MUTIARA & KRISTAL

MUTIARA & KRISTAL
IKHSAN ARTAMA KEMBARA


__ADS_3

Mata Lily terbuka, melihat sekeliling kamarnya yang sepi. Lily tidak mendengar suara keributan sama sekali, biasanya kedua kakaknya sudah heboh.


Pandangan Lily berkeliling melihat isi kamarnya yang sudah lama dirinya tinggalkan, Lily tidak menyangka sudah banyak boneka kesukaannya.


"Manda, Lily kangen." Tangan Lily membuka pintu kamarnya, langsung berjalan menuju dapur.


Suara langkah kaki berlarian terdengar, dari dapur sampai membuka semua kamar. Mengecek kolam renang, taman, balkon atas.


Lily tidak menemukan satu orangpun, bahkan maid juga tidak ada di rumah. Penjaga juga tidak terlihat keberadaannya.


Kepala Lily tertunduk, langsung masuk kembali. Duduk di depan televisi menunggu ada orang yang datang.


Satu, dua jam Lily tidak melihat ada yang datang. Air matanya sudah menetes membasahi wajahnya, hatinya sedih sekali ditinggalkan sendirian.


"Manda, Panda, kak Mutiara, kak Kristal, jemput Lily." Tangisan terdengar, Lily memeluk tubuh kecilnya meratapi nasibnya.


Tidak ada tempat dirinya berlindung, Lily sangat takut ditinggalkan dan tidak memiliki keluarga.


Suara maid datang terdengar, baru pulang dari belanja. Melihat Lily menangis langsung terkejut, memeluknya lembut.


Melihat yang datang bukan yang diharapkan membuat hati Lily semakin sedih, langsung berjalan menuju kamarnya. Menutup pintu kuat, langsung menangis lagi di atas ranjang.


"Kenapa belum pulang?" Lily gigit bantal guling.


"Nona kecil, ini tuan telepon." Maid menepuk pundak Lily.


Tangisan Lily terdengar sampai membuatnya batuk, memarahi Papanya yang tidak ada di rumah saat dirinya bangun.


Melihat Lily menangis sesenggukan, matanya merah sampai bengkak, hidungnya juga memerah karena banyak menangis.


Muti dan Kris hanya mentertawakan adiknya, menunjukkan adik baru yang sudah lahir. Ejekan Muti membuat tangisan Lily semakin besar.


Mendengar tangisan Lily membuat Dwi khawatir, meminta suaminya menjemput Lily. Suara Lily tidak terdengar lagi, langsung membuang handphone menarik selimut melanjutkan menangis.


"Semuanya tidak sayang Lily lagi." Suara Lily terputus-putus, mengamuk kepada maid meminta keluar dari kamarnya.


Jarak rumah sakit dan rumah tidak terlalu jauh, Ilham langsung bergegas masuk mencari keberadaan Putrinya.


"Di mana Lily? saat dia bangun kalian di mana?"


"Maaf Pak, kita sedang belanja. Sampai rumah sudah bangun." Jawab maid sambil menundukkan kepalanya.


Ilham langsung mengucapkan istighfar, membuka pintu kamar Putrinya yang sudah mengamuk seisi kamar.

__ADS_1


"Sayang, Putrinya Papa." Ilham langsung menggendong Lily yang menangis histeris tidak ingin berhenti.


Terdengar suara Lily mengoceh, jika dirinya sudah tidak di sayang. Semua orang pergi meninggalkannya sendiri, padahal dirinya menahan rindu.


Lily berharap saat bangun, ada Mamanya yang memeluk. Sayangnya harapan Lily tidak menjadi kenyataan, dia bangun dalam keadaaan rumah kosong.


Dia menunggu sangat lama, tidak ada yang mencarinya ataupun merindukannya.


"Sayang, Panda sayang Lily."


"Tidak, Panda, Manda, kakak, semuanya tidak sayang Lily lagi." Wajah Lily berpaling tidak ingin melihat wajah Papanya.


"Maafkan Panda membuat kecewa, dua bulan tidak bertemu kami rindu berat Ly. Manda juga sering menangis merindukan kamu." Perlahan Ilham menjelaskan kondisi Mamanya yang kesakitan.


Kedua Kakaknya membawa ke rumah sakit, Manda dan adik Lily masih dirawat. Seharusnya Lily mandi dan bersiap menemui adiknya.


Panggilan dari Mutiara masuk, tersenyum melihat Lily yang matanya bengkak. Muti merasa sedih melihat Lily sendirian di rumah, meminta maaf karena pergi dadakan.


Kondisi Manda sudah memburuk, sehingga tidak punya banyak waktu. Kristal memeluk Muti, meminta Lily ke rumah sakit untuk bertemu adik lelakinya.


"Lily mau mandi, terus ketemu adiknya Lily." Tangisan masih terdengar, langsung berjalan ke kamar mandi.


Ilham menahan tawanya, menunggu Lily di luar. Satu maid membantu Lily bersiap-siap, dan menyiapkan sarapan.


"Makan dalam mobil saja, Panda suap." Satu tangan Panda mengangkat Lily, satu tangannya membawa bekal makan.


Maid tersenyum, membantu Ilham membawa makanan ke mobil sambil tersenyum manis. Tatapan Lily sinis, tidak suka ada yang mendekati Papanya.


"Panda, bawa sendiri saja. Seharusnya kakak beres-beres rumah, bukan membawakan makanan ke mobil. Lily juga bisa." Tangan Lily meminta makanannya.


Senyuman Panda terlihat, langsung mengambil makanan dan langsung masuk mobil, meminta supir jalan ke rumah sakit.


Sepanjang perjalanan Lily makan disuap, sampai makanan habis membuat Ilham bahagia.


"Anak kesayangan Panda cepat sekali besarnya." Ilham mencium kening Lily.


Sampai di rumah sakit, Ilhan masih menggendong Lily. Membawanya untuk melihat kondisi Mama dan adiknya.


"Anakku, Manda rindu sekali. Dwi langsung menangis, memeluk Putrinya. Mencium bekali-kali.


Dwi sangat merindukan Putri kecilnya yang liburan sangat lama, saat pulang dirinya harus masuk rumah sakit.


"Manda, tadi siapa yang ada di rumah kita?"

__ADS_1


"Emh ... kakak Shena dan kakak Irna. Kamu bangun melihat mereka?"


"Tidak, Lily bangun sendirian. Sampai berjam-jam tidak ada orang. Kakak yang rambutnya lurus, senyum-senyum lihat Panda. Dia menyukai Panda." Lily menatap sinis.


Senyuman Dwi terlihat, langsung memeluk putrinya. Meminta Lily menjaga ucapan, tidak baik membicarakan hal buruk tentang orang lain yang belum terbukti kebenarannya.


Ilham setuju dengan ucapan istrinya, Shena hanya membantu menyiapkan bekal Lily, jika tersenyum hal yang wajar, tidak mungkin harus cemberut.


"Lily tidak bohong, tatapan matanya sama seperti kak Muti dan kak Han, begitupun dengan Kak Kris. Mereka saling menyayangi, dan kakak itu melihat dengan senyuman malu-malu." Lily meminta pembelaan dari kedua kakaknya.


Kening Mutiara berkerut, meminta Lily diam. Sekarang mereka sedang bahagia menyambut adik laki-laki satu-satunya, tidak perlu membicarakan orang lain.


Jari telunjuk Kris ada di bibirnya, meminta Lily untuk tidak membantah lagi. Tidak ada yang akan percaya, jika tanpa bukti.


Soal mendapatkan bukti menjadi tugas Kristal,. tidak ada yang bisa mengalahkan dirinya dalam menemukan bibit perusak rumah tangga orang.


"Siapa nama adiknya Lily?" Panda menggendong Putranya.


"Ikshan Kembara." Muti menunjuk tangannya.


"Indra Bekti Kembara." Kristal mengangkat tangan sambil tertawa.


Tatapan melihat ke arah Lily yang sedang berpikir keras, dirinya memikirkan nama untuk adik laki-laki.


"Yanto Christianto Wibisono, siapa dia?" tawa Lily pecah, dirinya menyebut sembarang.


Mata Muti dan Kris tajam, adiknya harus berinisial I di depannya. Lily mencoba berpikir lagi, langsung mengangkat tangannya.


"Ihsan Pratama Kembara." Lily langsung melakukan gunting kertas bersama kakaknya.


Suara teriakan Kristal terdengar, memeluk tangannya sendiri yang kalah pertama kali.


"Ikhsan dan Ihsan, dua nama yang. hampir sama. Kira-kira siapa yang menang?" Ilham tersenyum melihat Muti dan Lily.


Teriakan Muti terdengar, sampai adik kecilnya bangun. Lily kalah, dan harus membuang jauh-jauh nama Ihsan.


Wajah Muti mengejek kedua adiknya yang langsung lemas, Muti selalu menang. Adiknya bernama Ikhsan Artama Kembara.


"Di mana Han dan Tirta?" Manda tidak melihat dua suami sejak dirinya bangun.


Muti dan Kris langsung tertawa, diikuti oleh Ilham yang geleng-geleng kepala.


***

__ADS_1


__ADS_2