MUTIARA & KRISTAL

MUTIARA & KRISTAL
ADIK BARU


__ADS_3

Suasana hening terasa di dalam villa, jantung Dwi berdegup kencang. Merasa cemas jika hasilnya tidak sesuai harapannya.


"Ayo Manda, apa perlu Muti duluan." Muti meminta Kris menjelaskan cara menggunakannya.


Kris menghela nafasnya, heran melihat Muti yang tidak jelas, tanda hamil tidak ada, tetapi memaksa untuk tes.


"Ayo Manda, Kristal bantu." Kris menemani Mamanya untuk melakukan tes.


Mutiara juga sibuk sendiri, melakukan tes untuk mengetahui hasil dirinya. Kris hanya diam saja memperhatikan tingkah laku Kakaknya.


"Kris, tidak ada hasilnya." Muti menunjukkan tes pack.


"Berarti coba lagi." Kris membuang hasil tes pack Muti.


Tidak lama Muti keluar lagi dari kamar mandi, menunjukkan hasil tes yang masih sama saja tidak menunjukkan perubahan apapun.


"Hasilnya sama Kris." Muti melempar hasil tes pack.


"Kak Muti bodoh, maksudnya Kris coba lagi membuatnya, bukan coba tes lagi." Suara Kristal langsung meninggi, memarahi Muti yang membuang banyak tes pack, tanpa hasil.


Mutiara marah, menyalahkan Kristal yang bicaranya tidak jelas, Muti tidak mengerti arti coba lagi.


"Apa yang kalian berdua ributkan?" Nenda menatap dua cucunya yang sudah dewasa, tetapi masih sering bertengkar.


Tatapan Kristal tajam, mata Muti tidak kalah tajam. Sama-sama tidak ingin mengalah, dan masih saling menyalahkan.


Dwi keluar dari kamar mandi, menunjukkan hasil tesnya kepada Kristal, Muti langsung berlari mendekat dan membandingkan hasilnya.


Senyuman Kris terlihat, langsung memeluk lembut Manda. Memberikan selamat karena Lily akan segera memiliki adik.


Nenda langsung menangis haru, Muti juga memeluk erat Neneknya yang masih belum percaya jika Putranya diberikan kepercayaan untuk menjadi ayah kembali.


"Selamat Manda, jaga baik-baik adik kecil." Kristal mengusap lembut perut Mamanya.


"Terima kasih Kristal, Manda masih deg-degan." Dwi menyentuh perutnya, masih tidak percaya akan menjadi ibu lagi.


Pelukan Muti juga sangat lembut, mengusap punggung Mamanya yang menangis terharu. Mendapatkan cinta dari suami, juga kedua Putrinya.


"Apa hasilnya?" Panda melihat para wanita menangis haru.

__ADS_1


"Ini hasilnya Panda." Kris menunjukkan hasil tes pack, mengusap air matanya.


"Alhamdulillah, ya Allah." Panda langsung memeluk lembut istrinya yang masih menangis.


Tirta dan Han yang mendengar juga mengucapkan syukur, menyambut bahagia untuk kehamilan Dwi.


Berharap bayi dan ibu selamat sampai lahiran, menambah kebahagiaan keluarga Kembara yang sudah memiliki tiga putri.


Kepala Lily tertunduk, duduk jauh dari yang lainnya. Semua orang tertawa bahagia, tersenyum lebar menyambut kehadiran adiknya


Tatapan Tirta terarah kepada Lily, bisa melihat kesedihan di mata si kecil yang tersenyum terpaksa. Tirta tahu, Lily memiliki kenangan buruk soal keluarga, setelah kehilangan kedua orangtuanya. Dia tidak diinginkan oleh nenek kakeknya, sehingga diadopsi.


"Lily sayang, kenapa duduk sendiri?" Tirta meminta Lily mendekat.


Senyuman masih terlihat, langsung berlari ke arah Tirta. Duduk dipangkuan, sambil melihat mata Tirta.


"Sekarang Lily harus pergi ke mana?" Suara kecil terdengar sayup-sayup, tapi semua orang bisa mendengar dan membuat terkejut.


"Lily kenapa?" tangan Tirta mengusap kepala, meminta si kecil menjelaskan apa yang sedang dirasakan.


Lily menyadari jika dia bukan anak kandung, jika Manda memiliki anak lagi pasti dirinya tidak akan dibutuhkan, dan disayang lagi.


Hati Tirta terasa sesak mendengar anak kecil seperti Lily sudah mengerti arti panti asuhan, tempat menampung anak-anak yang tidak memiliki orang tua.


"Siapa yang mengatakannya?"


"Nenek tidak sayang Lily, dan katanya Lily anak pembawa sial. Papa sama Mama pergi ke surga, tapi Lily harus pergi ke panti, karena tidak ada yang menginginkan anak seperti Lily." Air mata Lily menetes, langsung memeluk Tirta yang mengusap kepalanya.


Ucapan orang dewasa masih membekas di kepala dan hati, meksipun dia tidak menjawab cacian orang dewasa, namun selalu diingat dan menjadi hal yang menakutkan.


"Kita semua sayang Lily, ada kak Han, kak Tirta, kakak Muti dan Kris, Nenda, Panda dan Manda. Semuanya sangat mencintai Lily, meksipun akan ada anggota baru, rasa cinta tidak pernah berubah. Masih adil untuk Lily." Han mengusap kepala Lily yang menatap mata Han.


"Lily tidak akan dibuang ke panti?"


"Kenapa harus dibuang? Lily anggota keluarga, tidak ada yang boleh pergi. Lily tidak harus pergi ke panti, karena ada Mama dan Papa di sini." Dwi langsung menangis, mengusap wajah Putrinya yang masih menangis.


"Manda sayang Lily?"


Kepala Dwi mengangguk, dia sangat menyayangi ketiga Putrinya. Bahkan bagi Dwi,. anak-anak menjadi harta paling berharga dalam hidupnya.

__ADS_1


Rasa sayang Dwi berasal dari hatinya, bukan hanya rasa kasihan. Sekali cinta, selamanya akan tetap cinta.


Ilham langsung mengambil putrinya, memeluk erat si kecil yang takut tidak disayang lagi. Kris dan Muti juga memeluk Papanya.


"Kak Kris juga iri sama Lily, karena masih selalu digendong." Kris memonyongkan bibirnya.


"Kak Kris sudah besar." Lily mengusap air matanya.


"Makanya, kak Kris menghilangkan rasa iri, karena sudah besar dan harus mengalah kepada adik-adik." Kristal memeluk erat Papanya.


"Kak Muti paling tua, tapi tidak pernah mengalah." Tawa Lily terdengar, melihat Muti yang menarik rambut Kris, karena menghalanginya untuk memeluk Papanya.


Melihat ketiga putrinya tertawa, Ilham meneteskan air matanya. Rasa cinta dan sayangnya sangat besar, dan selalu berusaha bersikap adil, meskipun kedua Putrinya sudah menikah.


Bagi Ilham, ketiga putrinya tetap anak kecil. Menjadi alasan dirinya selalu ingin pulang, agar bisa bertemu dengan keluarganya.


"Papa sangat menyayangi, Mutiara, Kristal, Lily, Mama dan adik kecil kalian. Sampai akhir hidup Papa, kalian harta yang paling ingin Papa jaga." Ilham mencium kening ketiga Putrinya yang sangat dicintainya.


Melihat suasana sedih, Dwi menangis sesenggukan. Perasaannya sangat melow, membuatnya ingin menangis sepuasnya.


"Manda ingin makan apa? Muti yang masak hari ini." Mutiara langsung berjalan ke dapur, membuka kulkas yang kosong.


Han menarik tangan istrinya, mereka harus segera kembali ke kota. Banyak pekerjaan yang harus Han selesaikan, tidak bisa berlama-lama di villa.


"Kenapa harus buru-buru? Mutiara masih ingin di villa."


"Tidak bisa sayang, jadwal pulang hari ini." Han mengikuti langkah Muti yang langsung menatap tajam.


Mutiara tidak peduli soal pekerjaan Han, bahkan masih memiliki jadwal untuk bersenang-senang. Muti juga masih ingin tinggal di rumah orangtuanya, karena Kris tetap memaksa pindah ke apartemen.


"Muti jangan menyiksa aku, kamu penting, pekerjaan juga penting. Kamu ingin beli tas 1M tidak, makanya kak Han harus bekerja." Senyuman Han tertahan, mencoba mengalihkan perhatian istrinya.


Kepala Muti langsung mengangguk, membatalkan niatnya untuk menambah liburan, demi bisa membeli tas yang memiliki harga fantastis.


***


follow Ig Vhiaazaira


***

__ADS_1


besok baru update normal


__ADS_2