminta Han mengigat kembali penyebab ibunya melarikan diri, bukan hanya soal perselingkuhan.


"Kak Han juga pasti mendengar, jika dulu Mama mengatakan jika Kris bertahan hidup dari bantuan saudaranya yang Kris rampas kehidupannya." Kristal merasakan dadanya sesak.


Alhan menepuk pelan pundak Kristal, Han mengerti ketakutan Kristal yang mungkin membuat Muti kecewa.


"Apa yang sudah Kristal ambil kak? kenapa Muti dianggap mati? jika bisa Kristal ingin mengembalikannya agar kami bisa terus bersama." Suara tangisan Kristal semakin besar.


Alhan mengaruk kepala, Mutiara sedang ngambek di kamar, ditambah lagi Kristal yang masih menangis.


"Bisa tidak kalian berdua jangan menyusahkan aku, masalah aku saja masih banyak." Han melangkah pergi meninggalkan Kristal yang menahan tawa.


Apri berlari masuk ke kamar Han, menunjukkan foto orang yang berkhianat kemungkinan sudah melarikan diri.

__ADS_1


"Pri, kamu mengetahui sesuatu soal rumah ini."


"Selama tuan tidak mengizinkan saya tahu, maka saya akan menutup mata dan telinga." Apri meminta Han untuk fokus sembuh dan bertahan untuk melawan Cherly.


"Bagaimana soal pabrik? apa benar dia berkhianat?"


Apri menganggukkan kepalanya, menjelaskan kepada Alhan jika pabrik dalam keadaan baik.


"Pri, aku merasa selama ini menyulitkan diri sendiri, aku bisa hidup dengan baik, tapi memilih untuk mencari musuh." Han menatap sahabat sekaligus rekan kerjanya.


Apri menundukkan kepalanya, sejahat apapun Alhan. Apri percaya jika sahabatnya orang baik, dan akan kembali seperti saat-saat mereka bisa tertawa bersama.


"Han, aku percaya mereka memberikan sisi positif."


"Aku meminta bantuan jaga dia saat aku jauh, dan tidak bisa menjaganya. Aku harus melindungi keduanya." Han meminta Apri kembali.


Senyuman Apri terlihat, setelah lima tahun akhirnya bisa bicara pelan bersama Han yang sebenarnya sangat lembut.


Suara Kristal merengek di depan pintu terdengar, Alhan hanya tertawa melihat Mutiara yang menangis di kamar sambil mengomel.


"Buka pintu Muti, dan temui aku di kamar." Han menutup mulutnya menahan tawa saat melihat ekspresi wajah Muti kaget melihat kamera.


"Hitungan ketiga tidak datang, Kristal aku usir." Alhan sekuat tenaga menahan tawanya.


Mutiara langsung berlari membuka pintu, Kristal yang menempel di pintu langsung terjungkal.


Muti berteriak melangkahi Kristal, berlari kencang ketakutan karena di kamarnya ada hantu yang bisa bicara.


Kristal kebingungan melihat Muti teriak histeris, sedangkan Alhan sudah tertawa lepas merasa lucu.


"Han memasang kamera!" Kris menatap tajam kamera sambil melotot.


"Kak Han matikan kameranya, dasar pria mesum. Kak Han ingin melihat kami tidak menggunakan busana? Kris berteriak marah.


"Apa hantunya suka melihat tanpa busana? nama gaulnya hantu cabul." Muti mengigat jika sudah mandi dia hanya menggunakan pakaian dalam.


***


follow Ig Vhiaazara


jangan lupa like coment Dan tambah favorit


vote hadiahnya ya

__ADS_1


__ADS_2